"Jadi.. kau kemari karena kau sudah libur sekolah?" ucap Rafa. Ia bersama dengan Leon dan Nevan saat ini berada di ruang tamu.
"Iya, karena itulah aku di sini. Sudah lama aku tidak mengunjungimu ke rumah ini. Biasanya kau yang akan berkunjung ke rumahku, tapi sudah lama sekali kau tidak ke sana. Karena itu, di libur sekolah ini aku mengunjungimu," balas Nevan.
"Lalu saat aku kemari, ada anak kecil di rumah ini. Aku jadi curiga. Kau tidak melakukan hal yang macam macam 'kan?" lanjut Nevan dengan tatapan menyelidik.
Rafa melemparkan bantal di sofa pada wajah Nevan hingga tubuh pemuda itu terbanting ke sandaran kursi, "Kau ini..!! Jangan berpikir negatif! Aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya kemarin. Dia tidak bersama siapapun dan dia juga baru saja kehilangan ingatannya. Bagaimana bisa aku meninggalkannya sendirian?"
"Memangnya apa yang sudah terjadi?" Nevan melemparkan bantal ke meja, lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Ceritanya panjang. Aku sedang malas. Yang pasti dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu sampai aku bisa menemukan orang tuanya."
"Bagaimana caramu menemukan orang tuanya bila dia saja hilang ingatan?"
Rafa membungkam mulutnya. Ia sendiri masih belum melakukan apapun untuk menemukan orang tua Leon.
"Haish.. kau ini.. setidaknya kau harus memberitahukan hal ini pada ayah. Bahkan kau tidak memberitahuku apapun," Nevan mendengus dengan ekspresi kesal.
"Baiklah, aku salah. Aku lupa mengatakannya. Ini sangat tiba tiba untukku, sampai aku lupa mengabari paman. Tapi aku akan mengatakan padanya nanti. Jadi kau jangan mengatakan hal ini padanya. Aku tidak mau bila dia mendengarnya dari kau terlebih dahulu," balas Rafa.
"Terserah kau saja, siapa namanya?"
"Namaku Leon," Sebenarnya Leon sudah sejak tadi memperhatikan apa yang mereka katakan. Ia mengerti dengan apa yang dibicarakan. Namun ia memilih diam dan baru berbicara sekarang.
Nevan memperhatikan Leon dari atas hingga bawah. Ia mengangguk angguk dan berbicara dalam hati, "Sepertinya dia bisa kusuruh suruh selama di rumah ini. Dengan begitu aku bisa bermalas malasan sepenuhnya, hihihi.."
"Namaku Nevan. Aku adalah saudara Rafa. Ekhem.. aku ingin bertanya padamu, apa kau benar benar tidak mengingat apapun? Apa kau hanya mengingat namamu?"
"Aku hanya mengingat nama," jawab Leon.
"Entah hanya perasaanku saja atau.. saat kuperhatikan dengan baik dia terlihat sedikit berbeda dibandingkan kebanyakan orang," batin Nevan.
"Aku akan membuatkan minuman terlebih dahulu. Kalian diam'lah di sini," Rafa berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke dapur. "Lalu untukmu Nev, kau harus segera membereskan kekacauan ini. Kalau tidak, aku akan mengusirmu dari sini."
"Padahal aku baru sampai di sini, kenapa aku yang harus membereskannya? Aku terlalu lelah untuk itu," keluh Nevan.
Rafa berhenti ketika mendengar ucapan Nevan dan menengok ke belakang, "Kau yang sudah membuatnya berantakan! Apa perlu alasan lain agar kau tidak membersihkan tempat ini?"
"Oke.., oke.., baiklah, jangan menatapku seperti itu."
Rafa pun segera pergi ke dapur. Sementara Nevan mulai membersihkan tisu yang berantakan, bungkus cemilan dan makanan yang berserakan akibat ulahnya sendiri, "Kau juga harus membantuku. Jangan diam saja, kau 'kan menumpang di sini sekarang. Jadi kau harus membantu membereskan ini."
"Dia mengatakan kau yang harus membereskannya," balas Leon sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
Nevan merasa kesal ketika mendengar ucapan Leon, "Kau harus membantu. Jangan diam di sini tanpa melakukan apapun. Setidaknya kau harus membayar makanan dan tempat tinggal dengan membereskan ini."
"Aku tidak mau. Bersihkan saja sendiri."
"Anak ini.." Nevan mengepalkan tangannya dengan kesal. Sepertinya rencananya untuk bersantai sepenuhnya di rumah ini akan sulit.
"Apa kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?" teriak Rafa dari dapur.
Nevan tersentak. Ia segera memasuk masukan sampah itu ke dalam keresek. Sesekali ia melemparkan pandangan kesal pada Leon yang hanya duduk dan memperhatikan.
