Part 13

Keesokan harinya.

Saat matahari sudah mulai menampakkan cahaya terang nya di pagi hari.Edward perlahan membuka mata dan langsung terbangun.

Dengan keadaan mata yang masih sedikit ngantuk,Edward pun memperhatikan Jasmine yang sudah berpenampilan rapi.

"Kau sudah bersiap-siap,kenapa tidak bangunkan aku?" ujar Edward sambil bertanya.

"Ah,ternyata tuan sudah bangun.Maaf aku tidak membangunkan mu,karena tidur mu masih terlalu nyenyak tuan." ujar Jasmine sambil menyisiri rambutnya kebelakang setelah ia mengeringkannya.

"Kesini." kata Edward menyuruh Jasmine untuk menghampirinya.

Jasmine pun menurutinya dan langsung menghampiri Edward sambil duduk di sisi nya.Edward pun dengan cepat melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Jasmine.Dan menyandarkan kepalanya tepat di atas dada Jasmine seperti anak kecil,yang sedang bermanja.

Jasmine pun membiarkan Edward bersikap manja padanya.Supaya Edward terus menempel padanya dan perlahan akan melupakan Kamila yang saat ini masih menunggu dirinya di rumah.Karena ia tidan pulang semalaman.

"Tuan,mau sampai kapan anda seperti ini??Ini sudah siang,aku harus ke kantor." tanya Jasmine dengan nada pelan.

"Rasanya aku ingin terus berada di dekat mu.Kau mulai membuatku tergila-gila Jasmine.Bahkan aku ingin terus mencumbui mu seperti yang kita lakukan semalam." jawab Edward yang tanpa rasa malu mengatakan sesuatu yang sensual pada Jasmine.

"Aku tidak masalah jika tuan ingin aku melayani mu terus di atas ranjang ini.Tapi,rasanya aku tidak mau jika menghabiskan waktu bercin*a kita di hotel terus." jawab Jasmine sambil memegang pipi Edward dengan nada manja.

"Maksud mu?" tanya Edward yang penasaran.

"Belikan aku sebuah apartemen atau rumah,agar kita bisa bebas melakukan yang sesuai tuan ingin kan."jawab Jasmine yang sengaja menguji Edward.

Edward seketika langsung tersenyum sambil perlahan mengarahkan dagu Jasmine ke arah bibirnya.

"Bagi ku tidak masalah,asal kau bisa terus memuaskan ku sayang." ucap Edward yang langsung melu*at bibir Jasmine secara lembut hingga mereka pun berakhir dengan permainan panas.

...****************...

Thalia kini sedang menikmati sarapan paginya.Dan Lusi dengan setia selalu menemani Thalia saat sarapan.

"Nona,apakah hari ini nona ada planning?" tanya Lusi.

"Yah,aku ingin pergi ke suatu tempat." jawab Thalia yang masih menikmati sarapan paginya.

"Apakah aku harus ikut nona?" tanya lagi Lusi pada Thalia.

"Ide bagus,mungkin dengan kau menemaniku bisa membuat nyali nya menciut saat berhadapan dengan ku." ujar Thalia yang langsung setuju dengan saran Lusi untuk menemaninya.

...****************...

Devan yang sudah bersiap-siapa akan pergi ke kantor.Terlebih dulu ia berniat ingin sarapan pagi.

Saat ia menuju meja makan,lagi-lagi Devan harus menelan kekecewaan.Saat melihat pemandangan di atas meja makan yang tanpa hidangan sarapan sedikit pun.

Devan pun langsung menarik nafas panjangnya dengan penuh kecewa.

Daffa sang buang hati tiba-tiba datang menghampiri Devan yang masih berdiri didepan meja makan.

"Mama tidak buat sarapan untuk ku ya pa?"tanya Daffa dengan nada polosnya sambil memasang wajah yang sedih.

Devan pun seketika ikut merasa sedih melihat raut wajah sang anak yang tidak bisa menutupi yang juga merasa kecewa.

"Kita sarapan di luar saja,ayo." jawab Devan sambil tersenyum dan mengajak Daffa berangkat.

Daffa pun langsung tersenyum dan menurut.Seolah ia langsung mengerti dengan situasi yang sebenarnya memang jarang ia rasakan untuk bisa menikmati sarapan buatan Casey ibunya sendiri.

