Keduanya saling bertatapan dan merasa kebingungan. Seorang pria tampan yang saat ini berada di hadapan Lusi itu pun tersenyum, sehingga membuat Lusi menjadi salah tingkah.
"Tuan Devan? Tuan Devan ada apa datang ke sini?" Tanya Lusi gugup. Ia tak menyangka jika pria yang baru saja mereka bahas, saat ini sudah berdiri di hadapannya.
"Maaf Lusi jika kedatangan saya telah mengganggu. Apa boleh saya bertemu dengan Thalia?" Tanya Devan.
"Oh tentu saja boleh Tuan. Silahkan masuk!" Ucap Lusi lalu mempersilahkan Devan untuk duduk di ruang depan.
Sementara itu, Lusi pun permisi untuk memanggil Thalia yang berada di ruang tengah.
"Nona, Nona … !" Panggil Lusi yang begitu antusias.
"Ada apa? Kenapa harus berlarian seperti itu sih, seperti habis dikejar setan aja," kata Thalia.
"Nona, Nona tahu tidak siapa tamu yang datang dan sekarang dia sedang menunggu Nona di ruang depan?" Lusi malah memberikan pertanyaan kepada Thalia.
"Siapa? Kenapa kamu malah bertanya padaku. Ya mana aku tahu lah," protes Thalia.
"Oke, jadi yang saat ini ada di depan dan menunggu Nona Thalia itu adalah pria yang dari tadi kita bahas," kata Lusi.
"Maksud kamu Devan?" Tanya Thalia untuk memastikan.
"Iya Nona. Aku benar-benar tidak menyangka ya, ternyata Nona Thalia ini benar-benar jago sekali menebak. Baru saja diomongin eh sudah nongol tuh orang," ujar Lusi.
"Aku bilang juga apa. Untuk itu kamu harus sabar sedikit lah. Kamu tenang saja, orang-orang suruhan ku sudah berkeliaran di luar sana, jadi pasti sangat gampang untukku mendapatkan informasi dan aku yakin jika Devan itu pasti akan datang ke sini untuk menemui ku. Sekarang terbukti 'kan," kata Thalia.
"Iya, Nona benar. Aku benar-benar tidak percaya saat tadi melihat Tuan Devan ada di depan mataku, terasa seperti mimpi padahal kenyataan. Ya sudah Nona, lebih baik sekarang Nona temui saja Tuan Devan. Aku akan membuatkan minuman dulu," ucap Lusi.
"Oke, buat minuman yang enak ya. Sekalian cemilannya untuk tamu spesial," titah Thalia.
"Siap Nona," jawab Lusi, lalu segera saja ia pergi menuju ke dapur.
Sedangkan Thalia segera menemui Devan saat itu juga.
Kini Thalia pun melangkahkan kakinya mendekati Devan. Devan sangat senang melihat kehadiran Thalia sehingga memberikan senyum terbaiknya untuk wanita itu. Hingga saat ini Thalia sudah berada di hadapannya.
"Hai Dev, maaf ya kamu jadi lama menungguku," ucap Thalia.
"Hai Tha, tidak juga. Aku juga baru saja tiba dan aku minta maaf ya sudah lancang datang ke rumah kamu.Karena aku bingung bagaimana cara menghubungi kamu, 'kan kemarin aku lupa untuk meminta kontak kamu," ucap Devan pula.
"Oh begitu. Iya tidak masalah kok, tapi ngomong-ngomong ada apa kamu mencari ku?" Tanya Thalia dan kini sudah duduk berhadapan dengan Devan.
"Jadi begini, aku hanya teringat saja waktu itu 'kan kamu sudah mengobati lukaku dan sekarang lukaku sudah sembuh total karena kamu. Jadi aku mau mengucapkan terima kasih banyak untuk itu," ucap Devan beralasan.
"Ya ampun tidak perlu Dev. 'Kan kamu juga sudah menolongku, kamu babak belur seperti itu karena menolong aku 'kan waktu itu," kata Thalia mengingatkan.
"Iya kamu benar. Tapi tetap saja aku mau mengucapkan terima kasih sekali lagi dan ada satu hal lagi apa alasannya aku bisa berada di sini sekarang," kata Devan.
"Oh ya? Memang ada apa?" Tanya Thalia.
"Tha, aku orangnya tidak suka berbasa-basi. Jujur pertama kali aku melihat kamu, aku sudah merasa kagum atas kebaikan kamu, keramahan kamu yang menurut aku semuanya itu sangat tulus meskipun kita baru pertama kali bertemu. Jadi aku hanya ingin dekat dengan kamu, apakah boleh?" Tanya Devan yang membuat Thalia pun mengernyitkan dahinya merasa kebingungan.
"Maksud kamu dekat bagaimana Dev?" Tanya Thalia.
"Menjadi teman dekat kalau boleh, aku mau minta kontak kamu dulu, sambil kita menjalaninya dan lihat saja bagaimana nanti kelanjutannya," ucap Devan berterus terang.
"Oh begitu. Iya boleh kok dan ini nomor WA aku," kata Thalia yang langsung saja memberikannya tanpa ragu.
Devan merasa sangat senang, karena ternyata Thalia menyambutnya dengan baik. Setelah mereka mengobrol-ngobrol dan juga menghabiskan minuman serta cemilan yang telah dibuatkan oleh Lusi, kini tidak terasa waktunya pun sudah semakin malam. Sehingga Devan berpamitan untuk pulang.
"Bagaimana Nona, apakah lancar?" Tanya Lusi saat mobil Devan tak terlihat lagi dari pandangan mereka.
"Kamu tenang saja, semuanya berjalan mulus. Casey, Casey, kamu lihat saja nanti. Setelah apa yang pernah kamu lakukan dulu padaku, aku pastikan kamu akan menangis karena rumah tangga kamu akan hancur berantakan yang disebabkan oleh orang ketiga," gumam Thalia tersenyum smirk.
***************
Di sebuah kamar hotel yang tak terlalu mewah, terjadilah pergelutan di atas ranjang antara seorang pria beristri dengan wanita simpanannya, siapa lagi kalau bukan Edward dan Jasmine, sang sekretaris. Karena sering kali tak dilayani oleh sang istri di atas ranjang, bahkan kadang melayaninya pun hanya karena terpaksa, pada akhirnya membuat Edward pun nekat mengajak Jasmine untuk melepaskan adrenalin bersama.
Keduanya terlihat begitu menikmati permainan, sampai-sampai pria itu tidak menyadari jika di saat ini ponselnya terus berdering, ada beberapa panggilan dan juga pesan masuk. Bagaimana tidak, suara des**an yang memenuhi seisi ruangan seakan mengalahkan segalanya.
Hingga di saat keduanya telah mencapai puncak, barulah Edward melirik dan meraih ponsel yang sejak tadi diletakkannya di atas nakas dan tertera jelas nama di layar ponselnya ada panggilan dari Nyonya Besar. Dengan wajah malas, segera saja Edward meletakkan kembali ponselnya lalu mencumbu mesra kekasihnya yang saat ini masih dalam keadaan polos.
"Tuan, siapa yang menelpon dari tadi? Kenapa tidak dijawab?" Tanya Jasmine.
"Hanya orang yang tidak penting. Sudahlah kau tidak perlu banyak bertanya, lebih baik kita lanjutkan saja permainan tadi," kata Edward yang terus saja menjelajahi setiap lekuk tubuh Jasmine sehingga membuat wanita itu pun melenguh kenikmatan.
Padahal tadi mereka baru saja melakukannya, tetapi saat ini Edward sudah merasakan ingin kembali melakukan penyatuan dengan milik selingkuhannya itu. Meskipun sudah tua tetapi hasratnya sama sekali tak kalah dengan anak muda.
"Boleh aku melakukannya lagi?" Tanya Edward.
"Boleh, tapi ini yang terakhir ya. Karena aku sudah sangat lelah," kata Jasmine, rasanya pria tua itu benar-benar sudah membuatnya gila.
"Oke, kamu tenang saja Sayang," kata Edward.
Lalu ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan dengan memasukkan tongkat ajaibnya itu ke lembah kenikmatan milik Jasmine.
Hingga pada akhirnya keduanya sama-sama kelelahan dan tidur bersama di dalam hotel tersebut. Tanpa memperdulikan istri yang saat ini tengah risau menunggu kepulangan suaminya di rumah.
Bersambung …
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Rosy
selamat bersenang senang Ed..karena setelah ini hidup kamu akan hancur
2023-04-12
0