Chapter 03 -Nevan

Panggilan yang tidak juga diangkat oleh Rafa membuat Kevin pergi berkeliling mencarinya bersama dengan Leon yang sudah menghabiskan es krim.

Selama berjalan, hanya ada keheningan. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka. Kevin pun bingung bagaimana menanggapinya. Ia dan Leon bisa dikatakan tidak saling kenal. Mereka hanya kebetulan bertemu saat kejadian kemarin dan itu pun hanya sebentar.

"Kenapa kau bisa ada di sana tadi?"

Kevin sedikit terkejut karena mendengar Leon berbicara padanya, "Itu hanya kebetulan. Tempat ini luas, aku berkeliling untuk berolah raga." Sementara dalam hatinya, "Tadi aku ingin mengganti es krim milikmu yang jatuh. Tapi karena kau tidak mau, aku berniat untuk membelikannya sendiri."

Kevin tidak mungkin mengatakan kebenaran itu pada Leon. Jadi ia hanya bisa menjawab dengan seadaanya, karena ia kemari memang untuk berolah raga.

"Bagaimana denganmu? Kenapa kau malah pergi membeli es krim? Kau saja tidak memiliki uang untuk itu," ucap Kevin.

Leon hanya diam. Ia hanya ingin memakan es krim dan tidak berpikir jika ia harus membayarnya.

Saat keduanya kembali terdiam, seorang pria berlari dengan cepat dan langsung mengambil ponsel yang dipegang oleh Kevin. Pemuda itu langsung bereaksi dengan menarik ponselnya kembali dan menendang perut pencuri hingga terjatuh keras di tanah.

Leon sedikit terkejut, namun ia tidak mengekpresikannya.

"Hampir saja ponselku dicuri," gumam Kevin.

Pencuri memegangi perutnya dan segera berdiri sambil merintih kesakitan. Ponsel lain yang sebelumnya diambil jatuh ke tanah karena terjatuh dari saku jaket.

"Itu.. Seperti milik Rafa," Kevin berniat untuk mengambilnya. Namun pencuri dengan sigap memukul pemuda itu hingga membuatnya sedikit terhuyung ke belakang.

"Aku lengah," Kevin menegakkan kepalanya kembali dengan sorot mata tajam. Di sekolah, ia adalah orang yang paling hebat dalam bertarung. Ia juga selalu memenangkan juara 1 dalam banyak kompetisi yang berhubungan dengan pertarungan. Mendapatkan pukulan seperti ini membuatnya merasa dirinya melemah. Dan ia tidak suka dengan hal itu. Karena itu, ia harus membalasnya.

Tangannya terkepal kuat dan langsung memukul pencuri secara bertubi tubi, lalu ia memberikan seragan terakhir dengan tendangan hingga pencuri itu terkapar di tanah.

Orang orang pun mulai banyak berkerumun karena melihat keributan yang terjadi. Mereka penasaran, namun juga ingin menyaksikan apa yang dilakukan Kevin pada pencuri.

Pencuri itu terbatuk batuk. Tubuhnya terasa lemas.

Kevin langsung mengambil ponsel milik Rafa yang tergeletak di tanah. Ia pun memeriksanya dan yakin bila itu memang milik temannya, "Pantas saja dia tidak menjawab telepon."

Pencuri memegangi perutnya yang terus terkena pukulan. Melihat banyaknya orang berkerumun membuatnya takut bila orang orang itu akan menangkap dan membawanya ke polisi.

Ia segera bangkit. Lalu tangannya mengambil sebuah pisau dari saku jaket dan berlari ke arah Leon dengan ekspresi panik.

Saat mata pisau hampir menusuk tubuh anak itu, Kevin segera menahannya. Namun cerobohnya, ia malah memegang besi pada pisau.

Leon tidak sempat bereaksi. Ia hanya bisa terdiam di tempat menyaksikan lengan Kevin yang berlumuran darah.

Pencuri itu segera kabur setelah menarik pisau dari tangan Kevin. Ia berlari memecah kerumunan. Dengan sendirinya, orang orang menjauh dari sekitarnya sambil berteriak takut.

