Queenara menuntun kekasihnya untuk duduk dan menikmati secangkir kopi untuk menenangkan hatinya yang sedang sangat kesal.
"Apa kau sudah merasa lebih tenang?" Queenara mulai bertanya setelah ia merasa Leon sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Hmm.. Terima kasih, hanya kamu yang mengerti aku saat ini." Leon menggengam erat tangan kekasihnya.
"Ceritakan semuanya padaku, kenapa dan apa penyebabnya kamu bisa semarah tadi." Queenara mulai membuka obrolan serius di antara mereka, semua ini ia lakukan karena setelah menikah nanti maka sudah tak ada lagi rahasia di antara mereka.
Queenara ingin pernikahan nya seperti papa dan mamanya yang selalu terbuka dalam setiap masalah yang mereka hadapi, sehingga mereka bisa menyelesaikan masalah dan kesalahan pada diri masing-masing pasangan. Queenara pun selalu mengidolakan sikap papanya yang romantis pada pasangan bahkan ia tidak pernah marah walau keadaan yang selalu menghimpitnya.
"Leon?" Queenara kembali memanggil kekasihnya yang kini tengah melamun memikirkan sesuatu.
"Baiklah Jangan bercerita padaku sekarang, kau bisa menceritakan kapan pun jika kau ingin. Aku akan selalu siap mendengarkan semua keluh kesahmu. Apa kau tahu Leon, aku ingin memiliki hubungan pernikahan seperti kedua orang tuaku meskipun mereka menikah karena perjodohan tapi mereka selalu bersikap layaknya pasangan ideal pada umumnya kau tahu kenapa Leon?"
"Tidak," Jawab Leon singkat.
"Karena papa selalu terbuka dengan apa yang ia rasakan dan mama selalu menjadi pendengar yang baik, mereka selalu berusaha untuk saling melengkapi kekurangan dalam diri mereka masing-masing. Karena itulah aku sangat menginginkan hal yang sama seperti mereka."
"Aku akan berusaha menjadi yang kamu inginkan. Tapi kau harus tahu sesuatu mungkun ini terdengar sangat menggelikan di telinga mu." Leon menarik nafasnya dalam-dalam menjeda apa yang akan ia ceritakan selanjutnya.
"Queen, sejak kecil aku tidak pernah tahu bagai mana rupa ibuku dan aku hanya tahu ayahku saja. Tapi, tidak seperti kebanyakan orang yang beruntung mendapatkan kasih sayang dan cinta dari orang tua. Aku hidup dan di dewasakan oleh keadaan, orang-orang selalu menghinaku menyebutku sebagai anak haram dan ayahku, dia tak pernah perduli padaku dan hanya nenek Sofia yang tulus merawat ku selama ini."
Leon mulai menceritakan kisah masa lalunya yang malang pada sang kekasih, seperti yang Queenara katakan dalam hubungan pasangan harus saling terbuka dan saling melengkapi kekurangan pasangan mereka dan itulah yang di lakukan Leon saat ini.
"Kasihan sekali kamu Leon, aku tidak menyangka di balik wajahmu yang tegas sebagai ketua para brandal, ternyata hatimu sangat begitu rapuh banyak sekali luka yang kamu pendam sendirian." Batin Queenara terus bermonolog menatap wajah tampan kekasihnya yang terlihat sangat bersedih saat ini.
Setelah bercerita begitu panjang pada Queenara Leon pun sedikit merasa lega. Namun kini ia sedikit merasa ketakutan saat berpikir Queenara akan pergi meninggalkan nya setelah mendengar kisah kelamnya.
Namun tanpa di duga kini Queenara memeluknya dengan sangat erat dan mulai terisak merasakan kesedihan yang Leon rasakan saat ini.
"Jangan menangis, sekarang aku baik-baik saja karena ada kamu disini." Leon menarik tangan Queenara dan meletakannya di dada bidang nya.
Namun bukan berhenti Queenara semakin menangis pilu dan hal itu membuat Leon merasa bingung dan menyesal sudah menceritakan kisah sedihnya pada Queenara.
Kini ia pun menggendong tubuh kekasihnya ala bridal style setelah membayar pesanannya yang belum sempat mereka nikmati. Leon membawa Queenara pergi meninggalkannya tempat itu dengan mobilnya.
