Seminggu pun telah berlalu, hubungan rumah tangga antara Devan dan Casey semakin hari semakin buruk. Tiada hari tanpa bertengkar, pasalnya karena Casey seringkali tidak pulang ke rumah dengan alasan jadwal pemotretannya yang sangat padat. Tetapi saat Devan menanyakan kepada salah satu temannya di sana, dia mengatakan bahwa Casey tidak pernah ada jadwal pemotretan hingga ia tidak bisa pulang ke rumah.
Sementara anak mereka Daffa, harus diurus oleh Devan sendiri saat di rumah, lalu ia akan mengantarkannya setiap hari ke sekolah dan nantinya akan dijemput oleh supir pribadi orang tuanya.
Karena hari ini Devan ada rapat di luar, sehingga selesai rapat pun ia langsung saja menjemput anaknya yang saat masih berada di sekolah, setelah itu akan mengantarnya ke rumah sang nenek.
"Asik … aku senang deh karena hari ini Papi yang jemput aku di sekolah," ucap Daffa saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Oh ya? Papi juga senang bisa menjemput kamu. Maaf ya Sayang, karena Papi sibuk kerja jadi Papi jarang sekali bisa menjemput kamu, kamu jadi harus dijemput supir atau Oma deh," kata Devan menayangkannya.
"Nggak apa-apa Pi, aku mengerti kok. Oh ya Pi tapi Mami mana Pi, kenapa akhir-akhir ini aku tidak pernah bertemu Mami lagi?" Tanya Daffa yang terlihat sedih.
Hati orang tua mana yang tak ikut sedih melihat anaknya dalam keadaan seperti saat ini. Dia mempunyai ibu, tetapi ibunya sama sekali tidak memperdulikannya. Bahkan bertemu saja mereka sangat jarang.
"Sayang, Mami kamu sedang banyak pekerjaan. Tapi nanti Mami kamu akan pulang cepat kok dan kamu bisa menghabiskan waktu bersama Mami di rumah," kata Devan.
"Yang benar Pi?" Tanya Daffa dan hanya ditanggapi anggukkan kepala oleh ayahnya itu.
Sebenarnya Devan sama sekali tak ingin memberi harapan palsu kepada sang anak, tetapi ia juga tidak tega jika melihat anaknya itu terus saja merasa sedih.
**************
Hingga kini Devan dan Daffa pun telah tiba di rumah kediaman orang tua Devan, terlihat di saat itu Sonia yang merupakan ibu dari Devan sudah menunggu mereka di depan rumah dan langsung menyambut sang cucu dengan pelukan hangat.
"Eh cucu Oma sudah pulang sekolah. Senang tidak hari ini dijemput Papi," kata Sonia, seorang wanita paruh baya, tetapi kecantikannya itu sama sekali tidak pernah memudar.
"Iya Oma, aku senang banget karena hari ini dijemput Papi. Tapi sayang tidak ada Mami, kalau ada Mami pasti aku akan lebih senang lagi," ungkap bocah itu yang membuat Sonia dan Devan pun saling bertatapan.
"Devan, kamu belum terburu-buru mau kembali ke perusahaan 'kan?" Tanya Sonia.
"Belum Ma, ada apa?" Tanya Devan.
"Kamu masuk dulu, Mama mau bicara dengan kamu," ucap Sonia.
Lalu mereka bertiga pun segera saja masuk ke dalam rumah.
"Daffa, kamu ganti baju dulu ya, terus makan siang dengan Bibi. Oma mau bicara sebentar dengan Papi kamu," titah Sonia.
"Iya Oma. Papi, aku masuk dulu ya," ucap Daffa dengan sopan dan sangat menggemaskan.
Lalu Daffa pun segera saja pergi bersama ART di rumah omanya itu, yang sudah biasa membantu Sonia mengurusnya saat di rumah. Sedangkan Devan dan Sonia duduk di ruang tamu.
"Devan, mau sampai kapan kamu hidup seperti ini terus. Kamu punya istri tetapi seperti tidak mempunyai istri, bahkan anak kalian saja tidak terawat seperti itu. Lebih baik kamu berpisah saja dengan Casey. Kalau bukan karena perjodohan yang sudah dijanjikan oleh Papa kamu dan orang tuanya Casey, sebenarnya Mama tidak pernah setuju kamu berhubungan dengan wanita itu dari dulu. Selalu saja sibuk dengan dirinya sendiri, tidak pernah peduli dengan anak dan suaminya," ucap Sonia yang begitu kesal.
