Di sebuah restoran yang sudah di pesan khusus oleh Leon. Queenara dan kedua orang tuanya sudah sampai terlebih dulu di tempat itu.
Namun sudah beberapa menit berlalu, yang di tunggu tak kunjung menampakan dirinya. Queenara mulai merasa bimbang saat Leon tak kunjung datang dari waktu yang sudah mereka berdua tentukan sebelumnya.
"Nak dimana pria itu akan datang, atau kita hanya akan menunggu sepanjang malam di tempat ini?" Mama Yumna mulai bosan, ia pun merasa sangat kasihan pada putrinya yang kini terlihat begitu cemas.
"Kita tunggu sebentar lagi ma." Queenara mulai berdiri dari tempat duduknya dan berusaha untuk menghubungi Leon, namun ponsel Leon tak dapat di hubungi membuat Queenara semakin merasa tidak tenang.
"Leon dimana kamu?" Queenara meremas ponselnya meluapkan rasa gelisah yang kini mulai melanda hatinya.
Sedangkan mama Yumna terus saja mengomel meluapkan kekesalan nya sudah hampir satu jam mereka menunggu, namun pria yang merupakan kekasih putrinya tak kunjung datang menemui mereka.
"Sabar sayang, kita tunggu lima menit lagi, jika pemuda itu tidak kunjung datang, maka kita bisa pulang." Papa Samuel menggengam erat tangan istrinya agar sedikit lebih tenang.
"Tunggu dimana El? kenapa dia juga belum datang kamu sudah memberi tahu tentang hal ini kan Sam?" Mama Yumna mulai teringat putranya yang selalu datang dan pergi sesuka hatinya.
"Aku sudah memberitahunya mungkin dia juga masih ada dalam perjalanan."
Kini ketiganya mulai terdiam dengan pemikirannya masing-masing.
Lima menit telah berlalu kini papa Samuel dan mama Yumna pun memutuskan untuk kembali pulang, karena yang mereka tunggu tak kunjung datang.
Dengan pasrah Queenara pun mengikuti apa yang kedua orang tuanya inginkan dengan perasaan kecewanya. "Leon aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, tapi aku sungguh sangat kecewa dengan hal ini, harusnya kau mengabari aku jika memang kamu berubah pikiran." Queenara menundukan kepalanya ia merasa sangat malu pada kedua orang tuanya.
"Sabar nak, masih ada hari esok jangan bersedih sayang." Papa Samuel menggandeng putrinya dan mencoba menghibur Queenara yang terlihat begitu sedih dan kecewa.
"Maafkan Queen ma, pa."
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan, ayo." Papa Samuel menggandeng tangan putrinya menuju tempat parkir.
Namun kini langkah mereka terhenti saat suara teriakan memanggil Queenara. Kini mereka bertiga pun menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang pemuda tampan berlari ke arah mereka. Senyuman kebahagiaan pun kini milai terbit menghiasi wajah Queenara.
"Leon!"
"Queen, aunty, uncle maaf saya sedikit terlambat." Leon membungkukan tubuhnya, ia berharap orang tua kekasihnya memaklumi keterlambatannya.
"Haruskah kami,"
"Leon, kenapa dengan wajahmu." Queenara memotong perkataan mama Yumna dan menghampiri kekasihnya dengan wajah cemasnya.
Queenara menangkup wajah tampan kekasihnya yang terlihat beberapa beberapa bekas pukulan menghiasi wajah Leon saat ini.
"Arrghhh.." Leon meringis saat Queenara sedikit menekan lukanya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya papa Samuel yang kini membawakan kotak obat untuk mengobati pria yang merupakan kekasih putrinya.
"Saya baik-baik saja uncle ini hanya luka kecil saja." Leon mengambil salep yang di berikan papa Samuel dan mulai mengobati lukanya sendiri.
"Ini minumlah." Yumna memberikan sebotol air mineral pada Leon.
"Terima kasih aunty. " Leon merasa sangat terharu dengan kebaikan keluarga kekasihnya.
"Ternyata mereka masih sama seperti dulu." Batin Leon bergumam.
"Leon apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tanya Queenara yang kini mulai menutup luka di tangan kekasihnya.
"Entahlah, tiba-tiba ada segerombolan orang yang menyerang dan menghadang mobilku." Kini Leon pun mengingat kembali saat beberapa pria bertubuh kekar lengkap dengan penutup kepala menghadang mobilnya.
Flasback
Keringat dingin mulai mengucur deras membasahi kening Leon yang kini merasa sangat gugup. "Aku harap segalanya bisa berjalan dengan lancar seperti yang aku harapkan. " Gumam Leon membatin.
Sebuah sapu tangan kini berada di hadapannya. "Tenanglah buat sesantai mungkin semuanya akan baik-baik saja." Ucap nenek Sofia dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih nek, kau memang yang terbaik." Leon bersandar manja di bahu wanita tua yang selama ini merawat dan memberikan kasih sayangnya.
"Tapi kamu harus ingat satu hal nak, pernikahan adalah hubungan yang sakral nenek harap kamu bisa menjadi suami dan seorang ayah yang baik untuk keluaga mu fi kemudian hari." Nenek sofia sedikit memberikan ultimatum pada cucunya.
"Aku mengerti nek." Leon sedikit merasa tenang setelah mendengar kata-kata sang nenek.
Nenek Sofia tersenyum ia tak menyangka bahwa saat ini putra keponakan nya sudah tumbuh dewasa. "Liam apakah hatimu tidak tergugah sedikitpun dengan kehadiran putra mu yang penurut ini. Dia hanya butuh seseorang yang mengerti dengan perasaan nya bukan uang yang kamu miliki saat ini." Batin nenek Sofia bermonolog dengan tangan menepuk bahu Leon dengan lembut.
Ckitt...
Anthony mengerem mobil yang di kemudikannya secara mendadak saat melihat segerombolan pria bertopeng menghadang jalannya.
"Leon ada apa ini?" nenek Sofia terlihat sedikit ketakutan.
"Nenek tenang saja, biar aku dan Anthony yang mengurusnya. Fathan kemudikan mobilnya dan bawa nenekku kembali biar aku dan Anthony yang mengurus para bedebah itu." Ucap Leon yang langsung keluar dari mobil itu.
"Baik ketua."
"Tapi Leon bagai mana dengan kalian?" nenek Sofia terlihat sangat begitu khawatir dengan cucunya, namun dengan cepat Fathan menenangkan nenek Sofia dan membawanya pergi dari tempat itu.
Sedangkan Leon dan Anthony mengurus mereka yang sudah mengusik dan menggangu ketenangan Leon.
Flasback End.
"Aku sungguh minta maaf sudah membuat kalian menunggu terlalu lama." Leon sedikit tidak enak hati.
"Tidak masalah, ini sudah larut malam ayo kita pulang." Ajak mama Yumna menarik tangan Queenara.
"Tapi ma," Queenara ingin protes namun Leon menggelengkan kepalanya.
"Biarkan aku yang berbicara pada mereka." Leon mulai berdiri tegak dan menatap wajah kedua orang tua kekasihnya secara bergantian.
"Uncle, mungkin ini terlihat tidak pantas bahkan mungkin ini terlalu cepat, tapi saya sudah memantapkan hati saya untuk meminang putri anda untuk menjadi istriku nya sebagai istri. Saya harap uncle dan aunty bersedia memberikan restu untuk hubungan kami." Ucap Leon dengan lantang dan penuh kesungguhan membuat papa Samuel sangat terkesan dengannya.
Namun berbeda dengan mama Yumna yang terindah sedikit ragu bahkan kini ia terlihat begitu memperhatikan wajah Leon yang sangat tidak asing lagi baginya.
"Saya sangat suka dengan kesungguhanmu anak muda. Tapi,"
"Dimana orang tuamu?" Mama Yumna mulai memotong perkataan suaminya, kini ia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Leon agar ia bisa melihat dengan jelas wajah kekasih putrinya.
"Ibuku sudah tak ada, aku hanya memiliki nenek di hidupku." Leon sedikit menundukan wajahnya tak berani menatap mama Yumna.
"Lalu dimana papamu?"
"Sayang," Papa Samuel menggengam tangan istrinya saat melihat kode dari putrinya agar tidak meneruskan pertanyaan yang begitu sensitif bagi Leon.
"Kenapa? bukankah hal yang biasa jika kita menanyakan hal ini, suamiku, dia akan membawa putri kita jadi sewajarnya kita harus mempertanyakan segalanya. Benar begitu Leon?"
"Saya ayahnya."
Deghh... Kini semua orang pun melirik ke arah sumber suara dengan raut wajah yang berbeda.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments