Flat menyerang ke sana kemari tidak beraturan. Mata kanannya yang ditusuk membuatnya tidak bisa melihat dan terus mengerang kesakitan.
Diva yang masih berada di dekat Flat langsung terlempar dengan tubuh yang menghantam tembok hingga retak.
Brukk
Karena bergerak tanpa tahu arah, punggung Flat terhantam ke tembok bangunan di dekatnya. Ia pun terduduk sambil terus memegangi matanya. Cairan merah keluar dari setiap sela jarinya.
"Kau sudah berani sombong hanya karena kekuatan itu," Belle mendengus penuh ketidak sukaan.
"Bagaimana dia bisa bergerak dengan begitu cepat? Dia bahkan bisa melukai bahuku, brengs*k," batin Flat sambil menahan rasa sakitnya. Pikirannya pun langsung menangkap satu kesimpulan. Wanita yang ia serang sebenarnya adalah blizt. Karena jika bukan, seharusnya wanita itu tidak bisa melukainya seperti ini.
Merasa dirinya terancam, Flat segera berdiri. Ia lebih baik pergi untuk sekarang, dibandingkan mati di tangan wanita itu, "Awas saja kau! Aku pasti akan membalasnya lain kali!"
Belle berniat untuk membiarkan Flat pergi. Karena ia datang ke dunia ini bukan untuk membasmi iblis lemah.
"Kau mau lari kemana? Kita belum selesai."
Belle langsung terkejut saat melihat Diva sudah berdiri di depan Flat dengan sebuah pedang.
"Minggir, jangan menghalangiku!" Flat langsung menerobos Diva begitu saja.
Sraattt Bruuk
"AAKKHHH"
Flat menjerit kesakitan ketika kedua tangannya terpotong. Ia pun terduduk di tanah dengan tubuh berlumuran darah.
"HAHAHA, apa itu? Hanya seperti itu saja kau sudah berteriak," Diva menatap Flat dengan rendah. Matanya berkilat dengan senyuman puas terukir di wajahnya. "Ini baru dimulai. Jangan merengek."
Diva mengarahkan mata pedangnya pada wajah Flat, lalu menggoreskan luka dari pipi hingga ke hidungnya.
Hal ini membuat Flat semakin berteriak kesakitan. Air mata tidak bisa ia tahan karena semua rasa sakit itu, "Tolong lepaskan aku!!"
Kedua tangan Diva bertumpu pada pedangnya, "Mari kita bermain. Jika kau bisa pergi ke ujung jalan sebelum hitungan ke 10 dariku, kau bisa pergi. Tapi jika gagal, maka kau tidak akan aku lepaskan. Satu.."
"Hah..?!" Flat segera berdiri dengan keadaan yang sangat parah. Satu matanya tertusuk dan kedua tangannya terpotong. Yang bisa ia andalkan saat ini hanyalah kedua kakinya. Ia mulai berlari menuju ujung jalan seperti yang dikatakan oleh Diva.
"Dua.."
"Aku harus sampai ke sana dan pergi. Akan aku balas si brengs*k itu di lain hari!" batin Flat. Walau dalam keadaan yang begitu menyedihkan, dia masih saja ingin membalas dendam. Ia bahkan sudah yakin dirinya bisa melakukan apa yang dikatakan oleh Diva.
"Empat.."
"Aku hampir sampai. Mati kau..!! Akan kuhabisi kau suatu hari!" geruru Flat dalam hati.
"Sepuluh.. kau kalah."
Srattt Cruatt
"AAKHHH"
Kini kedua kaki iblis itu terpotong dengan sangat rapi. Padahal jarak antara dirinya dengan Diva cukup jauh. Dan sebelumnya Diva tidak beranjak dari tempatnya sedikitpun. Namun ia bisa melakukan hal itu dalam sepersekian detik.
"K-kau curang! Aarghh..!! K-kau langsung mengatakan angka sepuluh, hah.. hah.."
Diva menginjak tubuh Flat yang tengkurap di tanah. Ia tertawa begitu puas, "Sejak awal kau seharusnya tidak percaya dengan ucapanku. Bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi begitu saja? Sekarang terima hukumanmu."
Diva menendang tubuh Flat dan membuat wajahnya menghadap padanya. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang dialami iblis itu. Ia malah menikmatinya. Pedang ia angkat tinggi ke atas, lalu ia tusukkan pada tubuh Flat berkali kali.
Jlebb Jlebb Jlebb Jlebb Jlebb
Darah terus menyiprat hingga mengotori pakaian Diva. Walau begitu, dirinya tidak peduli. Ia hanya terus menyeringai dengan tatapan bersemangat.
Erangan Flat perlahan melemah. Lalu pada saat itu, Diva langsung menusukkan pedangnya pada wajah Flat yang membuatnya benar benar mati.
