Chapter 10 -Pasar Malam

"Aku puji sifat kesetiaanmu padanya sangat besar. Tapi kau jangan keras kepala. Lihatlah keadaanmu sekarang. Apa kau akan terus bungkam dan seperti ini?"

Seorang iblis tergeletak di lantai dengan keadaan memprihatinkan. Kedua lengannya dirantai. Tubuhnya penuh dengan lebam, luka bakar dan bekas sayatan. Darah menggenangi lantai di bawahnya. Wajahnya begitu pucat pasi seolah sudah tidak memiliki darah.

Pria itu tetap kukuh dengan pendiriannya. Ia tidak mau mengatakan dimana keberadaan Raja iblis yang ia layani pada pria di depannya. Karena ia tahu, jika dirinya melakukan itu, maka Raja nya akan diserang oleh keempat Raja iblis.

Stev, Raja iblis yang kini bertanggung jawab untuk mendapatkan informasi keberadaan Leon sudah menyiksa Radolf selama beberapa hari ini. Namun pria itu masih terus bungkam dn tidak mau mengatakan keberadaan Leon.

"Pantas saja kau menjadi tangan kanannya dan merupakan orang kepercayaannya. Sekarang aku mengerti. Kau memang sulit untuk bekerja sama denganku. Padahal jika kau mengatakannya, kau akan terbebas dari siksaan ini dan bisa hidup dengan baik," Stev mengangguk angguk.

Stev jongkok di depan Radolf, "Kami sudah mencoba mencarinya ke seluruh penjuru dunia iblis. Kami bahkan sudah menyebarkan selebaran jika ada yang menemukannya akan mendapatkan hadiah besar. Jadi semakin banyak iblis yang mencarinya. Namun sampai sekarang dia belum juga ditemukan.

Aku punya dugaan kau mengirimnya ke dunia manusia walau aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya. Tapi aku yakin dengan hal itu. Bagaimana menurutmu?"

Radolf mengangkat kepalanya dan tersenyum miring. Walaupun luka luka di tubuhnya disebabkan oleh Stev, namun ia masih berani untuk menatap iblis itu, "Entahlah, kau pikirkan saja itu sendiri."

"Aku anggap jawabanmu itu sebagai 'ya'. Karena itu, aku akan membutuhkanmu untuk bisa pergi ke sana. Aku yakin keadaannya saat ini sedang tidak baik baik saja. Akan membutuhkan wktu yang lama baginya untuk pulih, karena itu aku akan mengirimkan tangan kananku beserta tangan kanan Raja iblis lainnya," Stev menyeringai.

"Kau pikir aku akan membantumu?" Radolf memandang Stev dengan raut sombong. Stev seolah yakin bila ia akan membantunya.

"Yah, kita lihat saja. Ini mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lama," Stev segera berdiri. Ia mengarahkan tangannya pada Radolf.

Radolf yang sejak tadi meremehkan Stev kini mulai merasakan sakit kepala yang hebat. Ia pun mengerang kesakitan disertai tangannya yang mengepal dengan kuat, "Aakkkhh"

***

Setelah semua orang telah selesai makan, Rafa memperhatikan Leon dan Nevan bergantian. Ia pun terbatuk sesaat, "Ekhem, karena aku libur hari ini dan besok, bagaimana bila kita pergi ke pasar malam nanti?"

Mata Nevan berbinar saat mendengar kata 'pasar malam'. Sudah lama ia tidak pernah pergi ke tempat seperti itu lagi, "Aku setuju!! Ayo pergi ke sana! Tapi, kenapa kau tiba tiba mengajak ke sana?" Nevan tiba tiba menjadi diam dan memperhatikan saudaranya saat pertanyaan itu melintas di kepala.

"Yah, kupikir aku harus mengajak Leon ke suatu tempat. Dia pasti bosan selalu berada di rumah. Sekali sekali aku harus mengajaknya pergi keluar," Rafa melirik Leon yang terlihat bingung. "Ada apa? Apa kau tidak suka?"

Leon menggelengkan kepala, "Apa itu pasar malam?"

"Banyak permainan di pasar malam, kau pasti akan menyukainya!" Ucap Nevan dengan semangat.

Leon terdiam mendengar ucapan Nevan. Pemuda itu tiba tiba menjadi begitu bersemangat seperti ini hanya karena kata 'pasar malam'.

Nevan terdiam. Ia baru ingat, hubungannya dengan Leon sekarang sedang tidak terlalu baik. Ia terlalu semangat sampai melupakan hal itu.

"Kau akan lebih mengerti bila mencobanya sendiri, Leon." Ucap Rafa sambil berdiri dari duduknya. Ia pun mengambil satu persatu piring dan membawanya ke tempat cucian piring.

Leon hanya bisa mengikuti apa yang diinginkan Rafa. Ia sendiri merasa penasaran dengan itu.

"Dalam berita, mayat yang ditemukan sekarang berada cukup jauh dari sini. Pasti tidak akan ada hal apapun yang terjadi, 'kan?" batin Nevan sambil menahan rasa bahagianya.

Pada malam harinya, Rafa benar benar mengajak keduanya pergi ke pasar malam. Saat mulai memasuki tempat itu, mereka akan disuguhkan oleh pemandangan lampu yang berwarna warni menghiasi semua stand permainan.

Leon memperhatikan sekelilingnya dengan takjub. Ia baru pertama kali melihat hal seperti ini. Sebuah kincir besar yang terlihat olehnya pun kini mencuri perhatiannya. Ia terus memperhatikan itu sejak awal masuk kemari.

Menyadari tentang itu, Rafa langsung menunjuknya, "Itu adalah bianglala. Dengan menaiki itu, kita akan bisa melihat pemandangan kota dari atas. Bukankah bianglala terlihat sangat indah dari sini?"

Leon mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari kincir besar itu.

Nevan langsung pergi ke tempat dimana permainan berhadiah yang ingin dimainkannya. Permainan tembak yang menargetkan lingkaran panahan.

Shuut Shuut Shuut

Secara berturut turut, ia berhasil menembak tepat di tengah lingkaran. Orang orang yang menyaksikan langsung bertepuk tangan karena takjub.

"Apa kau ingin mencoba apa yang Nev mainkan, Leon?" tanya Rafa sambil menunjuk stand permainan.

Leon mengangguk. Ia ingin mencoba apa yang dimainkan oleh Nevan, karena itu terlihat cukup menarik.

Leon dan Nevan saling bersandingan. Nevan sudah mendapatkan hadiah yang diincarnya. Sekarang waktunya untuk dirinya bersenang senang.

Leon menatap targetnya dengan lurus. Titik tengah lingkaran terlihat cukup kecil. Namun ia merasa bisa mengenainya. Menggunakan pistol mainan di tangannya dengan cara yang sama seperti Nevan, ia pun mulai menembak.

Shuutt Tukk

Rafa memberikan tepuk tangan pada Leon saat anak itu berhasil mengenai target. Ia tidak mengira bila Leon bisa berhasil dalam sekali coba.

"Kau pernah dengar keberuntungan bagi pemula? Itulah dirimu sekarang. Kau tidak akan bisa mengenainya untuk kedua kali," ucap Nevan sambil tersenyum miring. Ia memperhatikan target bidikannya, lalu menembakkannya.

Shuut

Nevan kembali mengenai target. Ia menatap Leon dengan sombong.

"Hmph," Leon hanya mendengus. Ia menatap kembali targetnya dan secara bertahap langsung menembakkan dua kali peluru panah kecil itu.

Shuut Shuutt

Keduanya mengenai target dengan baik. Tidak ada yang meleset.

Nevan mendengus melihat keberuntungan Leon. Ia tidak mau kalah. Dirinya langsung ikut menembak targetnya. Saat satu panahnya menancap dengan baik, satu panahnya lagi meleset dan tidak bisa mengenai bidikan dengan tepat, "Cih, kau hanya beruntung. Aku sengaja mengalah untukmu."

Rafa tersenyum. Sepertinya Nevan sudah kembali seperti sedia kala. "Karena kau sudah mengenai target dengan tepat 3x berturut turut, kau bisa memilih hadiah yang kau inginkan sama seperti Nev tadi, Leon."