Dan hal itu membuat Elbara yang sejak awal melihat mereka merasa sangat kesal. "Damn! apa yang sudah brandal gila itu lakukan pada kakakku sampai dia menangis seperti itu." Kini Elbara pun akan mengikuti kemana Leon pergi membawa kakaknya.
Dengan hati kesal dan sedikit tergesa-gesa kini Elbara pun tak sengaja menabrak seseorang gadis hingga terjatuh dari tangga cafe tersebut.
Elbara berusaha menggapai tangan gadis itu namun ia terlambat dan hal yang tak di inginkan pun terjadi.
Elbara mengacak rambutnya frustrasi kini ia bingung harus membantu gadis yang kini terbaring di lantai atau mengejar sang kakak.
"Hey.. Harusnya kau berjalan pakai mata kenapa kau tidak bisa melihatku yang sebesar ini." Gadis itu memaki Elbara yang kini terus menatap ke arah jalanan.
"Kau berani sekali berkata sekasar itu padaku! apa kau tidak tahu siapa aku?" Elbara mulai terpancing emosi saat mendengar perkataan kasar gadis itu.
"Sudah salah tidak mau minta maaf atau bertanggung jawab atas perbuatannya, dasar pria tidak punya moral dan sopan santun! kalian para pria hanya berbuat seenaknya saja, apa kalian pikir di dunia ini hanya laki-laki yang paling kuat?"
Gadis itu terus menyulut api kemarahan seorang Elbara. " Heyy... Jaga ucapanmu! dan jangan menatapku seperti itu, atau aku congkel mata mu." Ketus Elbara yang kini pergi begitu saja meninggalkan gadis yang masih duduk di lantai.
"Dasar pria gila! tidak waras." Teriak sang gadis yang kini berusaha untuk bangkit dan menahan sakit di kakinya.
Sedangkan Elbara tak perduli celotehan gadis itu dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan nya. Elbara mulai mengendarai motornya membelah jalanan untuk membuntuti kakaknya yang di bawa oleh Leon.
"Kemana brandal gila itu membawa kakakku? ini semua karena gadis aneh itu, aku kehilangan jejak kakak karena dia. Argghh.. Ingin sekali aku melemparnya ke kandang singa yang sedang kelaparan." Sepanjang perjalanan Elbara terus menggerutu mengumpat tidak jelas.
"Hey.. berhenti kamu! dasar bajingan tidak bertanggung jawab." Teriak seorang gadis yang kini mengejar Elbara dengan menggunakan ojek online yang ia pesan. Dia adalah gadis yang Elbara tabrak dan Elbara tinggalkan begitu saja saat di cafe.
"Lebih cepat pak!"
"Tapi nona saya tidak mungkin bisa mengejar motor itu." Jawab sang sopir ojol.
"Lewat jalan pintas saja! bapak tenang saja nanti saya bayar tiga kali lipat deh."
"Beneran non?"
"Iya masa bohong sih, asalkan kita harus bisa mengejar pria sombong itu. Arrgh.. Dia belum tahu saja siapa aku." Kesal gadis itu.
Berbeda dengan Elbara, kini Leon membawa Queenara pulang ke markas BlackSky. Leon menggendong tubuh mungil kekasihnya yang kini tengah tertidur pulas karena kelelahan menangis.
"Apa kau sudah menyiapkan kamarku dengan baik?" Tanya Leon pada tangan kanannya.
"Sudah ketua seperti yang anda minta." Jawab Anthony denga lugas.
"Bagus!" Kini Leon pun membawa Queenara ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan rapat.
"Astaga apakah ketua akan melakukan sesuatu bersama dokter cantik itu? owhh ya ampun kalau begitu aku harus mensterilkan tempat ini agar ketua tidak terganggu dengan aktivitasnya, jika tidak dia pasti akan marah besar nanti." Anthony langsung membuat meeting dadakan bersama kawan-kawan lainnya.
"Anthony kenapa kau mengumpulkan kami disini?" tanya salah satu dari mereka.
"Begini," Anthony mulai menceritakan apa yang ia lihat dan apa yang ada salam pikirannya saat ini, membuat seluruh anggota BlackSky merinding saat mendengar nya.
"Apa?!" suara seseorang datang mengejutkan acara meeting mereka dan langsung menatap ke arah sumber suara.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
♡momk€∆π♡
nah gitu leon cerita ama queen jd ga nyesek sendiri.kloplah♡♡♡
eeh ini jg pasti seru El lg di kejar kejar cewe ..💃😀😀
2023-04-12
1