Leon semakin mendekat dan membuat Queenara bertambah gugup karenanya. "Sayang tolong jangan lakukan hal itu." Ucap Queenara yang kini mulai memejamkan matanya.
"Kenapa?" Leon menahan tawanya yang hampir meledak.
Klik..
Leon memakaikan sabuk pengaman dan mulai melajukan mobilnya membelah jalanan yang cukup padat. Sedangkan Queenara merasa sangat malu dengan ulahnya sendiri karena terus berpikir buruk tentang kekasihnya.
"Kenapa wajahmu terlihat memerah?" Tanya Leon yang terus berusaha menahan tawanya saat melihat Queenara terlihat begitu kesal dan malu secara bersamaan.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku? apa kau sangat kesal padaku?" Leon kembali bertanya kepada kekasih nya karena sejak tadi Queenara hanya diam membisu.
Sedangkan Queenara masih tak menjawab pertanyaan demi pertanyaan kekasihnya ia masih sangat kesal dan memilih untuk diam.
Kini Leon memarkirkan mobilnya saat ia sudah sampai di kediaman nenek Sofia. Leon membukakan pintu mobilnya untuk Queenara, namun Queenara terlihat sedang melamun dan tak menyadari bahwa saat ini ia sudah sampai di tempat tujuannya.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Leon yang langsung membuat Queenara tersadar dari lamunan panjangnya.
"Aahhh... Iya, apakah sudah sampai?"
"Iya, kita sudah sampai. " Leon membungkukan badan untuk membuka seatbelt kekasihnya dengan wajah yang sangat begitu dekat dengan Queenara.
Queenara pun menatap wajah tampan Leon Aditya dengan penuh kekaguman, tanpa sadar kini ia pun mendaratkan kecupan singkat di pipi Leon.
Leon terbelalak kaget, kini ia pun mulai menatap wajah cantik kekasihnya dengan lekat. "Apa kau sengaja menggodaku hmmm...?" Leon menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik kekasihnya dengan lembut .
"Bukan begitu, aku, aku." Queenara sedikit bingung harus menjawab apa pada kekasihnya.
"Leon! apa kau akan terus disana dan membiarkan wanita tua ini terus berdiri disini seharian?" Ucap seorang wanita tua yang kini tengah berkacak pinggang di depan rumahnya.
Leon mengulurkan tangannya membawa Queenara ke hadapan nenek Sofia. "Nek perkenalkan ini," sebelum Leon selesai memperkenalkan Queenara pada sang nenek.
Dengan wajah berbinar bahagia, kini nenek Sofia membawanya pergi kedalam rumah dan tak menghiraukan keberadaan Leon yang kini menahan kekesalan dalam hatinya.
"Ayo nak kita mengobrol disini." Nenek Sofia ajak menuntun Queenara duduk di Sofia yang berada di ruang tamu.
"Terima kasih nek." Ucap Queenara dengan senyuman manisnya.
"Siapa namamu nak?" Tanya nenek Sofia dengan ramah.
"Nama saya Queenara nek." Sahut nya yang langsung mendapatkan anggukan dari sang nenek.
Nenek Sofia merasa sangat senang dan cocok dengan sikap yang dimiliki Queenara. "Gadis ini tampak berbeda dari para gadis yang selalu datang kemari untuk mencari Leon. Tapi tunggu! dia sangat mirip dengan," nenek Sofia baru menyadari sesuatu setelah melihat wajah Queenara yang begitu mirip dengan kekasih Liam di masa lalu.
"Sayang?" Leon berseru dan langsung duduk di samping Queenara dengan menyadarkan kepala di bahu sang kekasih.
"Hei anak nakal apa yang kamu lakukan? cepat minggir sana, nenek ingin mengobrol panjang dengan Queenara." Ucap nenek Sofia yang kini duduk di tengah-tengah mereka.
"Tapi nek aku,"
"Queenara ayo ikut nenek nak, nenek akan menunjukan sesuatu padamu." Nenek Sofia menggandeng tangan Queenara dan membawanya pergi meninggalkan Leon yang kini sedang terlihat sangat kesal padanya.
Nenek Sofia dan Queenara pun mengobrol panjang lebar dengan di iringi canda dan tawa di antara mereka. Sedangkan Leon duduk menjadi penonton yang baik.
