15 Tahun Kemudian …
Di sebuah Bandara Internasional di kota tersebut terlihat seorang wanita cantik, berambut panjang tergerai, menggunakan kacamata hitam, berusia 30 tahun yang baru saja tiba dari luar negeri sedang melangkahkan kakinya diikuti oleh seorang asisten muda wanita itu. Ia baru saja kembali ke tanah air setelah lama tinggal di negeri Jiran.
"Lusi, apa kamu sudah menelpon supir baru kita untuk menjemput?" Tanya wanita tersebut kepada sang asisten.
"Sudah Nona Thalia, saya sudah meminta Pak Bagas untuk menjemput kita. Semua sesuai dengan arahan Pak Burhan yang membantu segala kebutuhan kita sebelum pulang di Indonesia," jawab Lusi.
Ya Wanita tersebut adalah Thalia. Meskipun sudah belasan tahun ia tinggal di luar negeri dan sama sekali tidak pernah kembali ke Indonesia. Tetapi karena berkat bantuan sang nenek selama di sana, saat ini Thalia telah menjadi pengusaha sukses. Sehingga ia pun mempunyai beberapa kenalan di Indonesia dan siap membantunya saat memerlukan bantuan, salah satunya adalah pak Burhan. Untuk itu saat tiba di Indonesia, Thalia sudah memiliki rumah dan supir pribadi.
"Bagus kalau memang begitu. Kamu memang selalu bisa diandalkan Lusi," puji Thalia.
"Terimakasih Nona," ucap Lusi yang merasa sangat senang.
Saat mereka sudah tiba di depan bandara, di saat itu pula supir yang dimaksud oleh Lusi sudah tiba menjemput. Langsung saja Thalia dan Lusi masuk ke dalam mobil dan supir pun melajukan mobil menuju ke rumah Thalia.
"Aku kembali, aku pastikan kalian semua yang pernah membuatku menderita di sini, pasti akan merasakan pembalasan setimpal terhadap apa yang telah kalian lakukan padaku," batin Thalia dengan tatapan tajam.
Beberapa saat kemudian, kini supir pun memberhentikan mobil di sebuah bangunan yang tidak terlalu mewah, tetapi tampak asri dan terawat. Rumah tersebut adalah rumah kenangan Thalia bersama dengan mendiang ibunya. Thalia sengaja meminta pak Burhan untuk membeli rumah itu kembali setelah dulu pernah dijual oleh ayahnya. Tentunya Thalia telah membayar mahal untuk mendapatkan rumahnya. Segera saja Thalia dan Lusi turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tersebut.
Seketika air matanya meleleh saat mengingat kenangannya bersama dengan sang ibu di dalam rumah tersebut. Tetapi tiba-tiba pandangannya menjadi sangat tajam dan penuh amarah saat mengingat bagaimana perlakuan Edward yang selalu menyiksa ibunya, hingga ibunya itu pun bunuh diri dan meninggal.
"Lusi apakah yang aku perintahkan padamu sudah kamu lakukan?" Tanya Thalia.
"Untuk mencari seorang wanita muda?" Tanya Lusi.
"Ya kamu benar," jawab Thalia.
"Tentu saja sudah Nona, semua sudah aku atur," jawab Lusi begitu antusias.
"Bagus, kalau begitu sekarang juga kamu pinta dia datang ke sini, karena aku tidak mau menunda waktu lagi. Dan sekarang kamu boleh pergi, di sana adalah kamarmu dan di atas adalah kamarku." Thalia menunjuk kamar-kamar yang ia maksud.
"Baik Nona."
Segera saja Lusi melangkahkan kakinya menuju ke kamar Thalia terlebih dulu untuk menaruh barang bos-nya itu, setelah itu ke kamarnya dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Thalia.
"Papa Edward, kau sudah cukup bersenang-senang bukan? Bersiap untuk menerima pembalasanku. Karena tujuan pertamaku adalah membalas dendam ku padamu. Aku pastikan selama aku masih hidup, kau tidak akan pernah bisa hidup tenang lagi. Begitu juga dengan istrimu itu," batin Thalia tersenyum smirk.
****************
Saat ini di hadapan Thalia dan juga Lusi, duduk seorang wanita muda berusia 25 tahun, cantik dan seksi yang sangat membutuhkan pekerjaan. Ia rela melakukan apapun untuk mencukupi kehidupan glamornya. Tak heran juga terkadang ia rela menjadi simpanan om-om kaya demi mendapatkan harta yang bergelimang, sehingga hal tersebut sangat cocok dengan rencana awal Thalia untuk membalas dendam kepada Edward, ayah kandungnya sendiri.
Tentunya Lusi mendapatkan informasi tentang wanita tersebut juga dari kenalannya yang berada di Indonesia, karena Lusi sendiri juga dulunya tinggal di Indonesia dan merantau ke luar negeri untuk bekerja, sehingga ia bertemu dengan Thalia di sana.
"Siapa namamu?" Tanya Thalia kepada wanita tersebut.
"Namaku Jasmine Nona," jawab wanita itu seramah mungkin.
"Apa kau benar-benar sudah yakin akan menjalankan tugas yang aku perintahkan? Lusi sudah menjelaskan padamu bukan?" Tanya Thalia ingin memastikannya lagi.
"Saya yakin Nona, apapun itu saya siap. Asalkan bayarannya setimpal dengan apa yang saya lakukan," jawab Jasmine dengan mantap.
"Kau tenang saja, untuk bayaran mu aku pastikan akan sangat memuaskan. Terlebih lagi jika kau berhasil melakukannya, aku pasti akan memberikanmu bonus yang besar," ucap Thalia. Karena uang bukanlah masalah baginya.
"Baik Nona, kalau begitu katakan apa yang harus aku lakukan," pinta Jasmine dan segera saja Lusi menjelaskan secara detailnya apa yang harus dilakukan oleh Jasmine terlebih dulu.
Setelah mengerti apa yang harus ia lakukan, kini Jasmine pun pergi meninggalkan kediaman Thalia untuk segera menjalankan tugasnya itu.
****************
Sementara itu, Edward yang saat ini sudah memiliki perusahaan sendiri sedang diambang kebangkrutan. Pasalnya karena sang istri yang terus saja menggunakan uang perusahaan tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Padahal Kamila selalu meminta uang kepada Edward dengan jumlah yang banyak untuk membeli keperluannya, tetapi tetap saja masih kurang.
Sehingga membuat Edward pun merasa sangat pusing, terlebih lagi sang sekretaris yang berhenti bekerja karena sangat tidak cocok dengan bayaran yang saat ini ia berikan. Bagaimana bisa ia dapat mencari sekretaris baru dengan bayaran setengah dari yang biasa ia berikan, sedangkan pekerjaannya sangat banyak dan membutuhkan seorang sekretaris. Ditambah lagi saat ini masalah-masalah perusahaan yang lain, sehingga membuatnya jarang pulang ke rumah, karena merasa pusing jika harus mendengar omelan sang istri.
Tok … tok … tok …
Seseorang mengetuk pintu ruangan direktur.
"Masuk!" Teriak Edward.
Seorang HRD masuk bersama dengan seorang wanita muda yang begitu seksi, sehingga membuat pandangan mata Edward pun tak berkedip karena melihat kecantikan wanita tersebut.
"Maaf tuan Edward, ini adalah sekretaris yang Anda minta, namanya Jasmine. Dia siap bekerja dengan bayaran yang sudah saya tawarkan sesuai dengan perintah Anda," seru HRD yang membuyarkan lamunan Edward.
"Oh, kalau begitu kau keluar saja dulu. Biar aku yang akan berbicara lebih lanjut dengan calon sekretaris ku," ucap Edward dan segera saja HRD itu pun keluar dari ruangan tersebut.
"Jasmine, aku sudah tidak suka berbasa-basi. Apa benar kau bersedia bekerja di sini dengan bayaran yang sanggup aku berikan itu?" Tanya Edward dengan tak henti memandang wajah cantik Jasmine.
"Ya, aku yakin Tuan. Karena aku sangat membutuhkan pekerjaan itu, apalagi jika … ." Jasmine tidak melanjutkan ucapannya tersebut, sehingga membuat Edward pun merasa penasaran.
"Jika apa?" Edward menaikkan kedua alisnya karena kebingungan.
Bukannya menjawab, tetapi Jasmine malah beranjak dari tempat duduknya itu, lalu menuju ke pintu dan menguncinya. Edward sangat tidak mengerti, tetapi ia juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh calon sekretarisnya itu.
Setelah itu Jasmine berjalan mendekati Edward dan langsung saja duduk di pangkuannya serta mengelus-elus dada bidang miliknya itu. Tentu saja hal tersebut membuat Edward pun merasa terkejut tetapi sekaligus merasa senang, karena ia sudah sangat lama tidak mendapatkan sentuhan dari seorang wanita. Apalagi wanita tersebut masih sangat muda, berbeda jauh dengan istrinya yang saat ini sudah tua dan tidak secantik dulu lagi.
Bersambung …
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Rosy
dasar kucing garong ..di suguhi ikan asin pasti di embat juga 🤣🤣
2023-04-12
0