"Jadi Mama mendukung jika aku berpisah dengan Casey?" Tanya Devan.
"Tentu saja Mama setuju, untuk apa juga kamu memiliki istri tapi seperti tidak memilikinya. Lebih baik kamu cari saja istri yang lain, kamu cari pengganti yang lebih baik daripada Casey itu, banyak di luar sana. Kalau kamu tidak bisa mencarinya, biar Mama yang akan mencarikannya," kata Sonia.
"Tidak perlu Ma. Biar aku saja yang mencarinya sendiri, kebetulan aku sudah mengenal wanita yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama," ungkap Devan.
"Oh ya? Bahkan masih memiliki istri saja kamu sudah mencintai wanita lain. Itu artinya istri kamu benar-benar tidak berguna 'kan. Istri kamu benar-benar sudah menghilangkan rasa cinta kamu itu sehingga kamu berpaling dengan wanita lain," kata Sonia dengan geram.
"Iya Ma, sebenarnya aku memang sudah tidak tahan lagi hidup berumah tangga dengan Casey. Kalau bukan karena Daffa, mungkin sudah lama aku memintanya berpisah," kata Devan.
"Lalu, siapa wanita itu? Wanita yang mampu membuat anak Mama jatuh cinta pada pandangan pertama," tanya Sonia.
"Sebenarnya aku baru mengenalnya juga Ma, baru pertama kali bertemu. Tapi aku yakin dengan hati aku, bahwa dialah orang yang terbaik," kata Devan.
"Baru pertama kali bertemu tapi kamu sudah seyakin itu? Oke, Mama harap kamu harus mencari tahu dulu kebenarannya, kamu harus tahu siapa dia, bibit, bebet dan bobotnya. Mama tidak mau jika nantinya kamu akan sakit hati lagi dan kamu salah memilih pasangan hidup," kata Sonia.
"Casey itu bukan pilihan aku Ma, tapi pilihan Papa. Jadi aku yakin kalau pilihan aku ini pasti yang terbaik," ucap Devan.
"Iya, terserah kamu saja lah," kata Sonia.
***************
"Nona, kita 'kan sudah mendapatkan informasi lengkap tentang Devan dan keluarganya itu. Apa tidak sebaiknya kita langsung bergerak saja untuk menjalankan misi Nona," seru Lusi saat keduanya sedang menonton televisi.
"Kita harus sabar Lusi. Walaupun aku sudah sangat tidak sabar lagi ingin membalas dendam ku ini, tetapi kita harus main cantik. Masa iya aku harus terlihat mengejar-ngejar suami orang terlebih dulu. Santai lah, kita lihat saja nanti aku yakin pasti pria itu akan datang ke sini menemui ku atau dia akan mencari informasi tentangku," kata Thalia dengan sangat yakin.
"Oh iya Nona benar. Kenapa kesannya jadi aku yang terlalu terburu-buru ya Non. Tapi sayang sekali ya ternyata Tuan Devan itu adalah suami dari musuh Nona, jika tidak dia begitu cocok dengan Nona Thalia," ucap Lusi.
"Oh ya? Tapi sayangnya aku sama sekali tidak tertarik dengan pria seperti itu. Karena dari dulu hanya ada satu pria yang ada di dalam hatiku, hanya saja aku tidak tahu apakah dia memiliki perasaan yang sama atau tidak," ungkap Thalia.
"Oh ya? Jadi ternyata Nona sudah memiliki pujaan hati sejak lama," kata Lusi yang tak menyangka.
"Tentu saja dong," jawab Thalia.
Ting … tung …
Tiba-tiba saja terdengar suara bel rumah Thalia, segera saja Lusi beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu.
Saat pintu terbuka, Lusi sangat terkejut melihat seseorang yang saat ini berdiri di hadapannya. Karena orang itu adalah …
Bersambung …
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Rosy
eng ing eng...kira2 siapa ya yg datang..apakah Devan
2023-04-12
0
Nurmala Dewi
adalah devan
2023-04-06
0