Leon membeku di tempat ketika melihat Need berada di dekat Kevin yang berlumuran darah. Tatapannya tak teralihkan dari keadaan Kevin sekarang.
Kevin tidak juga bangun dari posisinya saat ini. Ia terus tengkurap dalam waktu yang lama. Hal ini membuat Leon berpikiran negatif.
Walaupun merasa takut ketika melihat kehadiran Need, namun ia tidak bisa membiarkan Kevin terus berada di dekat pemuda itu. Ia memberanikan diri dengan turun ke bawah. Pikirannya kacau. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Jika ia bisa menjauhkan Kevin dari Need, lalu apa? Apa yang harus ia lakukan setelahnya?
Mungkin lebih tepatnya, apa yang harus ia lakukan jika Need malah tidak membiarkannya mendekati Kevin. Ia sangat ragu. Namun hatinya terus mengatakan agar menarik Kevin ke tempat lain.
Need tersenyum senang. Matanya berbinar ketika melihat kedatangan Leon. Namun ia tidak mengerti kenapa Leon terlihat takut. Bahkan dalam ingatannya, tak pernah ada ekspresi takut yang ditunjukkan Leon sedikit pun. Bahkan ketika ia hampir mati, dieksekusi dan hal lainnya, ia tidak pernah berekspresi seperti itu.
Melihat senyum dari Need, membuat Leon menghentikan langkahnya yang terasa begitu berat. Need pasti sedang menunggu saat saat ketika dia membunuh dirinya dengan kejam. Ia jadi semakin yakin, Need mengincarnya. Bahkan dia melibatkan orang orang yang dekat dengan nya hanya untuk memancing nya keluar.
"Sebenarnya.. apa yang kau inginkan dariku?"
Pertanyaan itu yang terlintas pertama kali dalam pikirannya. Untuk apa sampai melibatkan orang lain bila dirinya adalah tujuan dari Need?
Need berekspresi khawatir, "Apa kau tidak mengingatku?"
"Aku mengingatmu. Kau adalah orang yang membunuh makhluk bertanduk itu di depanku."
Jawaban dari Leon mengejutkan Need. Ia tidak menyangka Leon akan memberikan jawaban seperti itu. Terlebih lagi, kenapa ia yang disalahkan atas matinya iblis tingkat rendah yang ia bawa saat itu? Padahal Leon sendiri yang memakan jantungnya tanpa ragu. Namun sekarang mengapa ia yang dicap sebagai pelaku?
Apa yang ditanyakan Leon pertama kali sekarang pun, sepertinya membuktikan firasat buruknya.
"Kau.. hilang ingatan?" tanya Need dengan tidak percaya.
Leon termundur beberapa langkah. Ia tidak pernah mengatakan hilang ingatan kecuali pada orang orang yang dekat dengannya. Namun Need mengetahui hal itu. Apa Need tahu sesuatu tentangnya dan memiliki kaitan dengan dirinya? Tapi bagaimana mungkin? Need adalah pembunuh. Ia tidak mungkin berhubungan dengan pembunuh. Namun tidak ada salahnya untuk bertanya.
"Apa.. kau tahu sesuatu tentangku?"
Need memegangi kepalanya ketika pertanyaan itu muncul dari mulut Leon. Berarti benar dugaannya. Pantas saja selama ini Leon terus menghindar dan gelisah saat melihat dirinya.
"Gawat.. jika seperti ini gawat.. kau tidak akan bisa melawan mereka dengan keadaan seperti sekarang. Tapi aku tidak bisa membantu secara terang terangan dengan melawan mereka. Apa yang harus kita lakukan?" Ucap Need dengan gelisah.
Mendengar kata 'mereka' membuat Leon bertanya tanya dalam hatinya. Ia tidak mengerti siapa yang dimaksud, namun sepertinya mereka tidak baik.
Setelah beberapa saat berpikir, Need memiliki satu solusi. Namun ia tidak yakin dengan cara melakukannya, "Kita harus mengembalikan ingatanmu sebelum mereka menemukanmu. Jika tidak, kau akan mendapatkan masalah."
"Jangan bermain main denganku. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi jangan mengarangnya," ucap Leon dengan ekspresi mengancam.
"Akan kuperkenalkan diriku satu kali lagi padamu," Need jongkok dengan salah satu lutut menyentuh lantai. Tangan kanannya menyentuh dada kirinya. Ia berekspresi serius.
