Chapter 14 -Pulang

Setelah cukup bersenang senang di pasar malam, mereka semua segera pulang. Karena terlalu lelah, mereka pun memilih untuk langsung tidur.

Saat Nevan akan tidur, ia mendengar suara ponselnya menerima sebuah pesan. Ia membukanya dan melihat bila pengirim pesan adalah ayahnya, "Segera pulang besok."

"Kenapa? Ada apa?" gumam Nevan. Ia pun segera mengetik apa yang mengganjal pikirannya.

"Kau akan mengetahuinya besok. Segera pulang."

Hanya itu balasan yang diberikan ayahnya. Itu bahkan tidak menjawab apapun pertanyaannya. Pada akhirnya Nevan memilih untuk segera tidur dan mengemasi barang barangnya besok pagi.

Keesokan harinya, Nevan langsung bersiap siap untuk pergi. Bahkan ketika Leon maupun Rafa belum bangun, ia sudah bersiap. Ia tidak ingin membuat ayahnya menunggu lama.

"Pada akhirnya aku tidak bisa mendapatkan jawaban tentang siapa dirinya," gumam Nevan sambil menatap Leon yang sedang tertidur.

"Namun siapapun dirinya, itu tidak penting. Yang penting, dia tidak melukai Rafa. Mungkin aku akan sedikit merindukan sifatnya yang menyebalkan itu," Nevan berjalan keluar kamar sambil membawa kopernya.

Tok Tok Tok

Setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali, Nevan segera masuk ke dalam kamar Rafa. Pemuda itu masih tertidur. Ia pun menyalakan lampu terang hingga membuat Rafa tidak nyaman. Matanya beberapa kali mengkerut dan tangannya menutupi wajahnya.

"Rafa.. Rafa.. Rafa.."

Nevan beberapa kali memanggil namanya, namun Rafa tidak juga bangun. Nevan pun langsung menutupi wajah saudaranya dengan bantal hingga dia kesulitan bernapas.

"Hmph.. hmph.. hmph..!!"

Rafa menggeliat dan mencoba melepaskan bantal yang ditahan oleh Nevan. Setelah berhasil, ia segera mengubah posisinya menjadi duduk. "Hah.. hah.. hah.."

"Huh, kau sulit sekali dibangunkan. Biasanya kau paling cepat bangun. Tapi sekarang kau terlambat. Untung saja hari ini adalah hari libur. Bagaimana jika tidak?" omel Nevan dengan kesal.

Tatapan Rafa langsung tertuju pada Nevan. Hanya saudaranya yang ada di ruangan ini, jadi pasti dia'lah yang menjadi penyebab dirinya kesulitan bernapas, "Kau..! Apa maumu?! Aku sulit bernapas tadi! Bagaimana jika aku kehabisan napas?!"

"Tenanglah.. tidak mungkin sampai seperti itu. Aku hanya menahan bantal itu sebentar saja."

"Tetap saja..!" Rafa menggerutu dalam hati. Untung saja ia masih bisa bernapas sekarang.

"Raf, aku akan pulang ke rumah. Ayah menyuruhku untuk pulang," ucap Nevan.

Rafa sedikit terkejut. Ia melihat ke belakang Nevan dan melihat sebuah koper besar yang dibawa saudaranya, "Kau akan pergi sekarang? Tiba tiba sekali. Kenapa tidak nanti siang saja?"

"Yah.. perjalanan dari sini ke rumahku memakan waktu seharian. Jika macet akan lebih lama. Jadi aku memilih untuk berangkat lebih cepat."

"Kau sudah mengatakannya pada Leon, jika kau akan pulang sekarang?"

Pertanyaan Rafa membuat Nevan menggeleng, "Dia sedang tidur. Jadi nanti saja aku katakan padanya melalui ponselmu. Lagi pula, dia juga mungkin tidak peduli bila aku akan pergi."

"Hm.. baiklah, aku titip pesan pada paman dan Alice. Maaf karena belum bisa berkunjung menemuinya. Lalu, kau akan naik apa ke sana?"

"Aku sudah memesan mobil secara online. Jadi sebentar lagi akan datang. Aku akan kembali berkunjung jika libur."

Rafa mengangguk, "Aku akan mengantarmu sampai depan."

Kedua pemuda itu turun ke lantai bawah dan berdiri di teras luar. Tak lama dari itu, sebuah mobil terparkir di depan rumah dengan plat nomor sama seperti yang tertulis di keterangan aplikasi.

"Hati hati, jaga dirimu. Jangan lupa sampaikan pesanku pada mereka," Rafa melambaikan tangan pada mobil yang mulai bergerak.

"Ya, kau juga jaga dirimu. Lalu.., rawat'lah Leon dengan baik," setelah mengatakan itu, Nevan menutup kaca mobil dan mobil pun segera melaju lebih cepat.

Rafa hanya bisa melihat kepergian mobil yang semakin menjauh. Padahal semalam mereka baru saja bersenang senang bersama. Namun kini Nevan harus pulang. Rumah pasti akan menjadi sepi tanpanya.

Pada saat makan bersama di ruang makan, Leon tampak melihat ke tempat Nevan biasa duduk. Ia tidak melihatnya hari ini. Bahkan saat ia bangun, Nevan sudah tidak ada.

Melihat gerak gerik Leon, Rafa sepertinya mengerti. "Dia sudah pulang tadi pagi. Paman menyuruhnya untuk segera pulang."

Mendengar jawaban itu, Leon mengangguk. Ia tidak mau menanyakan mengapa Nevan tidak mengatakan itu padanya terlebih dahulu. Karena ia merasa dirinya tidaklah sepenting itu sampai Nevan harus berpamitan dengannya.

"Bukankah rumah sangat sepi saat dia tidak ada?"

Leon tidak menjawab. Ia terus melanjutkan makannya.

"Memang kesal saat tidak dibalas. Tapi mungkin dia sedang sedih. Sebaiknya aku diam saja dan tidak membahasnya," batin Rafa.

Tok Tok Tok

Ding Dong

"Aku saja," Leon turun dari kursi dan pergi untuk membukakan pintu.

Kriieett

Leon menengadah ke atas untuk bisa melihat wajah orang di balik pintu. Pemuda tinggi dengan beberapa luka di tubuhnya.

"Oh, ternyata kau masih berada di sini ya?"

Pemuda itu adalah Kevin. Ia segera masuk ke dalam sebelum dipersilahkan. Leon pun menutup pintunya dan membiarkan hal itu.

"Dimana Rafa?" tanya Kevin.

Leon memperhatikan tubuh pemuda itu. Kevin datang ke rumah ini dengan keadaan luka luka. Sepertinya terjadi sesuatu, "Ruang makan."

"Kalau begitu, aku akan menunggu saja di sini. Kalian selesaikan makan saja," ucap Kevin sambil duduk di sofa.

Leon langsung pergi ke ruang makan tanpa mengucapkan apapun. Tanpa mengikuti ucapan Kevin, ia langsung memberitahu Rafa dengan keberadaan dan keadaan pemuda itu.

"Astaga, apa yang terjadi padamu? Kau datang dengan keadaan seperti ini lagi. Selama beberapa hari kau bahkan bolos tanpa kabar. Apa yang terjadi?" ucap Rafa sambil menggelengkan kepalanya.

Kevin menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia melirik Rafa sambil tersenyum seolah melihat sesuatu yang lucu, "Mereka berulah lagi. Padahal aku berniat untuk jalan saja pagi tadi, tapi malah bertemu dengan segerombolan perampok. Yah, kau pikir apa lagi yang kulakukan setelahnya? Di rumah sedang ada perang sejak kemarin, jadi aku mengungsi kemari."

Rafa menghela nafasnya. Setiap Kevin berkunjung, temannya itu pasti akan datang dengan tubuh luka. Karena hal itu'lah ia selalu menyediakan obat obatan, "Kau tunggu di sini sebentar. Aku akan mengambilkan kotak obat."

Leon masih tetap berdiri di tempatnya. Ia memperhatikan sejenak, lalu membuka suara, "Apa itu sakit?"

Kevin mengangkat sebelah alisnya, "Yah.., aku sudah terbiasa dengan ini. Jadi sepertinya tidak terlalu sakit. Selalu saja ada orang yang menantangku saat aku ingin bersantai. Itu sangat mengganggu. Tapi aku suka. Karena pada akhirnya, mereka 'lah yang akan kalah dariku," ia menyeringai dengan ekspresi senang.

Leon hanya menatap dengan datar. Padahal terluka, namun pemuda itu terlihat begitu puas. Sepertinya dia sedikit tidak waras.

Rafa datang dengan kotak obat di tangannya. Ia menaruhnya di meja dan membukanya, "Leon, duduklah. Jangan terus berdiri di sana."

"Em..," Leon mengangguk dan langsung duduk di sofa kecil yang biasa untuk satu orang.

"Apa kau tidak bosan terus seperti ini?"

"Sudah kukatakan ini karena perampok, bukan karena berkelahi dengan siswa sekolah lain. Lalu.., boleh ya aku diam sementara di sini?" tanya Kevin dengan tatapan penuh harap.

Rafa yang masih mengobati temannya itu melirik Kevin sesaat, "Terserah kau saja."

Episodes
1 Chapter 01 -Awal dari segalanya
2 Chapter 02 -Es Krim
3 Chapter 03 -Nevan
4 Chapter 04 -Raja Iblis
5 Chapter 05 -Katly Dan Retakan
6 Chapter 06 -Berita
7 Chapter 07 -Lawan Pertama
8 Chapter 08 -Kematian Sementara
9 Chapter 09 -Sadar
10 Chapter 10 -Pasar Malam
11 Chapter 11 -Pasar Malam 2
12 Chapter 12 -Tangan Kanan Raja
13 Chapter 13 -2 Sifat
14 Chapter 14 -Pulang
15 Chapter 15 -Sakit
16 Chapter 16 -Pria Asing
17 Chapter 17 -Need
18 Chapter 18 -Need 2
19 Chapter 19 -Kedatangan
20 Chapter 20 -Need Dan Leon
21 Chapter 21 -Kepingan Informasi
22 Chapter 22 -Tidak Percaya
23 Chapter 23 -Ketidaktahuan
24 Chapter 24 -Teddy
25 Chapter 25 -Berbeda
26 Chapter 26 -Kevin Mati
27 Chapter 27 -Tidak Jadi Mati
28 Chapter 28 -Kedatangan Flynn
29 Chapter 29 -Kedatangan Flynn 2
30 Chapter 30 -Ke Rumah Sakit
31 Chapter 31 -Usir Leon?
32 Chapter 32 -Bertengkar
33 Chapter 33 -Permintaan
34 Chapter 34 -Pertemuan Kedua
35 Chapter 35 -Bertarung Lagi
36 Chapter 36 -Muak Dan Kematian
37 Chapter 37 -Bunuh Diri
38 Chapter 38 -Ash
39 Chapter 39 -Cemas
40 Chapter 40 -Permintaan Maaf
41 Chapter 41 -Perpisahan
42 Chapter 42 -Masing Masing
43 Chapter 43 -Melawan Belle
44 Chapter 44 -Belle Mati
45 Chapter 45 -Ingatan Kembali
46 Chapter 46 -Kematian Diva
47 Chapter 47 -Penjelasan Nevan
48 Chapter 48 -Antara Rafa Dan Nevan
49 Chapter 49 -Pengaruh Mutlak
50 Chapter 50 -Sudut Pandang
51 Chapter 51 -Kehadiran Melvin
52 Chapter 52 -Cara Untuk Masuk?
53 Chapter 53 -Menyusup
54 Chapter 54 -Ketahuan
55 Chapter 55 -Bertemu Iblis
56 Chapter 56 -Membunuh Iblis
57 Chapter 57 -Berkumpul Di Aula
58 Chapter 58 -Menuju Pertempuran Akhir
59 Chapter 59 -Need
60 Chapter 60 -Menuju Akhir
61 Chapter 61 -Menuju Akhir II
62 Chapter 62 -Leon Mati
63 Chapter 63 -Pohon Telah Tumbuh
64 Chapter 64 -Reinkarnasi
65 Chapter 65 -10 Tahun Kemudian
66 Chapter 66 -Masa Lalu Ralt
67 Chapter 67 -Ketiga
68 Chapter 68 -Terciptanya Need
69 Chapter 69 -POV Selesai
70 Chapter 70 -Berbaikan
71 Chapter 71 -Kebenaran
72 Chapter 72 -Kemungkinan
73 Chapter 73 -Kisah Teddy
74 Chapter 74 -Kembali Ke Dunia Iblis
75 Chapter 75 -Memohon
76 Chapter 76 -Pergi Ke Dunia Iblis
77 Chapter 77 -Ayah Dan Anak
78 Chapter 78 -Kabar Kematian
79 Chapter 79 -Kawanan Beruang Berduri
80 Chapter 80 -Menyembuhkan
81 Chapter 81 -Kendala
82 Chapter 82 -Tekad
83 Chapter 83 -Nevan
84 Chapter 84 -Kite
85 Chapter 85 -Mayat Hidup
86 Chapter 86 -Mayat Hidup II
87 Chapter 87 -Bertemu Kembali
88 Chapter 88 -Flynn
89 Chapter 89 -Kekacauan
90 Chapter 90 -Mayat Hidup III
91 Chapter 91 -Kite II
92 Chapter 92 -Need Dan Leon II
93 Chapter 93 -Iblis Dan Blizt
94 Chapter 94 -Leon
95 Chapter 95 -Serangan
96 Chapter 96 -Tidak Terima
97 Chapter 97 -Hidup Kembali
98 Chapter 98 -Bercanda
99 Chapter 99 -Iblis Dan Blizt II
100 Chapter 100 -Pendapat
101 Chapter 101 -Menjadi Umpan
102 Chapter 102 -Silvia Dan Stev
103 Chapter 103 -Silvia Dan Stev II
104 Chapter 104 -Kedatangan Tak Terduga
105 Chapter 105 -Hidup Lagi
106 Chapter 106 -Pertarungan Berakhir
107 Chapter 107 -Antara Melvin Dan Radolf
108 Chapter 108 -Ken Pergi
109 Chapter 109 -Flashback
110 Chapter 110 -Ingatan Nevan Kembali
111 Chapter 111 -Mencari Makan
112 Chapter 112 -Mayat Hidup Ralt
113 Chapter 113 -Ken
114 Chapter 114 -Bukan Makhluk Hidup
115 Chapter 115 -Di Pihak Musuh?
116 Chapter 116 -Nevan Dan Ray
117 Chapter 117 -Ray
118 Chapter 118 -Osdont? Osnot? Osmond!
119 Chapter 119 -Oliver Dan Darah Campuran
120 Chapter 120 -Michael
121 Chapter 121 -Michael II
122 Chapter 122 -Masa Lalu, Masa Depan
123 Chapter 123 -Menyalahkan
124 Chapter 124 -Hubungan Kite Dan Felix
125 Chapter 125 -POV Ken
126 Chapter 126 -Kite Dan Michael
127 Chapter 127 -Kite Dan Michael II
128 Chapter 128 -Rafa= Oliver?
129 Chapter 129 -Oliver
130 Chapter 130 -Oliver II
131 Chapter 131 -Putra Ratu Silvia
132 Chapter 132 -Perang Akhir Dimulai
133 Chapter 133 -Perang Akhir Dimulai II
134 Chapter 134 -Perang Akhir Dimulai III
135 Chapter 135 -Rafa?
136 Chapter 136 -Identitas Ken
137 Chapter 137 -Perang Akhir Dimulai IV
138 Chapter 138 -Perang Akhir Dimulai V
139 Chapter 139 -Teddy II
140 Chapter 140 -Axelle
141 Chapter 141 -Axelle II
142 Chapter 142 -Kekejaman Michael
143 Chapter 143 -Leon II
144 Chapter 144 -Kenapa?
145 Chapter 145 -The End
146 Last
Episodes

Updated 146 Episodes

1
Chapter 01 -Awal dari segalanya
2
Chapter 02 -Es Krim
3
Chapter 03 -Nevan
4
Chapter 04 -Raja Iblis
5
Chapter 05 -Katly Dan Retakan
6
Chapter 06 -Berita
7
Chapter 07 -Lawan Pertama
8
Chapter 08 -Kematian Sementara
9
Chapter 09 -Sadar
10
Chapter 10 -Pasar Malam
11
Chapter 11 -Pasar Malam 2
12
Chapter 12 -Tangan Kanan Raja
13
Chapter 13 -2 Sifat
14
Chapter 14 -Pulang
15
Chapter 15 -Sakit
16
Chapter 16 -Pria Asing
17
Chapter 17 -Need
18
Chapter 18 -Need 2
19
Chapter 19 -Kedatangan
20
Chapter 20 -Need Dan Leon
21
Chapter 21 -Kepingan Informasi
22
Chapter 22 -Tidak Percaya
23
Chapter 23 -Ketidaktahuan
24
Chapter 24 -Teddy
25
Chapter 25 -Berbeda
26
Chapter 26 -Kevin Mati
27
Chapter 27 -Tidak Jadi Mati
28
Chapter 28 -Kedatangan Flynn
29
Chapter 29 -Kedatangan Flynn 2
30
Chapter 30 -Ke Rumah Sakit
31
Chapter 31 -Usir Leon?
32
Chapter 32 -Bertengkar
33
Chapter 33 -Permintaan
34
Chapter 34 -Pertemuan Kedua
35
Chapter 35 -Bertarung Lagi
36
Chapter 36 -Muak Dan Kematian
37
Chapter 37 -Bunuh Diri
38
Chapter 38 -Ash
39
Chapter 39 -Cemas
40
Chapter 40 -Permintaan Maaf
41
Chapter 41 -Perpisahan
42
Chapter 42 -Masing Masing
43
Chapter 43 -Melawan Belle
44
Chapter 44 -Belle Mati
45
Chapter 45 -Ingatan Kembali
46
Chapter 46 -Kematian Diva
47
Chapter 47 -Penjelasan Nevan
48
Chapter 48 -Antara Rafa Dan Nevan
49
Chapter 49 -Pengaruh Mutlak
50
Chapter 50 -Sudut Pandang
51
Chapter 51 -Kehadiran Melvin
52
Chapter 52 -Cara Untuk Masuk?
53
Chapter 53 -Menyusup
54
Chapter 54 -Ketahuan
55
Chapter 55 -Bertemu Iblis
56
Chapter 56 -Membunuh Iblis
57
Chapter 57 -Berkumpul Di Aula
58
Chapter 58 -Menuju Pertempuran Akhir
59
Chapter 59 -Need
60
Chapter 60 -Menuju Akhir
61
Chapter 61 -Menuju Akhir II
62
Chapter 62 -Leon Mati
63
Chapter 63 -Pohon Telah Tumbuh
64
Chapter 64 -Reinkarnasi
65
Chapter 65 -10 Tahun Kemudian
66
Chapter 66 -Masa Lalu Ralt
67
Chapter 67 -Ketiga
68
Chapter 68 -Terciptanya Need
69
Chapter 69 -POV Selesai
70
Chapter 70 -Berbaikan
71
Chapter 71 -Kebenaran
72
Chapter 72 -Kemungkinan
73
Chapter 73 -Kisah Teddy
74
Chapter 74 -Kembali Ke Dunia Iblis
75
Chapter 75 -Memohon
76
Chapter 76 -Pergi Ke Dunia Iblis
77