Kevin meringis kesakitan. Leon pun segera mendekati pemuda itu. Ia sebenarnya sedikit khawatir. Kevin terluka karena melindunginya. Namun ia hanya bisa berekspresi datar dan menyembunyikan rasa khawatir itu, "Tanganmu.."

Kevin menggertakkan giginya menahan sakit. Ia menggelengkan kepala, "Aku baik baik saja. Kau tidak perlu memikirkan ini."

"Dik, gunakan ini untuk mengobati lukamu," ucap seorang wanita sambil menyodorkan obat merah.

Leon segera mengambilnya dan meneteskan itu ke luka tangan Kevin dengan cepat.

Kevin sedikit berteriak karena rasa sakit yang bertambah. Padahal ia belum mengatakan apapun, namun Leon langsung meneteskan obat itu padanya, "Sakit, jangan terlalu banyak," desirnya.

Leon berhenti saat mendengar ucapan Kevin.

"Maaf, tolong tunjukkan tanganmu," Wanita yang memberikan obat itu segera melilitkan perban pada telapak tangan Kevin setelahnya. Ia melakukannya dengan cukup hati hati.

"Sudah, mungkin ini tidak bisa membantu mu sepenuhnya. Tapi semoga kau bisa merasa lebih baik," ucap wanita itu.

"Ah tidak, aku sangat berterimakasih," balas Kevin sambil menahan sakit.

Disisi lain, Rafa akhirnya memilih untuk beristirahat di dekat pintu keluar utama. Ia merasa kesal karena kehilangan keberadaan Leon dan juga ponselnya.

Saat ia sedang termenung menahan amarahnya, seruan dari kejauhan yang memanggil namanya, membuat Rafa segera berdiri. Dilihatnya Kevin yang berjalan bersama Leon mulai menghampirinya.

Rafa sedikit terkejut. Namun ada perasaan lega dalam hatinya saat melihat Leon bersama dengan temannya, "Kenapa kau bisa bersama dengan Leon? Kau tahu sejak tadi aku lelah mencarinya!" ucap Rafa dengan nada kesal.

Kevin memutar bola matanya, "Aku berusaha menghubungimu jika aku bertemu dengannya di dekat lapak es krim. Tapi kau tidak juga mengangkatnya. Ini pun hanya kebetulan aku bertemu dengannya."

Rafa mengacak rambutnya, "Akh, tadi ponselku dicuri oleh orang dan aku tidak bisa menemukannya."

"Maksudmu ponsel ini? Aku mengambilkannya untukmu. Sudah kuduga ini memang milikmu," Kevin menyodorkan ponsel berwarna merah pada Rafa.

"Benar, bagaimana kau–" Rafa menghentikan ucapannya. Ia baru menyadari bila telapak tangan Kevin diperban. Ia mengambil ponselnya dari tangan Kevin lebih dulu, lalu ia menarik lengannya, "Kenapa kau terluka seperti ini? Apa yang terjadi?"

"Banyak hal yang terjadi, akan sulit menjelaskannya. Tapi aku baik baik saja. Untuk sekarang, lebih baik kau segera pulang. Kau pasti lelah karena sudah mengelilingi taman ini," balas Kevin tanpa menjawab pertanyaan temannya.

"Kau benar baik baik saja?"

"Iya, lebih baik kau segera pulang dengan Leon bila kau tidak ingin kehilangan dirinya lagi."

"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang lebih dulu. Jika kau ingin bermain, mampir saja ke rumahku dan terimakasih tentang ponsel ini," dengan segera Rafa pergi bersama Leon.

Sejak perjalanan hingga sampai di rumah, Leon tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam tanpa memperlihatkan ekspresi apapun. Rafa pun memilih untuk menanyakan tentang apa yang terjadi saat di rumah saja.

"Ini.. Kenapa berantakan sekali? Apa yang terjadi?" Sesaat setelah sampai rumah, Rafa menyimpan barang belanjaannya dan pergi menelusuri setiap sudut rumah.

Padahal ia baru sampai, namun sudah disambut oleh hal semacam ini. Taplak meja yang berserakan, gelas kaca kosong dimana mana, sampah sampai ada di bawah meja. Rumah yang sebelumnya sudah bersih, kini kembali berantakan.