Devan pun juga hanya bisa menutupi rasa kesalnya pada Casey.Yang semakin hari semakin membuatnya muak.Karena Casey benar-benar tidak memperdulikan dirinya dan sang anak.Hanya sibuk dengan dunianya sendiri.Yang tanpa sadar,ia bisa kehilangan semua yang sudah ia miliki selama ini.

...****************...

Lusi mengemudikan kendaraan pribadi milik Thalia menuju suatu tempat.Hingga tiba di suatu tempat,sesaat Lusi memperhatikan sebuah rumah mewah yang berdiri kokoh diatas tanah yang begitu luas.Lengkap dengan sebuah pagar hitam yang menjunjung tinggi untuk menutupi rumah tersebut.

"Nona yakin disini alamatnya?" tanya Lusi memastikan dulu.

"Yah,." jawab Thalia yang sesaat juga ikut memperhatikan rumah tersebut.

"Kalau saya boleh tahu,siapa yang akan nona temui di rumah itu?" tanya Lusi yang penasaran.

"Dua orang yang sudah menghancurkan hidup ku di masa lalu.Ayo." jawab Thalia sambil tersenyum miring.

Thalia pun langsung turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pintu gerbang rumah tersebut.

Begitu juga dengan Lusi yang mengikutinya dari belakang.

Sesaat Thalia menekan tombol yang berada diluar pintu gerbang tersebut.Tak berapa lama pintu terbuka dan terlihat seorang keamanan yang berjaga di pos tepatnya didekat pintu gerbang tersebut.

"Maaf,nona siapa??cari siapa?" tanya seorang pria paruh baya yang menjadi seorang keamanan.

Thalia pun langsung menunjukkan senyumannya yang ramah.

...****************...

Devan yang baru saja tiba di kantor,tiba-tiba dikunjungi oleh Bryan sang sahabat karibnya.

"Ada apa kau kesini?" tanya Devan dengan nada tidak bersemangat.

"Cuma ingin mengunjungimu.Hei..Ada apa dengan wajah mu?Kenapa terlihat tidak bersemangat?Kau baik-baik saja bro?" tanya balik Bryan penasaran.

Devan langsung menghela nafasnya.

"Seperti biasa." jawab Devan dengan nada lesu.

"Apa Casey lagi?" tanya Bryan menebak.

"Yah..Begitu lah." ujar Devan singkat.

"Problem rumah tangga memang tidak ada habisnya.Dan problem itu selalu bermacam-macam,termasuk istri." tukas Bryan.

"Kupikir,jika aku bersabar dan bertahan bisa membuat Casey bisa berubah.Tapi..Dia semakin membuatku tidak tahu harus berbuat apa." kata Devan mulai curhat pada Bryan.

"Jadi,apa kau akan menyerah?" tanya Bryan.

"Menurut mu harus kah aku bertahan atau mengakhiri pernikahan kami?" tanya Devan meminta saran pada Bryan.

"Menurutku jika memang tidak bisa dipertahankan lagi untuk apa diteruskan.Terlebih jika perasaan sudah menghilang.Tapi,disisi lain kau harus lihat posisi anak mu.Apakah kalau kau ingin mengakhiri pernikahan kalian,apa anak mu bisa menerimanya?" ujar Bryan mengingatkan Daffa pada Devan

Sesaat Devan terdiam dan merenung sejenak.

"Memang sulit untuk mengambil keputusan ini,kau tidak seperti ku.Berpisah dengan istri sebelum memiliki anak,tidak masalah.Tapi bagaimana dengan mu?Kau harus pikirkan bagaimana perasaan anak mu jika dia harus menerima keadaan bahwa kedua orang tua nya sudah berpisah." ucap Bryan memberi nasehat pada Devan

"Tapi aku merasa sudah tidak bahagia lagi bersamanya.Dia semakin tidak menghargai ku sebagai suaminya dan bahkan tidak memandang ku sebagai kepala rumah tangga." kata Devan mengungkapkannya kembali tentang masalah rumah tangga nya.

"Jadi,kau ingin benar-benar ingin berpisah dengannya?" tanya Bryan memastikan lagi.

Terpopuler

Comments

Rosy

Rosy

perpisahan memang akan mengorbankan perasaan anak..tapi kalau anak hidup dg keluarga yg tidak sehat kasihan juga kan...

2023-04-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!