"Ada apa Felix? Kamu mencari sesuatu?" tanya Olivia yang heran melihat tingkah Felix.
Sementara Felix masih sibuk mengedarkan pandangannya mencari-cari seseorang.
"Felix?" tegus Olivia lagi.
"Oh, tidak." ujar Felix singkat.
Sebenarnya Felix tadi sempat melihat sosok yang mirip sekali dengan Kasih. Namun saat membayar di kasir dia kehilangan sosoknya.
Andai saja saat itu dia bertemu Kasih maka hatinya sangat bahagia. Tak dipungkiri bahwa saat ini Felix sangat merindukan Kasih.
Bahkan jika di rumahnya Felix selalu memeluk barang milik Kasih dan menangis hingga terlelap. Kenapa takdir begitu mempermainkan cinta mereka?
****************
Kasih baru saja sampai di apartemen. Alvin mengantarnya sampai ke unit Apartemen Kasih.
Saat berada di dalam lift Kasih memandangi Alvin yang tengah berdiri di sampingnya sembari menenteng belanjaan Kasih.
"Kak Alvin.." panggil Kasih.
"Iya.." Alvin menoleh ke arah Kasih.
"Kenapa Kak Alvin baik padaku?" tanya Kasih.
"Karena kamu juga baik" ujar Alvin singkat.
"Kenapa Kak Alvin mau menganggapku sebagai adikmu?"
"Karena aku ingin memiliki adik perempuan sepertimu"
Kasih pun terdiam dan langsung menunduk. Apa yang didengarnya benar-benar sangat mengejutkan.
Untuk pertama kalinya seseorang menganggapnya saudara.
TING.
Lift sudah berhenti di lantai unit apartemen Kasih. Alvin pun masih melangkahkan kakinya menemani Kasih.
"Kak Alvin mau mampir dulu?" tanya Kasih ketika berada di depan pintu unitnya.
"Nggak, aku mau memastikan saja kamu sampai rumah dengan selamat" ujar Alvin.
"Makasih ya Kak" senyum terukir di wajah Kasih.
"Iya, habis ini jangan sedih lagi ya. Laki-laki kayak dia tuh gak pantes dipikirin. Mending mikirin besok masak apa buat 'Mas Arga'." Alvin sedikit menekan kata 'Mas untuk menggoda Kasih.
"Ih, Kak Alvin mulai deh.." Kasih mencebikkan bibirnya.
Alvin pun tak kuasa menahan tawanya. Dia mengusap puncak kepala Kasih dan mengacak-acak rambutnya karena gemas.
"Yaudah, istirahat gih. Udah malem. Aku pulang dulu" ujar Alvin berpamitan.
"Iya Kak Alvin. Sekali lagi makasih yaa" ujar Kasih teramat senang. Alvin pun hanya membalas dengan lambaian tangan.
Dengan perlakuan Alvin seperti itu, setidaknya malam ini Kasih bisa lebih lega dan tidak lagi sedih.
Benar kata Alvin. Tidak pantas menangisi laki-laki seperti Felix yang bahkan tega mengusir dirinya.
.
Arga cukup menikmati malam ini. Meski dia hanya makan malam dengan mie instan tapi saat bersama Felicia rasanya jadi berbeda meski dia pula yang memasaknya sendiri.
Jauh beda dengan Kasih yang selalu menyiapkan serta menuruti apapun keinginan Arga.
Oh ya, mengingat Kasih membuat Arga ingin menghubunginya. Seharian ini dia sibuk jadi jarang mengirimi pesan Kasih.
Akhirnya Arga pun mencoba mengirim pesan. Semoga Kasih belum tidur.
Sementara Kasih yang hendak tidur pun mendengar suara ponselnya.
Dia membuka pesan itu.
Mas Arga: "Kasih, sudah tidur?"
Tak berselang lama ponsel Arga berbunyi.
Kasih: "belum Mas.."
Mas Arga: "Kok tumben, biasanya sudah tidur jam segini. Sudah makan?"
Kasih: "Mungkin karena minum es kopi sama Kak Alvin tadi jadi sulit tidur. Aku sudah makan. Mas Arga sendiri sudah makan?"
Membaca nama Alvin membuat Arga membulatkan mata seketika. Kasih dan Alvin keluar? Minum es kopi? Berdua? Tiba-tiba pertanyaan itu mengiang di otaknya.
Tak ingin terus penasaran Arga pun langsung menelepon Kasih dengan panggilan video.
Sementara Kasih belum juga mengangkat teleponnya membuat Arga semakin penasaran. Jangan-jangan Alvin masih bersama Kasih sekarang.
