Queenara masih merajuk, ia masih merasa sangat kesal pada pria yang kini terus mengikutinya dan meminta maaf padanya tanpa henti.
"Ckk... Para pria memang tidak bisa di percaya, terkecuali papa. Akhh... Aku sangat merindukan mama dan papa entah kapan mereka berdua akan pulang." Queenara menghentikan langkah kakinya karena memikirkan kedua orang tuanya yang belum juga kembali dari luar kota.
Namun kini Queenara terkejut saat tubuhnya melayang. "Leon turunkan aku." Queenara mengalungkan tangannya di pundak Leon karena takut terjatuh.
Leon tersenyum menatap wajah cantik kekasihnya yang terlihat sangat imut dan menggemaskan.
"Leon, kenpa kau melihatku seperti itu?" Queenara terlihat sangat gugup dan malu-malu dengan tatapan Leon pada saat ini.
Tanpa aba-aba Leon mencium bibir manis kekasihnya yang selalu membuatnya terlena, Queenara pun mulai terhanyut dalam buayan sang kekasih hingga ia tak menyadari dimana mereka saat ini.
Queenara menepuk dada bidang kekasihnya saat ia hampir kehilangan oksigen dalam dirinya. "Haahh... Haahh... Apa kau mau membunuhku?" Protes Queenara yang kini mulai menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Kenapa kau tidak bernafas?" Kekeh Leon mengusap bibir kekasihnya yang terlihat basah dan sedikit bengkak karena ulahnya.
"Maafkan aku sayang." Leon memeluk Queenara dengan erat. "Percayalah padaku, di hatiku hanya ada kamu seorang dan tak ada yang lain lagi." Ucap Leon meyakinkan kekasihnya.
"Bagai mana aku bisa percaya dan yakin padamu jika hanya akulah yang ada di dalam hatimu?" Tanya Queenara yang kini menatap wajah tampan kekasihnya dengan sangat intens.
"Aku rela melakukan apapun, jika kau meminta ku loncat dari jembatan ini pun aku akan siap melakukan nya sekarang juga." Ucap Leon penuh kesungguhan.
Queenara menutar bola matanya malas kini ia pun turun dari gendongan Leon dengan wajah kesalnya, namun dalam hatinya ia sangat merasa senang dengan kata-kata Leon, hanya saja ia tak ingin menunjukan hal itu saat ini.
"Lakukan saja!" Jawab Queenara singkat dengan wajah yang masih berpaling ke arah lain.
"Queenara aku sangat mencintaimu."
Byurr...
Leon berteriak dan di iringi suara benda terjatuh ke dalam air membuat Queenara langsung melihat ke arah sumber suara.
"Leon!" Queenara berteriak histeris memanggil kekasihnya saat ia tak melihat keberadaan Leon di samping nya.
"Leon! Leon kau bodoh sekali kembalilah!" Queenara mulai menangis, melihat air sungai yang kini sudah terlihat tenang dan tak ada tanda-tanda keberadaan Leon yang akan muncul ke permukaan.
Queenara semakin terlihat panik saat Leon benar-benar tidak terlihat dimana pun hingga ia mulai berpikir untuk melompat menyusul kekasihnya, namun seseorang mencegahnya untuk melakukan hal itu. "Lepaskan! aku harus menyusul Leonku. Leon, aku sangat mencintaimu tolong jangan lakukan hal ini padaku. Kau berjanji akan menikahiku, tapi kenpa sekarang kau pergi begitu saja, kau konyol dan bodoh." Queenara semakin histeris mengumpat kebodohan kekasihnya.
Sedangkan pria yang kini berada di belakang Queenara menggelengkan kepalanya, saat mendengar umpatan Queenara yang sangat begitu kejam menurut nya.
Queenara mulai menaiki pembatas dan bersaha untuk melompat. Namun dengan cepat Leon meraih tangan kekasihnya dan membawanya ke dalam pelukan.
"Aku baik-baik saja, aku tidak akan mati karena hal ini." Ucap Leon sedikit berbisik di samping telinga kekasihnya.
"Leon, apa kau baik-baik saja?" Queenara menangkup wajah tampan kekasihnya.
Plak...
