Leon dan Nevan akhirnya kembali ke rumah setelah makan di luar. Rumah kini sangat sepi karena Rafa sudah berangkat ke sekolah.
"Ah! Karena harus membayar makananmu, aku harus mengeluarkan uang lebih. Kau harus membayarnya dengan sesuatu!" ucap Nevan dengan ekspresi kesal. Padahal jika ia tidak perlu membayar makanan Leon, ia pasti memiliki uang yang cukup untuk membeli cemilan.
Leon tak mengatakan apapun. Namun dari ekspresi datarnya, terlihat bila ia tidak peduli dengan protes dari Nevan. Ia berjalan ke kamarnya untuk tidur. Itulah yang sehari hari dilakukannya. Karena tidak memiliki pekerjaan apapun, ia hanya terus tidur sepanjang hari.
Nevan menahan kerah belakang Leon dan menariknya ke belakang, "Kau tidak boleh tidur! Bantu aku membereskan tempat ini. Kemarin dia sudah mengatakan agar kita membereskan rumah ini."
"Tidak mau. Lepaskan pakaianku," balas Leon sambil menengok ke belakang.
"Tidak, bantu aku. Jangan hanya terus tidur! Kau juga harus ingat. Ini adalah rumah saudaraku. Kau di sini sudah mendapatkan tempat tinggal dan makanan! Jadi kau harus mau membantuku," kesal Nevan.
Leon terdiam sesaat. Ia pun menjawab dengan pelan, "Aku bahkan tidak meminta untuk diberikan semua ini."
Nevan sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Leon. Ia hanya mendengar suara yang tidak jelas darinya, "Sudah, sekarang bantu aku membereskannya."
Pada akhirnya Leon menuruti ucapan Nevan walau dikerjakan dengan tidak ikhlas.
Leon benci bila Nevan terus mengatakan kata kata seperti tadi. Ia sendiri tidak tahu apapun. Lalu tiba tiba ia tinggal di rumah ini karena Rafa.
Sore harinya, Rafa pulang dari sekolah. Rumah terasa sangat hening, seolah tidak ada siapapun di rumah. Ia mengecek satu per satu ruangan, hingga akhirnya ia pergi ke kamar Leon.
"Ayo! Ayo! Tembak!! Hahaha, kau kalah lagi!"
"Lain kali kau tidak akan menang."
"Heh, sejak tadi kau terus mengatakan itu! Tapi kau tidak juga membuktikannya. Aku jadi ragu apa hal itu akan segera terjadi."
Di dalam ruangan, Leon dan Nevan bermain video game menggunakan televisi dan PS. Mereka terlihat sedikit akur sekarang.
Rafa tersenyum sesaat, "Haii, kupikir tidak ada siapapun di rumah. Ternyata kalian ada di sini ya."
Tidak ada yang membalas ucapan Rafa. Mereka terlalu sibuk dengan game sampai tidak menyadari kehadiran pemuda itu.
"Hah.., mereka tidak mendengarkanku. Bahkan Leon pun sama. Dia menjadi seperti Nev saat bermain game," gumam Rafa. Ia pun memilih untuk pergi ke kamarnya.
"Bukankah ini mengasikkan? Kau terus kalah dariku, hahaha.."ucap Nevan dengan ekspresi puas.
"Biasa saja," ucap Leon. Walau sebenarnya dalam hati, "Sangat manarik."
"Kau masih saja tidak mau mengakuinya ya, dasar. Akan kubuat kau kalah ribuan kali dariku sampai kau mau mengakuinya," balas Nevan.
Pada akhirnya mereka terus bermain game bahkan sampai tengah malam. Mereka tertidur di karpet dengan lelap saking lelahnya.
Pagi harinya, ada berita ditemukannya 6 mayat di lokasi berbeda namun tidak begitu berjauhan. Kondisi mereka sama, yaitu lubang di dada. Jantung mereka diambil seolah dengan cara dirobek dari luar.
[Keluarga korban mengatakan bila semalam mereka tidak pulang ke rumah dan kini ditemukan dalam keadaan tewas. Keluarga mengatakan kesedihan mendalam tentang apa yang terjadi pada keluarganya.]
[ Kejadian ini sedang ditelusuri apa penyebabnya. Untuk saat ini penyebab pasti belum bisa dikatakan. Namun ada kemungkinan ini karena hewan buas.]
"Mengerikan sekali. Bagaimana bisa ada kejadian semacam ini? Aku baru mendengarnya," gumam Rafa yang menonton televisi di ruang tamu.
Saat ia sedang fokus menonton, sudut matanya menangkap sesuatu sosok. Ia segera menengok ke kanan. Namun tidak menemukan apapun. Lalu ia pun menatap ke layar televisi kembali.
"Gwaahh"
"Uwaakhh," Rafa kaget saat melihat Nevan berdiri di depannya dengan mata putih tanpa pupil mata.
"Hahahaha..," Nevan tertawa puas ketika melihat ekspresi Rafa.
Rafa yang akhirnya sadar bila itu adalah saudaranya langsung kesal, "Jangan mengejutkanku dan muncul tiba tiba seperti itu! Itu tidak lucu!"
"Ini sangat lucu! Ekspresimu itu.., bwahahaha.. kau sangat fokus dengan tv, aku jadi tidak tahan untuk mengerjaimu, hahaha.."
Rafa langsung berdiri dan menyentil dahi saudaranya dengan keras hingga membuatnya merintih kesakitan.
"Aduduh.. kenapa kau melakukan ini padaku? Ini sakit, kau tahu," ucap Nevan dengan kesal.
"Kau yang memulai. Aku sedang fokus dengan berita hari ini. Tapi kau malah mengacaukannya. Sebaiknya kau juga melihat ini, agar kau lebih berhati hati saat di luar," Rafa mendengus dan tidak mempedulikan ucapan Nevan.
"Ah, setiap hari pun kau selalu serius. Tidak ada berita yang terlalu serius sampai kau bisa bersikap lebih serius dari biasanya," ejek Nevan. Ia pun segera berbalik dan melihat ke layar televisi.
Saat itu sedang disiarkan bagaimana komentar dari para keluarga korban. Tidak ada yang tidak menangis saat keluarganya ditemukan dengan begitu mengenaskan. Beberapa saat setelahnya pun segera disiarkan sedikit kondisi korban, walau disensor.
Nevan mulai bereskpresi serius. Ia melihat kejanggalan dari berita itu. Tidak mungkin hewan buas berkeliaran di kota seperti ini, kecuali ada hewan buas yang lepas dari kebun binatang. Tapi kemungkinan itu kecil. Karena dalam berita disebutkan bila jantung korban hilang.
Hanya ada sedikit tanda tubuh mereka dicabik. Bila hewan buas, bukankah seharusnya mereka langsung menggigit tubuh mangsanya saja?
Nevan pun terpikirkan sesuatu dan ia merasa bila ini adalah hal yang serius, "Omong omong, kau tidak sekolah?"
"Kau lupa ya? Sekarang hari minggu. Aku libur," balas Rafa.
"Oh, baguslah. Kalau begitu kau diam saja di rumah. Jangan pergi kemanapun. Kau sudah melihat beritanya. Hewan buas mungkin sedang berkeliaran," Nevan membalikkan badannya dan menatap Rafa.
"Aku harus membeli bahan makanan selama satu minggu nanti. Jadi aku harus keluar," Rafa kembali duduk di sofa.
"Kenapa begitu? Kau bisa membelinya besok saja."
"Kau mau tidak makan?"
Nevan menggelengkan kepalanya, "Aku pasti akan kelaparan bila tidak makan."
"Yasudah, aku akan membeli makanan nanti. Lagi pula tidak akan lama, kau tidak perlu memikirkan itu. Aku sudah terbiasa. Percayakan saja makanan padaku," ucap Rafa sambil tersenyum miring.
"Tapi.."
"Sudahlah, lokasi dalam berita cukup jauh. Kau jangan mencemaskannya," Rafa mengambil keripik kentang di toples dan mengunyahnya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Aakhh!"
"Uwaahkh"
Keduanya terkejut saat melihat Leon yang tiba tiba berada di sana. Mereka terlalu fokus dengan pembicaraan sampai tidak sadar dengan kedatangan Leon.
"Tidak ada apapun, kita hanya sedang membahas berita di tv saja." Ucap Rafa sambil menatap Leon. Ia mungkin tidak boleh memberitahu anak itu, karena dikhawatirkan dia malah ketakutan.
"Kau tidak perlu tahu, ini pembicaraan orang dewasa. Kau anak kecil tidak akan mengerti apapun. Sana pergi, shuhh shuuhh.." Usir Nevan.
Leon memandang Nevan dengan datar, "Tidak perlu mengatakannya. Aku tidak peduli."
Setelah mengatakan itu, Leon pun segera pergi.
Nevan menatap Rafa dengan khawatir, "Bila tebakanku benar, maka orang orang berada dalam bahaya. Aku tidak mau mereka sampai menjadi korban, apalagi Rafa. Padahal sudah lama mereka tidak muncul. Bagaimana mereka bisa sampai ke dunia ini?" batinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Norayolayora
ini yang namanya dokter bedah keliling. ngeluh punya penyakit jantung akhirnya jantungnya yg diambil biar nggak sakit lagi<( ̄︶ ̄)>
2023-06-15
2
Norayolayora
selamat datang di dunia pengangguran (♡∀♡)
2023-06-15
0
Ayano
Yang mokad diawali dari NPC
2023-04-04
0