Setelah cukup bersenang senang di pasar malam, mereka semua segera pulang. Karena terlalu lelah, mereka pun memilih untuk langsung tidur.
Saat Nevan akan tidur, ia mendengar suara ponselnya menerima sebuah pesan. Ia membukanya dan melihat bila pengirim pesan adalah ayahnya, "Segera pulang besok."
"Kenapa? Ada apa?" gumam Nevan. Ia pun segera mengetik apa yang mengganjal pikirannya.
"Kau akan mengetahuinya besok. Segera pulang."
Hanya itu balasan yang diberikan ayahnya. Itu bahkan tidak menjawab apapun pertanyaannya. Pada akhirnya Nevan memilih untuk segera tidur dan mengemasi barang barangnya besok pagi.
Keesokan harinya, Nevan langsung bersiap siap untuk pergi. Bahkan ketika Leon maupun Rafa belum bangun, ia sudah bersiap. Ia tidak ingin membuat ayahnya menunggu lama.
"Pada akhirnya aku tidak bisa mendapatkan jawaban tentang siapa dirinya," gumam Nevan sambil menatap Leon yang sedang tertidur.
"Namun siapapun dirinya, itu tidak penting. Yang penting, dia tidak melukai Rafa. Mungkin aku akan sedikit merindukan sifatnya yang menyebalkan itu," Nevan berjalan keluar kamar sambil membawa kopernya.
Tok Tok Tok
Setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali, Nevan segera masuk ke dalam kamar Rafa. Pemuda itu masih tertidur. Ia pun menyalakan lampu terang hingga membuat Rafa tidak nyaman. Matanya beberapa kali mengkerut dan tangannya menutupi wajahnya.
"Rafa.. Rafa.. Rafa.."
Nevan beberapa kali memanggil namanya, namun Rafa tidak juga bangun. Nevan pun langsung menutupi wajah saudaranya dengan bantal hingga dia kesulitan bernapas.
"Hmph.. hmph.. hmph..!!"
Rafa menggeliat dan mencoba melepaskan bantal yang ditahan oleh Nevan. Setelah berhasil, ia segera mengubah posisinya menjadi duduk. "Hah.. hah.. hah.."
"Huh, kau sulit sekali dibangunkan. Biasanya kau paling cepat bangun. Tapi sekarang kau terlambat. Untung saja hari ini adalah hari libur. Bagaimana jika tidak?" omel Nevan dengan kesal.
Tatapan Rafa langsung tertuju pada Nevan. Hanya saudaranya yang ada di ruangan ini, jadi pasti dia'lah yang menjadi penyebab dirinya kesulitan bernapas, "Kau..! Apa maumu?! Aku sulit bernapas tadi! Bagaimana jika aku kehabisan napas?!"
"Tenanglah.. tidak mungkin sampai seperti itu. Aku hanya menahan bantal itu sebentar saja."
"Tetap saja..!" Rafa menggerutu dalam hati. Untung saja ia masih bisa bernapas sekarang.
"Raf, aku akan pulang ke rumah. Ayah menyuruhku untuk pulang," ucap Nevan.
Rafa sedikit terkejut. Ia melihat ke belakang Nevan dan melihat sebuah koper besar yang dibawa saudaranya, "Kau akan pergi sekarang? Tiba tiba sekali. Kenapa tidak nanti siang saja?"
"Yah.. perjalanan dari sini ke rumahku memakan waktu seharian. Jika macet akan lebih lama. Jadi aku memilih untuk berangkat lebih cepat."
"Kau sudah mengatakannya pada Leon, jika kau akan pulang sekarang?"
Pertanyaan Rafa membuat Nevan menggeleng, "Dia sedang tidur. Jadi nanti saja aku katakan padanya melalui ponselmu. Lagi pula, dia juga mungkin tidak peduli bila aku akan pergi."
"Hm.. baiklah, aku titip pesan pada paman dan Alice. Maaf karena belum bisa berkunjung menemuinya. Lalu, kau akan naik apa ke sana?"
"Aku sudah memesan mobil secara online. Jadi sebentar lagi akan datang. Aku akan kembali berkunjung jika libur."
Rafa mengangguk, "Aku akan mengantarmu sampai depan."
Kedua pemuda itu turun ke lantai bawah dan berdiri di teras luar. Tak lama dari itu, sebuah mobil terparkir di depan rumah dengan plat nomor sama seperti yang tertulis di keterangan aplikasi.
"Hati hati, jaga dirimu. Jangan lupa sampaikan pesanku pada mereka," Rafa melambaikan tangan pada mobil yang mulai bergerak.
