Keesokan harinya, seperti kata Rafa, ia mengajak Leon pergi ke toko pakaian dan membeli beberapa pakaian untuk anak itu.
Rafa memang belum bekerja, namun ia mendapatkan uang dari pamannya. Karena itu, ia bisa membelikan baju untuk Leon.
Setelah banyak membeli pakaian dan juga 2 pasang sandal, mereka pergi membeli es krim dan makan di kursi terdekat. Rafa memperhatikan Leon yang tidak juga memakan es krim nya, "Kenapa kau tidak memakannya? Apa kau tidak suka rasa es krim coklat?"
Leon menatap Rafa, "Apa ini bisa dimakan? Kurasa ini tidak baik bila dimakan. Suhunya terasa sangat dingin."
Rafa memiringkan kepalanya dan tertawa, "Hahaha, kau ini suka sekali bercanda ya? Tentu saja ini bisa dimakan. Eumh.. Apa mungkin kau tidak pernah memakannya?"
Leon mengangguk dengan polos.
"Baiklah, akan kuberitahu. Ini adalah es krim rasa coklat. Makanan yang memiliki rasa dingin dan juga manis. Kau pasti akan menyukainya. Karena itu cobalah. Jangan khawatir, makanan ini tidak berbahaya," jelas Rafa.
Leon memperhatikan es krim yang mulai meleleh mengenai tangannya. Walau sedikit ragu, ia akhirnya mencoba. Matanya terpejam dengan mulut yang terlihat mengemut.
Rafa tersenyum melihat reaksi dari anak itu. Padahal biasanya dia tidak menunjukkan banyak ekspresi. Namun sekarang dia terlihat berhati hati.
Leon membuka matanya kembali dengan mata yang berbinar. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Rafa tahu bila dia menyukai es krim, "Sudah kukatakan kau akan menyukainya. Benar 'kan?"
Leon segera duduk membelakangi Rafa, "Aku tidak menyukainya. Hanya saja akan sangat disayangkan bila ini dibuang." Setelah mengatakan itu, ia kembali memakan es krim nya.
"Katakan saja bila kau menyukainya," Rafa menggelengkan kepalanya dengan raut heran.
Saat mereka sedang menikmati es krim itu, dari arah belakang seseorang menepuk bahu Rafa dengan keras. Sontak Rafa terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan es krim nya ke tanah. Sementara kepalanya menengok ke belakang.
"Hahaha, kau terkejut? Hmph! Sudah seharusnya begitu," ucap Kevin dengan tawa.
"Kau..!! Karenamu es krim ku jatuh!" kesal Rafa sambil berdiri menghadap temannya itu.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja. Lagi pula es krim mu sudah hampir habis, jadi ya.. Tidak apa. Ikhlaskan saja," ucap Kevin dengan enteng.
Leon menengokan kepalanya dengan cepat ke arah Kevin. Ekspresinya terlihat dingin. Es krim nya ikut terjatuh karena terkejut dengan kehadiran Kevin yang tiba tiba.
Kevin beralih menatap Leon saat merasa ada yang memperhatikan. Ia memiringkan kepalanya dengan heran, "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Rafa melihat Leon dan es krim yang dijatuhkan anak itu. Ia mengangguk angguk, "Kau bahkan membuat es krim nya terjatuh. Lihat, dia marah padamu."
"Maaf, maaf, aku tak sengaja. Kupikir hanya Rafa saja yang menjatuhkannya. Rupanya es krim mu juga terjatuh ya? Kalau begitu, aku akan menggantikannya dengan yang baru. Jangan marah padaku." Ucap Kevin dengan senyum memohon.
Leon turun dari kursi dan berjalan pergi tanpa mengucapkan apapun.
"Lihat~dia marah padamu, hahaha," Rafa mengambil barang barangnya dan segera menyusul Leon.
"Ya ampun, padahal aku sudah mengatakan minta maaf dan akan menggantinya. Tapi sepertinya dia tidak mau menerimanya," gumam Kevin. Ia melihat sekitar, lalu pergi tanpa mengejar Leon.
Saat Rafa sedang mengejar anak itu, seseorang tiba tiba berbicara padanya, "Permisi, apa kau tahu dimana toilet? Aku baru pertama kali kemari, jadi tidak tahu dimana letaknya."
Rafa berhenti dan menjawab dengan tergesa gesa, "Toilet lurus saja, lalu setelah ada persimpangan jalan, belok ke arah kiri. Kau harus membayar setelah menggunakannya."
Orang itu mengangguk angguk dan pergi setelah mengucap terimakasih. Rafa pun melihat ke tempat Leon berjalan sebelumnya. Namun ia tidak melihatnya. Anak itu menghilang di tengah kerumunan.
"Kemana dia pergi?" gumam Rafa sambil mencari. Setiap hari libur, taman ini pasti selalu dikunjungi banyak orang. Baik yang ingin berolah raga atau hanya bersantai. Karena itu, Rafa jadi sulit untuk menemukan Leon. Apalagi dengan barang barang yang sedang dibawanya saat ini.
Disisi lain, Leon sudah sampai di tempat penjual es krim yang dikunjungi sebelumnya. Matanya berbinar sesaat, "Aku ingin es krim coklat."
Penjual itu segera menyiapkan pesanan Leon. Setelah selesai, ia memberikannya pada anak itu. Dengan senang hati Leon menerimanya dan segera pergi dari sana.
Penjual itu segera menghentikan Leon dengan berdiri di depannya, "Kau tidak bisa memakannya bila kau belum membayarnya."
"Ini milikku," Leon segera menyembunyikan es krim ke belakang tubuhnya. Ia tidak suka bila apa yang sudah menjadi miliknya diambil oleh orang lain.
"Anak ini.. Apa kau tidak diajari oleh orang tuamu untuk tidak mengambil makanan yang bukan milikmu?" ucap penjual itu dengan ekspresi menahan amarah.
Leon menggelengkan kepalanya, "Ini milikku."
"Leon? Ada apa ini? Kenapa kau di sini?"
Leon melirik ke samping. Seorang pemuda tinggi berdiri di sebelahnya. Wajah yang ia kenal.
"Dia membeli es krim padaku, tapi tidak membayarnya. Lalu dia mengaku es krim itu miliknya, padahal dia belum membayar itu," protes penjual pada Kevin.
Kevin menatap Leon yang sedang memegang es krim di belakang punggungnya. Lalu beralih menatap penjual, "Aku akan membayarnya. Jadi tidak perlu meributkannya lagi."
Kevin kemudian memberikan uang pada penjual dengan harga 2x lipat. Penjual pun kembali ke lapak dagangnya setelah berterimakasih.
Kevin menggelengkan kepala saat melihat Leon mulai memakan es krim di tangannya. Ia heran mengapa anak itu bisa berada di sini, "Kenapa kau mengambilnya dan tidak membayarnya? Kau tahu, itu adalah tindakan yang salah."
"Aku tidak salah, dia yang meributkannya. Padahal ini sudah menjadi milikku," jawab Leon.
"Kau belum membayarnya, jadi itu belum menjadi milikmu. Kau mengerti? Jangan melakukannya lagi atau kau akan berada dalam masalah seperti tadi. Jika aku tidak kemari, masalahmu mungkin akan membesar," Kevin menggelengkan kepalanya.
Leon diam tanpa menjawab. Mungkin apa yang dikatakan Kevin ada benarnya. Bila ia tidak melakukan hal salah, mungkin orang lain pun tidak akan bersikap seperti itu padanya.
Leon menyodorkan es krim yang dipegangnya pada Kevin, "Kau sudah menolongku. Kau bisa mencobanya sedikit. Jangan banyak."
"Tidak, kau saja yang makan. Aku sudah kenyang. Daripada itu, kenapa kau sendirian di sini? Dimana Rafa? Kenapa kau tidak bersamanya?"
Leon melihat sekitar dan baru menyadari bila ia hanya sendirian. Ia menatap Kevin dan menggelengkan kepalanya.
Kevin membuang nafas dengan kasar. Ia mengambil ponsel di saku dan langsung menelepon Rafa.
Disisi lain, Rafa yang sedang mencari Leon dibuat berhenti oleh getaran dari hp nya. Ia segera mengeceknya dan melihat bila Kevin menelepon. Saat akan mengangkatnya, seseorang dengan cepat mengambil ponselnya hingga membuat Rafa tidak bereaksi untuk sesaat.
"A-Ponsel ku! Pencuri! Pencuri! Kembalikan ponsel ku!" teriak Rafa. Beberapa orang mencoba membantu Rafa untuk mengejar pencuri itu. Namun, mereka kehilangan jejaknya.
Orang orang yang mencoba menolongnya, kini hanya bisa menyemangati Rafa dan meminta maaf karena tidak bisa melakukan apapun atas pencuri yang menghilang itu.
"Ck, sialan!" Ucap Rafa dengan penuh kekesalan.
Panggilan dari Kevin pun tak bisa diangkat oleh Rafa karena ponselnya yang sudah dicuri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Wana Sifah
ehmmm
2024-10-29
0
Erarefo Alfin Artharizki
mantap
2023-04-23
1
Norayolayora
jangan dimakan tapi dikunyah. baru bener
2023-04-22
0