"Saya adalah Need, tangan kanan Yang Mulia Stev. Salam kenal, Yang Mulia Leon."
Leon tertegun ketika mendengar kata kata dan sikap Need yang berubah. Dia tidak terlihat seperti pembunuh sekarang. Ia lebih seperti orang yang memimpin banyak pasukan. Wibawanya pun menguar sampai membuatnya sedikit takjub.
"Aku tidak tahu harus percaya padamu atau tidak, tapi kau sudah menyakiti orang terdekatku," Leon berjalan ke dapur, meninggalkan Need yang masih dalam posisi sama. Ia akan membawa kotak obat untuk Kevin. Dia yakin pemuda itu tidak mati. Dia tidak mungkin mati.
Setelah Leon kembali dari dapur untuk membawa kotak obat, Need kembali berdiri dengan tegak. Walau sedikit ragu ragu, Leon memberanikan diri untuk mendekati Kevin. Ia membalikkan tubuhnya hingga wajah pemuda itu menghadap ke atas. Ia mengecek detak jantung dan nafasnya. Semua masih berjalan, namun nafasnya sedikit tidak beraturan. Kevin pun sepertinya dalam keadaan pingsan.
Mungkin itu wajar, karena Kevin terkena pecahan kaca di seluruh tubuhnya. Tidak sampai mati, merupakan keberuntungan yang besar.
Tanpa ragu Leon mulai mengobati luka luka di tubuh Kevin. Ia juga mengambil pecahan kaca yang masih tertempel dengan hati hati agar tidak melebarkan lukanya. Sebenarnya ia masih waspada dengan keberadaan Need. Namun ia harus segera mengobati Kevin agar dia tidak kehabisan darah.
Melihat cara Rafa yang mengobati Kevin saat itu, membuatnya bisa mengobati pemuda itu. Ia juga masih ingat dengan jelas urutan penggunaan tiap obat. Ia melakukan semuanya sesuai dengan apa yang diingat.
"Manusia adalah makhluk yang sangat rapuh. Mereka mudah terluka dan mudah mati. Mereka juga tidak memiliki umur yang panjang. Kenapa kau sampai mau menolong manusia ini?" tanya Need.
"Aku tidak memiliki alasan apapun untuk menolongnya. Namun yang pasti, dia pernah menolongku sampai terluka. Lalu dia terluka seperti ini pasti karena diriku," ucap Leon.
"Kenapa kau menyalahkan diri sendiri?!" Need merasa tidak mengerti dengan pikiran Leon sekarang. Dia benar benar berbeda dengan Leon yang dikenalnya dulu.
"Kau.. kemari.. mungkin karena mengincarku. Lalu dalam hal itu, kau sampai melukai dia. Jadi aku yang harus bertanggung jawab," balas Leon sambil terus mengobati.
"Tidak, tunggu.. itu bukan karena sengaja. Aku tidak berniat melukainya. Tapi dia terus mencoba untuk memukulku, jadi tanpa sengaja aku malah membanting tubuhnya ke meja," jelas Need.
Penjelasan Need tidak membuat Leon benar benar tenang. Karena Need tidak menjelaskan urusan nya dengan dirinya.
"Sepertinya kita harus mengembalikan ingatanmu segera dengan cara apapun," ucap Need.
"Kenapa kau ingin melakukannya? Apa hubunganmu denganku? Apa seorang pembunuh yang mengincar mangsanya dengan berpura pura ingin membantu?" ucap Leon dengan sinis.
"Hah..?! Tentu saja tidak! Apa yang kau katakan? Aku hanya ingin mengembalikan ingatanmu, agar kau mengingat siapa aku dan bisa menghadapi mereka. Jika mereka berhasil menangkapmu dan membawamu ke dunia iblis, maka hukuman akan segera ditentukan kepadamu. Aku tidak ingin itu terjadi.
Apalagi, aku merasa kejadian ini terlalu aneh. Jika tangan kanan mu yang melakukan kesalahan, lalu kenapa harus kau yang menanggung banyak hukuman hanya karena menyembunyikan fakta bahwa tangan kanan mu itu sudah berhubungan dengan manusia?
Mereka memang akan tetap memberinya hukuman mati, namun kenapa kau harus terkena hal seperti itu juga?" ucap Need dengan mata berkaca.
"Aku tidak ingin itu terjadi," lanjut Need.
Leon terdiam mendengar ucapan Need. Pemuda itu adalah pembunuh yang mengincarnya, lalu kenapa dia ingin repot repot menolognya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments