Bab 11

Cahaya matahari mulai bersinar menerangi bumi, para manusia pun mulai sibuk dengan aktifitas nya masing-masing.

Begitu pula dengan Queenara yang sudah bersiap dengan seragam lengkapnya untuk berangkat bekerja lebih awal, karena siang nanti ia akan pergi menungunjungi keluarga kekasihnya.

"Selamat pagi dokter?" Sapa para perawat yang bertugas saat melihat Queenara melewati lorong-lorong rumah sakit tersebut.

"Pagi," Queenara menampakan senyuman termanisnya pada semua orang. Hatinya merasa sangat senang, baginya pagi ini adalah pagi terbaik untuk Queenara karena hari ini statusnya sudah berubah.

"Semoga saja hari ini dan seterusnya tidak banyak orang sakit, mereka akan sehat dan aku bisa meluangkan waktuku lebih lama." Queenara terkekeh geli laku mendorong pintu ruangan nya.

Kini matanya terbelalak saat pandangannya melihat sang kekasih sudah duduk di kursi kerjanya dan menyambutnya dengan penuh senyuman.

"Saat ini pasti otakku sedang tidak waras, aku terlalu memikirkan nya sampai-sampai aku melihatnya dimana pun." Queenara memukul kepalanya sendiri dan membuat Leon yang melihat nya langsung menghampiri dang kekasih lalu memeriksa keadaan nya.

"Kenapa kau melakukan hal itu, dasar ceroboh sekali." Leon mengusap kepala kekasihnya dan mengecupnya penuh kelembutan.

"Astaga! kenapa bayangan nya terlihat begitu nyata." Batin Queenara terus berteriak menahan detak jantungnya yang mulai tak beraturan.

Leon mengusap pipi Queenara dengan penuh kelembutan, lalu Leon pun melabuhkan kecupan singkat nya dibibir sang kekasih yang sudah membuatnya tak bisa tertidur semalaman penuh. Hingga akhirnya Leon memutuskan untuk datang ke rumah sakit dan menunggu kekasihnya disana.

"Bayangan Leon pergilah! aku harus bekerja, aku tidak mungkin bisa melakukan apapun jika kau masih berkeliaran mengganggu ku." Queenara mengusir Leon dengan mata tertutup berharap jika bayangan itu akan segera pergi menjauh darinya untuk sementara waktu.

Leon mengangkat sebelah alisnya menatap bingung pada kekasihnya. "Bayangan? apa dia berpikir aku hanyalah bayangan. Astaga dia manis sekali, jadi makin cinta." Guman Leon yang kini kembali memeluk kekasihnya dan mengangkat tubuh Queenara lalu mendudukan nya di meja.

Leon mulai melum-at bibir kekasihnya untuk sedikit menggodanya, namun tanpa disangka kini Queenara mengalungkan tangannya di pundak Leon. Hingga Leon mulai bersemangat dan memperdalam ciuman mereka.

"Walau kau hanya bayangan tapi aku merasa senang karena kita bisa sedekat ini, sekarang aku harus kembali ke alam nyataku." Queenara masih berpikir ini hanyalah ilusi semata, kini ia pun mulai mencubit pergelangan tangannya agar ia tersadar dari mimpi indahnya.

Namun kini Queenara menjerit merasa sakit akibat cubitannya sendiri. "Auhh...."

"Sayang! apa yang kau lakukan?" Leon langsung mengusap lembut tangan kekasihnya.

"Bukankah sudah ku katakan jangan menyakiti dirimu sendiri." Leon meniupnya bekas cubitan yang kini terlihat memerah di tangan kekasihnya.

"Leon kau," Kini Queenara menyembunyikan wajah nya di dada bidang Leon saat ia tersadar bahwa ini adalah nyata buka ilusi.

Leon pun tersenyum melihat tingkah lucu kekasihnya yang sangat begitu menggemaskan di matanya. Kini Leon pun mencolek hidung mancung kekasihnya dengan gemas.

"Lihat aku sayang," Leon menangkup wajah cantik Queenara yang terlihat memerah menahan malu.

"Aku mencintaimu." Leon mengecup kedua pipi kekasihnya. Hal itu membuat Queenara semakin malu dan gugup.

"Ayo, aku akan membawamu pergi mengunjungi nenek." Ajak Leon penuh semangat. Namun Queenara menggelengkan kepalanya.

"Tidak sekarang tuan pacar, aku masih memiliki pekerjaan sekarang! tunggu dan duduk diam disini aku akan segera kembali." Queenara berlari meninggalkan Leon yang masih mematung di ruangannya.

"Arrghhh.. Dekat dengannya membuat jantungku sedikit tidak aman." Keluh Queenara yang kini berjalan cepat meninggalkan ruang kerjanya.

Berbeda dengan Leon yang kini terkikik geli melihat tingkah lucu kekasihnya. "Queen, kau bagaikan pelita dalam kehidupan ku yang gelap ini, hanya denganmu aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah aku dapatkan selama ini. " Leon tersenyum tipis dan duduk bersandar di meja kerja kekasihnya.

Sudah beberapa jam berlalu Leon menunggu Queenara kembali, namun yang di tunggu tak kunjung menampakan dirinya. Hingga Leon pun mulai merasa sangat bosan.

Karena tak ingin terlalu lama menunggu, kini Leon pun keluar dari ruangan itu dan menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari keberadaan kekasihnya.

"Dimana dia? kenapa aku tidak dapat menemukan nya?" Leon mendengus kesal namun ia tak menyerah begitu saja, hingga kini ia melihat kekasihnya sedang duduk berdua dengan pria lain di sampingnya.

"Aku menunggunya, tapi doa asyik mengobrol dengan pria lain." Dengan tangan terkepal kini Leon pun mulai menghampiri kekasihnya.

"Sayang aku menunggumu sejak tadi, rupanya kamu ada disini." Leon tersenyum pada kekasihnya namun matanya menatap tajam ke arah pria yang ada di sampingnya.

"Hmmm.. Dasar anak jaman sekarang." Keluh Rayga memutar bola matanya malas saat melihat pria muda di hadapannya.

"Leon,"

"Panggil aku sayang, biasakan hal itu agar setelah kita menikah nanti kau akan terbiasa dengan panggilan itu." Pinta Leon yang kini menyandarka kepalanya dengan manja di bahu sang kekasih.

"Percaya diri sekali kamu." sindir Rayga dengan wajah kesalnya.

Namun Leon tak perduli dengan ucapan pria yang ada di sampinya dan terus memaksa Queenara untuk memanggilnya dengan sebutan sayang.

"I.. Iya sayang." Queenara sedikit gugup da melirik ke arah Rayga. Namun dengan cepat Leon mengalihkan pandangan kekasihnya agar hanya melihat ke arahnya saja.

"Kekasihmu sangat posesif sekali baby." Rayga sedikit menggoda Leon dan mulai memanas-manasi nya.

"Kak," Queenara menatap tajam ke arah Rayga begitu juga dengan Leon yang mulai tak terima saat kekasihnya di goda oleh pria dewasa yang duduk di sampingnya.

"Jaga ucapanmu tuan, dia adalah kekasihku!" Kini Leon pun mengangkat tubuh kekasihnya bagaikan karung beras dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.

"Leon turunkan aku!" pinta Queenara yang kini mulai memberontak.

Sedangkan Rayga menggelengkan kepalanya melihat sikap kekasih keponakan kesayangannya. "Dasar pria aneh! tapi kenapa aku merasa seperti mengenalnya ya?" Rayga mulai berpikir keras.

Sedangkan Queenara bersedekap dada dengan bibir mengerucut. "Sayang kenapa kau marah padaku? apa karena pria aneh itu."

"Leon kau," Queenara tak bisa menyelesaikan ucapannya karena Leon langsung membungkam bibir dengan ciuman.

Queenara memukul dada bidang kekasihnya saat kehabisan oksigen untuk bernafas. Queenara merasa sangat kesal dan mencubit pinggang kekasihnya gemas. "Kau sangat menyebalkan!" Queenara tak mengerti mengapa setelah hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Leon terus saja menciumnya.

"Ini adalah hukuman untukmu, karena kau tidak menyebut namaku dengan benar." Leon mengusap bibir Queenara dengan lembut.

"Apa? aku sudah menyebutkan namamu dengan benar! dimana salahku?" Queenara mendelik ke arah Leon.

"Coba katakan!" Leon semakin gencar menggoda Queenara dengan mendekatkan wajahnya dan bersiap untuk menciumnya kembali.

"Tuan pacar kesayangan." Queenara menaik turunkan sebelah alisnya dan mengalungkan tangannya di pundak Leon.

"Apa kau menggodaku sayang?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!