"Sudah? Lega?" tanya Arga ketika Kasih mengelap kemejanya yang basah penuh air mata bercampur ingus.
"I-iya.. " jawabnya gusar. Dia benar-benar malu.
Saking hanyutnya dalam tangisan sampai tak sadar ingusnya meler di kemeja Arga.
"Sudah, biar saya mandi dan ganti baju" Arga bangkit dari tempat duduknya.
"Kamu siap-siap juga kita akan makan di luar" imbuhnya.
"Tapi mas, terus itu gimana?" Kasih menunjuk bahan masakan yang belum jadi.
"Tapi tanganmu lagi sakit Baby, udah yuk siap-siap" Arga meraih tangan Kasih namun dia tetap menahan.
"Wajahku sembab" ujar Kasih.
"Kau tetap cantik Kasih.." ujar Arga santai.
Namun Kasih merasa hal itu berbeda untuknya. Biasanya Arga selalu memanggilnya baby, tapi ketika dia dipanggil namanya seperti ada hati yang ingin meledak.
Setelah beberapa saat mereka sudah siap. Kasih memoleskan Make up tipis untuk menutupi wajah sembabnya.
Meski masih sedikit terlihat namun aura kecantikannya masih terpancar.
Arga memilih pakaian kasual. Ripped jeans dipadukan dengan kaos hitam polos serta jaket denim membuatnya berkali lipat terlihat lebih muda.
"Baby, mau makan apa?" tanya Arga sembari menyetir mobilnya.
"Terserah Mas Arga saja" ujar Kasih malu-malu. Dia masih tak berani menatap Arga karena malu.
Justru hal itu membuat Arga semakin gemas.
Sementara mereka berhenti di lampu merah. Jalanan juga terpantau sedikit macet.
Hal itu dijadikan Arga kesempatan untuk menggoda Kasih. Tiba-tiba dia meraih tengkuk Kasih dan langsung mencium bibirnya.
Kasih yang terkejut hendak menghindar namun tangan Arga satunya membelit pinggangnya sehingga dia susah bergerak.
Setelah beberapa saat mencoba berontak akhirnya Kasih berhasil melepaskan diri.
"Mas.. Ini di jalanan. Gimana kalau ada yang melihat?" Kasih masih mengatur nafas.
Sementara Arga hanya terkekeh kecil. "Padahal aku maunya lebih dari itu baby" ujar Arga.
"Maksudnya?"
"Memasuki kamu disini sekarang Baby, enak kayaknya main di tengah kemacetan" goda Arga yang semakin membuat Kasih meremang.
"Awwhh.. Sakit Baby" teriak Arga ketika Kasih mencubit lengannya.
"Dasar mesum" Kasih membuang muka dan menatap ke luar. Dia menurunkan kaca mobil hingga menampakkan wajahnya di antara banyak pengendara.
"Hey, kenapa dibuka kacanya? Bau asap baby" protes Arga.
"Biarin, biar Mas Arga gak aneh-aneh" ujar Kasih sambil mengerutkan dahinya.
Arga hanya bisa tersenyum melihat sugar baby nya yang semakin imut itu. Kemudian dia kembali tancap gas karena lampu sudah hijau.
Sementara di seberang mobilnya tampak Felix yang tidak sengaja melihat Kasih. Dia sangat terkejut ketika melihat seorang wanita yang tampak mirip sekali dengan Kasih.
Namun tampak ada pria yang berada di sebelahnya. Saat ingin memastikan lagi tiba-tiba mobil itu sudah melaju dan dia kehilangan jejak.
"Apa mungkin itu tadi Kasih? Tapi jika benar kenapa dia sudah bersama pria lain? Apa ayah bohong telah melukai Kasih?" gumam Felix penuh kebingungan.
Hatinya memanas seketika. Membayangkan Kasih yang telah bersama pria lain. Meski tak dipungkiri mereka sudah berpisah. Namun tetap saja dia masih tak rela.
Arga dan Kasih sampai di restoran langganan Arga. Mereka segera memesan menu makanan yang jadi andalan di restoran ini.
Arga memesan tenderloin steak sementara Kasih memesan nasi goreng kambing.
Dia harus memperbanyak tenaganya untuk berjaga-jaga. Melihat gelagat Arga sepertinya malam ini dia harus kerja keras semalaman.
Arga dan Kasih berbincang kecil sembari menunggu pesanan. Dan tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang.
Saat sedang menikmati makanan tiba-tiba seseorang memanggil.
"Arga.." sapa seorang pria paruh baya yang kebetulan berada di dalam restoran tersebut.
"Papa?" Arga sangat terkejut saat melihat Papanya.
Mampus!