Chapter 77 -Ayah Dan Anak
78
Chapter 78 -Kabar Kematian
79
Chapter 79 -Kawanan Beruang Berduri
80
Chapter 80 -Menyembuhkan
81
Chapter 81 -Kendala
82
Chapter 82 -Tekad
83
Chapter 83 -Nevan
84
Chapter 84 -Kite
85
Chapter 85 -Mayat Hidup
86
Chapter 86 -Mayat Hidup II
87
Chapter 87 -Bertemu Kembali
88
Chapter 88 -Flynn
89
Chapter 89 -Kekacauan
90
Chapter 90 -Mayat Hidup III
91
Chapter 91 -Kite II
92
Chapter 92 -Need Dan Leon II
93
Chapter 93 -Iblis Dan Blizt
94
Chapter 94 -Leon
95
Chapter 95 -Serangan
96
Chapter 96 -Tidak Terima
97
Chapter 97 -Hidup Kembali
98
Chapter 98 -Bercanda
99
Chapter 99 -Iblis Dan Blizt II
100
Chapter 100 -Pendapat
101
Chapter 101 -Menjadi Umpan
102
Chapter 102 -Silvia Dan Stev
103
Chapter 103 -Silvia Dan Stev II
104
Chapter 104 -Kedatangan Tak Terduga
105
Chapter 105 -Hidup Lagi
106
Chapter 106 -Pertarungan Berakhir
107
Chapter 107 -Antara Melvin Dan Radolf
108
Chapter 108 -Ken Pergi
109
Chapter 109 -Flashback
110
Chapter 110 -Ingatan Nevan Kembali
111
Chapter 111 -Mencari Makan
112
Chapter 112 -Mayat Hidup Ralt
113
Chapter 113 -Ken
114
Chapter 114 -Bukan Makhluk Hidup
115
Chapter 115 -Di Pihak Musuh?
116
Chapter 116 -Nevan Dan Ray
117
Chapter 117 -Ray
118
Chapter 118 -Osdont? Osnot? Osmond!
119
Chapter 119 -Oliver Dan Darah Campuran
120
Chapter 120 -Michael
121
Chapter 121 -Michael II
122
Chapter 122 -Masa Lalu, Masa Depan
123
Chapter 123 -Menyalahkan
124
Chapter 124 -Hubungan Kite Dan Felix
125
Chapter 125 -POV Ken
126
Chapter 126 -Kite Dan Michael
127
Chapter 127 -Kite Dan Michael II
128
Chapter 128 -Rafa= Oliver?
129
Chapter 129 -Oliver
130
Chapter 130 -Oliver II
131
Chapter 131 -Putra Ratu Silvia
132
Chapter 132 -Perang Akhir Dimulai
133
Chapter 133 -Perang Akhir Dimulai II
134
Chapter 134 -Perang Akhir Dimulai III
135
Chapter 135 -Rafa?
136
Chapter 136 -Identitas Ken
137
Chapter 137 -Perang Akhir Dimulai IV
138
Chapter 138 -Perang Akhir Dimulai V
139
Chapter 139 -Teddy II
140
Chapter 140 -Axelle
141
Chapter 141 -Axelle II
142
Chapter 142 -Kekejaman Michael
143
Chapter 143 -Leon II
144
Chapter 144 -Kenapa?
145
Chapter 145 -The End
146
Last

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!