Padahal Kasih saat ini sedang ke toilet sebentar.
Tampak Arga mondar mandir di balkon rumahnya sembari menunggu Kasih mengangkat telepon.
"Halo, Mas.. Ada apa?" tanya Kasih melalui panggilan videonya.
"Kamu di mana? Masih sama Alvin?" Arga mencari-cari sosok Alvin.
"Enggak mas, Kak Alvin gak ada di sini" ujar Kasih sembari menunjukkan seisi ruangan.
"Terus tadi katanya minum es kopi bareng?"
"Yaa.. Tadi emang kita gak sengaja ketemu trus nongkrong bentar mas.." ujar Kasih.
"Tapi cuma nongkrong aja kan? Nggak ngapa-ngapain" ujar Arga penuh curiga.
"Enggak Mas.. Beneran"
"Yaudah. Alvin tuh ceweknya banyak. Hati-hati kamu" ujar Arga sedikit sewot.
Entah kenapa Arga menjadi posesif begini. Padahal dia tahu hubungannya dengan Kasih hanyalah sebatas kontrak untuk saling memuaskan.
Felicia sebenarnya juga tak terlalu mempedulikan Arga. Dia hanya penasaran dengan pria itu. Terlebih melihat sekarang sedang berada di balkon menelepon seseorang.
Bahkan Arga tampak serius melakukan panggilan video.
Akhirnya diam-diam Felicia mencoba untuk mengintip Arga. Dia berjalan mendekati jendela dan bersembunyi di balik tirai.
Walaupun tidak terlalu jelas wajahnya tapi dia tahu seseorang yang sedang berbicara dengan Arga adalah perempuan.
Arga pun tampak sibuk mengobrol dengannya.
"Awas saja kamu macam-macam sama saya. Ku buat ngang.kang semalaman kamu sampe gak bisa jalan." samar-samar terdengar di telinga Felicia.
Entah kenapa mendengar ucapan Arga membuatnya jadi meremang.
"Apa seperkasa itu Arga kekuatannya?" pikiran Felicia jadi kemana-mana.
Hingga dia tak sadar bahwa Arga sudah di depannya.
"Fel, kamu ngapain disini?" tanya Arga.
Felicia terkesiap saat kepergok Arga.
"Emm.. Itu. Nggak ngapa ngapain kok. Cuma mau ke dapur ambil minum" ujar Felicia terbata.
Felicia langsung berjalan menghindari Arga untuk menghilangkan kecanggungannya.
"Feli.." panggil Arga.
"I-iya.."
"Dapur ke arah sana." Arga menunjuk dapur. Sedangkan Felicia justru berjalan lawan arah.
...****************...
"Kemarin ngapain aja sama Alvin?" tanya Arga seolah seperti menginterogasi maling.
"Gak ngapa-ngapain Mas, cuma ngobrol aja" ujar Kasih.
"Kok kemarin kelihatan sembab" Arga teringat video call semalam melihat wajah Kasih yang terlihat sembab.
"Emm. Itu.. Aku.." Kasih ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Apa Alvin kurang ajar padamu?" suara Arga kini semakin memberat.
"TIDAK.. Kak Alvin tidak melakukan apapun kepadaku. Justru dia baik kepadaku. Dia seperti kakakku" suara bariton Kasih langsung membuat Arga tertegun.
"Ingat Kasih, selama masa kontrak ini tubuhmu hanya milikku. Tak boleh ada orang lain yang menyentuhmu. Aku tak ingin milikku bercampur dengan orang lain." Arga semakin mendekatkan wajahnya.
Kasih merasa sangat terintimidasi jika seperti ini. Bahkan untuk sekedar bernafas saja rasanya begitu susah.
Sedetik kemudian Arga mendaratkan ciumannya. Kasih dibuat gelagapan akan hal itu. Sementara Arga terus menyapukan lidahnya di bibir Kasih yang masih menutup rapat. Dia menggigit bibir bawahnya dengan pelan untuk membuat Kasih membuka bibirnya.
Entah kenapa saat berdekatan dengan Kasih Arga begitu bernafsu. Terlebih aroma tubuhnya yang wangi vanilla begitu memabukkan. Sehari tanpa menciumi Kasih rasanya sangat hampa.
"Kamu harus dihukum Kasih." Ujar Arga tersenyum miring.
"Ke_kenapa? Apa salahku?" Kasih gemetar ketakutan.
"Karena kamu selalu membuatku bernafsu. Aku benar-benar ingin memakanmu"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
lanjut
2023-09-13
0
Nuhume
🔪🔪🔪🔪🔪
2023-04-09
1