"L-lepaskan.."
Tanpa basa basi, Misya langsung menancapkan kuku tajamnya ke tubuh Leon. Mata anak itu langsung melotot karena sakit. Sesuatu dari dalam dirinya seolah sedang ditarik keluar dan membuatnya terasa seperti nyawanya dicabut dengan perlahan.
Nevan terbelalak. Ia mengayunkan belatinya pada Misya. Namun terlambat, Misya sudah mengambil jantung Leon dan bergerak menghindari serangannya.
Tubuh Leon seketika terjatuh ke tanah dengan keras. Tubuhnya berlumuran darah hingga mengotori pakaiannya.
"Hahaha, kau sudah terlambat," Misya langsung mengunyah jantung Leon yang masih sedikit berdetak.
Nevan terkejut. Sekaligus membuatnya takut. Iblis ternyata lebih mengerikan dibanding yang dipikirkannya. Lihatlah bagaimana wanita itu memakan jantung manusia dengan lahapnya hingga mulutnya dipenuhi oleh darah.
Nevan segera tersadar. Ia langsung menghampiri Leon yang terkapar di tanah tanpa nyawa. Anak itu sudah pasti mati. Namun walaupun mengetahui itu, ia masih mencoba untuk membangunkannya. Tapi nihil. Leon tidak memperlihatkan tanda tanda masih hidup. Ia bahkan melihat tubuhnya berlubang di bagian jantung.
"Luar biasa. Kekuatanku dengan cepat meningkat. Rasanya seperti meluap luap, HAHAHA.. Aku baru merasakan ini untuk pertama kalinya. Ini membuatku semakin bersemangat."
Nevan menegak ludahnya saat merasakan aura Misya yang bertambah kuat. Luka yang ada di pipi wanita itu pun segera menghilang. Bahkan luka yang ia buat di belakangnya pun ikut menghilang dan sembuh.
Tubuh Misya mengeluarkan aura hitam yang pekat hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"A-apa ini? Kenapa ini?" Misya merasa heran saat hidungnya mengeluarkan darah. Tak lama dari itu, ia langsung memuntahkan seteguk darah. Tubuhnya terasa diremas dari dalam hingga membuatnya mengerang kesakitan, "AAKKHHH.."
"Apa yang terjadi?" gumam Nevan.
Wajah Misya mulai retak seperti cermin yang pecah. Asap hitam keluar dari retakan di wajahnya. Matanya mulai memutih dan kehilangan warna pupil matanya. Tubuhnya mulai membusuk dan pada akhirnya tubuhnya seperti terbakar oleh asap hitam hingga tidak menyisakan apapun. Asap pun segera hilang bersamaan dengan hilangnya suara rintihan Misya.
Nevan hanya memperhatikan. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Namun melihat kejadian seperti itu di depan matanya secara langsung, membuatnya sangat tertekan. Itu adalah hal paling mengerikan yang pernah ia lihat.
Ia pun kembali menatap Leon yang ada di pangkuannya. Untuk sekarang ia harus membawanya kembali pulang. Namun apa yang harus ia katakan pada Rafa nanti?
Ingatan ingatan saat ia bersama dengan Leon membuatnya langsung menggertakkan gigi. Entah mengapa ia seperti kehilangan sesuatu yang sudah mengisi hari harinya selama 2 minggu ini.
Nevan membuang pikiran pikiran itu, lalu menghilangkan belati serta tanda di telapak tangan kirinya. Ia pun berdiri sambil membawa Leon pulang.
Sesampainya di rumah, rumah masih sangat hening karena Rafa belum bangun. Itu wajar saja karena sekarang baru jam 4 pagi.
Sebelum Rafa bangun, Nevan harus segera memikirkan jawaban untuk dijelaskan pada Rafa. Namun pikirannya seakan sangat kacau sekarang. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Ia pun memilih untuk membawa Leon ke dalam kamarnya dan diletakkan di atas kasur hingga membuat tempat tidur itu berlumuran darah. Bukan hanya tempat tidur saja, bajunya pun ikut berlumuran darah.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Nevan membaringkan kepalanya di ujung tempat tidur dan menenggelamkan wajahnya. "Kenapa ini? Rasanya mataku panas."
Nevan menyeka air mata yang tak sengaja dikeluarkannya. Ia tidak mengerti kenapa dirinya tiba tiba seperti ini.
Tanpa Nevan sadari, lubang di tubuh Leon mulai menutup dengan sendirinya.
Leon perlahan membuka mata. Pada awalnya ia kesulitan melihat apa yang ada di depannya karena semua terlihat begitu buram. Tetapi secara perlahan ia bisa melihat semuanya dengan jelas, "Nggh.."
Mendengar suara yang tak asing, Nevan segera mengangkat kepalanya dan melihat Leon. Ia terkejut saat melihatnya membuka mata. Padahal ia yakin anak itu sudah mati. Bagaimana bisa orang mati membuka matanya?!
Nevan langsung menjauh dari Leon karena terkejut dan waspada. Ia menelan ludahnya, "Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" batinnya.
Leon segera mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Ia pun melihat Nevan yang waspada terhadapnya. Tak mempedulikan itu, ia langsung memegangi dadanya. Tubuhnya baik baik saja. Apa itu hanya mimpi?
"Apa kau Leon?" tanya Nevan sambil menatap Leon dengan selidik.
"Iya, kau pikir siapa?" ucap Leon dengan heran.
Belum lama setelah mendapat jawaban, Nevan langsung mendekati Leon dan menempelkan telapak tangannya di dada anak itu. Ia bisa merasakan detakan dari sentuhan itu. Namun bagaimana bisa? Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bila jantung Leon dimakan oleh Misya.
Leon menyingkirkan lengan Nevan dari tubuhnya. Ia pun menatapnya dengan rendah.
Melihat tatapan itu seketika membuat Nevan kesal, "Jangan salah paham, aku hanya ingin memastikan apa kau masih hidup atau tidak. Aku yakin jantungmu dimakan oleh iblis itu. Bagaimana kau masih bisa hidup? Bahkan aku merasakan detakan dari jantungmu."
"Jadi itu bukan mimpi?" Leon melihat tubuhnya yang bersimbah darah. Pakaian Nevan pun tampak dilumuri darah. "Bertarung melawan wanita mengerikan itu dan bisa mengeluarkan belati entah dari mana. Siapa kau sebenarnya?"
Nevan mengerutkan keningnya, "Bukankah seharusnya aku yang bertanya siapa kau? Aku dengan jelas melihatnya memakan jantungmu. Tapi kau masih bisa hidup. Tidak ada manusia yang masih bisa hidup setelah jantungnya dikeluarkan dari tubuhnya."
Leon memegangi kepalanya yang terasa sakit, "Aku benar benar tidak ingat apapun."
Nevan mendecakkan lidahnya. Rafa pun pernah mengatakan bila Leon hilang ingatan dan ditemukan saat di tengah jalan. Namun ia tidak bisa melepas kewaspadaannya hanya karena itu. Leon baru saja hidup kembali. Bahkan jantungnya pun berdetak. Tidak ada manusia yang bisa seperti itu.
"Apa kau tidak akan menyakiti Rafa?"
Pertanyaan konyol. Leon menatap Nevan dengan bingung. Untuk apa dirinya menyakiti Rafa?
"Untuk apa menanyakannya?"
Nevan berekspresi serius, "Alasannya karena kejadian tadi. Aku harus memastikan bila kau tidak akan menyakiti saudaraku."
"Aku tidak akan melakukannya," balas Leon.
"Kalau begitu, baiklah. Tapi aku akan tetap mengawasimu."
"Bukankah seharusnya kau yang diwaspadai? Bisa saja kau yang akan menyakitinya. Dengan apa yang kau lakukan tadi, kau akan dengan mudah melukainya," ucap Leon.
"Tidak mungkin aku melakukannya! Aku adalah saudaranya! Sementara kau? Kau adalah orang asing yang bertemu dengannya di jalan. Bahkan aku tidak tahu bagaimana asal usul mu."
"Kalau begitu bagaimana denganmu? Siapa kau sebenarnya? Manusia tidak akan bisa melakukan apa yang kau lakukan tadi," ucap Leon dengan datar.
"Walau kujelaskan, kau tidak akan mengerti apapun," sahut Nevan.
Saat Nevan hendak pergi, Leon menahan pergelangan tangannya, "Kau tidak boleh curang. Katakan padaku."
"Kau tidak memberikan jawaban apapun padaku, jadi kita im–"
"Uhuk..," Leon terbatuk darah. Kepalanya tiba tiba menjadi sangat pusing. Cengkramannya pada tangan Nevan melemas bersamaan dengan pandangannya yang menghitam.
Bruk
Untungnya Nevan sempat menahan tubuh Leon, sehingga anak itu tidak sampai jatuh ke lantai. "Kau jangan bercanda, bangunlah."
Berkali kali Nevan mencoba membangunkan Leon, namun tidak berhasil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Ayano
Waduh.... 😨😨
2023-04-04
0