Bab 6

"Astaga! apa yang aku pikirkan?" Queenara langsung membuang pandangannya ke arah lain. Selama ini Queenara sudah menangani banyak pasien dan bertelanjang dada adalah hal yang biasa baginya, namun entah mengapa Leon merasa sangat berbeda dengan pasien lainnya bahkan bisa membuat otaknya berpikir hal yang tidak-tidak saat ini.

"Dokter anda sudah kembali?" Dengan wajah berbinar Leon pun menghampiri pujaan hatinya yang masih berdiri mematung menatap ke arah lain.

"Ya aku datang, tolong pakai dulu pakaian mu, aku akan memeriksa keadaan mu sekarang." Queenara berjalan melewati Leon yang kini menahan senyuman saat melihat Queenara mulai terlihat gugup dan malu-malu.

"Apa ada yang salah?" Tanya Queenara yang kini menatap Leon dengan tajamnya.

"Tidak ada dokter." Leon terlihat sangat gugup dan merasa terancam oleh tatapan Queenara padanya.

"Dokter, kenapa anda menatap saya seperti itu?" Leon mengerutkan keningnya saat Queenara memindai seluruh tubuhnya.

"Aneh sekali, tidak banyak luka di tubuhnya tapi mengapa dia bisa hilang ingatan? aku yakin dia pasti mengelabui ku. Lihat saja jika dugaanku ini benar, akan ku buat dia benar-benar melupakan segalanya karena sudah berani menipu dokter jenius sepertiku." Batin Queenara terus bermonolog.

Leon yang melihat Queenara terus mentapnya pun mulai terlihat salah tingkah. "Dokter, kenapa anda melihatku seperti itu? apa anda mulai menyukai saya?" Tanya Leon penuh percaya diri.

Queenara terbelalak mendengar pertanyaan pria di hadapannya dan membuat Queenara kembali menatap ke arah lain. "Astaga tingkat percaya diri pria ini sangat luar biasa." Gumam Queenara lirih namun masih dapat di dengar oleh Leon.

"Leon Aditya, ini pakaian gantimu dan sarapan mu aku akan menunggu mu lima belas menit dari sekarang kau harus segera bersiap dan aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat." Ucap Queenara tanpa jeda.

"Baik dokter." Leon menuruti keinginan Queenara dan bersiap untuk pergi meninggalkan tempat itu. Namun kini langkahnya terhenti, Leon merasa sedikit terkejut saat mendengar Queenara menyebut namanya dengan lancar dan hampir saja membongkar kebohongan nya yang pura-pura amnesia.

"Leon Aditya?" Leon menatap Queenara dengan tatapan penuh pertanyaa.

"Apakah bocah tengik itu sudah memberi tahu identitas asliku, ini gawat klan BlackSky pasti sedang dalam masalah besar jika dia tahu aku sedang tidak berdaya di tempat ini, lalu kemana Queenara akan membawaku pergi? apakah dia akan membuatku menjadi tawanan bocah tengik itu?" Berbagai macam pertanyaan mulai muncul di dalam hati Leon saat ini.

"Ya benar kau Leon Aditya, itu namamu aku sudah tahu namamu dari seseorang. Ayo cepat segera bersiaplah waktumu tinggal dua belas menit lagi." Seru Queenara yang langsung membuat Leon pergi untuk membersihkan dirinya.

Di dalam kamar mandi Leon mulai meraba sakunya mencari ponsel miliknya untuk menghubungi Anthony, namun sialnya ia tak menemukan ponsel yang ia cari.

"Damn! kenapa ini terjadi." Leon mengacak rambutnya frustrasi.

Sedangkan di luar ruangan Queenara sudah mempersiapkan segalanya untuk melakukan pemeriksaan terhadap pemuda itu. "Aku tidak boleh percaya begitu saja padanya, meskipun dia tampan dan seksi tapi aku adalah seorang dokter yang tidak mudah di tipu atau di jebak. Aku tidak tahu mengapa dia melakukan hal ini, apakah dia akan menjebakku atau memerasku di kemudian hari?" Queenara mulai memikirkan cara untuk mencegah hal itu terjadi.

Kini ia pun mulai memasukan obat ke dalam botol suntik, bersamaan dengan Leon yang kini keluar dari kamar mandi.

Leon menelan ludahnya secara kasar saat melihat begitu menyeramkan jarum suntik yang sedang di pegang Queenara saat ini.

"Leon cepatlah aku harus menyuntikkan obat ini agar kau cepat pulih." Seru Queenara dengan senyuman terlihat sangat menyeramkan bagi Leon.

Leon menggelengkan kepalanya tanda penolakan, ia memang seorang brandal yang sering mengalahkan musuhnya dengan mudah. Namun musuh terbesarnya adalah jarum suntik, Leon memiliki trauma mendalam dengan jarum suntik hingga separah apapun lukanya ia tak pernah melibatkan jarum suntik di dalamnya.

"Ayo cepatlah! aku hampir terlambat pergi ke rumah sakit nanti." Queenara menghampiri Leon yang kini terlihat sangat begitu panik dan ketakutan melihatnya.

"Ada apa denganmu? apa kau baik-baik saja?" Queenara sedikit mengangkat alisnya bingung.

"Dokter jauhkan benda itu dariku!" Pinta Leon dengan wajah memohon.

"Kenapa? apa jarumnya kurang besar?" Queenara sedikit menggoda Leon yang kini terlihat pucat karena ketakutan.

"Ya ampun dia lucu sekali, tubuhnya saja yang kekar dan maskulin tapi saat melihat jarum suntik sekecil ini dia berubah menjadi kucing yang menggemaskan." Queenara sedikit terhibur melihat tingkah laku pasien konyolnya pagi ini, hingga tanpa sadar ia pun tertawa membuat ketakutan Leon sirna begitu saja saat melihatnya.

"Kau sangat lucu sekali, ini hanya jarum bukan bom atau pistol yang bisa membunuhmu, ayo ikut aku!" Queenara memegang tangan Leon dan membawanya duduk di sofa agar Leon sedikit tenang.

"Apa kau takut benda ini?" tanya Queenara yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Leon.

"Baiklah aku mengerti. Tapi bagai mana cara aku mengobati mu agar kau cepat sembuh? akhhh begini saja! pejamkan matamu dan pikiran hal yang membuatmu bahagia." Ucap Queenara dengan senyuman manisnya.

"Apa itu?"

"Apa saja, bebas!" Jawab Queenara singkat.

"Aku tidak mengingat apapun, bagai mana jika aku memikirkan mu saja?" Tanya Leon yang langsung membuat membuat Queenara terbatuk karenanya.

"Astaga pria ini, dia tak jauh berbeda dari Elbara yang sangat menyebalkan! untung saja dia tampan jika tidak aku sudah menyumpal mulutnya dengan kasa." Queenara mulai menggerutu mengumpat Leon dalam hatinya.

"Hhmmm... Terserah kau saja!" Jawab Queenara dengan pasrah, karena ia tak mau terus mengulur waktu terlalu lama bersama dengan Leon. Tugasnya sebagai seorang dokter sudah menunggunya begitu juga dengan para pasien yang sangat mengidolakan nya.

Leon tersenyum dan menutup matanya membayangkan jika dirinya menikah dengan Queenara, sedangkan Queenara mulai bekerja mengobati luka-luka yang ada di tubuh Leon yang mulai mengering.

Namun saat akan menyuntikkan obat, kini Leon mengerucutkan bibirnya dan semakin mendekat pada Queenara.

"Ckk... Apa yang sedang pria ini pikirkan? apa dia berpikir mesum denganku? awas saja jika dia melakukan hal itu." Queenara langsung menyuntik lengan Leon dan sedikit menekannya membuat Leon berteriak karena terkejut.

"Rasakan! itu akibat dari pikiran mesum mu." Desis Queenara yang kini tersenyum melihat Leon yang sedang kesakitan karena ulahnya.

"Kau tenang saja itu hanya sementara kok." Ucap Queenara yang kini membereskan semua alat-alat nya dengan perasaan puas karena berhasil menjahili Leon.

Leon meringis memegangi lengannya yang terasa berdenyut, ia ingin marah namun ia tidak bisa mengungkapkan kemarahannya pada gadis yang sudah mencuri hatinya.

Kini Queenara menyiapkan sarapan yang ia bawa dari rumahnya dan makan bersama Leon. Setelah itu ia membawa Leon ke suatu tempat yang Leon halal betul kemana arah mobil Queenara melaju.

"Dokter kita akan kemana?" Tanya Leon pura-pura tidak tahu.

"Nanti kau juga akan tahu sendiri."

Leon mendengus kesal saat mendapat jawaban Queenara yang selalu menjawab pertanyaannya dengan singkat.

Kini Leon pun memilih untuk diam dan menatap keluar jendela. Namun kini pandangannya terus tertuju pada mobil yang terus mengikuti nya sejak tadi.

"Sial!"

Terpopuler

Comments

♡momk€∆π♡

♡momk€∆π♡

ayooooo leon mikirin apa hayo dikurucutin2 az tuh bibir😁😁😗

2023-04-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!