Orang orang yang melihat panah terbelah menjadi dua takjub. Mereka langsung bertepuk tangan, tak terkecuali Rafa. Ia tidak menyangka bila saudaranya sangat pandai bermain ini.
Penjaga stand itu menelan ludahnya. Tidak pernah ada pemain yang sampai melakukan hal seperti ini. Padahal ia berniat memeras mereka, namun sepertinya ia gagal. "I-itu tidak termasuk hitungan. Tembakan terakhir tidak dilakukan olehmu. Jadi kau tidak bisa mendapatkannya."
Saat mendengar ucapan itu, Rafa berjalan mendekati stand dan langsung menggebrak mejanya, "Kau menambahkan aturan main tadi, lalu sekarang kau menganggap ini tidak sah? Apa kau ingin bermain curang? Leon sudah melakukan 6 tembakan dan seharusnya 3 tembakan saja sudah cukup untuk memenangkan hadiah itu!
Ucapanmu itu membuatku kesal. Apa kau ingin aku menghancurkan stand ini sekarang juga dan membuat pengunjung tidak bisa memainkannya?!"
Penjaga stand itu sedikit ketakutan melihat ekspresi Rafa, "B-baiklah, untuk kali ini aku akan memberikannya. Jadi jangan menghancurkan stand ku." ia pun segera mengambil sebuah boneka yang cukup besar berbulu putih dan memberikannya pada Leon.
"S-sudah kan? Itu sudah cukup kan?"
Rafa mendengus, "Lain kali lakukanlah dengan adil. Jika tidak, aku akan benar benar menghancurkannya dan mengatakan pada orang orang agar mereka tidak bermain di sini. Ayo kita ke tempat lain."
"Huuhh, dia sangat menyeramkan saat marah," gumam Nevan. Pandangannya seketika terarah pada Leon. Hadiah yang diinginkan anak itu adalah boneka kucing yang tampak sangat mirip dengan aslinya.
"Apa dia menyukai kucing?" batinnya.
Setelah pergi ke stand permainan tembak, mereka pergi ke rumah hantu. Penampilan dari luar terlihat seperti bangunan rumah besar yang sudah lama tak terpakai.
"Sebaiknya kita ke tempat lain saja," bisik Nevan dengan sedikit takut. Ia tidak menyukai hal hal ghaib seperti hantu atau semacamnya.
"Leon pasti belum pernah mencobanya. Jadi kita masuk saja, jangan jadi penakut." ketus Rafa sambil memasuki bangunan di depannya.
Leon langsung mengikuti pemuda itu dari belakang sambil membawa hadiah yang ia menangkan sebelumnya.
Saat masuk ke dalam rumah hantu, semua tampak menyeramkan. Lampu yang remang dan berkedip kedip seperti akan mati. Kursi goyang yang bergerak tanpa ada siapapun yang mendudukinya. Sejauh ini, mereka tidak melihat apapun yang menyeramkan.
Nevan memegangi bahu Rafa dan bersembunyi di belakangnya. Ia terlihat sangat tertekan dan takut saat masuk ke dalam rumah hantu.
Lalu saat Rafa dan Nevan melewati sebuah pintu kecil yang tidak begitu jelas terlihat, seseorang dengan pakaian putih besar dan rambut panjang langsung keluar secara tiba tiba hingga mengejutkan kedua pemuda itu, "Aakhh.."
Brukk
Sosok itu segera terjatuh ketika pakaiannya tidak sengaja terinjak Leon, "Ah, aku tidak sengaja," gumamnya.
Yang awalnya menakutkan, kini justru membuat kedua pemuda itu terdiam karena tidak percaya.
Di kejutan berikutnya, sesuatu muncul tergantung terbalik. Saat Rafa dan Nevan berteriak kaget, Leon tanpa sengaja memukulnya hingga benda itu berputar kencang di udara, "Aku tidak sengaja."
Di kejutan kejutan berikutnya, hal seperti itu terus terulang hingga membuat Rafa maupun Nevan tertawa. Mereka kini tidak takut, malah dibuat tertawa. Ketidak sengajaan Leon membuat orang orang yang mengenakan kostum hantu berlari menjauhinya. Itu adalah pemandangan pertama yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Setelah banyak tawa berlalu, mereka akhirnya sampai di luar rumah hantu. Tidak berhenti di sana, mereka mencoba permainan lain seperti carousel dan lainnya.
Leon baru pertama kali mencoba permainan permainan di sini. Walaupun tidak menunjukkan dengan ekspresi, namun sebenarnya ia sangat bersenang senang dan menikmatinya.
Setelah lelah bermain, mereka langsung membeli mie goreng dan permen kapas setelahnya.
"Sebelum pulang, mari menaiki bianglala," ucap Rafa dengan semangat yang membara.
Nevan mengangguk semangat. Ketiganya pun berbaris untuk bisa menaiki kincir besar itu.
"Permisi."
Nevan menengok ke belakang saat ada seseorang yang menepuk pundaknya. Seorang gadis cantik dengan pakaian berwarna putih dan celana hitam tersenyum ragu ke arahnya, "Katly?! Kau ada di sini?!" kaget Nevan.
Katly, teman satu SD nya yang pada saat itu pernah bertemu tanpa sengaja.
"Ah, ternyata benar. Kupikir aku salah orang. Tanpa sengaja kita bertemu lagi seperti ini," Katly tersenyum manis. Ia terlihat begitu senang saat bertemu dengan pemuda itu.
"Ekhem.. ekhem.. sepertinya kita sudah menjadi nyamuk di sini. Apa sebaiknya kita pergi saja?" Ucap teman Katly sambil melirik gadis itu.
"Iya.. sepertinya kita sudah menjadi pengganggu di sini," ucap teman Katly yang lainnya.
"Kalian.." Katly memperlihatkan ekspresi cemberutnya ketika mendengar godaan itu. Ia memang menyukai Nevan, namun mendengar temannya menggodanya seperti itu di depan Nevan membuatnya malu.
Rafa melihat ke belakang saat mendengar suara suara, "Kau.. Katly? Kau juga ada di sini ternyata."
"Eh?" Katly menatap Rafa. Pemuda itu adalah teman sekelasnya, termasuk teman dari kedua teman di belakangnya. "Rafa? Kau di sini?"
"Kalian saling mengenal?" Nevan menatap keduanya secara bergantian.
"Iya, dia adalah teman sekelasku. Kalian sendiri saling kenal?" Ucap Katly.
"Dia anak dari pamanku, jadi dia saudaraku. Kebetulan sekolahnya sedang libur, jadi dia menginap di rumahku. Lalu aku mengajaknya kemari," jelas Rafa.
Katly mengangguk angguk, "Ternyata begitu. Eh? Anak ini.. yang bersamamu saat itu. Aku belum menanyakan namanya sebelumnya."
"Ah, dia adalah Leon," ucap Nevan sambil menunjuk anak itu.
Leon nampak memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak tertarik dengan pembicaraan seperti ini.
Sambil menunggu antrian panjang, mereka mengobrol dengan bebas dan membahas berbagai hal. Terlebih Katly yang membahas saat masa lalu kepada Nevan. Ia menceritakannya dengan hati senang.
Mereka pun berpisah pada saat menaiki bianglala. Nevan sudah menawarkan agar Katly satu tempat dengannya, karena tempatnya masih kosong satu. Namun gadis itu menolaknya dan memilih untuk bersama temannya.
"Kenapa kau tidak mengatakan bila Katly satu kelas denganmu?" Ucap Nevan sambil menghela nafas.
"Memang kenapa? Aku saja tidak tahu kau mengenalnya," jawab Rafa.
Leon tidak memperhatikan apa yang kedua pemuda itu bicarakan. Ia lebih tertarik dengan pemandangan yang terlihat di kaca luar. Awalnya ia merasa takut untuk menaikinya. Karena ini adalah hal baru baginya.
Namun setelah bianglala dijalankan, ini terlihat cukup mengasikkan. Ia bisa melihat pemandangan kota pada malam hari di sini. Langit yang gelap dengan hiasan bintang, lalu bulan sabit yang bersinar terang. Lalu saat ia melihat ke bawah, ia bisa melihat berbagai stand dan permainan lain yang terlihat kecil dari atas sini. Semuanya terlihat begitu jelas dalam pandangannya.
"Ngomong ngomong, sudah lama sekali sejak aku menaiki ini. Terakhir kali aku pernah menaiki ini saat bersama dengan ayah," Rafa melihat ke luar kaca dengan tatapan sendu.
Nevan mengerti seperti apa rasanya ketika ditinggalkan oleh orang tua, karena ia juga kehilangan ibunya saat kecelakaan yang dialami ibunya beberapa tahun lalu, "Kau tidak sendiri. Kau masih memiliki diriku, ayahku, adikku, dan mungkin dia termasuk," ia melirik Leon yang terus melihat keluar jendela kaca.
Rafa mengangguk dan tersenyum. Ia cukup beruntung karena masih memiliki seseorang yang bersama dengannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments