Setelah beberapa menit membelah jalanan. Kini Leon pun sudah sampai di tempat yang sudah ia persiapkan untuk meminang sang pujaan hari dengan cara yang sangat romantis.
"Kenapa dia mengajakku ke tempat gelap seperti ini? jangan bilang jika dia akan, owhhh ya ampun! apa dia semesum itu?" Queenara membungkam dirinya saat pikirannya mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Jangan pikirkan hal yang aneh, aku tidak akan melakukan apapun jika kau tidak mengizinkan nya." Ucap Leon saat melihat ekspresi wajah Queenara terlihat sangat begitu cemas.
"Astaga! apa dia cenayang yang bisa mendengar suara hati seseorang?" Queenara tampak bingung. Namun ia masih terdiam dan mencerna ucapan Leon padanya.
"Hmmm.. Aku tidak memikirkan apapun. Hanya saja aku heran kenapa kau membawaku ke tempat ini? disini sangat gelap dan aku tidak bisa melihat apapun." Queenara berjalan mengikuti langkah Leon dengan perasaan waswas.
Queenara hanya menatap wajah tampan Leon di bawah sinar rembulan, hingga ia tak terlalu memperhatikan langkah kakinya dan hampir terjatuh jika Leon tak menangkap tubuh rampingnya dengan cepat.
Kini pandangan mereka berdua pun terkunci satu sama lain, hingga suara detak jantung keduanya pun terdengar di telinga masing-masing.
Getaran-getaran aneh pun mulai mereka rasakan hingga tanpa sadar wajah mereka berdua pun saling mendekat. Queenara memejamkan matanya bersiap dengan apa yang akan di lakukan Leon padanya.
Namun Leon tersenyum menatap wajah cantik gadis yang sudah mengobrak-ngabrik isi hatinya, dan membuat Leon tak bisa memikirkan hal apapun selain Queenara saja.
Tuk.. Leon menyentil kening Queenara secara perlahan dan mulai menggodanya. "Apa yang sedang anda pikirkan dokter?" Kekeh Leon yang langsung membuat wajah Queenara memerah menahan malu.
"Tidak ada!" jangan Queenara dengan cepat.
"Ckk.. Kenapa aku harus melakukan hal itu? sungguh ini sangat memalukan!" Queenara merasa malu dan ingin segera menghilang dari pandangan Leon saat ini juga.
Leon pun semakin tersenyum dan kini ia pun menarik pinggang Queenara dan membawanya semakin mendekat, hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka berdua.
"Leon, apa yang kamu lakukan?" Queenara mulai menundukan wajahnya, ia sangat takut jika kejadian yang baru saja terjadi akan terulang lagi dan membuatnya semakin merasa malu.
"Tatap aku." Leon menangkup kedua pipinya Queenara agar melihat ke arahnya.
"Apakah kau percaya padaku, jika aku sungguh sangat mencintaimu?" Tanya Leon yang kini terus menatap bola mata hitam milik Queenara.
Kini Leon merogoh saku mengeluarkan sesuatu. Setelah itu Leon pun mulai menekuk sebelah lututnya dengan tangan yang membukakan sebuah kotak cincin berlian di hadapan sang pujaan hati.
Seketika suasana di tempat itu pun menjadi terang benderang, memperlihatkan segerombolan anak buah Leon yang memembelakangi mereka berdua dengan kaos punggung bertuliskan. Will you marry me, dengan di iringi lagu romantis yang mengalun lembut.
Queenara terbelalak saat mendapatkan kejutan romantis ini. Kini ia pun menatap pada pria yang masih menekuk satu lutut di hadapannya.
"Maukah kau menikah denganku dan menjadi pasangan hidup ku selamanya?" Tanya Leon penuh harap.
Queenara tersenyum malu lalu menganggukan kepalanya tanda setuju, namun jawaban itu tak membuat Leon merasa puas. Leon ingin Queenara mengatakan nya secara langsung bukan memakai bahasa isyarat.
"Aku bertanya sekali lagi, apakah kau bersedia menjadi istriku?"
"Aku sudah menjawabnya tadi apa kau tidak mengerti." Queenara sedikit menekan kata-katanya menahan malu dan gugup secara bersamaan.
"Kapan? aku tidak mendengarnya." Tukas Leon sedikit menggoda calon istrinya.
"Leon kau sangat menyebalkan!" Queenara mulai mengerucutkan bibirnya.
"Jawaban apa itu?" Leon semakin gencar menggoda Queenara.
"Leon Aditya! aku juga mencintaimu." Ucap Queenara dengan suara lantang. Membuat Leon sangat bahagia saat mendengarnya.