"Ya, kau juga jaga dirimu. Lalu.., rawat'lah Leon dengan baik," setelah mengatakan itu, Nevan menutup kaca mobil dan mobil pun segera melaju lebih cepat.
Rafa hanya bisa melihat kepergian mobil yang semakin menjauh. Padahal semalam mereka baru saja bersenang senang bersama. Namun kini Nevan harus pulang. Rumah pasti akan menjadi sepi tanpanya.
Pada saat makan bersama di ruang makan, Leon tampak melihat ke tempat Nevan biasa duduk. Ia tidak melihatnya hari ini. Bahkan saat ia bangun, Nevan sudah tidak ada.
Melihat gerak gerik Leon, Rafa sepertinya mengerti. "Dia sudah pulang tadi pagi. Paman menyuruhnya untuk segera pulang."
Mendengar jawaban itu, Leon mengangguk. Ia tidak mau menanyakan mengapa Nevan tidak mengatakan itu padanya terlebih dahulu. Karena ia merasa dirinya tidaklah sepenting itu sampai Nevan harus berpamitan dengannya.
"Bukankah rumah sangat sepi saat dia tidak ada?"
Leon tidak menjawab. Ia terus melanjutkan makannya.
"Memang kesal saat tidak dibalas. Tapi mungkin dia sedang sedih. Sebaiknya aku diam saja dan tidak membahasnya," batin Rafa.
Tok Tok Tok
Ding Dong
"Aku saja," Leon turun dari kursi dan pergi untuk membukakan pintu.
Kriieett
Leon menengadah ke atas untuk bisa melihat wajah orang di balik pintu. Pemuda tinggi dengan beberapa luka di tubuhnya.
"Oh, ternyata kau masih berada di sini ya?"
Pemuda itu adalah Kevin. Ia segera masuk ke dalam sebelum dipersilahkan. Leon pun menutup pintunya dan membiarkan hal itu.
"Dimana Rafa?" tanya Kevin.
Leon memperhatikan tubuh pemuda itu. Kevin datang ke rumah ini dengan keadaan luka luka. Sepertinya terjadi sesuatu, "Ruang makan."
"Kalau begitu, aku akan menunggu saja di sini. Kalian selesaikan makan saja," ucap Kevin sambil duduk di sofa.
Leon langsung pergi ke ruang makan tanpa mengucapkan apapun. Tanpa mengikuti ucapan Kevin, ia langsung memberitahu Rafa dengan keberadaan dan keadaan pemuda itu.
"Astaga, apa yang terjadi padamu? Kau datang dengan keadaan seperti ini lagi. Selama beberapa hari kau bahkan bolos tanpa kabar. Apa yang terjadi?" ucap Rafa sambil menggelengkan kepalanya.
Kevin menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia melirik Rafa sambil tersenyum seolah melihat sesuatu yang lucu, "Mereka berulah lagi. Padahal aku berniat untuk jalan saja pagi tadi, tapi malah bertemu dengan segerombolan perampok. Yah, kau pikir apa lagi yang kulakukan setelahnya? Di rumah sedang ada perang sejak kemarin, jadi aku mengungsi kemari."
Rafa menghela nafasnya. Setiap Kevin berkunjung, temannya itu pasti akan datang dengan tubuh luka. Karena hal itu'lah ia selalu menyediakan obat obatan, "Kau tunggu di sini sebentar. Aku akan mengambilkan kotak obat."
Leon masih tetap berdiri di tempatnya. Ia memperhatikan sejenak, lalu membuka suara, "Apa itu sakit?"
Kevin mengangkat sebelah alisnya, "Yah.., aku sudah terbiasa dengan ini. Jadi sepertinya tidak terlalu sakit. Selalu saja ada orang yang menantangku saat aku ingin bersantai. Itu sangat mengganggu. Tapi aku suka. Karena pada akhirnya, mereka 'lah yang akan kalah dariku," ia menyeringai dengan ekspresi senang.
Leon hanya menatap dengan datar. Padahal terluka, namun pemuda itu terlihat begitu puas. Sepertinya dia sedikit tidak waras.
Rafa datang dengan kotak obat di tangannya. Ia menaruhnya di meja dan membukanya, "Leon, duduklah. Jangan terus berdiri di sana."
"Em..," Leon mengangguk dan langsung duduk di sofa kecil yang biasa untuk satu orang.
"Apa kau tidak bosan terus seperti ini?"
"Sudah kukatakan ini karena perampok, bukan karena berkelahi dengan siswa sekolah lain. Lalu.., boleh ya aku diam sementara di sini?" tanya Kevin dengan tatapan penuh harap.
Rafa yang masih mengobati temannya itu melirik Kevin sesaat, "Terserah kau saja."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments