Kasih tak habis pikir dengan ucapan Felix yang ingin bercerai. Hanya karena salah satu gerainya terbakar dia langsung putus asa.
"Mas, kita bisa berusaha lagi. Masalah satu gerai terbakar akan diperbaiki perlahan" ujar kasih berusaha menenangkan Felix.
"bukan begitu Kasih, ada alasan lain yang membuatku ingin bercerai" Felix mencoba untuk menjelaskan.
"Apa coba?"
Sejenak Felix terdiam. Dia menghela nafasnya dengan berat.
"Karena kamu sudah tidur dengan pria lain. Kamu ingat kan perjanjian kita?" berat hati Felix harus mengatakan hal itu.
"Tapi mas.. Dia mele ceh kan ku. Aku bahkan tidak kenal siapa orang itu" Hati Kasih terasa sangat sakit saat Felix mengungkit hal itu.
" Aku tidak peduli. Pokoknya aku tidak bisa menerimamu lagi menjadi istriku" ujar Felix tegas.
"Mas.." lidah Kasih kelu, tenggorokannya terasa tercekat hingga tak mampu untuk berucap lagi.
Sementara Felix tak sekalipun berani menatap wajah Kasih. Baginya terlalu hina untuk mengatakan hal itu.
Namun Felix bisa apa? Dia tahu ayahnya akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya.
Dan ancaman yang dibuat Bramantyo kali ini tidak main-main. Sehingga Felix harus merelakan Kasih agar tidak menjadi korban kekejian Bramantyo.
"Aku akan urus perceraian ini secepatnya. Jadi selama proses perceraian ini aku ijinkan kami tinggal di rumah ini sampai pengadilan memutuskan hasilnya." Nada bicara Felix tampak sangat berbeda.
Baru kali ini Kasih melihat Felix yang begitu dingin dan angkuh. Aura gelap menyelimutinya.
Entah ada angin apa hingga membuat Felix jadi berubah. Yang pasti saat ini perasaan Kasih sangat hancur.
...****************...
" Aku sudah mengajukan perceraian dengan Kasih ke pengadilan. Apa ayah puas sekarang?" dengan perasaan yang sangat dongkol Felix berbicara dengan ayahnya.
"Bagus Felix. Jika bisa kau percepat prosesnya" ujar Bramantyo santai.
"Ayah harus menepati janji. Jangan usik kehidupan Kasih setelah ini" ujar Felix.
"hmm.. Tergantung. Asal kamu menurut dengan ayah" ucap Bramantyo.
"Aku akan menuruti semua perkataan ayah" meski berat Felix harus melakukan itu. Dia tidak ingin wanita yang dicintainya harus menanggung beban karena dirinya.
Sementara Kasih kini hanya bisa pasrah menerima gugatan Felix. Mereka masih serumah namun tak lagi satu ranjang. Setiap hari Felix selalu pulang larut bahkan tidak pulang. Entah kemana pria itu perginya.
Bagaimana bisa pria itu berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam satu hari?
Dia juga teringat akan perjanjian pra nikah mereka. Dia pasrah jika Felix tak memberi harta sma sekali.
Namun yang membuatnya berat adalah alasan Felix yang seolah tak masuk akal.
Akhirnya dia sempat berpikir bahwa selama ini Felix hanya mempermainkan perasaannya. Cintanya tak benar-benar nyata.
Air mata terus mengalir meratapi apa yang dia hadapi. Hingga membuat matanya sembab.
Seminggu kemudian pengadilan mengabulkan perceraian mereka. Itu artinya Kasih harus angkat kaki dari rumah ini.
Entah kenapa keputusan itu berlangsung begitu cepat, mungkin saja Felix sengaja mempercepatnya.
Sementara Kasih mengemasi barang-barangnya ke dalam koper untuk dibawa pergi. Felix datang menghampirinya.
"Untuk apa kamu mengemasi barang-barang itu?" ujar Felix.
"Ini hanya pakaianku. Aku membawa tidak banyak. Lagi pula untuk apa kamu akan menyimpannya?" ujar Kasih.
"Kau lupa Kasih dalam perjanjian kita. Angkat kaki tanpa membawa apapun. Jadi cepat pergi jangan membawa apapun" ujar Felix sinis.
"Tapi Mas.." Kasih masih tak percaya dengan perubahan sikap Felix.
"CEPAT PERGI SEKARANG ATAU KU SERET SEKARANG JUGA?" Suara Felix langsung terdengar lantang.
