Chapter 11 -Pasar Malam 2

Orang orang yang melihat panah terbelah menjadi dua takjub. Mereka langsung bertepuk tangan, tak terkecuali Rafa. Ia tidak menyangka bila saudaranya sangat pandai bermain ini.

Penjaga stand itu menelan ludahnya. Tidak pernah ada pemain yang sampai melakukan hal seperti ini. Padahal ia berniat memeras mereka, namun sepertinya ia gagal. "I-itu tidak termasuk hitungan. Tembakan terakhir tidak dilakukan olehmu. Jadi kau tidak bisa mendapatkannya."

Saat mendengar ucapan itu, Rafa berjalan mendekati stand dan langsung menggebrak mejanya, "Kau menambahkan aturan main tadi, lalu sekarang kau menganggap ini tidak sah? Apa kau ingin bermain curang? Leon sudah melakukan 6 tembakan dan seharusnya 3 tembakan saja sudah cukup untuk memenangkan hadiah itu!

Ucapanmu itu membuatku kesal. Apa kau ingin aku menghancurkan stand ini sekarang juga dan membuat pengunjung tidak bisa memainkannya?!"

Penjaga stand itu sedikit ketakutan melihat ekspresi Rafa, "B-baiklah, untuk kali ini aku akan memberikannya. Jadi jangan menghancurkan stand ku." ia pun segera mengambil sebuah boneka yang cukup besar berbulu putih dan memberikannya pada Leon.

"S-sudah kan? Itu sudah cukup kan?"

Rafa mendengus, "Lain kali lakukanlah dengan adil. Jika tidak, aku akan benar benar menghancurkannya dan mengatakan pada orang orang agar mereka tidak bermain di sini. Ayo kita ke tempat lain."

"Huuhh, dia sangat menyeramkan saat marah," gumam Nevan. Pandangannya seketika terarah pada Leon. Hadiah yang diinginkan anak itu adalah boneka kucing yang tampak sangat mirip dengan aslinya.

"Apa dia menyukai kucing?" batinnya.

Setelah pergi ke stand permainan tembak, mereka pergi ke rumah hantu. Penampilan dari luar terlihat seperti bangunan rumah besar yang sudah lama tak terpakai.

"Sebaiknya kita ke tempat lain saja," bisik Nevan dengan sedikit takut. Ia tidak menyukai hal hal ghaib seperti hantu atau semacamnya.

"Leon pasti belum pernah mencobanya. Jadi kita masuk saja, jangan jadi penakut." ketus Rafa sambil memasuki bangunan di depannya.

Leon langsung mengikuti pemuda itu dari belakang sambil membawa hadiah yang ia menangkan sebelumnya.

Saat masuk ke dalam rumah hantu, semua tampak menyeramkan. Lampu yang remang dan berkedip kedip seperti akan mati. Kursi goyang yang bergerak tanpa ada siapapun yang mendudukinya. Sejauh ini, mereka tidak melihat apapun yang menyeramkan.

Nevan memegangi bahu Rafa dan bersembunyi di belakangnya. Ia terlihat sangat tertekan dan takut saat masuk ke dalam rumah hantu.

Lalu saat Rafa dan Nevan melewati sebuah pintu kecil yang tidak begitu jelas terlihat, seseorang dengan pakaian putih besar dan rambut panjang langsung keluar secara tiba tiba hingga mengejutkan kedua pemuda itu, "Aakhh.."

Brukk

Sosok itu segera terjatuh ketika pakaiannya tidak sengaja terinjak Leon, "Ah, aku tidak sengaja," gumamnya.

Yang awalnya menakutkan, kini justru membuat kedua pemuda itu terdiam karena tidak percaya.

Di kejutan berikutnya, sesuatu muncul tergantung terbalik. Saat Rafa dan Nevan berteriak kaget, Leon tanpa sengaja memukulnya hingga benda itu berputar kencang di udara, "Aku tidak sengaja."

Di kejutan kejutan berikutnya, hal seperti itu terus terulang hingga membuat Rafa maupun Nevan tertawa. Mereka kini tidak takut, malah dibuat tertawa. Ketidak sengajaan Leon membuat orang orang yang mengenakan kostum hantu berlari menjauhinya. Itu adalah pemandangan pertama yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Setelah banyak tawa berlalu, mereka akhirnya sampai di luar rumah hantu. Tidak berhenti di sana, mereka mencoba permainan lain seperti carousel dan lainnya.

Leon baru pertama kali mencoba permainan permainan di sini. Walaupun tidak menunjukkan dengan ekspresi, namun sebenarnya ia sangat bersenang senang dan menikmatinya.

Setelah lelah bermain, mereka langsung membeli mie goreng dan permen kapas setelahnya.

"Sebelum pulang, mari menaiki bianglala," ucap Rafa dengan semangat yang membara.

Nevan mengangguk semangat. Ketiganya pun berbaris untuk bisa menaiki kincir besar itu.

"Permisi."

Nevan menengok ke belakang saat ada seseorang yang menepuk pundaknya. Seorang gadis cantik dengan pakaian berwarna putih dan celana hitam tersenyum ragu ke arahnya, "Katly?! Kau ada di sini?!" kaget Nevan.

Katly, teman satu SD nya yang pada saat itu pernah bertemu tanpa sengaja.

"Ah, ternyata benar. Kupikir aku salah orang. Tanpa sengaja kita bertemu lagi seperti ini," Katly tersenyum manis. Ia terlihat begitu senang saat bertemu dengan pemuda itu.

"Ekhem.. ekhem.. sepertinya kita sudah menjadi nyamuk di sini. Apa sebaiknya kita pergi saja?" Ucap teman Katly sambil melirik gadis itu.

"Iya.. sepertinya kita sudah menjadi pengganggu di sini," ucap teman Katly yang lainnya.

"Kalian.." Katly memperlihatkan ekspresi cemberutnya ketika mendengar godaan itu. Ia memang menyukai Nevan, namun mendengar temannya menggodanya seperti itu di depan Nevan membuatnya malu.

Rafa melihat ke belakang saat mendengar suara suara, "Kau.. Katly? Kau juga ada di sini ternyata."

"Eh?" Katly menatap Rafa. Pemuda itu adalah teman sekelasnya, termasuk teman dari kedua teman di belakangnya. "Rafa? Kau di sini?"

"Kalian saling mengenal?" Nevan menatap keduanya secara bergantian.

"Iya, dia adalah teman sekelasku. Kalian sendiri saling kenal?" Ucap Katly.

"Dia anak dari pamanku, jadi dia saudaraku. Kebetulan sekolahnya sedang libur, jadi dia menginap di rumahku. Lalu aku mengajaknya kemari," jelas Rafa.

Katly mengangguk angguk, "Ternyata begitu. Eh? Anak ini.. yang bersamamu saat itu. Aku belum menanyakan namanya sebelumnya."

"Ah, dia adalah Leon," ucap Nevan sambil menunjuk anak itu.

Leon nampak memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak tertarik dengan pembicaraan seperti ini.

Sambil menunggu antrian panjang, mereka mengobrol dengan bebas dan membahas berbagai hal. Terlebih Katly yang membahas saat masa lalu kepada Nevan. Ia menceritakannya dengan hati senang.

Mereka pun berpisah pada saat menaiki bianglala. Nevan sudah menawarkan agar Katly satu tempat dengannya, karena tempatnya masih kosong satu. Namun gadis itu menolaknya dan memilih untuk bersama temannya.

"Kenapa kau tidak mengatakan bila Katly satu kelas denganmu?" Ucap Nevan sambil menghela nafas.

"Memang kenapa? Aku saja tidak tahu kau mengenalnya," jawab Rafa.

Leon tidak memperhatikan apa yang kedua pemuda itu bicarakan. Ia lebih tertarik dengan pemandangan yang terlihat di kaca luar. Awalnya ia merasa takut untuk menaikinya. Karena ini adalah hal baru baginya.

Namun setelah bianglala dijalankan, ini terlihat cukup mengasikkan. Ia bisa melihat pemandangan kota pada malam hari di sini. Langit yang gelap dengan hiasan bintang, lalu bulan sabit yang bersinar terang. Lalu saat ia melihat ke bawah, ia bisa melihat berbagai stand dan permainan lain yang terlihat kecil dari atas sini. Semuanya terlihat begitu jelas dalam pandangannya.

"Ngomong ngomong, sudah lama sekali sejak aku menaiki ini. Terakhir kali aku pernah menaiki ini saat bersama dengan ayah," Rafa melihat ke luar kaca dengan tatapan sendu.

Nevan mengerti seperti apa rasanya ketika ditinggalkan oleh orang tua, karena ia juga kehilangan ibunya saat kecelakaan yang dialami ibunya beberapa tahun lalu, "Kau tidak sendiri. Kau masih memiliki diriku, ayahku, adikku, dan mungkin dia termasuk," ia melirik Leon yang terus melihat keluar jendela kaca.

Rafa mengangguk dan tersenyum. Ia cukup beruntung karena masih memiliki seseorang yang bersama dengannya.

