Keesokan harinya, pagi pagi sekali, Nevan telah sampai di rumah. Sebuah rumah yang cukup megah dengan halaman yang luas.
Saat Nevan akan memencet bel rumah, pintu terbuka tiba tiba. Ia sedikit terkejut. Namun, melihat bila itu adalah ayahnya, membuatnya lega.
"Ikut denganku," ucap ayahnya.
"Lalu bagaimana dengan koperku?"
"Tinggalkan saja itu di sini. Ikut dengan ayah sekarang."
POV Nevan
Walaupun aku tidak mengerti dengan sikap ayah hari ini, namun aku langsung menuruti ucapannya.
Aku membuka gerbang terlebih dahulu agar mobil ayah bisa keluar. Aku kembali menutupnya setelah mobilnya keluar. Aku membuka pintu mobil dan duduk di samping ayah mengemudi.
Wajahnya terlihat serius. Dia juga tidak mengatakan apapun. Suasana jadi tidak nyaman. Aku pun memilih untuk memulai pembicaraan, "Kau menyuruhku pulang tiba tiba dan aku baru saja sampai. Tapi ayah langsung menyuruhku untuk mengikutimu. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang membuatmu menyuruhku untuk segera pulang? Apa ini tentang iblis iblis itu?"
Ayah nampak menggelengkan kepala. Dari hal itu, aku berkesimpulan bila ini tidak ada hubungannya dengan hal itu. Namun, entah mengapa aku merasa berdebar, seolah ada hal buruk yang menungguku.
Aku pun mencoba untuk bertanya lebih jauh padanya, "Jika bukan, lalu apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin ayah tiba tiba menyuruhku pulang hanya karena hal sepele."
"Semalam ayah berusaha meneleponmu. Tapi kau tidak mengangkatnya. Saat itu.., Alice bertemu dengan iblis saat pulang dari supermarket. Iblis itu berusaha untuk memangsanya."
Aku terkejut ketika mendengar cerita ayah. Ternyata benar, ayahnya tidak akan menyuruhnya pulang jika bukan hal mendesak, "Lalu apa yang terjadi pada Alice?! Dimana dia sekarang?!"
Aku mulai cemas dengan keadaan adikku. Dia tidak bisa bertarung. Dia juga tidak tahu apapun tentang iblis maupun blizt.
"Pada saat itu ayah sedang dalam perjalanan pulang dan mendengar suaranya di tempat sepi. Aku tidak bisa mengatakan bila itu adalah hal yang beruntung. Aku telat menolongnya. Saat aku sampai di sana, Alice terluka dan pingsan. Di sana juga masih ada iblis yang menyerangnya.
Dia iblis yang kuat dan aku hanya bisa membuatnya terluka tanpa sempat membunuhnya. Aku membawa Alice ke rumah sakit. Karena itu aku terus mencoba meneleponmu. Lalu setelah memastikan keadaan Alice baik baik saja di rumah sakit, aku mengirimkan pesan padamu agar kau segera pulang," jelas ayahku.
"Kalau begitu, apa sekarang Alice baik baik saja?" Aku masih merasa khawatir dengan keadaannya. Bagaimanapun, Alice diserang oleh iblis, bukan manusia biasa.
"Dia hanya mengalami luka luar dan itu tidak membahayakan nyawa. Tapi saat dia sadar, dia sangat ketakutan. Bagaimanapun, dia hampir saja menjadi mangsa iblis. Aku membutuhkan waktu saat menenangkannya semalam. Ayah ingin kau menjaganya."
"Kalau begitu, serahkan hal itu padaku. Aku pasti akan menjaganya dengan baik."
Sesampainya di rumah sakit, aku melihat Alice terbaring di salah satu ruangan. Tangan kanannya diperban dari siku hingga telapak tangan. Melihatnya seperti ini, membuatku semakin cemas.
Saat aku sedang memperhatikan keadaannya, Alice tiba tiba terbangun dengan kening berkeringat. Dia terlihat begitu ketakutan sambil melihat sekelilingnya dengan waspada, "Kakak!!"
Alice langsung memeluk tubuhku sambil menangis, "Aku takut.. dia pasti akan ke sini. D-dia pasti akan melukaiku lagi."
Aku sedikit terkejut dengan gerakan tiba tiba itu, tapi aku langsung memeluknya dan mengelus kepalanya, "Tenanglah, dia sudah tidak ada. Dia tidak akan kembali lagi. Kakak ada di sini, jadi tenanglah.." Aku mencoba menenangkannya. Namun sepertinya Alice tidak mendengar kata kataku. Tubuhnya bergetar ketakutan.
"D-dia pasti ada di sini. Dia ada di sini..! Aku takut, aku takut kak.. hiks.. hiks.."
Aku tidak tega melihat keadaannya yang seperti ini. Dia yang selalu ceria menjadi sangat begitu waspada dan ketakutan.
"Alice.. ada ayah dan kakakmu di sini. Kau akan baik baik saja, kami akan menjagamu. Dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi."
Ayah pun ikut menenangkan Alice. Walau dia sudah sedikit tenang, namun dia masih tidak mau melepaskan pelukannya dariku, seakan aku akan pergi darinya, bila dia melepaskannya.
Aku tidak berhenti mengelus kepalanya dan menenangkannya. Mungkin seharusnya seperti ini 'lah orang yang baru saja selamat dari menjadi mangsa iblis. Namun, Leon sama sekali tidak ketakutan seperti ini. Padahal saat itu iblis baru saja mengambil jantungnya. Atau malah.. anak itu menyembunyikan rasa takutnya?
POV Nevan End~
Di rumah Rafa
"Hah.. hah.. hah.. hah.."
Leon menutupi wajahnya dengan tangan. Wajahnya berkeringat karena memimpikan hal buruk. Kejadian saat sesosok makhluk bertanduk menemukannya dan menarik jantungnya keluar, membuatnya merasa seperti benar benar akan mati.
Kevin yang baru saja keluar dari kamar mandi di ruangan kamar langsung menghampiri anak itu dan berdiri di sampingnya, "Apa kau baru saja bermimpi buruk?"
Leon menatap Kevin dan mengatur nafasnya dengan baik. Ia menggelengkan kepala dan diam tanpa memberi jawaban.
Melihat wajah Leon yang begitu pucat, membuat Kevin langsung menyentuh dahinya. Kedua alisnya terangkat, "Kau panas. Apa kau sedang demam? Tunggu sebentar, aku akan mengatakannya pada Rafa."
Dengan segera, Kevin langsung pergi ke bawah karena tahu Rafa sedang menyiapkan makanan.
Setelah mendengar kabar Leon, Rafa segera mematikan kompor dan pergi mengambil kotak obat. Kevin juga membantu menyiapkan air dan kain untuk mengompres.
Kain ditempelkan ke dahi Leon oleh Rafa. Namun saat ingin memberinya obat, Leon terus terusan menolak dan menutup mulutnya rapat rapat.
"Ini tidak akan terlalu pahit. Kau langsung telan saja. Kau akan segera sembuh bila meminum obat. Apa kau ingin terus seperti ini? Ayo buka mulutmu. Kau harus meminum obat agar cepat sehat. Jika kau mau meminumnya, aku akan memberikan apapun yang kau mau," bujuk Rafa.
Leon menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya dengan tangan. Ia memang merasa pusing, namun ia tidak mau meminum obat.
"Jangan keras kepala, minum saja," ucap Kevin.
Melihat Leon yang masih tetap enggan, membuat Kevin mengambil obat yang sama dan memasukkannya ke dalam mulut. "Kau lihat? Tidak pahit, aku juga baik baik saja. Kau hanya meminum obat, bukan racun."
"Lihat, Kevin saja meminumnya. Kau akan segera sembuh bila meminum obat," bujuk Rafa.
Setelah banyak bujukan, akhirnya Leon mau membuka mulutnya dan meminum obat itu.
"Nah, kau mau kubelikan apa? Kau sudah mau meminumnya, jadi kau boleh meminta apapun padaku," ucap Rafa.
"Aku tidak ingin apapun," balas Leon sambil menahan rasa pusingnya.
"K-kalau begitu aku akan membuatkan bubur untukmu. Lalu aku akan membelikan banyak makanan manis. Kau suka 'kan makanan manis? Seperti permen dan kue. Aku akan membelikannya untukmu nanti," Rafa segera pergi ke bawah setelah mengatakannya.
Ia baru pertama kali merawat orang yang demam seperti ini, karena sebelumnya ia tidak pernah merawat orang demam. Ia hanya pernah merawat dirinya sendiri bila demam.
Karena Leon sakit, Rafa tidak jadi pergi ke sekolah. Ia lebih memilih untuk tetap di rumah dan merawat anak itu. Kevin pun sama, namun alasannya karena tidak membawa alat tulis dan seragam.
Sampai malam pun, Rafa masih terus merawat Leon disaat Kevin telah tertidur. Ia terus mengganti kompresan kain hingga tak sengaja tertidur di tepi kasur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Agis_Mcan
semangat terus kak...
2023-04-09
0