Part 10

Edward tampak dengan rakus melahap bibir mungil milik Jasmine yang terasa sangat manis dan membuatnya candu, sangat berbeda sekali dengan milik istrinya yang terasa sudah tidak selembut dulu. Karena mendapatkan pembalasan yang tak kalah bergairah dari sang sekretaris, membuat Edward semakin bersemangat untuk melakukan hal lebih. Akan tetapi, di saat ia baru saja hendak melanjutkan aksinya itu dengan membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Jasmine, dengan cepat Jasmine mencegah tangan bos-nya itu.

Edward mengernyitkan dahinya dan menatap Jasmine penuh kebingungan, "Ada apa?" Tanyanya.

"Jangan terburu-buru Tuan, kita sedang berada di kantor sekarang. Bukankah tuan sendiri yang mengatakannya tadi. Aku rasa ini sudah cukup, nanti kita bisa melanjutkannya lagi di tempat lain," bisik Jasmine yang membuat Edward pun tersenyum dan merasa sangat senang.

"Kamu benar-benar nakal ya." Edward mencolek dagu Jasmine.

"Tapi Tuan suka 'kan?" Ujar Jasmine dengan tatapan nakal

"Mana mungkin aku bisa terus bertahan digoda oleh wanita secantik kamu," ungkap Edward.

"Dasar tua bangka, akhirnya kau kena juga 'kan jebakan ku," batin Jasmine.

"Ya sudah Tuan, lebih baik sekarang Tuan tandatangani saja berkas ini segera. Karena saya mau melanjutkan pekerjaan. Nanti orang lain akan curiga jika melihat saya terlalu berlama-lama ada di ruangan Tuan," ucap Jasmine.

"Oke, tapi karena kamu sudah terlanjur masuk ke dalam duniaku, jadi kamu tidak boleh menolak jika aku memintanya!" Edward memperingati.

"Tuan tenang saja, bukankah aku sudah mengatakan jika aku tidak hanya memuaskan Tuan di perusahaan, tetapi aku juga akan memuaskan Tuan di luar perusahaan," kata Jasmine.

Lalu setelah mendapatkan tanda tangan yang ia minta, Jasmine pun segera saja keluar dari ruangan Edward dengan perasaan yang sangat senang, karena ia bisa menjalankan tugasnya itu dengan baik.

****************

Sejak pertemuannya dengan Thalia seminggu yang lalu, membuat Devan tak henti memikirkan wajah cantik wanita tersebut. Ia begitu merasa kagum melihat wanita sebaik Thalia dan begitu perhatian. Terlebih lagi Devan ingat betul bagaimana waktu itu Thalia memperlakukannya dengan sangat lembut. Membuat Devan menjadi kepikiran dengan kata-kata sahabatnya, Bryan. Yang memintanya untuk mencari wanita lain agar tidak terus-menerus merasa sakit hati dengan istrinya sendiri.

Akan tetapi ada satu hal yang membuat Devan menyesal, karena di saat itu ia lupa meminta kontak Thalia, sehingga ia tidak dapat menghubungi wanita itu. Meskipun Devan tahu dimana rumah Thalia, tetapi menurutnya sangat tidak sopan jika ia harus datang langsung menemuinya.

"Thalia … Thalia, kamu begitu cantik. Membuat aku merindukanmu," batin Devan dengan senyuman yang mengambang dari sudut bibirnya.

Sehingga Casey yang baru saja masuk ke dalam kamar merasa heran melihat suaminya itu senyum-senyum sendirian.

"Kau kenapa Dev senyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanya casey sehingga membuat Devan pun merubah wajahnya itu menjadi muram.

"Memangnya kenapa kalau aku tersenyum? Apa kau pikir aku harus terus-menerus memasang wajah cemberut karena kelakuanmu itu?" Kata Devan yang langsung menyerang sang istri.

"Maksudmu apa Devan? Kau ini tidak bisa ya berbicara lembut sedikit denganku. Aku bertanya baik-baik, kenapa kau malah menjawabnya seperti itu," kata Casey tak terima.

"Apakah kau tadi bertanya baik-baik? Kau saja sama sekali tidak pernah menghargai ku sebagai suamimu, nada bicaramu kepada suamimu seperti kau mengajak berbicara dengan temanmu di luaran sana," ujar Devan.

"Hah sudahlah Devan, aku ini capek baru pulang kerja. Sekarang aku mau istirahat!" Seru Casey.

"Silahkan! Aku juga tidak akan mengganggu istirahatmu," ucap Devan, lalu ia pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan hendak pergi meninggalkan Casey.

"Kau mau kemana?" Tanya Casey.

"Bukankah aku sudah mengatakan tidak akan mengganggu istirahatmu? Jadi Silahkan kau istirahat, lebih baik aku tidur bersama Daffa daripada aku harus meladeni mu," kata Devan lalu keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar anaknya itu.

Saat berada di kamar sang anak, Devan memandang wajah polos anaknya, begitu teduh, sehingga membuatnya pun merasa lebih tenang daripada harus terus berdebat dengan sang istri.

"Maafkan papa ya Nak, rasanya papa sudah tidak sanggup lagi untuk hidup bersama dengan mama kamu. Jika papa tidak memikirkan mu, sudah pasti papa akan meninggalkan mama kamu sejak lama. Tapi kamu tenang saja, sebelum papa berpisah dengan mama kamu, papa pasti akan mencarikan mama baru untuk kamu. Yang jelas dia adalah wanita yang sangat perhatian," batin Devan yang pikirannya itu pun langsung melayang kepada sosok Thalia.

Lalu Devan merebahkan tubuhnya itu di samping Daffa dan terlelap hingga kebangun keesokan harinya.

****************

Karena di Indonesia Thalia dan Lusi belum memiliki banyak barang-barang kebutuhan mereka, sehingga hari ini pun Thalia memutuskan untuk pergi ke sebuah mall mencari beberapa pakaian dan kebutuhan lainnya untuk mereka. Terlebih lagi sejak pulang ke Indonesia, keduanya selalu dipadatkan dengan kesibukan-kesibukan di luar dugaan. Sehingga membuat Thalia pun mengajak Lusi untuk memanjakan asistennya itu.

"Nona, Nona serius mau mengajakku jalan-jalan?" Tanya Lusi yang terlihat begitu antusias.

"Memangnya aku pernah tidak serius?" Thalia membalikkan pertanyaan itu.

"Oh tentu saja tidak Nona. Jadi kita akan pergi bersama supir atau saya yang menyetir Nona?" Tanya Lusi.

"Lebih baik kamu saja yang menyetir. Jadi kita bisa sekaligus berjalan-jalan nanti," jawab Thalia.

"Baik Nona," ucap Lusi dengan senang hati.

Lalu segera saja mereka pergi menuju ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut.

Saat sudah berada di sana, Thalia tampak sedang memilih-milih pakaian bersama dengan Lusi. Apapun yang diinginkan oleh Lusi, tentunya akan Thalia bayar tanpa memikirkan beberapa pun itu harganya.

Setelah capek berbelanja, kini mereka pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu di sebuah restoran stik yang tidak jauh dari mall tersebut. Sebelum nantinya mereka akan melanjutkan untuk berjalan-jalan.

Sementara itu, tidak jauh dari tempat Thalia dan Lusi duduk, terlihat juga Casey yang di saat itu sedang berkumpul bersama teman-teman modelnya di restoran tersebut. Mereka tampak asik sedang membahas apa saja yang bisa menyenangkan hati mereka, salah satunya adalah soal pria.

"Cay, bagaimana hubunganmu dengan Devan? Devan masih sangat memanjakanmu 'kan?" Apa kau sudah meminta uang untuk membeli mobil baru?" Tanya Dona, teman Casey yang sama-sama berprofesi sebagai model.

"Boro-boro untuk membeli mobil, untuk arisan berlian, aku hanya meminta sedikit saja dia langsung ngomel-ngomel tidak karuan. Katanya aku sendiri 'kan bekerja, jadi aku bisa memakai uangku sendiri. Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Devan jadi pelit seperti itu. Dia tidak seperti dulu lagi," kata Casey yang terlihat sangat kesal.

"Aku yakin itu pasti karena Devan membagi uangnya untuk orang tuanya. Kau harus bertindak tegas, kau harus berbicara kepadanya supaya dia tidak semena-mena seperti itu," kata Laura, teman Casey yang lainnya.

"Oh begitu ya. Ya sudah nanti aku pasti akan bicara padanya," kata Casey.

"Oh iya, aku sudah dijemput nih. Aku duluan ya," kata Dona.

"Aku juga harus pulang sekarang, kasihan anakku di rumah sudah menunggu," kata Laura pula.

Kini temen-temen Casey pun sudah pergi meninggalkan restoran, sedangkan ia masih tampak bete menunggu kehadiran Devan yang tadi ia minta untuk menjemputnya

Hingga tidak beberapa saat lama kemudian, Devan pun telah tiba di restoran tersebut dan langsung saja masuk ke dalam untuk menjemput istrinya itu.

"Kenapa kau lama sekali? Aku sudah lama menunggumu. Kau bisa lihat 'kan aku hanya tinggal sendiri di sini!" Bentak Casey yang membuat para pengunjung restoran pun beralih memperhatikan mereka. Termasuk juga Thalia dan Lusi.

"Pelan kan sedikit suaramu itu. Sangat tidak pantas kau berbicara meninggi seperti itu padaku, aku ini suamimu." Devan memperingatkan.

"Nona, bukankah itu Tuan Devan yang waktu itu menolong kita? Jadi ternyata dia sudah memiliki istri," kata Lusi.

Lalu Thalia pun menatap ke arah Devan dan juga wanita yang tidak asing baginya. Tiba-tiba Thalia tersenyum karena mendapatkan sebuah ide yang muncul di dalam otaknya itu.

Bersambung …

Terpopuler

Comments

Uchi Hafiz

Uchi Hafiz

lanjut

2023-04-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!