Episodes
1 Chapter 01 -Awal dari segalanya
2 Chapter 02 -Es Krim
3 Chapter 03 -Nevan
4 Chapter 04 -Raja Iblis
5 Chapter 05 -Katly Dan Retakan
6 Chapter 06 -Berita
7 Chapter 07 -Lawan Pertama
8 Chapter 08 -Kematian Sementara
9 Chapter 09 -Sadar
10 Chapter 10 -Pasar Malam
11 Chapter 11 -Pasar Malam 2
12 Chapter 12 -Tangan Kanan Raja
13 Chapter 13 -2 Sifat
14 Chapter 14 -Pulang
15 Chapter 15 -Sakit
16 Chapter 16 -Pria Asing
17 Chapter 17 -Need
18 Chapter 18 -Need 2
19 Chapter 19 -Kedatangan
20 Chapter 20 -Need Dan Leon
21 Chapter 21 -Kepingan Informasi
22 Chapter 22 -Tidak Percaya
23 Chapter 23 -Ketidaktahuan
24 Chapter 24 -Teddy
25 Chapter 25 -Berbeda
26 Chapter 26 -Kevin Mati
27 Chapter 27 -Tidak Jadi Mati
28 Chapter 28 -Kedatangan Flynn
29 Chapter 29 -Kedatangan Flynn 2
30 Chapter 30 -Ke Rumah Sakit
31 Chapter 31 -Usir Leon?
32 Chapter 32 -Bertengkar
33 Chapter 33 -Permintaan
34 Chapter 34 -Pertemuan Kedua
35 Chapter 35 -Bertarung Lagi
36 Chapter 36 -Muak Dan Kematian
37 Chapter 37 -Bunuh Diri
38 Chapter 38 -Ash
39 Chapter 39 -Cemas
40 Chapter 40 -Permintaan Maaf
41 Chapter 41 -Perpisahan
42 Chapter 42 -Masing Masing
43 Chapter 43 -Melawan Belle
44 Chapter 44 -Belle Mati
45 Chapter 45 -Ingatan Kembali
46 Chapter 46 -Kematian Diva
47 Chapter 47 -Penjelasan Nevan
48 Chapter 48 -Antara Rafa Dan Nevan
49 Chapter 49 -Pengaruh Mutlak
50 Chapter 50 -Sudut Pandang
51 Chapter 51 -Kehadiran Melvin
52 Chapter 52 -Cara Untuk Masuk?
53 Chapter 53 -Menyusup
54 Chapter 54 -Ketahuan
55 Chapter 55 -Bertemu Iblis
56 Chapter 56 -Membunuh Iblis
57 Chapter 57 -Berkumpul Di Aula
58 Chapter 58 -Menuju Pertempuran Akhir
59 Chapter 59 -Need
60 Chapter 60 -Menuju Akhir
61 Chapter 61 -Menuju Akhir II
62 Chapter 62 -Leon Mati
63 Chapter 63 -Pohon Telah Tumbuh
64 Chapter 64 -Reinkarnasi
65 Chapter 65 -10 Tahun Kemudian
66 Chapter 66 -Masa Lalu Ralt
67 Chapter 67 -Ketiga
68 Chapter 68 -Terciptanya Need
69 Chapter 69 -POV Selesai
70 Chapter 70 -Berbaikan
71 Chapter 71 -Kebenaran
72 Chapter 72 -Kemungkinan
73 Chapter 73 -Kisah Teddy
74 Chapter 74 -Kembali Ke Dunia Iblis
75 Chapter 75 -Memohon
76 Chapter 76 -Pergi Ke Dunia Iblis
77 Chapter 77 -Ayah Dan Anak
78 Chapter 78 -Kabar Kematian
79 Chapter 79 -Kawanan Beruang Berduri
80 Chapter 80 -Menyembuhkan
81 Chapter 81 -Kendala
82 Chapter 82 -Tekad
83 Chapter 83 -Nevan
84 Chapter 84 -Kite
85 Chapter 85 -Mayat Hidup
86 Chapter 86 -Mayat Hidup II
87 Chapter 87 -Bertemu Kembali
88 Chapter 88 -Flynn
89 Chapter 89 -Kekacauan
90 Chapter 90 -Mayat Hidup III
91 Chapter 91 -Kite II
92 Chapter 92 -Need Dan Leon II
93 Chapter 93 -Iblis Dan Blizt
94 Chapter 94 -Leon
95 Chapter 95 -Serangan
96 Chapter 96 -Tidak Terima
97 Chapter 97 -Hidup Kembali
98 Chapter 98 -Bercanda
99 Chapter 99 -Iblis Dan Blizt II
100 Chapter 100 -Pendapat
101 Chapter 101 -Menjadi Umpan
102 Chapter 102 -Silvia Dan Stev
103 Chapter 103 -Silvia Dan Stev II
104 Chapter 104 -Kedatangan Tak Terduga
105 Chapter 105 -Hidup Lagi
106 Chapter 106 -Pertarungan Berakhir
107 Chapter 107 -Antara Melvin Dan Radolf
108 Chapter 108 -Ken Pergi
109 Chapter 109 -Flashback
110 Chapter 110 -Ingatan Nevan Kembali
111 Chapter 111 -Mencari Makan
112 Chapter 112 -Mayat Hidup Ralt
113 Chapter 113 -Ken
114 Chapter 114 -Bukan Makhluk Hidup
115 Chapter 115 -Di Pihak Musuh?
116 Chapter 116 -Nevan Dan Ray
117 Chapter 117 -Ray
118 Chapter 118 -Osdont? Osnot? Osmond!
119 Chapter 119 -Oliver Dan Darah Campuran
120 Chapter 120 -Michael
121 Chapter 121 -Michael II
122 Chapter 122 -Masa Lalu, Masa Depan
123 Chapter 123 -Menyalahkan
124 Chapter 124 -Hubungan Kite Dan Felix
125 Chapter 125 -POV Ken
126 Chapter 126 -Kite Dan Michael
127 Chapter 127 -Kite Dan Michael II
128 Chapter 128 -Rafa= Oliver?
129 Chapter 129 -Oliver
130 Chapter 130 -Oliver II
131 Chapter 131 -Putra Ratu Silvia
132 Chapter 132 -Perang Akhir Dimulai
133 Chapter 133 -Perang Akhir Dimulai II
134 Chapter 134 -Perang Akhir Dimulai III
135 Chapter 135 -Rafa?
136 Chapter 136 -Identitas Ken
137 Chapter 137 -Perang Akhir Dimulai IV
138 Chapter 138 -Perang Akhir Dimulai V
139 Chapter 139 -Teddy II
140 Chapter 140 -Axelle
141 Chapter 141 -Axelle II
142 Chapter 142 -Kekejaman Michael
143 Chapter 143 -Leon II
144 Chapter 144 -Kenapa?
145 Chapter 145 -The End
146 Last
Episodes