Kini Leon pun memeluk erat wanita pujaan hatinya dan mengecup kening Queenara dengan singkat. "Terima kasih. Besok aku akan melamar mu dan minggu depan kita akan menikah." Ucap Leon yang langsung membuat Queenara terbelalak mendengar perkataannya.
"Secepat itu?" Tanya Queenara dengan wajah tak percayanya.
"Kenapa? apa itu terlalu lama? baiklah kalau begitu kita menikah lusa." Ucap Leon tanpa beban.
Queenara semakin terkejut mendengar ucapan Leon hingga ia pun tak bisa berkata-kata lagi saat ini. "Astaga! pria ini. Bagai mana mungkin dia bisa berkata seperti itu dengan mudahnya. Bagai mana jika papa dan mama tahu tentang hal ini, mereka pasti akan sangat terkejut. Begitu pula dengan keluarga lainnya." Ucap Queenara bermonolog.
"Leon?" Queenara mulai berusaha untuk mengatakan sesuatu pada Leon tanpa menyakiti atau menyinggung perasaan nya.
"Iya, apa kau menginginkan sesuatu saat acara pernikahan kita nanti, ayo katakan saja aku pasti akan menurutinya."
"Bukan itu tapi. Maaf sebelumnya, tapi sebelum menikah bukankah kita harus mengenal satu sama lain dan mendekatkan diri kepada keluarga masing-masing pasangan. Aku juga ingin tahu papa, mama atau keluarga besar mu." Queenara mulai mengatakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini, karena ia berpikir menikah bukan hanya menyatukan sepasang kekasih, tapi juga menyatukan dua keluarga yang berbeda.
"Tapi aku tidak punya ibu, dan ayahku? entahlah apa dia menganggap ku putranya atau tidak." Jawab Leon dengan wajah sendunya.
"Owh maaf," Queenara merasa sangat bersalah karena sudah mengingatkan Leon pada kisah sedihnya.
"Kenapa harus minta maaf, kau tidak salah sayang. Tapi kau tenang saja, aku masih punya nenek dia sangat baik dan penyayang aku akan membawamu pergi menemuinya besok." Ucap Leon yang kini memeluk erat gadis yang resmi jadi kekasihnya itu.
Kini Leon dan Queenara pun menghabiskan malam itu dengan penuh kebahagiaan canda tawa di antara mereka berdua. Sedangkan para anak buah Leon merasa sangat merinding saat mendengar suara tawa Leon yang terdengar begitu aneh di telinga mereka.
"Aku tidak menyangka ketua kita bisa menjadi bucin seperti itu." Ucap salah satu di antara mereka.
"Iya kau benar! cinta memang bisa merubah karakter seseorang dengan mudahnya."
Kini para brandal itu pun mulai saling berbisik menggosipkan ketua mereka. Anthony yang mendengar percakapan di antara mereka pun langsung menghampirinya dan membuat mereka diam seketika.
"Apakah kalian ingin mendapatkan hukuman karena sudah mengganggu momen indah ketua?" Tanya Anthony yang kini langsung di jawab gelengan kepala.
Hari sudah semakin larut kini Leon pun mengantarkan kekasihnya pulang dengan selamat. "Sampai jumpa besok siang, aku akan menjemputmu." Ucap Leon dengan wajah bahagianya.
"Aku akan menunggumu." Kini Queenara pun melambaikan tangannya saat melihat mobil Leon semakin menjauh dari pandangannya.
"Aishh..." Queenara menepuk keningnya. Ia lupa harus membeli sesuatu saat ia keluar tadi. Queenara melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ini sudah larut, sebaiknya aku membelinya besok pagi saja." Kini Queenara pun berbalik dan tak sengaja di tabrak oleh seseorang yang tengah berjalan terburu-buru.
"Maaf paman." Ucap Queenara sedikit membungkukan badannya.
"Tidak masalah, seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Apa kau baik-baik saja nak?" Ucap pria paruh baya itu.
"Anda tidak perlu khawatir paman saya baik-baik saja." Jawab Queenara dengan memperlihatkan senyuman manisnya.
"Permisi." Queenara melewati Liam yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Yumna." Liam terus menatap punggung Queenara yang semakin menjauh darinya.
"Kenapa dia sangat mirip dengan Yumna?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Erni Kusumawati
perjuangan Leon pasti bakalan berat ini menaklukan keluarga sebastian dan Erik...mana ada kisah masa lalu yg blm usai lagi antara Liam dan yumna..semangatlah Leon💪💪💪
2023-04-14
1
♡momk€∆π♡
ooohh Leon so sweet melamar queen..😍🤗 anak buahnya jd Team suksesnya Leon..😆😆👍👍
2023-04-09
1