Saat sampai di dapur, ia melihat kulkasnya terbuka dengan kepala seseorang yang masuk ke dalamnya.

"Siapa kau?" Rafa mengerutkan keningnya dengan perasaan kesal sekaligus cemas.

Orang itu langsung mengeluarkan kepalanya dari kulkas dan menunjukkan wajahnya. Mulutnya menggigit sebuah apel merah, "Kwau kwau kwau khawaung kuwau?"

Rafa mengernyitkan dahinya. Ia sekarang tahu siapa orang itu. Namun ia tidak mengerti dengan setiap kata darinya, "Muntahkan apel itu dan bicara dengan benar."

Pemuda di depannya segera mengambil apel di mulutnya, "Kau sekarang mengenaliku?"

"Yah.. Aku tidak melihat wajahmu tadi, jadi aku pikir kau adalah pencuri," balas Rafa.

"Ish, saudara sendiri kau sebut seperti pencuri," ucap pemuda itu dengan kesal. Ia memiliki pupil mata berwarna biru terang, namanya Nevan. Ia adalah anak dari paman Rafa yang tinggal di luar kota ini.

Saat mereka sedang mengobrol, Leon muncul. Ia juga penasaran dengan apa yang sudah terjadi.

"Eh? Kenapa ada anak kecil di sini? Bagaimana dia bisa masuk kemari?" ucap Nevan dengan kaget.

"Dia adalah–"

"J-jangan bilang dia adalah anakmu? Gila, ternyata itu alasanmu ingin tinggal sendiri saja di rumah, agar kau bisa membuatnya–Ugh.."

Nevan dipukul dengan keras oleh Rafa hingga kepalanya benjol. Nampak bila pemuda itu sangat geram dengan ucapan yang dikatakan saudaranya, "Bagaimana aku bisa melakukan itu?! Aku saja baru 17 tahun! Dan dia 10 tahunan! Bagaimana bisa aku memiliki anak sebesar dia?! Dasar gila!" Rafa menendang nendang tubuh Nevan tanpa peduli dengan rintihannya.

Leon hanya menonton pemandangan itu tanpa berniat untuk menghentikannya.

Terpopuler

Comments

Wana Sifah

Wana Sifah

🤣saudara sendiri di kira pencuri

2024-10-29

1

Norayolayora

Norayolayora

Dicuci dulu tangannya! siapa tau kan pesonya ada sianida nya

2023-05-03

0

Norayolayora

Norayolayora

Ndak diteriakin maling terus dihajar massa

2023-05-03

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 01 -Awal dari segalanya
2 Chapter 02 -Es Krim
3 Chapter 03 -Nevan
4 Chapter 04 -Raja Iblis
5 Chapter 05 -Katly Dan Retakan
6 Chapter 06 -Berita
7 Chapter 07 -Lawan Pertama
8 Chapter 08 -Kematian Sementara
9 Chapter 09 -Sadar
10 Chapter 10 -Pasar Malam
11 Chapter 11 -Pasar Malam 2
12 Chapter 12 -Tangan Kanan Raja
13 Chapter 13 -2 Sifat
14 Chapter 14 -Pulang
15 Chapter 15 -Sakit
16 Chapter 16 -Pria Asing
17 Chapter 17 -Need
18 Chapter 18 -Need 2
19 Chapter 19 -Kedatangan
20 Chapter 20 -Need Dan Leon
21 Chapter 21 -Kepingan Informasi
22 Chapter 22 -Tidak Percaya
23 Chapter 23 -Ketidaktahuan
24 Chapter 24 -Teddy
25 Chapter 25 -Berbeda
26 Chapter 26 -Kevin Mati
27 Chapter 27 -Tidak Jadi Mati
28 Chapter 28 -Kedatangan Flynn
29 Chapter 29 -Kedatangan Flynn 2
30 Chapter 30 -Ke Rumah Sakit
31 Chapter 31 -Usir Leon?
32 Chapter 32 -Bertengkar
33 Chapter 33 -Permintaan
34 Chapter 34 -Pertemuan Kedua
35 Chapter 35 -Bertarung Lagi
36 Chapter 36 -Muak Dan Kematian
37 Chapter 37 -Bunuh Diri
38 Chapter 38 -Ash
39 Chapter 39 -Cemas
40 Chapter 40 -Permintaan Maaf
41 Chapter 41 -Perpisahan
42 Chapter 42 -Masing Masing
43 Chapter 43 -Melawan Belle
44 Chapter 44 -Belle Mati
45 Chapter 45 -Ingatan Kembali
46 Chapter 46 -Kematian Diva
47 Chapter 47 -Penjelasan Nevan
48 Chapter 48 -Antara Rafa Dan Nevan
49 Chapter 49 -Pengaruh Mutlak
50 Chapter 50 -Sudut Pandang
51 Chapter 51 -Kehadiran Melvin
52 Chapter 52 -Cara Untuk Masuk?
53 Chapter 53 -Menyusup
54 Chapter 54 -Ketahuan
55 Chapter 55 -Bertemu Iblis
56 Chapter 56 -Membunuh Iblis
57 Chapter 57 -Berkumpul Di Aula
58 Chapter 58 -Menuju Pertempuran Akhir
59 Chapter 59 -Need
60 Chapter 60 -Menuju Akhir
61 Chapter 61 -Menuju Akhir II
62 Chapter 62 -Leon Mati
63 Chapter 63 -Pohon Telah Tumbuh
64 Chapter 64 -Reinkarnasi
65 Chapter 65 -10 Tahun Kemudian
66 Chapter 66 -Masa Lalu Ralt
67 Chapter 67 -Ketiga
68 Chapter 68 -Terciptanya Need
69 Chapter 69 -POV Selesai
70 Chapter 70 -Berbaikan
