Bab 19

"Ketua!" Anthony memanggil Leon namun kini langkah kakinya terhenti saat melihat raut wajah yang begitu menyeramkan baginya.

"Astaga sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat." Batin Anthony bermonolog. Ingin sekali ia berlari dan menghindar dari kemarahan ketuanya.

"Kebetulan sekali kau datang di waktu yang tepat, ayo bawa kami ke rumah nenek Sofia." Ucap Queenara yang sedikit menundukan wajahnya menahan malu.

"Baik nona dokter." Anthony sedikit membungkukan tubuhnya dan membukakan pintu untuk mereka berdua.

"Leon cepatlah!" Queenara menarik tangan kekasihnya masuk ke dalam mobil.

Seperti tempo hari pria memakai hoodie hitam kembali memotret kebersamaan Queenara dan juga Leon dan mengirimkan nya pada seseorang.

Ting.. Bunyi pesan masuk di ponsel seorang pria yang kini sedang duduk menyandarkan tubuhnya dengan tangan yang terus memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.

"Hmm..." Pria itu bangkit melihat pesan masuk memperlihatkan foto-foto yang di kirimkan anak buahnya.

"Kali ini aku sangat yakin bahwa hubungan mereka sangat dekat dari perkiraan ku." Gumam tuan Liam yang kini menyimpan ponselnya kembali dan melanjutkan aktivitas sebelumnya.

Ya, selama ini tuan Liam lah yang mengirimkan mata-mata untuk mencari tahu siapa gadis yang sudah di ceritakan bibinya tempo lalu.

Flasback.

"Liam kamu baru kembali nak?"

"Iya banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan jadi aku tidak sempat pulang menemui bibi." Ucap tuan Liam yang kini duduk di samping sang bibi yang sedang merajut.

"Dimana brandal itu?" Tanya tuan Liam yang membuat nenek Sofia menghentikan aktivitas nya.

"Liam, dia putramu jangan katakan hal apapun yang bisa membuatnya semakin terluka. Apa kau tahu nak? siang tadi dia membawa kekasihnya, gadis cantik dan penuh sopan santun dia seorang dokter muda dan satu lagi wajahnya mirip seperti." Nenek Sofia menjeda ucapanya menatap wajah keponakan nya yang tampak begitu penasaran.

"Siapa?" Tanya Liam sambil meneguk air yang di berikan oleh nenek Sofia.

"Yumna."

Uhukk... Uhukk...

Liam terbatuk-batuk saat mendengar nama mantan kekasihnya yang masih yang masih bertahta dalam hatinya sampai saat ini.

"Mungkin saja dia putrinya Yumna, namanya Queenara tak hanya wajahnya yang mirip tapi sikap nya pun hampir sama dengan Yumna hanya saja Queenara sedikit pendiam dan malu-malu. Bibi melihat Leon sangat menyukai Queenara, bahkan bibi bisa melihat Leon sedikit berbeda saat bersama gadis itu." Ujar nenek sofia dengan senyuman manisnya.

"Bagai mana bibi bisa yakin jika dia putri Yumna, apakah bibi sudah menanyakan hal itu padanya?" Ucap tuan Liam acuh.

"Kau itu sangat konyol sekali, bibi hanya menebak nya saja lagi pula ini pertemuan pertama kami tidak mungkin aku menanyakan hal sejauh itu padanya." Ucap nenek Sofia yang kembali melanjutkan aktivitas merajutnya.

"Baiklah aku akan mencari tahunnya sendiri." Batim tuan Liam yang kini meninggalkan bibinya di ruangan itu.

"Liam apa kau mau makan nak? biar bibi siapkan."

"Tidak bi, aku masih kenyang." Jawab tuan Liam yang kini mulai menelepon seseorang untuk membantu misinya.

"Apakah dia putri Yumna? apakah itu gadis yang sama yang tak sengaja ku tabrak di lobi apartemen semalam?" Ucap tuan Liam penuh tanya.

Flasback End.

Tuan Liam mengusap wajahnya dengan sedikit kasar, merasa sangat pusing memikirkan segalanya yang terjadi saat ini.

Kisah masa lalu yang sudah lama usai kini datang kembali bagaikan gerhana di dalam hubungan percintaan anak-anak mereka.

"Kenapa kehidupan ini seakan mempermainkan kisah kita Yumna, aku masih belum bisa menebus kesalahanku pada putraku tapi sekarang masalah lain datang, aku tidak ingin kisah cintaku yang menyakitkan ini terjadi pada putraku juga. Leon sudah melalui banyak penderita karena egoku, aku tidak ingin masa lalu kita juga akan memengaruhi hubungan anak-anak kita."

***

Di tempat lain. Queenara terdiam mendengarkan kisah cinta antara mamanya dan ayah dari kekasihnya yang teramat begitu menyayat hati, hingga tak terasa air matanya pun ikut menetes membasahi pipinya. Namun berbeda dengan Leon yang kini langsung melepaskan genggaman tangannya dari sang kekasih.

Kini ia tahu apa penyebab mengapa ayahnya mengasingkan dirinya dan kini ia mengerti mengapa orang-orang selalu menyebutnya anak haram.

"Leon!" Queenara mengejar kekasihnya yang kini pergi begitu saja setelah mendengar kisah masa lalu kedua orang tuanya dari nenek Sofia.

"Nak," nenek Sofia menahan langkah Queenara.

"Iya nek?" Queenara kembali berbalik menatap wanita tua yang kini terlihat sangat begitu sedih dengan air mata yang mulai mengembun di pelupuk matanya.

"Nenek tenang saja, Queenara akan berusaha menenangkan Leon." Queenara tersenyum dan menggengam erat tangan nenek Sofia.

"Terima kasih nak."

Queenara menganggukan kepalanya. "Queenara pamit dulu, maaf jika sudah mengganggu waktu istirahat nenek." Ucap Queenara penuh ketulusan.

"Pergilah nak, Leon membutuhkan mu saat ini." Nenek Sofia langsung membalikan tubuhnya ia tidak ingin jika Queenara melihat betapa sedihnya ia saat ini.

Tanpa banyak tanya kini Queenara pun berlari ke luar rumah itu untuk mencari keberadaan kekasihnya.

"Leon! Leon!" Queenara terus berlari memanggil kekasihnya yang kini tak terlihat dimana pun.

"Ckkk kemana dia? Leon apa kau mendengarku?" Queenara terus mencari keberadaan Leon hingga akhirnya ia menemukan Leon yang sedang duduk di pinggir jalan dengan botol minuman yang berada di tangannya.

"Leon apa yang kau lakukan!" Queenara merebut botol itu dan membuangnya begitu saja.

"Kenapa kau membuangnya Queen!" Bentak Leon yang membuat Queenara terkejut dan hampir terjatuh.

"Leon?" Mata Queenara mulai berkaca-kaca menatap wajah kekasihnya yang menatapnya dengan tatapan yang tak biasa. Dengan sedikit bergetar kini Queenara menangkup wajah Leon yang memerah menahan marah yang meluap-luap dalam hatinya.

"Lepaskan semua beban dalam hatimu saat ini, luapkan! lakukan apapun yang kau inginkan, bentak aku sesuka hatimu agar kau merasa lebih tenang aku akan diam mendengarkannya." Ucap Queenara yang kini mulai memeluk Leon menahan rasa takut yang ada di dalam hatinya.

Bagi Queenara ini adalah pertama kalinya ia mendapatkan bentakan dari seseorang yang sangat ia cintai. Kini Leon tersadar dari apa yang sudah ia lakukan saat merasakan tubuh kekasihnya bergetar karena ketakutan.

"Queenara."

"I.. iya aku ada disini." Jawab Queenara dengan sedikit terbata-bata dengan keringat yang mengucur di keningnya.

"Maaf, maafkan aku." Leon memejamkan matanya membalas pelukan kekasihnya ia merasa sangat bersalah karena sudah menaikan suaranya di hadapan Queenara hingga membuatnya sangat terkejut dan ketakutan.

"Kamu tidak salah Leon, kita akan melalui segalanya bersama aku yakin kita bisa memulai semuanya bersama."

"Tidak Queenara, aku tidak pantas untukmu. Kau terlalu sempurna sedangkan aku, kini aku mengerti mengapa mereka selalu mengatakan jika aku anak yang tidak di harapkan." Leon berusaha melepaskan pelukan Queenara namun Queenara semakin mengeratkan pelukannya.

"Jangan lakukan ini padaku, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kita akan tetap bersama walau apapun yang terjadi. Apakah kau akan mengingkari janji mu sendiri?" Queenara menatap wajah tampan kekasihnya yang terlihat begitu terpuruk.

"Leon tatap aku! dengarkan apa yang aku sampaikan pada mu dan ikuti apa yang aku minta, kau tidak boleh menolaknya ini demi kebaikan kita. Apa kau setuju." Queenara tersenyum penuh arti menatap wajah tampan kekasihnya yang terlihat kebingungan.

Bersambung..

Terpopuler

Comments

♡momk€∆π♡

♡momk€∆π♡

kasian leon betapa hancur hatinya merasa terpuruk😭

2023-04-19

1

Erni Kusumawati

Erni Kusumawati

dari semua kisah masa Lalu Yumna dan Liam..Leonlah yg menjadi korban sesungguhnya...semoga akan ada kebahagiaan utk Leon dan Queenara

2023-04-17

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!