Nenek Sofia menceritakan kisah masa kecil Leon pada Queenara, bahkan nenek Sofia pun memperlihatkan album foto yang begitu tebal pada Queenara. Mereka berdua terlihat sangat bahagia namun berbeda dengan Leon yang merasa sangat sedih saat mengingat kembali masa lalu nya yang malang.
Kini Leon mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan untuk mencari keberadaan sang ayah, ia ingin ayahnya tahu bahwa saat ini ia sudah mempunyai calon istri yang begitu sempurna. "Kemana pria itu? harusnya dia melihat bahwa saat ini aku sudah memiliki calon istriku sendiri tanpa harus menikah demi mendapatkan harta warisan darinya. Ciihhh...." Leon tersenyum miring menatap ke arah pintu kamar sang ayah yang sudah tinggal beberapa minggu di rumahnya.
"Dulu kau membuangku dan sekarang," Leon tersenyum mengejek lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku sangat membencinya." Ucap Leon yang kini mengepal erat tangannya saat mengingat kembali masa kecilnya yang begitu menyedihkan. Semua orang mencemoohnya dengan sangat kejam, mereka selalu mengatakan dirinya adalah anak haram yang lahir dari wanita yang tidak baik.
Di saat Leon merasa sangat terpuruk dalam hidupnya dan membutuhkan sandaran juga dukungan dari orang tua yang ia miliki, namun nyatanya Leon tak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Sebagai orang tua tunggal Liam tak pernah berusaha untuk membelanya dari cemoohan, hidupnya hanya bekerja dan terus bekerja dan melupakan Leon sebagai putranya.
"Aku ada di dunia ini karena dia, tapi dia tak menginginkan hal itu terjadi." Leon berjalan dan menghampiri dua wanita berbeda generasi itu lalu melemparkan album foto masa kecilnya dari tangan Queenara ke sembarang arah.
"Leon apa yang kamu lakukan?" Queenara sedikit terkejut dan berdiri menatap wajah Leon yang terlihat sangat marah dan penuh kesedihan.
"Ayo kita pulang." Ajak Leon yang langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.
"Leon!!" Queenara memanggil kekasihnya dengan wajah penuh kebingungan.
"Kejarlah dia nak, dia sangat membutuhkan gadis seperti mu di dalam hidupnya." Ucap nenek Sofia yang membuat Queenara semakin tidak mengerti.
"Sebenarnya ada apa dengan Leon? mengapa nenek Sofia mengatakan hal seperti itu lalu Leon," Queenara terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kalau begitu Queenara pulang dulu nek, lain kali Queenara akan berkunjung lagi ke rumah ini." Pamit Queenara yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari nenek Sofia.
"Nenek berharap hubungan kalian bukan sebatas ini, semoga saja Leon juga bisa melupakan kebencian nya pada sang ayah." Gumam nenek Sofia membatin.
Kini Queenara masuk ke dalam mobila dan pergi meninggalkan halaman rumah itu. Selama beberapa menit berkendara Leon tak mengatakan apapun pada Queenara, wajahnya masih menunjukkan kemarahan yang terpendam dalam hatinya.
Queenara yang merasa sangat penasaran pun mulai bertanya pada Leon, namun Leon masih bungkam dan tak ingin menceritakan kisah sedihnya pada Queenara.
"Leon,"
"Queenara aku mohon jangan tanyakan apapun lagi padaku apalagi tentang masa kecilku, aku mohon." Ucap Leon yang sedikit menekan kata-katanya.
"Oke baiklah, sekarang turunkan aku disini." Pinta Queenara.
"Turunkan aku disini apa kau tidak mendengarnya Leon Aditya. Kau tahu bukan sebuah hubungan harus di dasari dengan kepercayaan, lalu untuk apa hubungan kita terus berlanjut jika kamu tak percaya padaku." Ucap Queenara sarkas.
Leon langsung berhenti mendadak lalu menggengam erat tangan Queenara. "Jangan katakan hal itu, aku minta maaf sayang." Leon memohon kepada kekasihnya.
"Mari kita bicarakan hal ini disana. " Queenara menunjuk pada sebuah Cafe yang tak jauh dari tempat mereka saat ini, Leon pun menganggukan kepalanya tanda setuju.
Kini sepasang kekasih itu pun berjalan dengan tangan saling bertautan berjalan ke arah cafe. Dan tanpa mereka sadari sejak tadi seseorang tengah menatap mereka dengan tatapan yang tak dapat di artikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments