"Walaupun kekuatannya mungkin melemah, namun kalian harus tetap waspada. Dia masih 'lah Raja iblis," ucap Stev pada keempat perwakilan tiap Raja iblis.
Tidak hanya ada mereka, namun ada pula ketiga Raja lainnya. Tiap Raja membawa perwakilan iblis yang akan dikirim ke dunia manusia. Bukan iblis biasa, mereka langsung mengirimkan tangan kanannya. Belle, perwakilan dari Silvia. Diva, perwakilan dari Ralt. Flynn yang mewakili Flor. Dan terakhir ada Need yang mewakili Stev.
"Pastikan kalian menyamar dengan baik nantinya. Karena kita tidak mau menarik banyak perhatian manusia. Tujuan kita hanya menemukan Leon. Kalian mengerti?" Ucap Silvia sambil menunjuk satu persatu iblis itu.
"Tenang saja, saya akan melakukan yang terbaik demi Anda, Yang Mulia." Ucap Belle dengan serius.
Diva menatap Ralt dengan gugup. Ia juga ingin mengatakan sesuatu pada Raja nya, "S-saya juga akan melakukan yang terbaik untuk Anda, Yang Mulia."
"Temukan saja dia, jangan banyak bicara. Buktikan apa yang baru saja kau katakan," cuek Ralt.
"B-baik!"
"Bagaimana caramu menaklukan tangan kanan Leon sampai dia mau membukakan jalan untuk ke dunia manusia?" tanya Silvia. Setahunya, Radolf adalah tangan kanan yang paling dipercaya Leon, sekaligus bawahan paling setia nya. Bagaimana mungkin iblis yang dikenal seperti itu mau melakukan apa yang bisa membuat Leon dalam bahaya?
"Itu tidak penting. Karena yang penting sekarang, kita akan bisa menemukannya," ucap Flor.
"Itu memang benar, namun tidak akan semudah itu menemukannya di dunia manusia yang sangat luas. Kita akan membutuhkan cukup banyak waktu," balas Stev. Pandangannya pun terarah pada Need, "Namun kau harus memastikan dapat menemukannya kurang dari 6 bulan. Apa kau paham?"
Need mengangguk, "Saya mengerti. Akan kupastikan dia ditemukan kurang dari 6 bulan."
"Bukankah itu terlalu lama?" Silvia mengerutkan keningnya. Ia ingin lebih cepat dari itu.
"Dunia manusia adalah tempat yang sangat luas. Mendapatkannya dalam waktu kurang dari 6 bulan adalah waktu tercepat," Ralt membalas dengan wajah cueknya. Ia pernah mengunjungi dunia manusia sebelumnya tanpa sengaja, namun itu tidak lama. Itu pun terjadi ketika ia belum menjadi Raja.
"Temukan saja dia segera dan bawa dia kemari," balas Flor dengan nada kesal.
"Baiklah, karena semua sudah berada di sini, kita mulai saja sekarang," Stev melirik Radolf yang berdiri di sampingnya. Tatapan pria itu seperti kosong sekarang.
Radolf mengarahkan tangannya ke depan. Perlahan namun pasti, retakan mulai muncul di udara. Seperti kaca yang retak, retakan itu semakin melebar hingga seukuran dengan tubuh. Di dalam sana terlihat begitu gelap seperti lubang tanpa dasar. Namun setelah terus menunggu selama beberapa saat, di dalam kini disinari oleh titik titik cahaya yang terlihat seperti bintang.
"Masuklah semuanya. Lakukan penyamaran kalian dengan baik," ucap Stev.
Belle, Diva, Flynn, dan Need mengangguk. Mereka mengubah wujud mereka terlebih dahulu. Menghilangkan tanduk dan telinga runcingnya hingga menjadi seperti manusia. Mereka kini sulit dibedakan. Bahkan aura yang mereka pancarkan terasa seperti manusia biasa pada umumnya.
Satu per satu dari mereka masuk ke dalam lubang terowongan hitam. Seperti jatuh ke dalam sumur tanpa dasar, begitulah mereka sekarang. Bagaikan jatuh ke luar angkasa dan melihat ribuan bintang menyala.
Di dunia manusia, retakan muncul di suatu jalan sempit. Tidak ada satu pun manusia yang melewatinya, sehingga tidak membuat kehebohan di sana.
Dari dalam sana, keempat tangan kanan Raja iblis atau bisa disebut panglima muncul keluar. Setelah mereka keluar, retakan yang muncul di udara segera menutup dan kembali seperti semula. Di dunia manusia udara dan pemandangan yang sangat berbeda dengan dunia iblis.
"A-apa kita sudah sampai di dunia manusia?" ucap Diva dengan gugup.
Belle melirik iblis itu. Ia heran kenapa wanita itu bisa sampai menjadi panglima. Padahal dalam pandangannya, Diva tidak lebih kuat dibandingkan dirinya. Malah terkesan lemah dan mudah untuk ditaklukan, "Sepertinya begitu."
"Mulai dari sini, kita akan berpencar. Jika kalian menemukan nya, langsung beritahu yang lain. Jangan langsung menghadapinya sendirian," ucap Need sambil berjalan keluar dari gang.
"Cih, tidak perlu mengatur atur. Kami tahu sendiri tentang hal itu. Lagipula aku tidak mau terus terusan bersama dengan kalian. Lebih baik aku mencarinya sendiri saja," Flynn bergerak melompati atap bangunan setelah mengatakan itu.
Kini tinggal Diva dan Belle. Kedua wanita iblis itu masih terdiam di tempatnya. "B-bagaimana jika kita bersama saja? Jika kita bersama dan menemukan nya, m-mungkin saja kita bisa mengulur waktu sampai mereka tiba nantinya," ucap Diva dengan suara gemetar. Jelas sekali bila iblis itu sedang ketakutan.
"Tapi jangan menyusahkan aku. Cepat ikut saja," Belle berjalan ke jalan yang berbeda dengan yang dilewati oleh Need sebelumnya. Diva pun mengikuti di belakangnya.
"Ya ampun, aku tidak bisa berharap pada iblis yang ketakutan di belakangku. Sebenarnya apa yang dipikirkan Raja Ralt sampai mau mengangkatnya menjadi panglima? Sudah jelas dia sangat penakut dan dia terlalu gugup. Bagaimana dia bisa bertarung jika seperti ini?" batin Belle. Ia menggelengkan kepala dengan ekspresi heran.
Belum lama sejak mereka menjauh dari tempat muncul, mereka bertemu dengan seorang iblis. Iblis itu tidak melakukan penyamaran sama sekali dan dengan terang terangan menunjukkan tanduknya.
"Wah, tak kusangka aku mendapatkan makanan pembuka sebelum aku mulai berburu hari ini. Ini keberuntungan untukku. Tapi sepertinya bukan keberuntungan untuk kalian," ucap iblis berbadan kekar itu. Ia adalah Flat yang sebelumnya sudah masuk ke dunia manusia lebih dulu bersama kedua rekannya.
"Cih, bagaimana bisa ada iblis rendahan yang masuk ke dunia ini? Merusak pemandanganku saja," gumam Belle dengan ekspresi kesal.
"B-b-bagaimana ini Belle? Apa yang harus kita lakukan?" Diva bersembunyi di belakang Belle sambil sesekali menatap Flat.
"Tentu saja melenyapkannya," sahut Belle.
Flat tidak memberikan waktu lebih untuk kedua wanita itu saling berkomunikasi. Ia dengan segera langsung memberikan pukulan.
Braakk
Namun pukulan itu berhasil dihindari Belle sehingga hanya mengenai tanah. Namun Diva masih tetap berada di tempatnya yang membuatnya terkena angin kuat dari pukulan hingga terdorong ke belakang dan jatuh.
Wanita itu terlihat begitu ketakutan saat melihat serangan Flat. Tubuhnya pun gemetar, "J-jangan mendekat! Jangan kemari!"
"Yang benar saja? Dia bahkan tidak menghindari serangan seperti itu. Seberapa lemahnya dia?" gumam Belle. "Awas! Menjauh dari sana!"
Flat tersenyum senang. Lalu saat ia akan mencengkram leher wanita itu, Belle segera melompat dan mengayunkan belati tersembunyi miliknya.
Sraatt
"Aku merasa seperti ada sesuatu yang menggelitik tanganku. Kira kira apa itu ya?" ucap Flat sambil melirik Belle yang baru saja menapak di tanah.
Belle sedikit terkejut. Seharusnya serangan seperti itu saja cukup untuk memotong iblis rendahan. Namun, jangankan memotong tangannya, ia bahkan tidak menggores lengannya sama sekali.
Flat langsung melakukan pukulan pada Belle, namun wanita itu segera menyilangkan tangannya hingga termundur beberapa langkah dari tempatnya berada.
Refleks cepat yang dimiliki Belle, membuatnya terhindar dari cedera. Namun Flat tidak hanya diam, ia melakukan serangan berikutnya dengan tangan lain. Tetapi Belle langsung melompat menghindari serangannya.
Diva masih terduduk ketakutan di dekat Flat, "K-kita tidak mungkin bisa menang. K-kita menyerah saja."
"Omong kosong apa itu?! Apa dia sudah gila?! Dia hanya iblis rendahan!" gerutu Belle dalam hatinya.
"Haha, pilihan yang bagus. Sebaiknya kau mendengarkan apa yang diucapkan temanmu ini dan diamlah tanpa melawan," ucap Flat dengan sombongnya. Karena memakan puluhan manusia, ia menjadi lebih kuat sekarang. Tubuhnya bagaikan perisai dan serangan sekaligus.
"Sulit bergerak di sini. Namun.." Belle mengambil satu belatinya yang lain dan melemparkan itu pada Flat.
Flat langsung mengangkat tangannya hingga menutupi pandangan untuk melindungi dirinya. Saat belati itu terjatuh setelah menabrak tangannya, Belle muncul di belakang Flat dan menusuk bahunya.
"Aakhh.." Flat merintih kesakitan. Luka itu tidak begitu dalam, namun cukup untuk membuatnya kesakitan. "Brengs*k."
Saat Flat membalikkan badannya dan melakukan serangan, Belle sudah tidak ada di sana. Ia hanya memukul udara kosong.
"Kemana dia?!" Flat melihat sekitar dan tidak menemukan dimana keberadaan Belle. Ia pun langsung menghentakkan kakinya dengan keras hingga menimbulkan angin yang cukup kuat untuk menerbangkan beberapa benda di sekitarnya. Tak terkecuali Diva.
"Kemana kau melihat, hah?!" Belle tiba tiba muncul dari atas dan langsung menusuk mata Flat hingga iblis itu berteriak kesakitan.
Flat menyerang ke sana kemari tidak beraturan karena rasa sakit di matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments