Akhirnya Leon dan Rafa sampai di rumah dengan selamat. Leon yang terlalu lelah langsung tertidur di kasurnya.
Kini hanya tinggal Rafa yang masih berdiri di dekat tempat tidur. Ia merasa lega karena sudah menemukan Leon. Namun rasanya ia sudah melupakan sesuatu yang penting, "Ah, sudahlah.. Mungkin itu tidak begitu penting."
Rafa lupa mengatakan pada Kevin bila ia sudah menemukan Leon. Karena hal itu, Kevin terus mencari Leon semalaman sampai tidak tidur. Ia bahkan kembali saat Rafa sudah bersiap untuk pergi sekolah.
"Leon belum kutemukan. Padahal aku sudah mencari ke sana kemari, bahkan sampai ke sekitar sekolah kita, tapi aku tidak juga menemukannya. Apa yang akan kau lakukan Rafa?" Ucap Kevin dengan wajah lelah.
Rafa terdiam sesaat. Sepertinya hal yang ia lupakan adalah Kevin. Ia lupa mengabarinya dan membuat pemuda itu mencari selama semalaman. Ia jadi tidak enak, "Ehm.. sebenarnya.. um.. bagaimana harus kukatakan ya?"
Kevin menatap Rafa ketika mendengar kata kata tidak jelas dari temannya itu, "Ada apa? Katakan saja."
"Ekhem.. sebenarnya aku sudah menemukan Leon di dekat sebuah taman semalam. Tapi aku lupa mengatakannya padamu. Aku ingat sudah melupakan sesuatu. Tapi tidak terpikirkan olehku bila yang kulupakan adalah kau. Maafkan aku.." ucap Rafa sambil menundukkan kepalanya.
Kevin menepuk wajahnya, "Kenapa kau tidak mengatakannya sebelumnya?" nadanya terdengar datar, namun penuh dengan emosi.
"Aku lupa."
Kevin menarik nafas dalam dalam, ia pun membuangnya dengan kasar. "Akh sudahlah, aku lelah!"
Kevin melewati Rafa begitu saja dan pergi ke lantai dua.
Rafa menjadi tidak enak dengan temannya. Padahal ia meminta bantuannya, namun ia malah melupakannya, "B-bila kau lapar, makanlah. Di dapur masih ada banyak makanan."
"Sepertinya hari ini dia tidak akan sekolah lagi," gumamnya. Ia pun segera pergi berangkat.
Need yang sejak awal terus mengikuti Leon, kini mulai mengikuti Rafa. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan pemuda itu sampai sampai membuat Leon membiarkannya menyentuhnya.
Rafa masuk ke kelasnya sendiri seperti biasa. Banyak sapaan dari teman temannya. Mereka bahkan menanyakan alasan Rafa tidak masuk sekolah tanpa kabar. Padahal biasanya pemuda itu orang paling rajin di kelas dan tidak pernah ada catatan bolos dalam rapotnya. Sepertinya pencapaiannya itu telah ternodai hanya karena satu hari bolos.
"Ah, kemarin ada urusan keluarga secara mendadak. Lalu aku lupa untuk mengabarinya," jawab Rafa.
"Maksudmu, urusan keluarga bersama dengan pamanmu itu?" tanya teman perempuannya.
Rafa membalas dengan anggukan. Keluarganya yang ada saat ini hanyalah pamannya, Nevan dan Alice yang merupakan adik Nevan. Ia tidak memiliki siapapun lagi. Semua teman temannya pun sudah tahu akan hal itu.
"Eh, lalu bagaimana dengan Kevin? Dia kemarin tidak masuk, tapi sekarang pun dia tidak masuk. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Apa dia mau tidak naik kelas lagi seperti sebelumnya?" ucap temannya yang lain.
"Mungkin dia memang tidak mau naik kelas. Tidak perlu memikirkannya. Kita saja tidak dekat dengannya. Lagi pula, untuk apa memikirkan anak berandalan itu? Benar kan?" ucap teman di sebelah Rafa. Pandangannya pun tanpa sengaja menatap Rafa. Ia lupa bila Rafa dekat dengan Kevin. "M-maksudku bukan begitu.."
Rafa menghela nafas. Ia sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa dekat dengan Kevin. Padahal saat pertama ia melihatnya, ia sudah mengecapnya menjadi orang yang tidak mau ia dekati atau dijadikan teman.
Kevin yang seperti anak berandalan dan suka berkelahi sembarangan dengan orang, ia tidak suka dengan orang seperti itu. Karena berdekatan dengannya, pasti akan membuatnya terkena masalah.
Namun ia kini mengerti dengan sifat Kevin setelah dekat dengannya. Sebenarnya bukan Kevin yang selalu memulai pertengkaran. Melainkan orang lain yang selalu ingin menantangnya. Orang orang tidak tahu bagaimana kejadian sebenarnya dan selalu mengecap Kevin sebagai murid tidak baik.
Walaupun ia menjelaskan keadaan Kevin sekalipun, mereka tidak akan mengubah pandangan mereka. Mereka harus melihatnya sendiri agar percaya
"Tidak apa," ucap Rafa.
Saat mengobrol dengan teman temannya, ia tiba tiba langsung melihat ke arah jendela luar. Ia merasa seperti sedang diperhatikan dari arah sana. Namun, ia tidak melihat siapapun. Lagi pula, kelas ini berada di lantai 2. Bagaimana bisa ada orang yang mengintip lewat jendela? Ia mungkin hanya salah sangka.
Need menghilang dari atas dahan pohon dan muncul di semak semak tepat pada saat Rafa melihat ke arahnya.
"Kurasa dia biasa saja. Tidak ada yang istimewa darinya. Bahkan dia tidak terlihat kuat sama sekali. Dia juga manusia. Tidak ada yang spesial. Tapi kenapa manusia seperti itu bisa dekat dengan Leon?!" geram Need.
Tidak ada satu pun iblis yang tahu dengan sifat asli Need yang seperti ini. Kebanyakan iblis tahu bila Need orang yang sangat rajin, bisa diandalkan dan orang yang kaku. Namun, tidak ada yang tahu bila dia maniak Leon.
Bahkan Stev pun tidak tahu dengan hal itu. Padahal bila ia dibandingkan dengan Leon, maka Need lebih condong memilih Leon. Hal itu bisa memicu pemberontakan dari iblis tangan kanannya ini.
Walau begitu, Need tidak pernah menunjukkan tanda tanda memberontak sama sekali. Bahkan ia tidak melawan perintah Stev untuk menangkap Leon dan membawanya ke dunia iblis. Hanya masalah waktu ia menentang perintah Stev pada akhirnya.
"Tidak seru memperhatikannya seperti ini. Lebih baik aku kembali ke tempat dia berada," gumam Need. Ia pun menghilang dari semak semak dan muncul di ruang tamu rumah Rafa.
Praangg
Saat kemunculannya, ia tanpa sengaja menyenggol gelas bekas minum di atas meja hingga pecah. Ia sedikit terkejut oleh ulahnya sendiri. Namun karena kebisingan itu, membuat Kevin yang bersiap untuk makan langsung mendekati sumber suara sebelum menyentuh makanannya sama sekali.
Saat sampai di sana, dilihatnya seorang pemuda asing di dalam rumah. Gerak geriknya tampak begitu mencurigakan, "Siapa kau?!"
"Ck, merepotkan," gumam Need.
"Jawab aku! Siapa kau?! Kenapa kau bisa ada di sini?!" Ucap Kevin.
Need menatap Kevin dengan dingin. Ia tidak suka dengan nada bicara manusia itu. Namun ia tidak bisa membunuhnya di sini. Itu akan menyebabkan kehebohan nantinya. Tapi ia juga tidak bisa berteleportasi ke tempat lain di depannya.
"Aku hanya ingin melihat lihat rumah ini saja," ucap Need.
"Apa dia pikir tempat ini museum yang bisa dilihat lihat dengan bebas?!" batin Kevin.
"Aku sudah menjawabnya. Jadi sampai jumpa," Need berbalik ke belakang dan berniat untuk pergi ke pintu keluar. Namun tenyata Kevin tidak membiarkannya dan menyentuh bahunya.
Tanpa basa basi, Need langsung menarik lengan Kevin dan menendang perutnya dengan lutut berkali kali.
Bukk Bukk Bukk
Setelah itu, Need langsung mendorong tubuh Kevin hingga membuat pemuda itu termundur beberapa langkah, "Ck, membuang buang waktu saja."
Kevin yang tidak terima langsung memukul wajahnya, namun Need menghindar dengan sangat baik dan langsung menendang tubuh Kevin hingga terjatuh.
Need kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar. Ia hanya membuang waktu bila meladeni Kevin.
Kevin kembali bangun. Ia tidak bisa membiarkan orang itu pergi. Dirinya mendekati Need dan mencoba memukulnya. Namun, Need kembali mencengkram pergelangan tangannya. Pemuda itu pun langsung memutar tangannya dan membanting tubuhnya ke meja dengan sangat keras.
Brukkk Praangg
Meja dengan alas berbahan kaca itu segera pecah dan kayu pada meja terbelah menjadi dua.
Suara yang begitu keras di dalam rumah yang sepi. Hal itu mengundang rasa penasaran Leon hingga anak itu langsung keluar kamar dan melihat apa yang terjadi. Ia berdiri di tangga dan melihat ke bawah.
Kevin tengkurap di lantai dengan tubuh berlumuran darah. Lantai putih menjadi warna merah akibat genangan darah. Dan di sana, berdiri seorang pembunuh yang ia lihat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments