Yeon yang melihat tatapan sang adik kepada istrinya Mira yang tidak terlihat seperti pada umum nya pun menjadi risih.
"Yuan, lekas habiskan makanan kamu. Biar kakak yang mengantarkan kamu ke sekolah kali ini," ucap Yeon dengan sengaja agar pandangan sang adik pun segera teralihkan.
"Benar Yuan, biar di antarkan oleh kakak mu saja. Sekalian kakakmu mengantarkan kakak ipar kamu ini untuk periksa ke dokter kandungan setelah itu. Kan searah," sambung sang Mommy.
"Baiklah, Mom," jawab Yuan yang terlihat begitu menurut.
Alasan nya menerima untuk di antar oleh kakaknya tersebut hanya satu, yaitu karena ada sang kakak ipar yang diam-diam di taksirnya tersebut yang ikut mengantarkan nya pergi ke sekolah.
Dengan cepat Yuan pun segera menghabiskan sarapan paginya itu.
Hingga kini Yeon, Mira, dan Yuan telah berada di satu mobil yang sama.
"Turunkan pandangan kamu, Yuan," ucap Yeon menegur sang adik yang begitu terlihat kentara memuja istrinya tersebut.
"Memangnya kenapa, Kak? Bukan kah kakak tidak menyukai nya? Aku siap untuk menggantikan posisi kak Yeon kok," jawab Yuan dengan setengah berbisik ke arah samping tepat di mana sang kakak berada.
"Carilah yang seumuran dengan kamu," balas Yeon dengan setengah berbisik juga.
Sedangkan Mira tidak terlalu peduli dengan apa yang di obrolkan oleh adik kakak yang berada di depan dirinya duduk bersandar saat ini.
Dalam benak Mira, hanya terbayang bagaimana lezatnya bakso mercon kuah lava super besar seperti yang tengah di tonton nya melalui handphone dan tampak begitu menggoda selera.
"Haih, andai disini ada yang jual bakso merco lava. Pasti akan sangat lezat," gumam Mira dengan lirih yang masih begitu terdengar jelas di telinga Yuan.
"Kak Mira ingin bakso mercon super pedas? Disini juga ada loh kak jangan salah. Kuahnya banyak varian pedasnya. Ayo aku tunjukkan jalan nya kak! Pasti Kak Mira sedang ngidam kan ini. Belok kiri juga bisa kak. Kita turuti kemauan Kak Mira saja dulu," ucap Yuan dengan semangat menunjukkan sebuah restoran bakso khas Indonesia yang berada di negeri gingseng ini.
Entah mengapa hati nurani Yeon pun menurut dengan petunjuk yang di berikan oleh sang adik dengan melupakan tujuan awal mereka berada di dalam mobil yang sama.
"Beneran dek disini ada baso super pedas yang dijual di Indonesia?" tanya Mira dengan mata berbinar begitu mendengar penuturan sang adik ipar.
"Panggil Yuan saja, Kak. Ada lho beneran. Nah itu restonya sudah ada di depan kita," jawab Yuan dengan menunjuk sebuah papan restoran bakso yang seperti nya memang khas bakso Indonesia.
Ketiga nya pun memasuki ke area restoran tersebut. Mencari tempat duduk yang pas dan membaca menu-menu yang tersedia.
Mata Mira pun semakin berbinar begitu mendapati restoran yang sesuai dengan apa yang sedang di inginkan nya tersebut.
Ketiga nya pun memesan dengan level pedas gila dengan toping bakso yang berbeda-beda.
Hingga tak berapa lama kemudian, hidangan pun tersaji di atas meja tersebut dengan bumbu sambal lava nya yang tumpah kemana-mana yang membuat Mira dan Yeon menjadi meneteskan air liurnya secara diam-diam.
"Oh astaga, enak sekali! Yuan, kamu memang paling mengerti. Ini sesuai dan cocok di lidahku saat ini," ucap Mira dengan menyendokkan buliran bakso yang di penuhi oleh banyak sambal.
"Mir, jangan banyak-banyak. Nanti perut kamu sakit lho," ucap Yeon yang begitu ketar-ketir mendapati sang istri yang begitu lahap memakan bakso yang di penuhi oleh sambal lava tersebut.
"Sudah kamu tenang saja. Aku sudah terbiasa makan makanan pedas seperti ini di Indonesia. Kalau kamu tidak kuat dengan rasa pedasnya mending kamu kasihkan saja kepadaku," sela Mira dengan terus mengunyah bakso di hadapan nya tersebut.
"Tapi kamu ini lagi hamil lho, Mir. Berbahaya untuk bayi yang ada di perut kamu," sanggahnya Yeon lagi.
Entah mengapa di dalam lubuk hati Yeon yang paling dalam begitu khawatir dengan bayi yang di kandung oleh istrinya tersebut.
"Sudah jangan banyak-banyak. Nanti bayinya di dalam perut jadi kepedesan jika terus kamu isi dengan banyak sambal cabe seperti itu," ucapnya Yeon dengan merebut mangkuk Mira dengan sangat kasar.
Hingga sambal nya pun nampak tercecer mengenai tangan Mira dan area meja.
Melihat bakso nya di rebut oleh Yeon dengan kasar pun membuat hati Mira mendadak sedih dan sakit.
Bahkan air mata Mira pun mengalir begitu saja. Hingga tak lama kemudian Mira pun nampak menangis tersedu-sedu yang membuat Yeon dan Yuan kebingungan.
"Mir, jangan menangis seperti itu. Malu di liatin banyak orang," bisik Yeon dengan berusaha menenangkan sang istri kembali.
"Kamu jahat, sudah anak tidak di akui hingga ingin makan ini pun juga di larang. Yasudah lah aku mau pulang, jangan ikuti aku!" ucap Mira dengan air mata yang terus mengalir pergi keluar meninggalkan area restoran tersebut dengan menyetop sebuah taksi.
"Ck! Kenapa sih Kak Yeon seperti itu sama Kak Mira? Wanita hamil itu keinginan nya harus di penuhi. Kalau ingin menasehati itu jangan asal tarik mangkok Kak Mira dengan sangat kasar. Hati wanita hamil itu memang lebih sensitif. Tuh kan, malah enggak di kejar dan di biarin naik taksi sendiri!" ucap Yuan dengan menatap kesal ke arah sang kakak.
Yuan pun dengan sigap berdiri dan segera keluar mencari taksi yang baru guna untuk mengikuti kemana arah taksi yang di tumpangi oleh kakak ipar yang di taksirnya diam-diam tersebut.
Namun sayangnya Yuan pun kehilangan jejak taksi yang di tumpangi oleh kakak ipar terebut.
Sedangkan Yeon masih tertahan di restoran tersebut karena harus membayar bill tagihan nya terlebih dahulu.
Tak lupa Yeon pun memesan satu porsi bakso lava yang sama seperti yang di pesan oleh Mira tadi untuk di bungkus.
Sedikit terselip rasa bersalah di hati nya karena telah merebut makanan yang di sukai oleh istrinya tersebut dengan sangat kasar.
Dengan mengandalkan feeling saja, kini Yeon mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen yang Mira miliki sebelum menikah dengan nya.
Dengan cepat Yeon pun segera memarkirkan mobilnya dan menuju ke lift memencet tombol angka yang akan membawa nya menuju lantai apartemen yang di tempati oleh sang istri.
Tak lama kemudian Yeon pun telah sampai di depan pintu apartemen milik istrinya tersebut.
Dengan perasaan berkecamuk akhirnya Yeon pun memencet tombol bell. Hingga tak lama kemudian terlihat wajah lelaki yang tidak begitu asing yang membuka kan pintu untuknya.
"Dimana Mira?" tanya Yeon dengan tatapan tajam ke arah Adolfo.
"Oh astaga, tuan Yeon juga bertamu ke apartemen, Nona Mira? Masuklah tuan. Nona Mira sedang menyiapkan beberapa file yang saya perlukan," ucap Adolfo yang mengenal CEO muda Jee Yeon Adi Pratama.
Yeon pun segera masuk ke dalam apartemen tersebut dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istri.
"Baru sehari menikah dengan ku saja sudah berani memasukkan lelaki asing ke dalam apartemen. Atau jangan-jangan lelaki ini adalah ayah biologis dari janin yang di kandung oleh Mira?" batin Yeon dengan hati yang semakin tak karuan dengan sorot tajam menatap lelaki yang bernama Adolfo tersebut.
"Apa ada yang salah dengan muka saya, Tuan Yeon?" tanya Adolfo dengan perasaan aneh ketika mendapatkan tatapan menghunus tajam dari CEO muda yang tengah merajai banyak bisnis di negeri gingseng tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Yusria Mumba
cemburukan,
2023-11-15
0
mamae zaedan
ikut ngiler lihat baksonya🤭😙
2023-11-09
0
epifania rendo
makanya perhatian smaa istrimu
2023-10-31
0