71 Chapter 71 -Kebenaran
72 Chapter 72 -Kemungkinan
73 Chapter 73 -Kisah Teddy
74 Chapter 74 -Kembali Ke Dunia Iblis
75 Chapter 75 -Memohon
76 Chapter 76 -Pergi Ke Dunia Iblis
77 Chapter 77 -Ayah Dan Anak
78 Chapter 78 -Kabar Kematian
79 Chapter 79 -Kawanan Beruang Berduri
80 Chapter 80 -Menyembuhkan
81 Chapter 81 -Kendala
82 Chapter 82 -Tekad
83 Chapter 83 -Nevan
84 Chapter 84 -Kite
85 Chapter 85 -Mayat Hidup
86 Chapter 86 -Mayat Hidup II
87 Chapter 87 -Bertemu Kembali
88 Chapter 88 -Flynn
89 Chapter 89 -Kekacauan
90 Chapter 90 -Mayat Hidup III
91 Chapter 91 -Kite II
92 Chapter 92 -Need Dan Leon II
93 Chapter 93 -Iblis Dan Blizt
94 Chapter 94 -Leon
95 Chapter 95 -Serangan
96 Chapter 96 -Tidak Terima
97 Chapter 97 -Hidup Kembali
98 Chapter 98 -Bercanda
99 Chapter 99 -Iblis Dan Blizt II
100 Chapter 100 -Pendapat
101 Chapter 101 -Menjadi Umpan
102 Chapter 102 -Silvia Dan Stev
103 Chapter 103 -Silvia Dan Stev II
104 Chapter 104 -Kedatangan Tak Terduga
105 Chapter 105 -Hidup Lagi
106 Chapter 106 -Pertarungan Berakhir
107 Chapter 107 -Antara Melvin Dan Radolf
108 Chapter 108 -Ken Pergi
109 Chapter 109 -Flashback
110 Chapter 110 -Ingatan Nevan Kembali
111 Chapter 111 -Mencari Makan
112 Chapter 112 -Mayat Hidup Ralt
113 Chapter 113 -Ken
114 Chapter 114 -Bukan Makhluk Hidup
115 Chapter 115 -Di Pihak Musuh?
116 Chapter 116 -Nevan Dan Ray
117 Chapter 117 -Ray
118 Chapter 118 -Osdont? Osnot? Osmond!
119 Chapter 119 -Oliver Dan Darah Campuran
120 Chapter 120 -Michael
121 Chapter 121 -Michael II
122 Chapter 122 -Masa Lalu, Masa Depan
123 Chapter 123 -Menyalahkan
124 Chapter 124 -Hubungan Kite Dan Felix
125 Chapter 125 -POV Ken
126 Chapter 126 -Kite Dan Michael
127 Chapter 127 -Kite Dan Michael II
128 Chapter 128 -Rafa= Oliver?
129 Chapter 129 -Oliver
130 Chapter 130 -Oliver II
131 Chapter 131 -Putra Ratu Silvia
132 Chapter 132 -Perang Akhir Dimulai
133 Chapter 133 -Perang Akhir Dimulai II
134 Chapter 134 -Perang Akhir Dimulai III
135 Chapter 135 -Rafa?
136 Chapter 136 -Identitas Ken
137 Chapter 137 -Perang Akhir Dimulai IV
138 Chapter 138 -Perang Akhir Dimulai V
139 Chapter 139 -Teddy II
140 Chapter 140 -Axelle
141 Chapter 141 -Axelle II
142 Chapter 142 -Kekejaman Michael
143 Chapter 143 -Leon II
144 Chapter 144 -Kenapa?
145 Chapter 145 -The End
146 Last
Episodes

Updated 146 Episodes

1
Chapter 01 -Awal dari segalanya
2
Chapter 02 -Es Krim
3
Chapter 03 -Nevan
4
Chapter 04 -Raja Iblis
5
Chapter 05 -Katly Dan Retakan
6
Chapter 06 -Berita
7
Chapter 07 -Lawan Pertama
8
Chapter 08 -Kematian Sementara
9
Chapter 09 -Sadar
10
Chapter 10 -Pasar Malam
11
Chapter 11 -Pasar Malam 2
12
Chapter 12 -Tangan Kanan Raja
13
Chapter 13 -2 Sifat
14
Chapter 14 -Pulang
15
Chapter 15 -Sakit
16
Chapter 16 -Pria Asing
17
Chapter 17 -Need
18
Chapter 18 -Need 2
19
Chapter 19 -Kedatangan
20
Chapter 20 -Need Dan Leon
21
Chapter 21 -Kepingan Informasi
22
Chapter 22 -Tidak Percaya
23
Chapter 23 -Ketidaktahuan
24
Chapter 24 -Teddy
25
Chapter 25 -Berbeda
26
Chapter 26 -Kevin Mati
27
Chapter 27 -Tidak Jadi Mati
28
Chapter 28 -Kedatangan Flynn
29
Chapter 29 -Kedatangan Flynn 2
30
Chapter 30 -Ke Rumah Sakit
31
Chapter 31 -Usir Leon?
32
Chapter 32 -Bertengkar
33
Chapter 33 -Permintaan
34
Chapter 34 -Pertemuan Kedua
35
Chapter 35 -Bertarung Lagi
36
Chapter 36 -Muak Dan Kematian
37
Chapter 37 -Bunuh Diri
38
Chapter 38 -Ash
39
Chapter 39 -Cemas
40
Chapter 40 -Permintaan Maaf
41
Chapter 41 -Perpisahan
42
Chapter 42 -Masing Masing
43
Chapter 43 -Melawan Belle
44
Chapter 44 -Belle Mati
45
Chapter 45 -Ingatan Kembali
46
Chapter 46 -Kematian Diva
47
Chapter 47 -Penjelasan Nevan
48
Chapter 48 -Antara Rafa Dan Nevan
49
Chapter 49 -Pengaruh Mutlak
50
Chapter 50 -Sudut Pandang
51
Chapter 51 -Kehadiran Melvin
52
Chapter 52 -Cara Untuk Masuk?
53
Chapter 53 -Menyusup
54
Chapter 54 -Ketahuan
55
Chapter 55 -Bertemu Iblis
56
Chapter 56 -Membunuh Iblis
57
Chapter 57 -Berkumpul Di Aula
58
Chapter 58 -Menuju Pertempuran Akhir
59
Chapter 59 -Need
60
Chapter 60 -Menuju Akhir
61
Chapter 61 -Menuju Akhir II
62
Chapter 62 -Leon Mati
63
Chapter 63 -Pohon Telah Tumbuh
64
Chapter 64 -Reinkarnasi
65
Chapter 65 -10 Tahun Kemudian
66
Chapter 66 -Masa Lalu Ralt
67
Chapter 67 -Ketiga
68
Chapter 68 -Terciptanya Need
69
Chapter 69 -POV Selesai
70
Chapter 70 -Berbaikan
71
Chapter 71 -Kebenaran
72
Chapter 72 -Kemungkinan
73
Chapter 73 -Kisah Teddy
74
Chapter 74 -Kembali Ke Dunia Iblis
75
Chapter 75 -Memohon
76
Chapter 76 -Pergi Ke Dunia Iblis
77
Chapter 77 -Ayah Dan Anak
78
Chapter 78 -Kabar Kematian
79
Chapter 79 -Kawanan Beruang Berduri
80
Chapter 80 -Menyembuhkan
81
Chapter 81 -Kendala
82
Chapter 82 -Tekad
83
Chapter 83 -Nevan
84
Chapter 84 -Kite
85
Chapter 85 -Mayat Hidup
86
Chapter 86 -Mayat Hidup II
87
Chapter 87 -Bertemu Kembali
88
Chapter 88 -Flynn
89
Chapter 89 -Kekacauan
90
Chapter 90 -Mayat Hidup III
91
Chapter 91 -Kite II
92
Chapter 92 -Need Dan Leon II
93
Chapter 93 -Iblis Dan Blizt
94
Chapter 94 -Leon
95
Chapter 95 -Serangan
96
Chapter 96 -Tidak Terima
97
Chapter 97 -Hidup Kembali
98
Chapter 98 -Bercanda
99
Chapter 99 -Iblis Dan Blizt II
100
Chapter 100 -Pendapat
101
Chapter 101 -Menjadi Umpan
102
Chapter 102 -Silvia Dan Stev
103
Chapter 103 -Silvia Dan Stev II
104
Chapter 104 -Kedatangan Tak Terduga
105
Chapter 105 -Hidup Lagi
106
Chapter 106 -Pertarungan Berakhir
107
Chapter 107 -Antara Melvin Dan Radolf
108
Chapter 108 -Ken Pergi
109
Chapter 109 -Flashback
110
Chapter 110 -Ingatan Nevan Kembali
111
Chapter 111 -Mencari Makan
112
Chapter 112 -Mayat Hidup Ralt
113
Chapter 113 -Ken
114
Chapter 114 -Bukan Makhluk Hidup
115
Chapter 115 -Di Pihak Musuh?
116
Chapter 116 -Nevan Dan Ray
117
Chapter 117 -Ray
118
Chapter 118 -Osdont? Osnot? Osmond!
119
Chapter 119 -Oliver Dan Darah Campuran
120
Chapter 120 -Michael
121
Chapter 121 -Michael II
122
Chapter 122 -Masa Lalu, Masa Depan
123
Chapter 123 -Menyalahkan
124
Chapter 124 -Hubungan Kite Dan Felix
125
Chapter 125 -POV Ken
126
Chapter 126 -Kite Dan Michael
127
Chapter 127 -Kite Dan Michael II
128
Chapter 128 -Rafa= Oliver?
129
Chapter 129 -Oliver
130
Chapter 130 -Oliver II
131
Chapter 131 -Putra Ratu Silvia
132
Chapter 132 -Perang Akhir Dimulai
133
Chapter 133 -Perang Akhir Dimulai II
134
Chapter 134 -Perang Akhir Dimulai III
135
Chapter 135 -Rafa?
136
Chapter 136 -Identitas Ken
137
Chapter 137 -Perang Akhir Dimulai IV
138
Chapter 138 -Perang Akhir Dimulai V
139
Chapter 139 -Teddy II
140
Chapter 140 -Axelle
141
Chapter 141 -Axelle II
142
Chapter 142 -Kekejaman Michael
143
Chapter 143 -Leon II
144
Chapter 144 -Kenapa?
145
Chapter 145 -The End
146
Last

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!