Queenara menampar pipi Leon perlahan. "Dasar brandal, beraninya kamu membuat aku khawatir." Queenara memeluk tubuh Leon yang basah kuyup.
"Apapun akan aku lakukan asalkan membuat mu percaya bahwa cintaku nyata dan hanya untuk dirimu seorang." Ucap Leon yang kini mengecup kening kekasihnya.
Namun detik berikutnya Leon berteriak mengaduh saat Queenara mencubit pinggang nya dengan gemas.
"Ampun sayang!" Leon berlari menghindari serangan demi serangan kecil kekasihnya. Keduanya terlihat sangat begitu romantis dan begitu saling mencintai.
Namun tanpa mereka sadari sedari tadi seseorang tengah berdiri di tempat yang tak terlalu jauh dari mereka, dan pandangannya tak pernah lepas dari gadis yang kini tertawa lepas bersama dengan Leon, tak hanya itu ia pun mulai mengambil gambar Queenara dengan berbagai macam ekspresi.
Insting Leon begitu kuat, ia merasa seseorang sedang memperhatikannya, namun ia tak menemukan keberadaan siapa pun disana.
"Ada apa?" Tanya Queenara saat melihat ekspresi wajah Leon yang terlihat begitu aneh menurutnya.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kita kembali ke markas sekarang juga." Ajak Leon yang kini menggendong tubuh kekasihnya.
"Leon aku bisa berjalan sendiri, cepat turunkan aku!" Pekik Queenara.
Setelah melihat Leon pergi kini pria yang memakai hoodie hitam itu pun keluar dari tempat persembunyian nya. " Sudah saya kirimkan apa yang anda minta tuan." Ucap pria itu pada seseorang yang berada di sambungan.
"Kerja bagus! terus ikuti mereka dan cari tahu siapa gadis itu." Ucap jawaban yang ada di dalam sambungan tersebut.
***
Queenara terus berguling-guling di ranjang king size milik kekasihnya dan menunggu Leon selesai membersihkan dirinya.
"Ckkk... Lama sekali, aku sudah sangat kelaparan sejak tadi, tapi dia tidak mengizinkan ku untuk keluar dari ruangan ini." Queenara mendengus kesal, ia tak bisa melakukan apapun yang ia inginkan saat ini selain menunggu.
Ceklek
Leon keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit sempurna di pinggangnya. Queenara menatap ke arah pintu kamar mandi yang terbuka, namun kini ia terbelalak saat melihat pemandangan indah di depan matanya.
Glekkk...
Queenara menelan ludahnya dengan susah payah, matanya terus tertuju pada otot-otot perut kekasihnya yang semakin mendekat ke arahnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Leon semakin mendekat ke arah sang kekasih hingga membuat tubuh Queenara berbaring sempurna di ranjangnya.
Leon mengungkung dan mengunci tubuh Queenara membuat Queenara semakin kelimpungan.
"Apa yang akan kau lakukan?" Queenara menekan dada bidang kekasihnya.
"Leon aku," Queenara begitu terpesona saat melihat dada bidang kekasihnya yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Owhh ya ampun, sungguh pemandangan ini tidak baik untuk kesehatan mata dan jantungku." Batin Queenara berteriak histeris.
"Apa?" Leon mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi wajah Queenara yang kini terlihat sangat aneh menurutnya.
Leon berusaha mengambil pakaiannya yang berada di samping Queenara, namun ia tidak menyangka jika saat ini Queenara memeluk erat pinggang nya dan menggosokan hidung mancungnya di dada bidang Leon.
"Sayang jangan menggoda ku," Leon merasa geli bahkan karena ulah sang kekasih membuat adik kecilnya terbangun.
"Aishhh... Sial bagai mana mungkin ini bisa terjadi, hanya godaan kecil saja Queenara bisa membangkitkan hasrat ku seperti ini." Leon mengumpat kekasihnya, ia melepaskan pelukan Queenara dan berlari dengan cepat kembali ke kamar mandi.
"Ada apa dengannya?" Queenara terlihat sangat kebingungan melihat tingkah aneh Leon yang kini menghilang di balik pintu kamar mandi.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
♡momk€∆π♡
mmmmmh siapa kah dia??🤔apakah papa leon??🤔jd penasaran🤔🤔
2023-04-15
2