Leon mengangguk. Ia memperhatikan hadiah yang tergantung satu persatu. Kebanyakan hadiah itu adalah boneka. Namun ada satu benda yang menarik perhatiannya. Ia pun segera menunjuknya, "Aku ingin itu."

"Ah, maaf sekali. Kau tidak bisa mendapatkannya hanya dengan 3 tembakan. Kau bisa mendapatkannya jika berhasil mengenai target yang sama sebanyak 7 kali berturut turut." Ucap penjual dengan ekspresi tidak enak. Walaupun dalam hati sebenarnya ia sedang tersenyum sinis.

Ia yakin Leon tidak akan bisa terus terusan menembak di target yang sama jika di target itu masih terdapat peluru panah lain. Karena lingkaran tengah yang cukup kecil, mustahil bisa melakukannya jika tanpa mengkosongkan ruang terlebih dahulu.

"Biasanya tidak seperti ini. Nev juga baru saja mendapatkan benda yang dia inginkan hanya dengan 3 kali tembakan berutrut turut," ucap Rafa dengan kesal.

Tanpa basa basi, Leon langsung mengambil pistol lain yang sudah terisi dengan peluru panahan kecil. Ia memfokuskan pandangan pada celah celah kecil yang dibuat 3 panah sebelumnya, lalu menembaknya sebanyak 2 kali berutrut turut tanpa meleset sedikitpun.

Penjual terperangah oleh permainan yang dilakukan anak kecil itu. Kini hanya tinggal 2 kali menembak lagi dan Leon bisa mendapatkan hadiah yang diinginkan.

Leon kembali menembakkan 1 panah dan langsung mengenai target. Ia pun mengambil pistol lainnya karena peluru pada pinstol yang ia gunakan habis.

Pada tembakan terakhirnya, Leon tidak bisa melihat kesempatan untuk menembak. Semua celah sudah tertutup. Ia terus mencari celah sekecil apapun, namun ia tidak menemukannya.

Nevan langsung mengambil pistol yang dipegang Leon. Ia mengarahkannya pada bidikan, "Jika tidak ada celah, maka buka celah itu sendiri," setelah berhasil mendapatkan posisi yang tepat, ia menembakkan pistolnya.

Shuuttt Tukk

Panah itu membelah panah lainnya dan mengenai target tanpa membuat panah lain terjatuh.