Belle sejak tadi menyaksikan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Ia tidak percaya bila wanita yang ia kenal beberapa saat lalu berubah menjadi sosok lain yang begitu bertolak belakang. Sekarang ia mengerti mengapa Ralt sampai mengangkatnya menjadi panglima. Itu karena kekuatan yang dimiliki Diva, juga mungkin sifatnya yang ini.
Diva menarik pedang yang ia tusukkan ke wajah Flat. Kini pedangnya terbasahi oleh darah yang begitu kental. Ia mengayunkannya ke samping hingga darah terciprat ke tanah. Ia pun menyarungkannya kembali.
Begitu selesai, pupil matanya kembali menjadi lebih cerah. Ia berekspresi terkejut dan langsung menjauh dari tubuh Flat. Badannya gemetar ketakutan, "A-a-a-a-a-apa ini?!"
Belle langsung menghampiri Diva dan menepuk pundaknya, "Kerja bagus. Aku sempat meragukanmu sebelumnya. Tapi sepertinya kau bisa diandalkan sekarang."
Diva menatap Belle dengan mata berkaca kaca. Ia pun segera bersembunyi ke belakang tubuh Belle, "I-ini apa?! Sangat menyeramkan!"
"Hah..?" Belle terdiam dengan wajah heran. Padahal tadi Diva begitu bersemangat dalam menyiksa Flat. Namun apa yang terjadi sekarang? Dia tiba tiba berubah kembali menjadi Diva yang pertama ia kenal. Penakut, gugup, dan tidak percaya diri. Ia jadi bingung.
"Ah, sudahlah. Kita pergi saja dari sini sekarang. Tidak perlu mempedulikan itu," ucap Belle.
Diva menelan ludahnya dengan wajah khawatir. Ia pun mengangguk dan mengikuti Belle sambil memegangi pundaknya.
"Sepertinya Raja Ralt salah memilih orang untuk dijadikan tangan kanannya. Mungkin pemikiran pertamaku memang tidak salah. Yah, sulit untuk diharapkan Raja yang malas memilih panglima dengan benar," batin Belle.
Di tempat lain. Leon kini berada di sebuah restoran dekat pasar malam. Ia duduk bersama Rafa dan dua teman perempuan pemuda itu yang juga merupakan teman Katly. Sedangkan Katly dan Nevan berada di kursi lain.
Teman Katly sengaja melakukannya. Mereka ingin memberikan kesempatan untuk Katly berdua bersama Nevan, sekaligus untuk menepati janji makan bersama.
"Seperti yang kukatakan waktu itu, aku yang akan membayar makanannya. Jadi kau tidak perlu membayarnya," ucap Katly sambil tersenyum. Ia sangat gugup, tapi berusaha untuk menutupinya.
"Kau memang mengatakannya saat itu. Tapi lebih baik aku saja yang membayarnya. Bagaimana mungkin laki laki membiarkan perempuan yang membayar makanannya? Jadi aku yang akan membayarnya," ucap Nevan.
"Tidak, aku saja."
"Jika kau menolak, kau sama saja sudah menyakiti harga diriku," Nevan menopang tangannya dengan tangan kanan sambil menatap Katly.
"Eh? A-ah baiklah kalau begitu," Katly mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Ia malu bila ditatap begitu dekat seperti itu. Apalagi oleh Nevan.
Disaat Katly begitu sangat gugup, Nevan merasa biasa saja.
Begitupun dengan yang ada di meja lain. Mereka malah bersenang senang dengan banyak makanan di meja.
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan harga makanan. Nev yang akan membayarnya. Jadi makan saja sepuasnya," ucap Rafa.
"Horee! Terimakasih," ucap kedua temannya dengan senang.
Temannya yang bernama Chelsea menatap Leon yang terus makan dengan mata berkilau. Melihat tatapan itu, membuatnya tertawa. Dalam pandangannya, Leon adalah anak yang lucu. Tidak banyak berekspresi, namun saat seperti ini dia menunjukkan tatapan mata yang berbeda, "Ngomong ngomong, dia siapa Raf? Saudaramu? Dia sangat menggemaskan."
Rafa berhenti makan. Ia melirik Leon sesaat, lalu mengangguk, "Ah iya. Dia juga saudaraku."
Chelsea melihat boneka kucing yang cukup besar di meja makan, "Seingatku, boneka itu digantung di stand permainan tembak. Apa dia berhasil memenangkannya di sana?"
"Begitulah. Dia dibantu Nev pada tembakan terakhir. Lalu dia memilih hadiah ini."
"Ah, boneka itu lucu sekaliii. Apa aku boleh menyentuhnya, Leon?"
Leon berhenti makan. Ia menggelengkan kepalanya dan menarik boneka itu untuk disimpan di kursi.
"Menggemaskan sekaliii..!!" ucap Chelsea dan temannya dengan kegirangan.
Rafa berkedip beberapa kali melihat reaksi mereka. Mereka ternyata cukup heboh, padahal di kelas mereka tidak terlalu menunjukkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Ayano
Saya turut berduka. Anda support chara doang soalnya. Maaf ya
2023-04-07
0