Malam harinya, terlihat semua anggota keluarga telah berkumpul dalam satu meja makan dengan duduk di kursi masing-masing.
Tatapan kesal pun terpancar dari raut wajah Yeon yang ditujukan kepada Mira.
Sedangkan Mira yang di tatap begitu tajam oleh Yeon pun masih pura-pura tidak melihatnya dengan menyantap banyaknya hidangan yang tersaji di depan nya.
Hingga seluruh anggota keluarga nampak selesai dengan hidangan masing-masing, dengan segera Mira pamit undur diri untuk kembali ke kediaman nya.
"Kenapa harus pulang, sayang? Mommy kan masih ingin mendengar banyak cerita darimu. Kamu kan juga calon menantu Mommy dan sebentar lagi kalian akan menikah. Yeon saja telah setuju untuk segera menikahimu," ucap Mommy Yeon dengan menahan Mira agar tetap tinggal di kediamannya tersebut.
Bagaimana aku tidak setuju jika Mommy mengancamku akan mengusirku dan mencoretku dari kartu keluarga tanpa uang sepeserpun jika aku tidak segera menikahi wanita yang mengaku hamil anakku.
Yeon pun terus mengumpat dalam batin nya dengan keputusan sepihak sang Mommy.
"Maaf, Mom. Bukan maksud hati menolak kebaikan dari Mommy, namun Mira cukup sadar diri karena belum resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Mira belum menikah dengan putra Mommy. Jadi Mira akan kembali ke kediaman Mira lebih. Di satu sisi demi menjaga nama baik keluarga ini," ucap Mira dengan bijak.
Dasar sok alim! Gerutu Yeon di dalam hatinya lagi.
"Baiklah. Biar Yeon yang mengantarkan kamu kembali. Berbahaya jika seorang wanita hamil mengendarai mobil nya seorang diri di malam hari pula," ucap Mommy Yeon dengan memberikan instruksi kepada Yeon untuk segera mengantarkan Mira.
"Tidak ada penolakan!" sahut Mommy Yeon kemudian.
Tak berapa lama Yeon dan Mira kini telah berada di dalam satu mobil yang sama.
"Aku menerima pernikahan ini karena terpaksa! Dan aku ingin mengakhiri pernikahan kita setelah bayi yang kamu kandung lahir di dunia. Aku tidak ingin ada penolakan sama sekali. Karena setelah bercerai denganmu maka aku akan segera menikahi Tyas wanita yang sangat ingin ku nikahi!" ucap Yeon dengan gamblang tanpa memikirkan perasaan wanita yang ada di sampingnya.
"Baiklah tak masalah. Apa untungnya menikah dengan lelaki brengsek seperti mu. Aku pun tidak memaksa kamu untuk benar-benar menikahimu," jawab Mira dengan santai.
"Dengan kedatangan kamu ke rumah orang tuaku sama saja seperti kamu memaksa kedua orang tua ku untuk segera menikahkan aku dengan wanita murahan seperti mu. Yang aku katakan jika aku impoten adalah kebenaran dan fakta. Tidak mungkin juga jika janin yang kamu kandung adalah darah dagingku," tutur Yeon kemudian dengan berusaha meredam rasa jengkel di dalam hatinya tersebut.
"Mana mungkin kamu itu seorang impoten jika setelah aku terbangun dari pengaruh obat bius tersebut terasa nyeri dan perih sekali di area milikku seperti telah di masuki oleh benda tumpul yang berukuran sangat besar! Kalau bukan milikmu yang terasa berukuran sangat besar mana mungkin berganti milik orang lain apalagi di nodai oleh mahluk astral! Aku telah memeriksa cctv di hotel tersebut tanpa celah sedikitpun! Dan kamu lah satu-satunya yang masuk ke dalam kamar yang aku tempati! Sudah hentikan saja mobilnya disini dan turunkan aku!" ucap Mira dengan kesal karena terus berdebat dengan Yeon yang terus mengatakan jika dirinya adalah seorang impoten.
"Aku tidak ingin menurunkan wanita di sembarang tempat. Aku ingin tahu dimana kamu tinggal dan sekaligus aku ingin membuktikan jika milikku ini impoten dan tak akan bisa bangun oleh sentuhan apa pun itu!" ucap Yeon dengan terus melajukan mobilnya menuju ke alamat tempat tinggal Mira.
Hingga kini keduanya pun telah berada di dalam apartemen mewah milik Mira.
Di dalam kamar yang sama dimana tempat Mira mengistirahatkan tubuhnya sehari-hari.
"Kamu ingin membuktikan tubuhmu impoten dengan cara apa?" ucap Mira dengan menatap sinis ke arah Yeon.
Mendengar pertanyaan Mira tersebut pun membuat Yeon gelagapan dan bingung.
"Li—lihatlah! Milikku sama sekali tidak bereaksi apa pun di dalam kamar kamu ini," ucap Yeon dengan menunjukkan celana jeans panjang yang sedang di gunakan sedari tadi.
"Cih! Sudahlah, kamu pulang saja. Apa yang kamu tunjukkan kepada ku itu belum tentu menunjukkan jika senjatamu itu benar-benar impoten. Aku lelah dan kita bukan muhrim. Cepat pulang sana!" gertak Mira dengan mendorong tubuh Yeon hingga keluar dari apartemen nya.
Brak!!
Dengan cepat Mira segera menutup pintu apartemen nya dan segera berganti piyama tidur.
Di rebahkan nya tubuh dan pikiran nya yang terlihat menerawang jauh memikirkan tentang tindakannya untuk datang dan meminta pertanggung jawaban dari pria yang telah membuatnya hamil namun mengaku mengidap impoten tersebut dan sepertinya pria tersebut tidak akan mampu untuk memberikan sebuah keluarga yang harmonis dan indah untuk dirinya dan anaknya kelak.
"Haish," helaan nafas pun terdengar dari mulutnya.
Tak jauh berbeda dengan Yeon yang terus menggerutu di sepanjang koridor apartemen yang Mira tempati karena mendapati dirinya di usir dan di dorong keluar oleh wanita yang mengaku hamil darah dagingnya.
Hingga ponsel milik Yeon pun terdengar terus berbunyi membuyarkan segala ucapan kesalnya untuk Mira.
"Hallo sayang," ucap Yeon mengawali pembicaraan nya dengan Tyas via telepon.
"Hatiku masih terasa sangat sakit sekali sayang mendengar apa yang kamu katakan tadi jika kita harus menjalani hubungan kita secara diam-diam karena keputusan kamu untuk menikahi mantan artis sok cantik itu. Aku percaya jika kamu tidak menghamilinya karena milikmu benar-benar tidak mampu untuk berdiri walaupun aku telah mencoba dengan banyak cara untuk melakukan nya. Tapi walaupun begitu aku pun sudah puas dengan permainan jari jemari mu yang dengan lihai nya bisa membuatku menjerit puas berkali-kali," ucap Tyas sang tunangan dengan nada merengek manja di dalam telepon nya tersebut.
Mendengar suara manja serta jerit manja tunangan yang amat di cintai nya pun membuat wajah Yeon kembali berseri-seri.
"Sayang, kamu jangan memancingku dengan jerit manja kamu itu ya! Kalau kamu saat ini masih berada di Korea sudah bisa ku pastikan jika aku akan menculik dan memuaskan mu dengan cara-caraku," jawab Yeon dengan gemas saat panggilan nya telah beralih ke mode video call.
"Apa milikmu sudah mampu berdiri setelah mendengar jerit manjaku sayang?" ucap Tyas dengan menggigit bibirnya serta wajah yang di buat seseksi mungkin.
"Belum. Kenapa kamar yang kamu tempati nampak berbeda sayang? Untuk apa kamu memakai baju tipis menerawang seperti itu ketika tak bersama ku?" tanya Yeon curiga.
"Eum. Aku baru saja selesai melakukan syuting di luar kota dan ini sudah sangat larut malam sayang. Jadi aku menginap di hotel terdekat karena berkendara malam seorang diri sangat berbahaya untuk wanita manapun. Sudah dulu ya sayang. Aku mengantuk. Bye, muach," ucap Mira yang kemudian menutup telepon secara sepihak.
"Hufh," Yeon pun terlihat menghela nafas pelan dan melajukan mobilnya menuju ke kediaman orang tua nya kembali.
Sedangkan Tyas, sang tunangan yang amat di cintai oleh Yeon pun kini tengah asik bergumul panas dengan sang manajer.
"Sayang, faster!! Hanya kamu yang mampu memuaskan ku. Ahhh, hentak lebih dalam, sayang. Ouhhh ahhh ahh," jerit manja yang terus keluar dari mulut Tyas.
"Kita bisa bermain setiap saat, honey. Aku akan terus memuaskan mu. Karena kekasih impoten kamu itu tidak akan mungkin bisa memuaskan mu seperti aku saat ini. Walaupun milikmu sudah tidak rapat lagi namun rasanya masih tetap sama membuatku milikku terus memuntahkan lahar. Ouhh, aku keluarrr," jerit Bisma sang manager sekaligus partner ranjang Tyas sehari-hari.
Tyas yang mendengar pujian dari sang manager yang selalu memberikan kehangatan ranjang pun terlihat semakin semangat untuk meliuk-liuk kan tubuhnya yang membuat keduanya menjerit tak karuan hingga pagi menjelang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
epifania rendo
oh cinta buta
2023-10-31
0
mei
oke...jgn lupa dgn kata2 sendiri nanti y
2023-10-28
0
Lenina
lho bukannya pake mobilnya Mira yaa?
2023-10-11
0