"Aku puji sifat kesetiaanmu padanya sangat besar. Tapi kau jangan keras kepala. Lihatlah keadaanmu sekarang. Apa kau akan terus bungkam dan seperti ini?"
Seorang iblis tergeletak di lantai dengan keadaan memprihatinkan. Kedua lengannya dirantai. Tubuhnya penuh dengan lebam, luka bakar dan bekas sayatan. Darah menggenangi lantai di bawahnya. Wajahnya begitu pucat pasi seolah sudah tidak memiliki darah.
Pria itu tetap kukuh dengan pendiriannya. Ia tidak mau mengatakan dimana keberadaan Raja iblis yang ia layani pada pria di depannya. Karena ia tahu, jika dirinya melakukan itu, maka Raja nya akan diserang oleh keempat Raja iblis.
Stev, Raja iblis yang kini bertanggung jawab untuk mendapatkan informasi keberadaan Leon sudah menyiksa Radolf selama beberapa hari ini. Namun pria itu masih terus bungkam dn tidak mau mengatakan keberadaan Leon.
"Pantas saja kau menjadi tangan kanannya dan merupakan orang kepercayaannya. Sekarang aku mengerti. Kau memang sulit untuk bekerja sama denganku. Padahal jika kau mengatakannya, kau akan terbebas dari siksaan ini dan bisa hidup dengan baik," Stev mengangguk angguk.
Stev jongkok di depan Radolf, "Kami sudah mencoba mencarinya ke seluruh penjuru dunia iblis. Kami bahkan sudah menyebarkan selebaran jika ada yang menemukannya akan mendapatkan hadiah besar. Jadi semakin banyak iblis yang mencarinya. Namun sampai sekarang dia belum juga ditemukan.
Aku punya dugaan kau mengirimnya ke dunia manusia walau aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya. Tapi aku yakin dengan hal itu. Bagaimana menurutmu?"
Radolf mengangkat kepalanya dan tersenyum miring. Walaupun luka luka di tubuhnya disebabkan oleh Stev, namun ia masih berani untuk menatap iblis itu, "Entahlah, kau pikirkan saja itu sendiri."
"Aku anggap jawabanmu itu sebagai 'ya'. Karena itu, aku akan membutuhkanmu untuk bisa pergi ke sana. Aku yakin keadaannya saat ini sedang tidak baik baik saja. Akan membutuhkan wktu yang lama baginya untuk pulih, karena itu aku akan mengirimkan tangan kananku beserta tangan kanan Raja iblis lainnya," Stev menyeringai.
"Kau pikir aku akan membantumu?" Radolf memandang Stev dengan raut sombong. Stev seolah yakin bila ia akan membantunya.
"Yah, kita lihat saja. Ini mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lama," Stev segera berdiri. Ia mengarahkan tangannya pada Radolf.
Radolf yang sejak tadi meremehkan Stev kini mulai merasakan sakit kepala yang hebat. Ia pun mengerang kesakitan disertai tangannya yang mengepal dengan kuat, "Aakkkhh"
***
Setelah semua orang telah selesai makan, Rafa memperhatikan Leon dan Nevan bergantian. Ia pun terbatuk sesaat, "Ekhem, karena aku libur hari ini dan besok, bagaimana bila kita pergi ke pasar malam nanti?"
Mata Nevan berbinar saat mendengar kata 'pasar malam'. Sudah lama ia tidak pernah pergi ke tempat seperti itu lagi, "Aku setuju!! Ayo pergi ke sana! Tapi, kenapa kau tiba tiba mengajak ke sana?" Nevan tiba tiba menjadi diam dan memperhatikan saudaranya saat pertanyaan itu melintas di kepala.
"Yah, kupikir aku harus mengajak Leon ke suatu tempat. Dia pasti bosan selalu berada di rumah. Sekali sekali aku harus mengajaknya pergi keluar," Rafa melirik Leon yang terlihat bingung. "Ada apa? Apa kau tidak suka?"
Leon menggelengkan kepala, "Apa itu pasar malam?"
"Banyak permainan di pasar malam, kau pasti akan menyukainya!" Ucap Nevan dengan semangat.
Leon terdiam mendengar ucapan Nevan. Pemuda itu tiba tiba menjadi begitu bersemangat seperti ini hanya karena kata 'pasar malam'.
Nevan terdiam. Ia baru ingat, hubungannya dengan Leon sekarang sedang tidak terlalu baik. Ia terlalu semangat sampai melupakan hal itu.
"Kau akan lebih mengerti bila mencobanya sendiri, Leon." Ucap Rafa sambil berdiri dari duduknya. Ia pun mengambil satu persatu piring dan membawanya ke tempat cucian piring.
Leon hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan Rafa. Ia sendiri merasa penasaran dengan itu.
"Dalam berita, mayat yang ditemukan sekarang berada cukup jauh dari sini. Pasti tidak akan ada hal apapun yang terjadi, 'kan?" batin Nevan sambil menahan rasa bahagianya.
Pada malam harinya, Rafa benar benar mengajak keduanya pergi ke pasar malam. Saat mulai memasuki tempat itu, mereka akan disuguhkan oleh pemandangan lampu yang berwarna warni menghiasi semua stand permainan.
Leon memperhatikan sekelilingnya dengan takjub. Ia baru pertama kali melihat hal seperti ini. Sebuah kincir besar yang terlihat olehnya pun kini mencuri perhatiannya. Ia terus memperhatikan itu sejak awal masuk kemari.
Menyadari tentang itu, Rafa langsung menunjuknya, "Itu adalah bianglala. Dengan menaiki itu, kita akan bisa melihat pemandangan kota dari atas. Bukankah bianglala terlihat sangat indah dari sini?"
Leon mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari kincir besar itu.
Nevan langsung pergi ke tempat dimana permainan berhadiah yang ingin dimainkannya. Permainan tembak yang menargetkan lingkaran panahan.
Shuut Shuut Shuut
Secara berturut turut, ia berhasil menembak tepat di tengah lingkaran. Orang orang yang menyaksikan langsung bertepuk tangan karena takjub.
"Apa kau ingin mencoba apa yang Nev mainkan, Leon?" tanya Rafa sambil menunjuk stand permainan.
Leon mengangguk. Ia ingin mencoba apa yang dimainkan oleh Nevan, karena itu terlihat cukup menarik.
Leon dan Nevan saling bersandingan. Nevan sudah mendapatkan hadiah yang diincarnya. Sekarang waktunya untuk dirinya bersenang senang.
Leon menatap targetnya dengan lurus. Titik tengah lingkaran terlihat cukup kecil. Namun ia merasa bisa mengenainya. Menggunakan pistol mainan di tangannya dengan cara yang sama seperti Nevan, ia pun mulai menembak.
Shuutt Tukk
Rafa memberikan tepuk tangan pada Leon saat anak itu berhasil mengenai target. Ia tidak mengira bila Leon bisa berhasil dalam sekali coba.
"Kau pernah dengar keberuntungan bagi pemula? Itulah dirimu sekarang. Kau tidak akan bisa mengenainya untuk kedua kali," ucap Nevan sambil tersenyum miring. Ia memperhatikan target bidikannya, lalu menembakkannya.
Shuut
Nevan kembali mengenai target. Ia menatap Leon dengan sombong.
"Hmph," Leon hanya mendengus. Ia menatap kembali targetnya dan secara bertahap langsung menembakkan dua kali peluru panah kecil itu.
Shuut Shuutt
Keduanya mengenai target dengan baik. Tidak ada yang meleset.
Nevan mendengus melihat keberuntungan Leon. Ia tidak mau kalah. Dirinya langsung ikut menembak targetnya. Saat satu panahnya menancap dengan baik, satu panahnya lagi meleset dan tidak bisa mengenai bidikan dengan tepat, "Cih, kau hanya beruntung. Aku sengaja mengalah untukmu."
Rafa tersenyum. Sepertinya Nevan sudah kembali seperti sedia kala. "Karena kau sudah mengenai target dengan tepat 3x berturut turut, kau bisa memilih hadiah yang kau inginkan sama seperti Nev tadi, Leon."
Leon mengangguk. Ia memperhatikan hadiah yang tergantung satu persatu. Kebanyakan hadiah itu adalah boneka. Namun ada satu benda yang menarik perhatiannya. Ia pun segera menunjuknya, "Aku ingin itu."
"Ah, maaf sekali. Kau tidak bisa mendapatkannya hanya dengan 3 tembakan. Kau bisa mendapatkannya jika berhasil mengenai target yang sama sebanyak 7 kali berturut turut." Ucap penjual dengan ekspresi tidak enak. Walaupun dalam hati sebenarnya ia sedang tersenyum sinis.
Ia yakin Leon tidak akan bisa terus terusan menembak di target yang sama jika di target itu masih terdapat peluru panah lain. Karena lingkaran tengah yang cukup kecil, mustahil bisa melakukannya jika tanpa mengkosongkan ruang terlebih dahulu.
"Biasanya tidak seperti ini. Nev juga baru saja mendapatkan benda yang dia inginkan hanya dengan 3 kali tembakan berutrut turut," ucap Rafa dengan kesal.
Tanpa basa basi, Leon langsung mengambil pistol lain yang sudah terisi dengan peluru panahan kecil. Ia memfokuskan pandangan pada celah celah kecil yang dibuat 3 panah sebelumnya, lalu menembaknya sebanyak 2 kali berutrut turut tanpa meleset sedikitpun.
Penjual terperangah oleh permainan yang dilakukan anak kecil itu. Kini hanya tinggal 2 kali menembak lagi dan Leon bisa mendapatkan hadiah yang diinginkan.
Leon kembali menembakkan 1 panah dan langsung mengenai target. Ia pun mengambil pistol lainnya karena peluru pada pinstol yang ia gunakan habis.
Pada tembakan terakhirnya, Leon tidak bisa melihat kesempatan untuk menembak. Semua celah sudah tertutup. Ia terus mencari celah sekecil apapun, namun ia tidak menemukannya.
Nevan langsung mengambil pistol yang dipegang Leon. Ia mengarahkannya pada bidikan, "Jika tidak ada celah, maka buka celah itu sendiri," setelah berhasil mendapatkan posisi yang tepat, ia menembakkan pistolnya.
Shuuttt Tukk
Panah itu membelah panah lainnya dan mengenai target tanpa membuat panah lain terjatuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Fadea Sinukaban
wah makin seruuu
2023-10-15
0