Panggilan yang tidak juga diangkat oleh Rafa membuat Kevin pergi berkeliling mencarinya bersama dengan Leon yang sudah menghabiskan es krim.
Selama berjalan, hanya ada keheningan. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka. Kevin pun bingung bagaimana menanggapinya. Ia dan Leon bisa dikatakan tidak saling kenal. Mereka hanya kebetulan bertemu saat kejadian kemarin dan itu pun hanya sebentar.
"Kenapa kau bisa ada di sana tadi?"
Kevin sedikit terkejut karena mendengar Leon berbicara padanya, "Itu hanya kebetulan. Tempat ini luas, aku berkeliling untuk berolah raga." Sementara dalam hatinya, "Tadi aku ingin mengganti es krim milikmu yang jatuh. Tapi karena kau tidak mau, aku berniat untuk membelikannya sendiri."
Kevin tidak mungkin mengatakan kebenaran itu pada Leon. Jadi ia hanya bisa menjawab dengan seadaanya, karena ia kemari memang untuk berolah raga.
"Bagaimana denganmu? Kenapa kau malah pergi membeli es krim? Kau saja tidak memiliki uang untuk itu," ucap Kevin.
Leon hanya diam. Ia hanya ingin memakan es krim dan tidak berpikir jika ia harus membayarnya.
Saat keduanya kembali terdiam, seorang pria berlari dengan cepat dan langsung mengambil ponsel yang dipegang oleh Kevin. Pemuda itu langsung bereaksi dengan menarik ponselnya kembali dan menendang perut pencuri hingga terjatuh keras di tanah.
Leon sedikit terkejut, namun ia tidak mengekpresikannya.
"Hampir saja ponselku dicuri," gumam Kevin.
Pencuri memegangi perutnya dan segera berdiri sambil merintih kesakitan. Ponsel lain yang sebelumnya diambil jatuh ke tanah karena terjatuh dari saku jaket.
"Itu.. Seperti milik Rafa," Kevin berniat untuk mengambilnya. Namun pencuri dengan sigap memukul pemuda itu hingga membuatnya sedikit terhuyung ke belakang.
"Aku lengah," Kevin menegakkan kepalanya kembali dengan sorot mata tajam. Di sekolah, ia adalah orang yang paling hebat dalam bertarung. Ia juga selalu memenangkan juara 1 dalam banyak kompetisi yang berhubungan dengan pertarungan. Mendapatkan pukulan seperti ini membuatnya merasa dirinya melemah. Dan ia tidak suka dengan hal itu. Karena itu, ia harus membalasnya.
Tangannya terkepal kuat dan langsung memukul pencuri secara bertubi tubi, lalu ia memberikan seragan terakhir dengan tendangan hingga pencuri itu terkapar di tanah.
Orang orang pun mulai banyak berkerumun karena melihat keributan yang terjadi. Mereka penasaran, namun juga ingin menyaksikan apa yang dilakukan Kevin pada pencuri.
Pencuri itu terbatuk batuk. Tubuhnya terasa lemas.
Kevin langsung mengambil ponsel milik Rafa yang tergeletak di tanah. Ia pun memeriksanya dan yakin bila itu memang milik temannya, "Pantas saja dia tidak menjawab telepon."
Pencuri memegangi perutnya yang terus terkena pukulan. Melihat banyaknya orang berkerumun membuatnya takut bila orang orang itu akan menangkap dan membawanya ke polisi.
Ia segera bangkit. Lalu tangannya mengambil sebuah pisau dari saku jaket dan berlari ke arah Leon dengan ekspresi panik.
Saat mata pisau hampir menusuk tubuh anak itu, Kevin segera menahannya. Namun cerobohnya, ia malah memegang besi pada pisau.
Leon tidak sempat bereaksi. Ia hanya bisa terdiam di tempat menyaksikan lengan Kevin yang berlumuran darah.
Pencuri itu segera kabur setelah menarik pisau dari tangan Kevin. Ia berlari memecah kerumunan. Dengan sendirinya, orang orang menjauh dari sekitarnya sambil berteriak takut.
Kevin meringis kesakitan. Leon pun segera mendekati pemuda itu. Ia sebenarnya sedikit khawatir. Kevin terluka karena melindunginya. Namun ia hanya bisa berekspresi datar dan menyembunyikan rasa khawatir itu, "Tanganmu.."
Kevin menggertakkan giginya menahan sakit. Ia menggelengkan kepala, "Aku baik baik saja. Kau tidak perlu memikirkan ini."
"Dik, gunakan ini untuk mengobati lukamu," ucap seorang wanita sambil menyodorkan obat merah.
Leon segera mengambilnya dan meneteskan itu ke luka tangan Kevin dengan cepat.
Kevin sedikit berteriak karena rasa sakit yang bertambah. Padahal ia belum mengatakan apapun, namun Leon langsung meneteskan obat itu padanya, "Sakit, jangan terlalu banyak," desirnya.
Leon berhenti saat mendengar ucapan Kevin.
"Maaf, tolong tunjukkan tanganmu," Wanita yang memberikan obat itu segera melilitkan perban pada telapak tangan Kevin setelahnya. Ia melakukannya dengan cukup hati hati.
"Sudah, mungkin ini tidak bisa membantu mu sepenuhnya. Tapi semoga kau bisa merasa lebih baik," ucap wanita itu.
"Ah tidak, aku sangat berterimakasih," balas Kevin sambil menahan sakit.
Disisi lain, Rafa akhirnya memilih untuk beristirahat di dekat pintu keluar utama. Ia merasa kesal karena kehilangan keberadaan Leon dan juga ponselnya.
Saat ia sedang termenung menahan amarahnya, seruan dari kejauhan yang memanggil namanya, membuat Rafa segera berdiri. Dilihatnya Kevin yang berjalan bersama Leon mulai menghampirinya.
Rafa sedikit terkejut. Namun ada perasaan lega dalam hatinya saat melihat Leon bersama dengan temannya, "Kenapa kau bisa bersama dengan Leon? Kau tahu sejak tadi aku lelah mencarinya!" ucap Rafa dengan nada kesal.
Kevin memutar bola matanya, "Aku berusaha menghubungimu jika aku bertemu dengannya di dekat lapak es krim. Tapi kau tidak juga mengangkatnya. Ini pun hanya kebetulan aku bertemu dengannya."
Rafa mengacak rambutnya, "Akh, tadi ponselku dicuri oleh orang dan aku tidak bisa menemukannya."
"Maksudmu ponsel ini? Aku mengambilkannya untukmu. Sudah kuduga ini memang milikmu," Kevin menyodorkan ponsel berwarna merah pada Rafa.
"Benar, bagaimana kau–" Rafa menghentikan ucapannya. Ia baru menyadari bila telapak tangan Kevin diperban. Ia mengambil ponselnya dari tangan Kevin lebih dulu, lalu ia menarik lengannya, "Kenapa kau terluka seperti ini? Apa yang terjadi?"
"Banyak hal yang terjadi, akan sulit menjelaskannya. Tapi aku baik baik saja. Untuk sekarang, lebih baik kau segera pulang. Kau pasti lelah karena sudah mengelilingi taman ini," balas Kevin tanpa menjawab pertanyaan temannya.
"Kau benar baik baik saja?"
"Iya, lebih baik kau segera pulang dengan Leon bila kau tidak ingin kehilangan dirinya lagi."
"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang lebih dulu. Jika kau ingin bermain, mampir saja ke rumahku dan terimakasih tentang ponsel ini," dengan segera Rafa pergi bersama Leon.
Sejak perjalanan hingga sampai di rumah, Leon tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam tanpa memperlihatkan ekspresi apapun. Rafa pun memilih untuk menanyakan tentang apa yang terjadi saat di rumah saja.
"Ini.. Kenapa berantakan sekali? Apa yang terjadi?" Sesaat setelah sampai rumah, Rafa menyimpan barang belanjaannya dan pergi menelusuri setiap sudut rumah.
Padahal ia baru sampai, namun sudah disambut oleh hal semacam ini. Taplak meja yang berserakan, gelas kaca kosong dimana mana, sampah sampai ada di bawah meja. Rumah yang sebelumnya sudah bersih, kini kembali berantakan.
Saat sampai di dapur, ia melihat kulkasnya terbuka dengan kepala seseorang yang masuk ke dalamnya.
"Siapa kau?" Rafa mengerutkan keningnya dengan perasaan kesal sekaligus cemas.
Orang itu langsung mengeluarkan kepalanya dari kulkas dan menunjukkan wajahnya. Mulutnya menggigit sebuah apel merah, "Kwau kwau kwau khawaung kuwau?"
Rafa mengernyitkan dahinya. Ia sekarang tahu siapa orang itu. Namun ia tidak mengerti dengan setiap kata darinya, "Muntahkan apel itu dan bicara dengan benar."
Pemuda di depannya segera mengambil apel di mulutnya, "Kau sekarang mengenaliku?"
"Yah.. Aku tidak melihat wajahmu tadi, jadi aku pikir kau adalah pencuri," balas Rafa.
"Ish, saudara sendiri kau sebut seperti pencuri," ucap pemuda itu dengan kesal. Ia memiliki pupil mata berwarna biru terang, namanya Nevan. Ia adalah anak dari paman Rafa yang tinggal di luar kota ini.
Saat mereka sedang mengobrol, Leon muncul. Ia juga penasaran dengan apa yang sudah terjadi.
"Eh? Kenapa ada anak kecil di sini? Bagaimana dia bisa masuk kemari?" ucap Nevan dengan kaget.
"Dia adalah–"
"J-jangan bilang dia adalah anakmu? Gila, ternyata itu alasanmu ingin tinggal sendiri saja di rumah, agar kau bisa membuatnya–Ugh.."
Nevan dipukul dengan keras oleh Rafa hingga kepalanya benjol. Nampak bila pemuda itu sangat geram dengan ucapan yang dikatakan saudaranya, "Bagaimana aku bisa melakukan itu?! Aku saja baru 17 tahun! Dan dia 10 tahunan! Bagaimana bisa aku memiliki anak sebesar dia?! Dasar gila!" Rafa menendang nendang tubuh Nevan tanpa peduli dengan rintihannya.
Leon hanya menonton pemandangan itu tanpa berniat untuk menghentikannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Wana Sifah
🤣saudara sendiri di kira pencuri
2024-10-29
1
Norayolayora
Dicuci dulu tangannya! siapa tau kan pesonya ada sianida nya
2023-05-03
0
Norayolayora
Ndak diteriakin maling terus dihajar massa
2023-05-03
0