Bab 16

Queenara mendengus kesal menatap pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka. "Ckk... Sedang apa dia sebenarnya? kenapa lama sekali." Queenara menghela nafas perlahan.

Karena terlalu bosan menunggu Leon yang tak kunjung kembali, Queenara pun memutuskan untuk pergi keluar dari kamar Leon dan mencari dapur untuk membuat makanan.

"Dimana dapurnya? ku rasa tempat ini terlalu banyak ruangan dan sedikit menyeramkan." Gumam Queenara yang kini menatap setiap sudut bangunan yang di dominasi warna hitam membuat kesan angker baginya.

Queenara mengusap lengannya yang mulai merinding. "Dimana dapurnya? apa markas tidak memikirkan dapur?" Queenara terus berjalan menyusuri markas BlackSky dengan bibir terus bergumam banyak pertanyaan.

Sedangkan di kamar Leon terlihat sangat kebingungan mencari keberadaan kekasihnya yang sudah tak ada lagi di ruangan itu. "Sayang? Queenara dimana kamu?" Kini Leon berjalan keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan sang kekasih dengan wajah cemasnya.

***

Di tempat lain. Elbara tengah merasa sangat pusing dengan gadis yang ada di sampingnya yang terus membuntuti nya sejak tadi.

"Kenapa kau terus membuntuti ku?" Kesal Elbara yang sedikit menaikan intronasi suaranya pada Jasmine.

"Kenpa? kau tahu bukan kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu padaku, mengapa kau masih bertanya kenapa aku mengikutimu. Ini uang mu simpan saja aku tidak membutuhkan semua itu." Jasmine memberikan uang yang Elbara berikan sebagai tanda ganti rugi kepadanya.

"Kau mungkin punya uang, tapi asalkan kamu tahu tidak semuanya bisa di beli pakai uang, ya walaupun segalanya memang membutuhkan uang." Ucap Jasmine dengan wajah datarnya.

"Sok lugu sekali, apakah uang ini kurang banyak? aku tahu wanita seperti dirimu hanya mengincar harta saja." Elbara menatap sinis pada wanita yang kini terlihat begitu kesal padanya.

"Apakah aku terlihat seperti itu, lihat aku baik-baik! ciihhh... Awalnya aku ingin meminta sedikit bantuan padamu karena kau terlihat seperti pria baik, tapi nyatanya penilaian ku salah besar. Maaf jika hari ini aku sudah menyusahkan mu." Dengan langkah terpincang-pincang meninggalkan Elbara yang kini menatapnya tak perduli , walaupun dalam hatinya ia merasa sedikit bersalah.

"Biarkan saja, lagi pula aku tidak mengenalnya dan tidak memiliki urusan apapun lagi dengannya." Ucap Elbara yang kini kembali memasukan uang yang di kembalikan Jasmine padanya kedalam saku.

"Sulit sekali mencari orang baik di jaman sekarang." Gumam Jasmine yang kini kembali menatap ke belakang, namun ia sudah tak melihat siapapun lagi disana.

Jasmine mengantupkan bibirnya dan kembali berjalan tanpa arah dan tujuan.

***

Di markas BlackSky. Queenara sedang memasak begitu banyak makanan ditemani Leon yang kini menangis terisak karena mengiris bawang.

"Si*lan kenapa bawang bisa membuatku menangis seperti ini." Leon merasa sangat kesal, ingin sekali ia melemparkan benda itu dari hadapannya. Namun ia tak bisa melakukan hal semacam itu di hadapan sang pujaan hatinya.

"Leon apa kau baik-baik saja?" Queenara mematikan kompornya dan menghampiri kekasihnya.

"Ckk... Aku hanya memberikan hukuman kecil saja, kenapa kau menangis seperti itu?" Queenara terkekeh geli, menatap wajah tampan kekasihnya yang kini terlihat memerah dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.

"Apakah aku boleh mengeluh sayang?" Tanya Leon yang kini memeluk erat pinggang kekasihnya.

"Baikah biarkan aku yang menyelesaikan nya kamu tunggu disana saja." Queenara mendorong tubuh Leon untuk duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya saat ini.

"Tapi sayang, kau tidak perlu meneruskan semua ini, biarkan Anthony saja yang mengurusnya. " Ucap Leon yang kini menahan langkah kaki Queenara.

"Aku tidak ingin kamu terluka karena bawang itu. Kita pesan makanan dari luar saja, kamu bebas memesan apapun yang kamu mau karena uangku tidak akan habis hanya untuk memenuhi kebutuhan mu saja." Ucap Leon dengan bangganya.

Queenara menggelengkan kepalanya dan tetap melanjutkan kembali sesi masaknya dan tak mempedulikan rengekan Leon saat ini.

Setelah menunggu beberapa menit kini beberapa hidangan sudah tersaji di atas meja. Leon mencium bau harum masakan Queenara yang terlihat sangat menggugah selera.

"Ayo kita makan sekarang." Ajak Queenara yang kini menyiapkan makanan di piring Leon.

"Terima kasih sayang." Ucap Leon dengan senyuman penuh kebahagian.

"Apa begini rasanya memiliki seorang istri?" Batin leon bermonolog, ia sudah tak sabar lagi untuk mempersunting Queenara untuk segera menjadikannya sebagai istri.

"Secepatnya aku akan segera menemui kedua orang tuanya." Guman Leon yang kini mulai memakan makanan nya dengan sangat lahap.

"Sayang bagai mana dengan orang tuamu apa mereka sudah kembali?" Tanya Leon yang kini menghentikan aktivitas Queenara.

"Hmm... Mungkin besok, atau mungkin juga lusa." Jawab Queenara yang kini kembali melanjutkan sesi makannya.

"Baiklah kabari aku jika mereka sudah kembali, karena aku akan segera melamar mu." Bisik Leon di samping telinga Queenara.

Queenara tersenyum tersipu malu karenanya. "Aku akan menunggu hari itu." Jawab Queenara dengan penuh senyuman dengan tangan yang saling menggengam erat menunjukan betapa besarnya cinta mereka berdua.

***

Beberapa hari telah berlalu, kini tibalah saat-saat yang menegangkan bagi Leon untuk menemui calon mertuanya.

Leon terus menggosok telapak tangannya untuk menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya.

"Aku akan meminta restu orang tuanya tapi aku merasa seperti akan pergi berperang saja. " Gumam Leon lirih.

Kini ponselnya pun terus berdering menampakan nama kekasihnya memenuhi layar benda pipih itu.

"Aku sudah siap sayang tunggu aku sepuluh menit lagi." Ucap Leon yang kini berbicara lewat sambungan teleponnya.

"Ayo nak, apa kamu sudah siap?" Tanya nenek Sofia yang kini akan ikut mengantarkan cucunya untuk melamar Queenara menjadikan pendamping hidup Leon.

"Sudah, ayo kita berangkat sekarang." Ajak Leon yang kini memasukan kotak cincin di saku jas nya.

***

"Apa ini tidak terlalu cepat nak? berapa lama kamu menenal pria itu?" Tanya mama Yumna yang kini menatap wajah cantik putrinya yang terlihat sangat begitu bahagia.

"Apa itu penting ma, bukankah ini jauh lebih baik dari pada harus terikat tanpa hubungan yang tak pasti, lagi pula Leon adalah pria yang baik dia juga memiliki sikap yang sangat mirip dengan papa." Queenara tersenyum menyandarkan kepalanya di pundak Papa Samuel.

"Nak, menikah bukan hal main-main menikah ada terikatnya dua manusia dengan hubungan yang sakral jadi papa harap kamu sudah memikirkan hal ini baik-baik." Tukas papa Samuel.

"Pa, ma, Queen tahu ini memang terlalu cepat tapi Queen sudah yakin dengan keputusan ini. Queen harap mama dan papa memberikan restu kalian." Ucap Queenara dengan penuh keyakinan.

"Tapi nak, " Yumna ingin melakukan aksi protesnya kembali namun sang suami menggelengkan kepalanya memberikan isyarat agar Yumna merasa tenang.

"Sayang tenanglah, kita lihat dulu bagai mana calon anak menantu kita, setelah itu baru kita putuskan jalan apa yang harus kita ambil selanjutnya." Ucap Samuel dengan bijak.

"Terima kasih papa, papa memang yang terbaik." Queenara memeluk sang papa dengan wajah senangnya.

Sedangkan sang mama masih merasa bimbang dengan keputusan putrinya yang berniat untuk menikah muda. "Sebenarnya siapa anak muda yang sudah membuat putriku seyakin ini dengam keputusannya?" Batin Yumna penuh tanya.

Bersambung..

Terpopuler

Comments

♡momk€∆π♡

♡momk€∆π♡

heheee hayo jwb leon..nene aku Siap aku siap..😁😁😁

2023-04-17

2

Erni Kusumawati

Erni Kusumawati

itu anak mantanmu yumna

2023-04-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!