Updated 146 Episodes

1
Chapter 01 -Awal dari segalanya
2
Chapter 02 -Es Krim
3
Chapter 03 -Nevan
4
Chapter 04 -Raja Iblis
5
Chapter 05 -Katly Dan Retakan
6
Chapter 06 -Berita
7
Chapter 07 -Lawan Pertama
8
Chapter 08 -Kematian Sementara
9
Chapter 09 -Sadar
10
Chapter 10 -Pasar Malam
11
Chapter 11 -Pasar Malam 2
12
Chapter 12 -Tangan Kanan Raja
13
Chapter 13 -2 Sifat
14
Chapter 14 -Pulang
15
Chapter 15 -Sakit
16
Chapter 16 -Pria Asing
17
Chapter 17 -Need
18
Chapter 18 -Need 2
19
Chapter 19 -Kedatangan
20
Chapter 20 -Need Dan Leon
21
Chapter 21 -Kepingan Informasi
22
Chapter 22 -Tidak Percaya
23
Chapter 23 -Ketidaktahuan
24
Chapter 24 -Teddy
25
Chapter 25 -Berbeda
26
Chapter 26 -Kevin Mati
27
Chapter 27 -Tidak Jadi Mati
28
Chapter 28 -Kedatangan Flynn
29
Chapter 29 -Kedatangan Flynn 2
30
Chapter 30 -Ke Rumah Sakit
31
Chapter 31 -Usir Leon?
32
Chapter 32 -Bertengkar
33
Chapter 33 -Permintaan
34
Chapter 34 -Pertemuan Kedua
35
Chapter 35 -Bertarung Lagi
36
Chapter 36 -Muak Dan Kematian
37
Chapter 37 -Bunuh Diri
38
Chapter 38 -Ash
39
Chapter 39 -Cemas
40
Chapter 40 -Permintaan Maaf
41
Chapter 41 -Perpisahan
42
Chapter 42 -Masing Masing
43
Chapter 43 -Melawan Belle
44
Chapter 44 -Belle Mati
45
Chapter 45 -Ingatan Kembali
46
Chapter 46 -Kematian Diva
47
Chapter 47 -Penjelasan Nevan
48
Chapter 48 -Antara Rafa Dan Nevan
49
Chapter 49 -Pengaruh Mutlak
50
Chapter 50 -Sudut Pandang
51
Chapter 51 -Kehadiran Melvin
52
Chapter 52 -Cara Untuk Masuk?
53
Chapter 53 -Menyusup
54
Chapter 54 -Ketahuan
55
Chapter 55 -Bertemu Iblis
56
Chapter 56 -Membunuh Iblis
57
Chapter 57 -Berkumpul Di Aula
58
Chapter 58 -Menuju Pertempuran Akhir
59
Chapter 59 -Need
60
Chapter 60 -Menuju Akhir
61
Chapter 61 -Menuju Akhir II
62
Chapter 62 -Leon Mati
63
Chapter 63 -Pohon Telah Tumbuh
64
Chapter 64 -Reinkarnasi
65
Chapter 65 -10 Tahun Kemudian
66
Chapter 66 -Masa Lalu Ralt
67
Chapter 67 -Ketiga
68
Chapter 68 -Terciptanya Need
69
Chapter 69 -POV Selesai
70
Chapter 70 -Berbaikan
71
Chapter 71 -Kebenaran
72
Chapter 72 -Kemungkinan
73
Chapter 73 -Kisah Teddy
74
Chapter 74 -Kembali Ke Dunia Iblis
75
Chapter 75 -Memohon
76
Chapter 76 -Pergi Ke Dunia Iblis
77
Chapter 77 -Ayah Dan Anak
78
Chapter 78 -Kabar Kematian
79
Chapter 79 -Kawanan Beruang Berduri
80
Chapter 80 -Menyembuhkan
81
Chapter 81 -Kendala
82
Chapter 82 -Tekad
83
Chapter 83 -Nevan
84
Chapter 84 -Kite
85
Chapter 85 -Mayat Hidup
86
Chapter 86 -Mayat Hidup II
87
Chapter 87 -Bertemu Kembali
88
Chapter 88 -Flynn
89
Chapter 89 -Kekacauan
90
Chapter 90 -Mayat Hidup III
91
Chapter 91 -Kite II
92
Chapter 92 -Need Dan Leon II
93
Chapter 93 -Iblis Dan Blizt
94
Chapter 94 -Leon
95
Chapter 95 -Serangan
96
Chapter 96 -Tidak Terima
97
Chapter 97 -Hidup Kembali
98
Chapter 98 -Bercanda
99
Chapter 99 -Iblis Dan Blizt II
100
Chapter 100 -Pendapat
101
Chapter 101 -Menjadi Umpan
102
Chapter 102 -Silvia Dan Stev
103
Chapter 103 -Silvia Dan Stev II
104
Chapter 104 -Kedatangan Tak Terduga
105
Chapter 105 -Hidup Lagi
106
Chapter 106 -Pertarungan Berakhir
107
Chapter 107 -Antara Melvin Dan Radolf
108
Chapter 108 -Ken Pergi
109
Chapter 109 -Flashback
110
Chapter 110 -Ingatan Nevan Kembali
111
Chapter 111 -Mencari Makan
112
Chapter 112 -Mayat Hidup Ralt
113
Chapter 113 -Ken
114
Chapter 114 -Bukan Makhluk Hidup
115
Chapter 115 -Di Pihak Musuh?
116
Chapter 116 -Nevan Dan Ray
117
Chapter 117 -Ray
118
Chapter 118 -Osdont? Osnot? Osmond!
119
Chapter 119 -Oliver Dan Darah Campuran
120
Chapter 120 -Michael
121
Chapter 121 -Michael II
122
Chapter 122 -Masa Lalu, Masa Depan
123
Chapter 123 -Menyalahkan
124
Chapter 124 -Hubungan Kite Dan Felix
125
Chapter 125 -POV Ken
126
Chapter 126 -Kite Dan Michael
127
Chapter 127 -Kite Dan Michael II
128
Chapter 128 -Rafa= Oliver?
129
Chapter 129 -Oliver
130
Chapter 130 -Oliver II
131
Chapter 131 -Putra Ratu Silvia
132
Chapter 132 -Perang Akhir Dimulai
133
Chapter 133 -Perang Akhir Dimulai II
134
Chapter 134 -Perang Akhir Dimulai III
135
Chapter 135 -Rafa?
136
Chapter 136 -Identitas Ken
137
Chapter 137 -Perang Akhir Dimulai IV
138
Chapter 138 -Perang Akhir Dimulai V
139
Chapter 139 -Teddy II
140
Chapter 140 -Axelle
141
Chapter 141 -Axelle II
142
Chapter 142 -Kekejaman Michael
143
Chapter 143 -Leon II
144
Chapter 144 -Kenapa?
145
Chapter 145 -The End
146
Last

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!