Di suatu tempat, sebuah kastil yang berdiri dengan megah berubah menjadi lautan darah. Sejak 2 hari lalu, pertarungan terus terjadi di tempat ini. Atau lebih tepatnya, penyerbuan.
Banyak orang orang yang tergeletak di tanah tanpa nyawa. Pedang dan panah bergelimpangan dimana mana. Bau anyir menyeruak.
Di tempat yang sudah hampir hancur itu masih ada banyak orang yang berdiri dengan tegak. Mereka'lah yang sudah menyerbu tempat ini. 4 Raja iblis beserta pasukannya.
Iblis merupakan makhluk yang abadi. Mereka tidak akan mati kecuali dibunuh ataupun mati karena sakit. Mereka memiliki fisik yang lebih kuat dibandingkan manusia. Rupa mereka sama dengan manusia. Yang membedakan hanyalah telinga runcing dan tanduk di kepala.
Di dunia iblis ini ada 5 Raja iblis yang memimpin para iblis itu. Masing masing dari mereka memiliki kekuatan istimewa. Ralt, iblis yang memiliki kekuatan gravitasi. Silvia, iblis yang bisa menjinakkan monster. Flor, iblis yang bisa mengontrol darah.
Dan Stev adalah Raja iblis paling istimewa diantara mereka. Ia memiliki 3 kemampuan istimewa. Namun yang diketahui iblis lain, ia hanya memiliki 2 kemampuan. Yaitu racun dan membekukan air. Tidak ada yang tahu tentang satu kemampuannya yang lain.
Terakhir Leon, iblis paling kejam diantara iblis lainnya. Dia yang tanpa ampun dan disegani oleh 4 Raja iblis lain. Dirinya yang bisa menghancurkan banyak iblis sekali waktu tanpa menggunakan kekuatan istimewanya, membuat banyak iblis tidak mengetahui kemampuannya.
Selama ini jarang ada iblis yang berani menyerang Leon. Namun sekarang, secara terang terangan keempat Raja iblis dengan pasukannya menyerang dirinya beserta kastil hingga wilayah kekuasaannya sampai tempatnya kini hampir habis tak bersisa.
"Apakah kalian belum juga menemukannya?" Ucap Flor. Ia terlihat seperti manusia yang berumur 20an tahun. Hanya saja, dengan tanduk dan telinga runcing. Rambutnya berwarna putih dengan mata merah dan kulitnya yang sedikit gelap.
Pasukannya tidak berani untuk menjawab Raja mereka. Hal ini pun membuat Flor marah. Ia langsung membentak dengan suara keras, "APA AKU HARUS MENGULANGI PERTANYAANKU?! JAWAB!"
"K-kami tidak menemukannya, Yang Mulia. Kami juga sudah menanyakannya pada iblis di sini. Namun walaupun kami sudah menyiksanya, mereka hanya mengatakan tidak mengetahuinya," ucap salah satu prajurit itu. Nadanya terdengar gemetar karena takut.
"Sepertinya dia melarikan diri ke suatu tempat yang jauh," ucap Silvia. Wanita itu terlihat seperti berumur 25 tahunan. Rambut panjang dan mata biru dengan kulit putih serta tahi lalat di bawah mata kanannya.
"Dia adalah iblis sombong yang tidak mungkin melakukan hal itu. Dia pasti ada di sekitar sini," balas Flor dengan ekspresi kesal.
"Pikirkan saja dengan logika. Apa dia akan tetap mempertahankan harga dirinya dengan melawan 4 Raja sekaligus dan mati konyol di sini? Tidak mungkin dia akan melakukannya," ucap Ralt dengan cuek. Ia terlihat berumur 25 tahun. Rambutnya berwarna hitam dengan pupil mata hijau.
"Dibandingkan kalian ribut seperti itu, lebih baik kita tanyakan pada tangan kanannya langsung," ucap Stev. Ia terlihat berumur 30 tahunan. Rambutnya coklat dengan pupil hitam.
Setelah Stev selesai mengatakannya, 2 orang prajurit segera mendekat pada keempat Raja iblis itu. Mereka membawa seorang pria yang sudah terluka parah. Bajunya kotor oleh darahnya sendiri.
Pria itu hanya bisa tertunduk karena tidak memiliki banyak tenaga yang tersisa. Namun mulutnya bergerak mengatakan sesuatu, "Percuma, aku tidak akan mengatakan apapun."
Kata katanya terdengar begitu lemah dan pelan. Namun itu masih bisa didengar oleh yang lain.
"Kita lihat saja nanti," balas Stev sambil tersenyum sesaat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Norayolayora
abadi tapi bisa mati😅
2023-05-03
1