Terpopuler

Comments

Fadea Sinukaban

Fadea Sinukaban

wah makin seruuu

2023-10-15

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 01 -Awal dari segalanya
2 Chapter 02 -Es Krim
3 Chapter 03 -Nevan
4 Chapter 04 -Raja Iblis
5 Chapter 05 -Katly Dan Retakan
6 Chapter 06 -Berita
7 Chapter 07 -Lawan Pertama
8 Chapter 08 -Kematian Sementara
9 Chapter 09 -Sadar
10 Chapter 10 -Pasar Malam
11 Chapter 11 -Pasar Malam 2
12 Chapter 12 -Tangan Kanan Raja
13 Chapter 13 -2 Sifat
14 Chapter 14 -Pulang
15 Chapter 15 -Sakit
16 Chapter 16 -Pria Asing
17 Chapter 17 -Need
18 Chapter 18 -Need 2
19 Chapter 19 -Kedatangan
20 Chapter 20 -Need Dan Leon
21 Chapter 21 -Kepingan Informasi
22 Chapter 22 -Tidak Percaya
23 Chapter 23 -Ketidaktahuan
24 Chapter 24 -Teddy
25 Chapter 25 -Berbeda
26 Chapter 26 -Kevin Mati
27 Chapter 27 -Tidak Jadi Mati
28 Chapter 28 -Kedatangan Flynn
29 Chapter 29 -Kedatangan Flynn 2
30 Chapter 30 -Ke Rumah Sakit
31 Chapter 31 -Usir Leon?
32 Chapter 32 -Bertengkar
33 Chapter 33 -Permintaan
34 Chapter 34 -Pertemuan Kedua
35 Chapter 35 -Bertarung Lagi
36 Chapter 36 -Muak Dan Kematian
37 Chapter 37 -Bunuh Diri
38 Chapter 38 -Ash
39 Chapter 39 -Cemas
40 Chapter 40 -Permintaan Maaf
41 Chapter 41 -Perpisahan
42 Chapter 42 -Masing Masing
43 Chapter 43 -Melawan Belle
44 Chapter 44 -Belle Mati
45 Chapter 45 -Ingatan Kembali
46 Chapter 46 -Kematian Diva
47 Chapter 47 -Penjelasan Nevan
48 Chapter 48 -Antara Rafa Dan Nevan
49 Chapter 49 -Pengaruh Mutlak
50 Chapter 50 -Sudut Pandang
51 Chapter 51 -Kehadiran Melvin
52 Chapter 52 -Cara Untuk Masuk?
53 Chapter 53 -Menyusup
54 Chapter 54 -Ketahuan
55 Chapter 55 -Bertemu Iblis
56 Chapter 56 -Membunuh Iblis
57 Chapter 57 -Berkumpul Di Aula
58 Chapter 58 -Menuju Pertempuran Akhir
59 Chapter 59 -Need
60 Chapter 60 -Menuju Akhir
61 Chapter 61 -Menuju Akhir II
62 Chapter 62 -Leon Mati
63 Chapter 63 -Pohon Telah Tumbuh
64 Chapter 64 -Reinkarnasi
65 Chapter 65 -10 Tahun Kemudian
66 Chapter 66 -Masa Lalu Ralt
67 Chapter 67 -Ketiga
68 Chapter 68 -Terciptanya Need
69 Chapter 69 -POV Selesai
70 Chapter 70 -Berbaikan
71 Chapter 71 -Kebenaran
72 Chapter 72 -Kemungkinan
73 Chapter 73 -Kisah Teddy
74 Chapter 74 -Kembali Ke Dunia Iblis
75 Chapter 75 -Memohon
76 Chapter 76 -Pergi Ke Dunia Iblis
77 Chapter 77 -Ayah Dan Anak
78 Chapter 78 -Kabar Kematian
79 Chapter 79 -Kawanan Beruang Berduri
80 Chapter 80 -Menyembuhkan
81 Chapter 81 -Kendala
82 Chapter 82 -Tekad
83 Chapter 83 -Nevan
84 Chapter 84 -Kite
85 Chapter 85 -Mayat Hidup
86 Chapter 86 -Mayat Hidup II
87 Chapter 87 -Bertemu Kembali
88 Chapter 88 -Flynn
89 Chapter 89 -Kekacauan
90 Chapter 90 -Mayat Hidup III
91 Chapter 91 -Kite II
92 Chapter 92 -Need Dan Leon II
93 Chapter 93 -Iblis Dan Blizt
94 Chapter 94 -Leon
95 Chapter 95 -Serangan
96 Chapter 96 -Tidak Terima
97 Chapter 97 -Hidup Kembali
98 Chapter 98 -Bercanda
99 Chapter 99 -Iblis Dan Blizt II
100 Chapter 100 -Pendapat
101 Chapter 101 -Menjadi Umpan
102 Chapter 102 -Silvia Dan Stev
103 Chapter 103 -Silvia Dan Stev II
104 Chapter 104 -Kedatangan Tak Terduga
105 Chapter 105 -Hidup Lagi
106 Chapter 106 -Pertarungan Berakhir
107 Chapter 107 -Antara Melvin Dan Radolf
108 Chapter 108 -Ken Pergi
109 Chapter 109 -Flashback
110 Chapter 110 -Ingatan Nevan Kembali
111 Chapter 111 -Mencari Makan
112 Chapter 112 -Mayat Hidup Ralt
113 Chapter 113 -Ken
114 Chapter 114 -Bukan Makhluk Hidup
115 Chapter 115 -Di Pihak Musuh?
116 Chapter 116 -Nevan Dan Ray
117 Chapter 117 -Ray
118 Chapter 118 -Osdont? Osnot? Osmond!
119 Chapter 119 -Oliver Dan Darah Campuran
120 Chapter 120 -Michael
121 Chapter 121 -Michael II
122 Chapter 122 -Masa Lalu, Masa Depan
123 Chapter 123 -Menyalahkan
124 Chapter 124 -Hubungan Kite Dan Felix
125 Chapter 125 -POV Ken
126 Chapter 126 -Kite Dan Michael
127 Chapter 127 -Kite Dan Michael II
128 Chapter 128 -Rafa= Oliver?
129 Chapter 129 -Oliver
130 Chapter 130 -Oliver II
131 Chapter 131 -Putra Ratu Silvia
132 Chapter 132 -Perang Akhir Dimulai
133 Chapter 133 -Perang Akhir Dimulai II
134 Chapter 134 -Perang Akhir Dimulai III
135 Chapter 135 -Rafa?
136 Chapter 136 -Identitas Ken
137 Chapter 137 -Perang Akhir Dimulai IV
138 Chapter 138 -Perang Akhir Dimulai V
139 Chapter 139 -Teddy II
140 Chapter 140 -Axelle
141 Chapter 141 -Axelle II
142 Chapter 142 -Kekejaman Michael
143 Chapter 143 -Leon II
144 Chapter 144 -Kenapa?
145 Chapter 145 -The End
146 Last
Episodes

Updated 146 Episodes

1
Chapter 01 -Awal dari segalanya
2
Chapter 02 -Es Krim
3
Chapter 03 -Nevan
4
Chapter 04 -Raja Iblis
5
Chapter 05 -Katly Dan Retakan
6
Chapter 06 -Berita
7
Chapter 07 -Lawan Pertama
8
Chapter 08 -Kematian Sementara
9
Chapter 09 -Sadar
10
Chapter 10 -Pasar Malam
11
Chapter 11 -Pasar Malam 2
12
Chapter 12 -Tangan Kanan Raja
13
Chapter 13 -2 Sifat
14
Chapter 14 -Pulang
15
Chapter 15 -Sakit
16
Chapter 16 -Pria Asing
17
Chapter 17 -Need
18
Chapter 18 -Need 2
19
Chapter 19 -Kedatangan
20
Chapter 20 -Need Dan Leon
21
Chapter 21 -Kepingan Informasi
22
Chapter 22 -Tidak Percaya
23
Chapter 23 -Ketidaktahuan
24
Chapter 24 -Teddy
25
Chapter 25 -Berbeda
26
Chapter 26 -Kevin Mati
27
Chapter 27 -Tidak Jadi Mati
28
Chapter 28 -Kedatangan Flynn
29
Chapter 29 -Kedatangan Flynn 2
30
Chapter 30 -Ke Rumah Sakit
31
Chapter 31 -Usir Leon?
32
Chapter 32 -Bertengkar
33
Chapter 33 -Permintaan
34
Chapter 34 -Pertemuan Kedua
35
Chapter 35 -Bertarung Lagi
36
Chapter 36 -Muak Dan Kematian
37
Chapter 37 -Bunuh Diri
38
Chapter 38 -Ash
39
Chapter 39 -Cemas
40
Chapter 40 -Permintaan Maaf
41
Chapter 41 -Perpisahan
42
Chapter 42 -Masing Masing
43
Chapter 43 -Melawan Belle
44
Chapter 44 -Belle Mati
45
Chapter 45 -Ingatan Kembali
46
Chapter 46 -Kematian Diva
47
Chapter 47 -Penjelasan Nevan
48
Chapter 48 -Antara Rafa Dan Nevan
49
Chapter 49 -Pengaruh Mutlak
50
Chapter 50 -Sudut Pandang
51
Chapter 51 -Kehadiran Melvin
52
Chapter 52 -Cara Untuk Masuk?
53
Chapter 53 -Menyusup
54
Chapter 54 -Ketahuan
55
Chapter 55 -Bertemu Iblis
56
Chapter 56 -Membunuh Iblis
57
Chapter 57 -Berkumpul Di Aula
58
Chapter 58 -Menuju Pertempuran Akhir
59
Chapter 59 -Need
60
Chapter 60 -Menuju Akhir
61
Chapter 61 -Menuju Akhir II
62
Chapter 62 -Leon Mati
63
Chapter 63 -Pohon Telah Tumbuh
64
Chapter 64 -Reinkarnasi
65
Chapter 65 -10 Tahun Kemudian
66
Chapter 66 -Masa Lalu Ralt
67
Chapter 67 -Ketiga
68
Chapter 68 -Terciptanya Need
69
Chapter 69 -POV Selesai
70
Chapter 70 -Berbaikan
71
Chapter 71 -Kebenaran
72
Chapter 72 -Kemungkinan
73
Chapter 73 -Kisah Teddy
74
Chapter 74 -Kembali Ke Dunia Iblis
75
Chapter 75 -Memohon
76
Chapter 76 -Pergi Ke Dunia Iblis
77
Chapter 77 -Ayah Dan Anak
78
Chapter 78 -Kabar Kematian
79
Chapter 79 -Kawanan Beruang Berduri
80
Chapter 80 -Menyembuhkan
81
Chapter 81 -Kendala
82
Chapter 82 -Tekad
83
Chapter 83 -Nevan
84
Chapter 84 -Kite
85
Chapter 85 -Mayat Hidup
86
Chapter 86 -Mayat Hidup II
87
Chapter 87 -Bertemu Kembali
88
Chapter 88 -Flynn
89
Chapter 89 -Kekacauan
90
Chapter 90 -Mayat Hidup III
91
Chapter 91 -Kite II
92
Chapter 92 -Need Dan Leon II
93
Chapter 93 -Iblis Dan Blizt
94
Chapter 94 -Leon
95
Chapter 95 -Serangan
96
Chapter 96 -Tidak Terima
97
Chapter 97 -Hidup Kembali
98
Chapter 98 -Bercanda
99
Chapter 99 -Iblis Dan Blizt II
100
Chapter 100 -Pendapat
101
Chapter 101 -Menjadi Umpan
102
Chapter 102 -Silvia Dan Stev
103
Chapter 103 -Silvia Dan Stev II
104
Chapter 104 -Kedatangan Tak Terduga
105
Chapter 105 -Hidup Lagi
106
Chapter 106 -Pertarungan Berakhir
107
Chapter 107 -Antara Melvin Dan Radolf
108
Chapter 108 -Ken Pergi
109
Chapter 109 -Flashback
110
Chapter 110 -Ingatan Nevan Kembali
111
Chapter 111 -Mencari Makan
112
Chapter 112 -Mayat Hidup Ralt
113
Chapter 113 -Ken
114
Chapter 114 -Bukan Makhluk Hidup
115
Chapter 115 -Di Pihak Musuh?
116
Chapter 116 -Nevan Dan Ray
117
Chapter 117 -Ray
118
Chapter 118 -Osdont? Osnot? Osmond!
119
Chapter 119 -Oliver Dan Darah Campuran
120
Chapter 120 -Michael
121
Chapter 121 -Michael II
122
Chapter 122 -Masa Lalu, Masa Depan
123
Chapter 123 -Menyalahkan
124
Chapter 124 -Hubungan Kite Dan Felix
125
Chapter 125 -POV Ken
126
Chapter 126 -Kite Dan Michael
127
Chapter 127 -Kite Dan Michael II
128
Chapter 128 -Rafa= Oliver?
129
Chapter 129 -Oliver
130
Chapter 130 -Oliver II
131
Chapter 131 -Putra Ratu Silvia
132
Chapter 132 -Perang Akhir Dimulai
133
Chapter 133 -Perang Akhir Dimulai II
134
Chapter 134 -Perang Akhir Dimulai III
135
Chapter 135 -Rafa?
136
Chapter 136 -Identitas Ken
137
Chapter 137 -Perang Akhir Dimulai IV
138
Chapter 138 -Perang Akhir Dimulai V
139
Chapter 139 -Teddy II
140
Chapter 140 -Axelle
141
Chapter 141 -Axelle II
142
Chapter 142 -Kekejaman Michael
143
Chapter 143 -Leon II
144
Chapter 144 -Kenapa?
145
Chapter 145 -The End
146
Last

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!