Seketika Kasih langsung gemetar. Hatinya hancur berkeping-keping memaksakan kakinya yang gontai untuk melangkah keluar rumah ini. Rumah yang dibangun atas jerih payah mereka berdua.
"Baik mas. Jika itu maumu. Aku akan pergi. Semoga kamu bahagia setelah ini" Entah berapa banyak air mata yang telah keluar dari netra itu. Yang jelas saat ini Kasih tengah menelan kekecewaan yang sangat dalam.
Kasih terus melangkahkan kakinya keluar rumah tanpa membawa apapun. Kakinya terus dipaksa berjalan tak tau arah tujuan.
Tanpa membawa apapun selain pakaian yang melekat di tubuhnya. Bahkan ponsel pun Felix tak dibiarkan untuk dibawanya.
Pikiran Kasih saat ini adalah kembali ke rumah orang tua angkatnya. Namun Jarak ke rumah itu cukup jauh. Mungkinkah dia harus berjalan kaki?
Saat merogoh saku celananya dia merasakan sesuatu. Dia tarik benda itu dan beruntung sekali. Terdapat uang lima puluh ribu terselip dalam saku celananya.
Seolah mendapatkan sebuah rejeki yang sangat berharga. Kasih segera mencari angkutan umum untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Di dalam angkot kasih memegang kuat-kuat uang itu karena hanya ini yang dia miliki saat ini.
Perjalanan memakan waktu kurang lebih setengah jam dan akhirnya dia sampai di kediaman orang tua angkatnya.
Dia menatap rumah yang dia tempati sejak kecil. Sejenak kasih teringat oleh ayah angkatnya yang begitu menyayanginya.
Namun saat dia duduk di bangku SMA ayahnya pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Sekarang tinggal ibu angkatnya. Meski hubungan mereka kurang dekat namun Kasih berharap dia masih mau menerimanya.
Perlahan Kasih memasuki halaman rumah itu. Tampak pintu tertutup.
Kasih mencoba mengetuk pintu itu perlahan.
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintu tersebut.
"Kasih?" ucap wanita itu.
"Bu.." dengan berkaca-kaca Kasih memanggil wanita itu.
"Ngapain kamu kesini? Dengan siapa?" Wanita itu melihat-lihat sekitar mencari orang selain Kasih.
"Sendiri Bu, boleh Kasih menumpang nginap disini sementara?" tanya Kasih hati-hati.
"Menginap? Memangnya dimana suamimu?" tanya wanita itu lagi.
"Mas Felix menceraikan ku bu, tolong ijinkan aku menginap disini sementara waktu." ujar Kasih berkaca-kaca.
PLAKK...!!!!
Tamparan keras mendarat di pipi Kasih. Ini sudah bisa dia tebak. Ibu angkatnya memang sangat membencinya sejak dulu.
"Kau pikir ini panti asuhan? Enak saja menginap. Kau sudah menikah berarti kau tidak berhak atas tempat ini. Meskipun kau bilang cerai tetap saja kau tidak berhak" wanita itu dengan sinis mengusir Kasih.
Entah kemalangan apa yang terjadi padanya. Hidupnya bertubi-tubi harus mendapatkan kesialan.
Pertama diceraikan Felix dan sekarang diusir ibu angkatnya. Dengan putus asa akhirnya Kasih pergi meninggalkan rumah itu.
Ditangannya hanya memegang uang sebesar dua puluh ribu. Entah mau diapakan uang itu. Yang jelas pikirannya saat ini sedang buntu.
Langkahnya menyusuri tepi jalan diiringi dengan gerimis yang mulai turun. Kasih terus berjalan tak peduli akan air hujan yang semakin lama semakin deras.
Dia membiarkan tubuhnya basah oleh air hujan. Setidaknya orang lain tak akan mengetahui bahwa dirinya tengah menangis saat itu.
Membiarkan takdir membawa dirinya entah kemana. Perlahan kepalanya mulai terasa pusing. Jalanan mulai terlihat buram entah itu karena penglihatannya atau karena derasnya hujan.
BRRRUKKK....
Tubuh lunglai itu akhirnya terjatuh di pinggir jalan.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nur Lizza
kasihn ny kasih smg ada orng baik yg nolong kasih😭😭😭😭
2023-09-13
0
Eosha_shi
astagaa kasihan😭😭
2023-04-16
0
վմղíα | HV💕
jangan jangan kasih hamil.
2023-04-10
1