Seseorang tiba tiba muncul di sebuah bangunan kosong. Ia meletakkan anak kecil yang digendongnya di atas kotak kotak kayu.
Anak itu adalah Leon. Sementara orang yang sudah menolongnya adalah Need, tangan kanan Stev.
Kening Leon berkeringat. Ia kesakitan oleh luka tusukan itu. Jika ia menghindar, mungkin tidak akan terjadi situasi seperti ini.
"Sepertinya kau memang membutuhkannya," pemuda itu langsung berjalan ke sudut ruangan. Ia menyeret seseorang di belakangnya. Dia adalah Andre yang merupakan teman Misya. Ia diikat oleh tali khusus dan tidak dibiarkan untuk bersuara sedikitpun.
Andre yang diikat oleh Need memiliki beberapa luka di tubuhnya. Bahkan satu kakinya terpotong agar dia tidak pergi.
"Kau bisa menghabisinya," ucap Need sambil menunjukkan pria itu pada Leon.
Leon bisa nencium bau darah yang begitu memikat nafsu makannya. Ia perlahan turun dari kotak kayu dengan ekspresi menahan sakit. Tanpa aba aba, dirinya langsung menancapkan kuku tajamnya pada jantung Andre dan menariknya keluar hingga membuat pria itu menggerang kesakitan. Tidak ada suara yang keluar karena mulutnya ditahan oleh tali. Namun dari ekspresinya, bisa dilihat seberapa sakitnya ia saat ini.
Tess Tess Tess
Darah pada jantung yang dipegang Leon menetes ke lantai. Mata merahnya yang gelap itu menatap jantung yang masih berdetak. Tanpa ragu, ia langsung memakannya dengan lahap seolah itu bukanlah sesuatu yang menjijikkan.
Need pun hanya memperhatikan mayat iblis yang sudah ia tangkap tanpa belas kasihan. Apa yang ia lakukan tidak sia sia.
Luka luka di tubuh Leon langsung pulih setelah ia menyantap jantung itu. Bahkan lubang di tubuhnya perlahan menutup. Pada saat itu pula, rasa pusing di kepalanya menghilang. Panas yang ia rasakan pun seolah terdinginkan. Ia kini menjadi lebih tenang dibanding sebelumnya.
Leon terduduk pada saat itu juga. Kuku di tangannya memendek. Pupil matanya yang gelap menjadi lebih cerah seperti biasanya.
Need tampak berkaca kaca ketika melihat Leon setelah cukup lama tidak bertemu. Ia ingin sekali memeluknya. Namun Leon akan marah bila ia mengganggunya saat Leon baru saja selesai makan, "Bagaimana keadaanmu sekarang?"
Leon mengangkat wajahnya setelah cukup lama terdiam. Dilihatnya wajah seorang pemuda dengan mata berwarna abu tua dengan sebuah tahi lalat kecil di tengah hidungnya. Pemuda itu tampak sangat bahagia ketika melihatnya. Namun, ia tidak mengingat identitas orang itu.
Pandangannya beralih ke bawah. Pemandangan yang sangat mengerikan kini terpampang di depan matanya. Seorang mayat dengan lubang di dada dan kaki yang terpotong. Melihat kondisi tubuhnya, sepertinya orang itu baru saja mengalami kekerasan.
Perhatiannya kini tertuju pada tanduk di kepala Andre. Itu adalah makhluk yang pernah menyerangnya dan hampir membuatnya mati. Ia memundurkan tubuhnya ke belakang dengan bantuan tangannya.
Need berekspresi heran ketika melihat gerak gerik Leon. Ia pun mencoba berbicara dengannya, "Kau kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
Seketika perhatian Leon tertuju pada Need. Ia menatapnya dengan pandangan curiga, sekaligus gelisah. Ada mayat di depannya dan ada orang yang berdiri di dekat mayat itu. Ia langsung berkesimpulan bila Need yang membunuhnya. Namun melihat iblis yang diikat, membuatnya berpikir bila Need telah menyiksa Andre hingga dia mati dengan keadaan mengenaskan.
Tapi kenapa ia bisa berada di sini? Sebelumnya ia hanya ingin berjalan jalan dan menghirup udara segar. Namun ia malah berada di tempat ini bersama dengan mayat dan seorang pembunuh.
Need mendekati Leon. Tapi seketika anak itu langsung berdiri dan berjalan mundur sambil terus memperhatikan dirinya, "Jangan mendekat."
"Ya?" Need mengangkat sebelah alisnya. Sepertinya Leon sedang ingin bercanda dengannya. Mungkin dia sedang ingin memainkan sebuah peran dalam cerita.
Need pun tersenyum sinis. Ia akan mengikuti sandiwara ini. Dirinya berjalan dengan cepat mendekati Leon, "Bagaimana bila aku tidak mau menuruti ucapanmu itu?"
Leon terus mundur. Namun punggungnya langsung menabrak kotak kotak kayu. Ia tidak bisa mundur. Matanya melirik sekitar dengan cemas. Tempat ini hanya disinari oleh lampu jalan dari luar. Jadi ia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana suasana di tempat ini, "Jangan mendekat!"
Need berhenti sesaat. Ia memiringkan kepalanya, "Apa kau takut? Apa kau ingin lari? Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan itu?"
Leon berlari ke sisi kanan untuk pergi dari Need. Ia tidak tahu dimana pintu keluarnya. Namun ia akan segera menemukannya dan keluar dari sini. Ia tidak mau bernasib sama dengan makhluk yang pernah menyerangnya.
"Hahaha, kau mau lari?" Need berdiri di depan Leon secara tiba tiba hingga mengejutkan anak itu.
Leon berlari ke sisi yang lain. Namun Need kembali muncul di depannya. Ia semakin gelisah. Setiap ia mengubah arah larinya, maka Need akan muncul di depannya lagi dan lagi.
Leon pada akhirnya terpojokkan di sudut ruangan. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit takut. Ia tidak mau mengalami hal yang terjadi seperti sebelumnya.
Saat melihat ekspresi Leon, Need pun langsung tertawa sampai menciptakan gema, "Hahaha, peran yang kau lakukan sungguh luar biasa. Sepertinya kau bisa tampil di sebuah teater sekarang, hahaha..."
Leon tidak mengerti apa yang dikatakan Need, namun mendengarnya tertawa seperti itu membuatnya berpikir bila pemuda itu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk membunuhnya.
"Hah.. sudahlah, mari kita hentikan drama ini. Aku sungguh merindukanmu."
Saat Need hendak melakukan serangan pelukan, Leon segera menghindar hingga pada akhirnya kepala Need terbentur tembok dengan keras, "Sshh.. sakit.. sakit.."
Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Leon. Ia sedikit kecewa, "Kau selalu saja menghindar. Tapi aku pasti bisa menangkapmu sekarang."
Need yang terus mendekati Leon, membuat Leon merasa takut. Ia berpikir bila Need tidak cukup membunuh Andre dan masih ingin membunuh. Ia terus berusaha lari dari Need dan pergi ke tangga bawah. Ia sedikit kesulitan karena tidak adanya penerangan di tangga. Namun ia tidak mau sampai tertangkap pemuda itu.
Mayat Andre yang sudah mati kini berubah menjadi kepingan kristal dengan ukuran satu kepalan tangan orang dewasa berwarna biru navy. Mayat itu memang sudah berubah menjadi kristal, namun bekas darah yang ada di lantai tidak hilang dan masih tetap ada.
Itulah yang terjadi pada iblis yang mati di dunia manusia. Tubuh mereka akan membusuk dalam waktu kurang dari satu jam dan akan berubah menjadi pecahan kristal yang bisa dijual dengan harga mahal tergantung dengan warna dan ukuran. Semakin pekat warnanya, maka semakin mahal pula harganya.
Akhirnya Leon berhasil keluar dari bangunan kosong. Ia kini berlari di jalanan yang sepi dengan sedikit rumah. Sesekali matanya terus melihat ke belakang untuk memastikan keberadaan Need, namun pemuda itu sudah tidak ada. Leon berhenti sejenak. Ia mengatur nafasnya pelan pelan.
"Sebenarnya.. apa yang terjadi? Kenapa aku bisa berada di sini? Dan siapa dia?" gumam nya dengan nafas terengah engah.
Saat ia akan menyingkirkan rambutnya ke samping, ia baru menyadari sesuatu. Tangannya dilumuri dengan darah kental. Ia terkejut. Matanya bergetar dengan perasaan gelisah.
Ia langsung mengelapkan tangannya ke pohon besar di dekatnya. Ia terus mencoba untuk membersihkannya, namun itu cukup sulit. Ia membutuhkan air. Karena tidak adanya air, ia terpaksa mengelap tangannya ke pohon dengan keras hingga membuat telapak tangannya lecet.
"Hai, apa kau sudah selesai?"
Leon begitu terkejut saat Need muncul dari balik pohon seperti hantu penunggu. Langkahnya seketika termundur ke belakang, "Jangan mendekat. Jangan mendekat!"
Kakinya pun tanpa sengaja menginjak batu hingga tubuhnya terjatuh. Sementara, Need malah semakin mendekatinya. Ia memejamkan matanya saat tangan Need mulai mendekati dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 146 Episodes
Comments
Agis_Mcan
lanjuut, semangat
2023-04-10
0
Ayano
Kebayang sih pas makan malah nyium aroma gak ngenakin kek gitu 😨
2023-04-10
0