Part 19

"Jadi kau, kau Thalia?" Tanya Casey tak mempercayainya. "Apakah benar kau Thalia?" Casey mengulangi pertanyaannya lagi.

"Ya kau benar. Pasti kau tak menyangka 'kan akan bertemu lagi denganku, setelah sekian lama kita tidak bertemu" kata Thalia.

Casey masih tampak terdiam, benar apa yang Thalia katakan bahwa ia memang sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan Thalia lagi saat ini. Thalia memang tampak berbeda jauh dari jaman sekolah, yang membuat Casey pun merasa pangling, meskipun ia merasa mengenali wanita tersebut.

"Maaf Nona Casey, Nona harus segera melakukan pemotretan, waktunya sudah tiba Nona," kata Jenny.

"Untuk saat ini, aku tidak ada waktu untuk meladeni mu. Tapi urusan kita belum selesai, aku pasti akan mencari mu lagi untuk memberi perhitungan, karena kau telah berani merebut suamiku!" Kata Casey menunjuk Thalia serta menatapnya tajam.

"Wow, aku takut sekali. Aku tunggu ya tantangannya Nyonya Casey," kata Thalia tersenyum smirk.

Casey terlihat sangat geram, akan tetapi karena ia sedang terburu-buru, sehingga ia pun tidak meladeni Thalia dan segera saja masuk ke dalam hotel tersebut. Sedangkan Thalia bersama asistennya pun segera saja menuju ke mobil dan melakukan perjalanan pulang ke rumah.

****

"Kamu mau yang mana Sayang, kamu bebas memilih dan pasti akan aku belikan untukmu," kata Edward kepada pujaan hatinya itu.

Saat ini Jasmine dan Edward sedang berada di sebuah toko perhiasan pada sebuah mall, sesuai janjinya Edward akan membelikan hadiah sesuai keinginan Jasmine dan saat ini Jasmine sangat menginginkan kalung berlian.

Lagipula Jasmine ingat apa kata Thalia, jika ia boleh melakukan apapun yang menguntungkan dirinya, sehingga ia tidak segan-segan untuk meminta apapun dari lelaki tua itu. Tentu saja itu semua juga membuat Jasmine sangat senang. Selain mendapatkan bayaran yang tidak sedikit dari Thalia, ia juga dapat memiliki harta bergelimang dari sugar daddy-nya itu. Sehingga ia pun tidak perlu mencari lelaki lain lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sementara itu …

"Nyonya, tadi bukannya Nona mengatakan kita mau langsung pulang ke rumah. Tapi kenapa tiba-tiba Nona mengajak saya ke mall?" Tanya Lusi saat mereka baru saja tiba di depan sebuah mall.

"Jadi kamu tidak mau?" Tanya Thalia.

"Bukannya tidak mau, tapi aku hanya heran saja karena tiba-tiba Nona berubah pikiran," ujar Lusi.

"Aku lupa jika ada sesuatu yang mau aku beli sekaligus mencari cemilan. Bukankah stok cemilan di kulkas sudah menipis?" Tanya Thalia, mengingat jika asistennya itu sangat hobi mengemil saat menonton televisi.

"He … he … he … Nona benar-benar perhatian, ya sudah ayo Nona kita turun," kata Lusi sembari membukakan pintu mobil untuk bos-nya.

Segera saja Thalia keluar dari mobil tersebut, lalu keduanya pun masuk ke dalam mall mencari-cari kebutuhan yang mereka perlukan.

Di saat itu, tidak sengaja mata Thalia menatap ke arah seseorang yang tak asing baginya, sehingga langkah kakinya pun terhenti.

"Bukankah itu Edward? Wow ternyata dia sedang membelikan perhiasan untuk selingkuhannya. Benar-benar luar biasa kerjanya Jasmine, dalam sekejap saja dia sudah bisa menguasai Edward," gumam Thalia tersenyum smirk.

"Nona, kenapa kita berhenti? Lalu Nona tadi bicara apa?" Tanya Lusi yang tak terlalu mendengarnya.

"Kamu lihat ke arah sana," ucap Thalia memuncung kan mulutnya, sehingga Lusi pun melihat ke arah yang ditunjuk olehnya.

"Loh bukannya itu Jasmine dan pria itu Tuan Edward, orang tuanya Nona 'kan?" Tanya Lusi.

"Ya kamu benar. Aku ingin menemui Edward sekarang, tapi kamu tidak bisa ikut," kata Thalia.

"Loh memangnya kenapa Nona?" Tanya Lusi kebingungan.

"Lusi, apa kamu lupa kalau saat ini kamu sedang menjalankan misi penting dariku?" Tanya Thalia mengingatkan.

"Oh iya, maaf Nona. Jadi aku harus kemana sekarang?" Tanya Lusi.

"Kamu cari cemilan saja, setelah itu kita langsung bertemu di mobil!" titah Thalia, kebetulan apa yang ia butuhkan juga sudah dibelinya.

"Baiklah Nona. Kalau begitu saya akan segera pergi," kata Lusi, lalu segera saja ia meninggalkan Thalia.

Sedangkan Thalia melangkahkan kakinya menuju ke toko perhiasan tersebut untuk menghampiri ayah dan juga orang suruhannya itu.

"Halo Edward, apa kabar?" Ucap Thalia.

Mendengar suara yang tak asing telinganya, membuat Edward dan Jasmine segera saja menoleh ke arah sumber suara.

Keduanya sama-sama terkejut, akan tetapi Jasmine masih bisa bersikap biasa saja karena melihat Thalia seakan memberi kode kepada Jasmine untuk berpura-pura tidak mengenalinya. Berbeda halnya dengan Edward, ia begitu syok melihat seorang anak yang sudah ia sia-siakan, bahkan ia buang jauh dari hidupnya ke luar negeri selama 15 tahun, saat ini berada di hadapannya. Di saat itu pula, ia teringat bahwa Kamila pernah mengatakan bahwa Thalia mengunjungi rumahnya. Hingga saat ini Edward benar-benar yakin jika apa yang dikatakan oleh istrinya itu adalah benar.

"Thalia? Ucap Edward.

"Ternyata kau masih mengenaliku. Aku pikir setelah lama kita berpisah, setelah lama kau membuang ku, membuat kau sudah tidak mengingatku lagi, Edward," ucap Thalia dengan santai, tapi ucapannya itu seakan menusuk ke jantung Edward.

"Jaga ucapan mu, berani sekali kau memanggilku dengan sebutan nama. Benar-benar anak yang tidak punya sopan santun. Aku pikir setelah aku membuang mu kau akan berubah, tapi ternyata sama saja, bahkan kau menjadi lebih kurang ajar," kata Edward.

"Ck, menurutmu untuk apa aku harus sopan kepadamu? Memangnya kau siapa? Oh iya aku lupa, kau adalah mantan Ayahku, ayah yang sikapnya sama sekali tidak pernah mencerminkan sebagai orang ayah, bahkan binatang saja bisa lebih menyayangi anaknya. Jadi, aku tidak tahu kau ini apa? Karena lebih rendah dari binatang," Kata Thalia.

Plak …

Sebuah tamparan langsung saja mendarat di pipi Tahlia, yang membuat Jasmine dan juga para pelayan di toko perhiasan tersebut sangat terkejut melihatnya.

Akan tetapi tak mengapa bagi Thalia. Ia hanya mengusap sedikit pipinya karena bekas tamparan sang ayah. Ia sama sekali tak membalas, bahkan terlihat sangat santai, karena pembalasan yang akan ia lakukan akan lebih kejam hanya dari sekedar tamparan.

"Enyah kau dari sini sebelum batas kesabaran ku habis!" Usir Edward dengan suara lantang.

"Baiklah, lebih baik kalian lanjutkan saja. Aku juga tidak akan mengganggu. Jangan lupa belikan juga istrimu 1, kalau tidak nanti dia akan iri, karena kau lebih memilih selingkuhan daripada dirinya," kata Thalia dan segera saja membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan toko perhiasan tersebut.

Edward merasa sangat marah dan ingin mengejarnya, akan tetapi dengan cepat Jasmine menarik tangannya itu.

"Sudah Tuan, bukankah Tuan ingin membelikan perhiasan," kata Jasmine.

Sehingga Edward pun membiarkan saja Thalia pergi untuk saat ini. Lalu ia membayar perhiasan yang sudah dipesan oleh wanita simpanannya itu.

Bersambung …

Terpopuler

Comments

Eva Sulasri Eva

Eva Sulasri Eva

good job thalian

2023-04-30

0

The Lovely

The Lovely

Emng tuh Thalia gk ada sopan santunnya sma ortunya walaupun gtu darah yg mengalir dlm tubuh lo itu darahnya gk ada mantan anak dan mantan ayah adanya mantan istri sma mantan suami emng Lo gk pnya pendidikan Thalia

2023-04-18

0

Rosy

Rosy

satu tamparanmu tidak berarti apa2 untuk thalia Edward..setelah ini bukan cuma tamparan yg akan kamu dapatkan tapi kemiskinan 😏

2023-04-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!