Part 9

"Ehem,"

Mendengar Thalia berdehem membuat Devan pun tersadar dan melepaskan tangannya itu.

"Ma-maaf Tha, aku tidak sengaja," ucap Devan.

"Iya, tidak apa-apa. Aku juga minta maaf ya karena sudah membuatmu kesakitan. Aku akan lebih perlahan lagi mengobati mu," ucap Thalia pula dan ditanggapi anggukkan kepala oleh Devan.

Hingga beberapa menit kemudian, Thalia pun selesai mengobati luka pada wajah Devan.

"Sudah selesai. Sekali lagi terimakasih karena kamu telah menolong kami dan sekarang aku dan asistenku mau pulang," ucap Thalia.

"Iya sama-sama Thalia. Terimakasih juga karena telah mengobati lukaku. Oh ya kalian mau pulang kemana biar aku ikuti dari belakang ya, takutnya nanti ada preman seperti tadi lagi," kata Devan yang merasa khawatir.

"Memangnya itu tidak akan merepotkan?" Tanya Thalia.

"Sama sekali tidak. Daripada nantinya terjadi sesuatu lagi dengan kalian berdua, jadi lebih aman jika aku mengikuti kalian. Tidak ada salahnya berjaga-jaga kan," ucap Devan.

"Oh … kalau emang seperti itu, boleh." Thalia menerima tawaran tersebut.

Akan tetap sampai saat ini Thalia dan Lusi belum mengetahui jika Devan membawa temannya yang masih dalam keadaan mabuk. Hinga …

"Aku pesan minuman satu lagi," racau Bryan dari dalam mobil sehingga membuat Lusi dan Thalia pun terkejut mendengarnya.

"Loh Tuan Devan, apa ada seseorang di dalam mobil Anda?" Tanya Lusi yang sedari tadi hanya diam saja.

"Oh iya, kebetulan tadi aku dan teman habis dari klub malam dan teman aku itu mabuk berat. Jadi sekarang aku mau mengantarnya pulang," jawab Devan apa adanya.

"Kalau begitu lebih baik kamu tidak usah mengantar kami pulang. Kamu antar saja temanmu dulu, kasihan dia kalau terlalu lama di jalan dalam kondisi mabuk seperti itu," ucap Thalia.

"Tidak apa-apa Tha. Lagi pula alamat yang kamu katakan tadi searah kok dengan alamat apartemen temanku ini, jadi sama sekali bukan masalah 'kan?" ujar Devan yang tetap kekeh ingin mengantar Thalia pulang.

"Ya sudah kalau memang seperti itu, kita jalan saja sekarang," ajak Thalia.

Thalia dan Lusi pun segera saja masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Devan. Lalu mereka pun sama-sama melajukan mobil menuju ke kediaman Thalia. Terkadang Devan mengikuti mobil Thalia dari belakang dan terkadang jalan beriringan.

Tidak berapa lama kemudian, Thalia dan Lusi telah tiba di rumah. Sedangkan Devan ikut berhenti sebentar untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Thalia.

"Terimakasih ya Dev, maaf tidak bisa mengajakmu mampir karena ini sudah sangat malam bahkan hampir pagi," ucap Thalia.

"Iya, aku mengerti kok. Aku pulang dulu ya Tha," ucap Devan.

"Iya Dev, hati-hati ya. Bye … ," ucap Thalia.

"Terimakasih dan hati-hati Tuan Devan, bye … ," ucap Lusi pula.

"Sama-sama Thalia, Lusi. Bye … ," balas Devan lalu melajukan mobilnya kembali.

****************

Keesokan hari, Kamila yang saat itu sedang memasak sangat pusing mendengar keributan antara anak-anaknya Kania dan juga Kevin. Meskipun usia mereka terpaut jarak 6 tahun, tetapi mereka berdua selalu saja berdebat seperti seumuran.

"Kania, Kevin, kalian itu bisa tidak sih tenang berada di meja makan. Kenapa kalian selalu saja memperdebatkan masalah yang tidak penting!" Seru Kamila.

"Ini kak Kevin dulu yang memulainya Ma," ucap Kania yang memang selalu saja menyalahkan Kevin.

Padahal sebagai seorang Kakak, Kevin sudah melakukan tugasnya dengan baik. Selalu menuruti apa yang menjadi keinginan adiknya itu, tetapi Kania terlihat tidak menyukainya dan tidak tahu apa penyebabnya.

Di saat itu pula Edward yang telah rapi dan hendak pergi ke perusahaan itu pun menghampiri anak-anaknya yang berada di meja makan dan melihat Kamila yang saat itu masih belum selesai memasak.

"Ma, sarapannya masih lama?" Tanya Edward yang saat ini terlihat sangat buru-buru.

"Kamu sabar dong Mas, kamu tidak lihat aku sedang memasaknya. Sebentar lagi juga selesai," jawab Kamila.

"Tapi ini sudah jam berapa Ma. Aku harus pergi bekerja sekarang, ada meeting penting. Seharusnya itu kamu bangun lebih pagi lagi untuk menyiapkan sarapan," kata Edward yang mendadak memancing emosi Kamila.

"Kamu sabar sebentar bisa 'kan, ini juga sudah selesai. Aku sudah bersusah payah membuatkan sarapan, terus kamu mau pergi begitu saja, begitu? Ini semua juga gara-gara kamu yang mempekerjakan pembantu mulai dari jam O9.00 pagi dan sore hari sudah pulang lagi. Aku jadi jadi repot mengerjakan semuanya sendiri," kata Kamila dengan nada sewot, sehingga membuat membuat Edward pun terdiam.

Memang semenjak pendapatan di perusahaan berkurang, Edward membataskan pekerjaan pembantu hanya pada jam-jam tertentu saja. Mereka tidak tinggal di rumah Edward dan itupun hanya ada 1 pembantu dan 1 tukang kebun.

Kini makanan telah tersaji di atas meja. Kamila membuatkan nasi goreng yang selalu menjadi makanan simple dan favorit keluarganya itu.

Kevin di usianya yang menginjak 20 tahun saat ini ia sudah berkuliah semester akhir jurusan bisnis, tetapi ia sambil bekerja di sebuah perusahaan sebagai cleaning servis tanpa sepengetahuan orang tuanya. Ia melakukannya untuk membayar kuliah dan juga membeli keperluannya sendiri, karena terkadang meminta uang kepada kedua orang tuanya itu sangat susah dan malah dituduh menghambur-hamburkan uang.

Berbeda dengan Kania, ia yang baru duduk di kelas 1 SMA tetapi kehidupannya begitu mewah dan glamor, sama sepertu ibunya. Apapun permintaannya selalu saja dituruti oleh Kamila dan juga Edward.

Alasannya Kevin adalah anak laki-laki, sehingga ia harus bisa lebih berhemat dan nantinya akan bekerja untuk menghidupi keluarganya.

Setelah sarapan bersama, kini mereka semua pergi meninggalkan rumah untuk beraktivitas masing-masing. Kania diantarkan oleh supir pergi ke sekolah, sedangkan Kevin karena kampusnya itu berlawanan arah dengan sekolah sang adik, ia pun memesan taksi online atau naik ojek online untuk mengirit biaya.

****************

Sepanjang perjalanan menuju ke perusahaan, Edward merasa kepalanya begitu sakit seakan mau pecah karena memikirkan masalah perusahaan dan juga sikap Kamila yang akhir-akhir ini berubah drastis. Istrinya itu terlihat sering marah-marah karena selalu saja meminta uang lebih, padahal dia tahu bagaimana kondisi perusahaannya yang saat ini sudah diambang kebangkrutan. Membuat Kamila pun enggan melayani kebutuhan biologisnya lagi sebagaimana tugas seorang istri jika tidak dituruti. Sehingga membuat Edward tiba-tiba saja membayangkan wajah dan tubuh seksi Jasmine yang ada di hadapannya saat ini. Ia ingat betul bagaimana beberapa hari ini Jasmine selalu menggodanya, tetapi ia tolak.

Saat tiba di perusahaan, Edward langsung saja menuju ke ruangannya. Di Saat itu pula Jasmine pun ikut masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu serta menguncinya seperti biasa.

"Kau mau apa lagi?" Tanya Edward ketus.

"Tentu saja aku ingin meminta tanda tanganmu Tuan," jawab Jasmine dengan santai

"Kau yakin? Jika hanya seperti itu kenapa kenapa kau harus menutup pintunya?" Tanya Edward.

"Agar lebih aman. Ya siapa tahu Tuan sudah mulai tertarik denganku," goda Jasmine sembari menyodorkan buah dadanya tepat di depan Edward.

Edward menelan salivanya secara kasar. Rasanya ia sudah tidak tahan lagi karena selalu digoda oleh Jasmine, sehingga terjadilah sesuatu hal yang seharusnya tidak terjadi antara bos dan sekretaris itu.

Terpopuler

Comments

Rosy

Rosy

target sekarang sudah masuk ke dalam perangkap..tinggal menunggu kehancuranmu Edward..

2023-04-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!