Sementara Kasih juga terkejut saat Arga menyebut pria itu Papanya. Memang dari penampilan serta pembawaannya memang sangat mirip Arga.
Tampan dan bersahaja walaupun usianya sudah bisa dikatakan tidak muda lagi.
Pria itu semakin mendekat dan membuat Kasih menjadi bingung sendiri. Begitupun Arga yang tampak salah tingkah.
"Pa.. Disini juga?" tanya Arga gelagapan.
"Papa habis bertemu rekan bisnis. Kamu bersama siapa Arga? Papa pikir tadi Feli, ternyata bukan" ujar Pak Wijaya.
"Oh, ini pa.. Dia.."
"Saya adiknya Kak Alvin, Pak" ujar Kasih tiba-tiba. Entah kenapa dia langsung menyeletuk saja seperti itu.
"Oh, adiknya Alvin. Ternyata Alvin punya adik perempuan ya? Terus dimana Alvin?" tanya Pak Wijaya sembari mencari sosok Alvin.
"Emm. Iya sepupu dari Surabaya Pa, Alvin masih ada urusan. Sebentar lagi kesini" ujar Arga.
Sementara Pak Wijaya manggut-manggut percaya. Diam-diam Arga mengirim pesan kepada Alvin.
"Vin, kesini cepetan. Butuh bantuan banget ini. Bilang ke papa nanti kalau Kasih adik kamu" tak lupa Arga mengirim lokasi dirinya.
Sementara Alvin yang sedang menyetir mendapati ponselnya berbunyi. Dia menepikan mobil sebentar dan membaca pesan tersebut.
Untung saja saat ini Alvin sedang berada di dekat restoran tersebut sehingga tak butuh waktu lama dia sampai.
"Permisi, saya ijin ke toilet dulu" ujar Kasih.
Dia pergi ke depan mencari keberadaan Alvin. Beruntung pria itu sedang berjalan menuju ke dalam.
"Kak Alvin.." panggil Kasih dengan nada pelan.
"Kasih, ada apa? Tadi Pak Arga menyuruhku kesini" ujar Alvin.
"Itu.. Papanya Mas Arga disini. Dia tanya kenapa aku disini. Trus kita bilang kalau aku adiknya kak Alvin. Maaf ya kak" ujar Kasih sedikit menunduk.
"oh.. Oke-oke nggak papa Kasih. Yasudah yuk kesana" Alvin mengajak Kasih kembali ke meja Arga.
Sementara Arga dan Wijaya kini sedang mengobrol.
"Papa kira kamu tadi... Maaf ya Ga, papa sudah berpikiran buruk tentang kamu. Habisnya tiba-tiba lihat kamu makan malam berdua dengan gadis cantik." ujar Pak Wijaya.
"Emm.. Iya Pa, kami hanya makan malam biasa kok" ujar Arga sedikit canggung.
"Ya sudah, Papa hanya ingin memastikan. Jangan aneh-aneh lo mas, kasian Felicia. Dia istri kamu jangan sampai disakiti" ujar Pak Wijaya.
Sebenarnya kata-kata Papanya itu seperti tamparan untuk Arga. Bahwa faktanya dirinya dan Kasih sedang bermain api.
Namun ada hal yang mendasari perbuatannya itu adalah istrinya sendiri, Felicia. Selama tiga tahun menikah Arga sama sekali tak pernah mendapatkan haknya sebagai suami.
Sebagai pria normal dia juga butuh pelampiasan hasratnya. Dan juga sebuah perhatian seorang wanita di sisinya.
Tak lama kemudian Kasih berjalan bersama Alvin. Mereka langsung bergabung.
"Pak Wijaya, selamat malam" ujar Alvin.
"Malam Alvin. Kamu ternyata punya adik cantik juga. Saya baru tahu" ujar Pak Wijaya.
"Iya Pak, Sebenarnya Kasih kesini mau mencari pekerjaan." ujar Alvin mencari alasan yang tepat.
"Oh, yasudah kerja sama Arga saja. Biar kamu juga bisa sekalian mengawasinya. Perempuan itu rawan masalah Alvin. Jadi jaga adikmu baik-baik di kota besar begini" tutur Pak Wijaya.
"I-iya Pak.."
Entah kenapa mereka bertiga menjadi kikuk sendiri. Apa karena mereka telah membohongi orang tua? Yang pasti jika jujur bisa-bisa Pak Wijaya malah pingsan di tempat.
Arga benar-benar merasa bersalah telah membohongi papanya. Dia benar-benar tak berdaya.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
semoga kasih hamil ank arga
2023-09-13
0
Ruk Mini
bohong prtm akan ada kebohongan2 selanjutnya 🥴🥴
2023-09-03
0