Part 8

Tanpa Edward sadari sesuatu di bawah sana telah berdiri tegak sempurna karena ia tak dapat menahan godaan dari wanita muda tersebut. Ditambah lagi semerbak harumnya cekuk leher Jasmine yang tepat berada di depan hidungnya, membuat Edward rasanya ingin melahap wanita itu saat ini juga.

"Sial! Ada apa denganku? Kenapa aku jadi merindukan sentuhan wanita. Apa karena service Kamila sudah tak lagi memuaskan untukku," umpat Edward di dalam hatinya.

"Apa-apaan kau ini, kenapa kau berani sekali menggoda atasanmu!" Bentak Edward yang mencoba untuk bersikap profesional.

"Sudahlah Tuan, Tuan tidak perlu bersikap seperti itu. Di dalam ruangan ini hanya ada kita berdua, jadi Tuan tidak perlu jual mahal seperti itu. Aku siap melayani Tuan, aku tahu jika saat ini Tuan sedang pusing 'kan. Aku akan membuat Tuan menjadi bersemangat setiap harinya, aku akan membantu Tuan untuk menangani perusahaan dan juga masalah-" Jasmine tidak melanjutkan ucapannya, tetapi ia langsung memegang sesuatu yang ia rasa sudah sangat mengeras.

"Enyah kau dari sini!" Teriak Edward yang mendorong Jasmine dengan kasar, sehingga wanita itu pun terjatuh ke atas lantai.

"Tuan, kenapa Tuan bersikap kasar seperti itu? Apa yang kurang dariku Tuan, aku masih muda, aku juga seksi dan cantik. Tentunya sangat jauh berbeda dengan istri Tuan yang sudah tua," hardik Jasmine.

Edward tetap ingin menepis akan hal itu, ia berusaha untuk melawan hasrat yang bergejolak di dalam dadanya saat ini. Sebagai pria normal, mana mungkin ia menolak wanita muda yang tentunya telah membuatnya bergairah. Akan tetapi saat ini ia masih teringat dengan Kamila, sang istri yang berada di rumah.

"Berdiri kau sekarang juga dan duduk kembali di sana!" titah Edward menunjuk kursi di seberangnya.

Dengan sangat kesal, Jasmine pun berdiri lalu mendudukkan dirinya sesuai perintah Edward.

"Dasar tua bangka sok jual mahal. Lihat saja nanti, aku yakin kau pasti akan tergoda denganku," batin Jasmine.

Sementara di saat itu Edward terlihat menjadi salah tingkah sendiri karena Jasmine terus saja memperhatikannya.

"Karena aku membutuhkan sekretaris yang bersedia bekerja dengan bayaran setengah dari yang biasa aku berikan, maka aku akan menerimamu, karena kau juga mengatakan bahwa kau membutuhkan pekerjaan ini. Tetapi jika sekali lagi kau melakukan hal seperti tadi, aku pasti akan segera memecat mu!" Edward menegaskan.

"Oke. Aku minta maaf Tuan jika tadi aku salah, tapi aku tidak main-main dengan ucapan ku tadi. Aku bukan hanya akan membuat Tuan merasa puas dengan pekerjaanku di perusahaan ini, tetapi aku juga akan membuat Tuan merasa puas di atas ranjang. Karena aku sudah merasa tertarik dengan Tuan Edward sejak pertama kali bertemu," bisik Jasmine dengan senyuman menggoda.

Benar-benar hal gila yang pertama kali dirasakan oleh Edward, digoda oleh seorang wanita muda yang mengaku tertarik dengannya. Bahkan ia tidak yakin jika imannya itu akan kuat jika setiap hari berhadapan dengan Jasmine.

****************

Sementara itu di kediaman Casey, terlihat saat ini ia sedang bertengkar dengan Devan suaminya, karena Devan tidak dapat memenuhi keinginannya yang ingin membeli tas limited edition di bulan ini.

Devan merasa sangat muak dengan sikap Casey yang selalu menuntutnya karena kehidupan mewahnya itu, tetapi tidak pernah mau menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Casey tidak pernah mengurus rumah dan hanya mementingkan karirnya yang saat ini telah menjadi seorang model. Bahkan anak mereka sendiri yang saat ini berusia 5 tahun sering dititipkan kepada orang tua Devan, yang membuat Devan pun selalu merasa sakit hati dan terkadang tidak kuat dengan kelakuan istrinya itu. Jika tidak mengingat anak mereka, sudah pasti Devan akan meminta berpisah dari Casey.

"Jika kau terus bersikap seperti ini, aku tidak akan pernah betah di rumah. Suami pulang kerja capek-capek bukannya menyiapkan makanan, kau malah langsung meminta uang untuk membeli barang kesukaanmu dan mengomel karena aku memberinya tidak sesuai keinginanmu. Bukankah kau sendiri bekerja, kau yang tidak mau berhenti bekerja karena uang itu bisa kau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu. Tapi kenapa kau tidak bisa membelinya sendiri dengan uangmu?" Ujar Devan mengungkit Casey.

"Heh Devan, aku bekerja untuk diriku sendiri, sedangkan kau bekerja untuk menghidupi istri dan anakmu. Jadi menurutku apa salahnya jika aku meminta uang denganmu," hardik Casey.

"Tapi tidak terus seperti itu Casey, setiap bulan kau meminta uang untuk membeli tas baru dengan harga ratusan juta. Apa kau pikir aku ini pencetak uang? Padahal aku sudah memberikanmu uang lebih dari cukup setiap bulannya, tapi selalu saja kurang. Jika seperti ini terus aku juga tidak akan betah hidup denganmu!" Devan menatap tajam, seakan emosinya saat ini telah mencapai ke ubun-ubun.

"Jadi apa mau mu sekarang? Kau ingin berpisah denganku, iya?" Tanya Casey. Ia yakin jika Devan tidak mungkin melakukan hal itu, karena menurutnya Devan terlalu bodoh dan sangat menyayanginya.

Karena tidak mau terus berdebat dengan istrinya itu, akhirnya Devan pun memilih pergi untuk menemui sahabatnya yang saat ini ada di sebuah klub malam.

****************

Saat ini Devan pun telah berada di sebuah klub bersama sahabatnya, ia menceritakan tentang keluh kesahnya sehabis bertengkar dengan sang istri di rumah.

"Haha..sudah aku katakan Dev, lebih baik kau itu mencari wanita lain saja daripada kau terus menerus sakit hati karena istrimu itu. Toh istrimu juga jarang melayanimu 'kan? Setiap hari pulang pergi sesuka hatinya karena jadwal pemotretan yang tidak menentu, belum lagi anakmu yang tidak terurus. Lebih baik kau cari saja wanita lain untuk menggantikan Casey. Kau itu masih muda Devan, jangan menyia-nyiakan waktumu hanya untuk seorang istri yang tidak berguna," Ucap Bryan, seorang duda yang belum memiliki anak.

Sahabat Devan yang sejak masa kuliah, ia terkenal sangat playboy sehingga itu juga yang menjadi salah satu alasannya berpisah dengan sang istri.

"Kau enak berbicara seperti itu karena kau adalah seorang playboy. Apa kau pikir mencari wanita lain itu mudah, apalagi untuk seorang pria yang sudah beristri sepertiku," ujar Devan.

"Itu gampang lah Dev. Kenapa kau bodoh sekali, kau tidak perlu mengaku pada wanita-wanita itu bahwa kau sudah mempunyai seorang istri. Lagipula menurutku, untuk kelas wanita nakal tidak akan ada yang memperdulikan kau mempunyai istri atau tidak, yang penting mereka bisa memuaskan mu dan kau juga membayar mereka mahal." Meskipun Bryan mencoba mempengaruhi sahabatnya itu ke jalan yang tidak benar, tetapi tujuannya baik agar Devan tidak terus menerus merasa sakit hati.

"Tapi aku tidak tertarik dengan wanita seperti itu," tolak Devan lalu ia pun menyeruput minuman yang tadi dipesannya sampai habis tak tersisa.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Karena Devan mengkonsumsi minuman yang rendah alkohol, sehingga ia pun tidak mabuk seperti Bryan yang di saat ini sudah mabuk berat bahkan tidak sadarkan diri.

"Dasar menyusahkan," umpat Devan kesal sembari mencampakkan tubuh sahabatnya itu ke dalam mobil, ia bermaksud akan mengantarnya pulang.

Kini Devan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di apartemen sahabatnya itu. Ia juga berniat akan menginap di sana karena masih sangat kesal dengan Casey jika harus pulang ke rumah.

Akan tetapi saat dalam perjalanan, Devan melihat 2 orang preman yang sedang mengganggu 2 orang wanita yang di saat itu sangat ketakutan. Sebagai seorang pria tentu saja Devan tidak akan tinggal diam, ia pun segera turun dari mobil dan berniat membantu 2 wanita cantik tersebut.

"Hentikan! Jangan beraninya dengan wanita. Lawan aku jika kau berani!" Tantang Devan.

Kedua preman itu pun langsung saja menghadap ke arahnya dan terjadilah perkelahian sengit di antara mereka. Meskipun terdapat beberapa luka memar pada wajah Devan, tetapi ia tetap menang karena jago bela diri, sehingga 2 preman itu pun kabur karena sudah tidak sanggup lagi untuk menghadapi Devan.

"Hei apa kau baik-baik saja?" Tanya seorang wanita cantik dengan suara lemah lembut, sehingga Devan pun menatap ke arahnya.

Devan sangat terkesima melihat wanita cantik yang saat ini ada di hadapannya sehingga sangat sulit untuk mengalihkan pandangannya itu.

"Ya ampun … wajahmu penuh dengan luka dan berdarah. Aku minta maaf ini semua karena kau menolongku," ucap wanita tersebut.

"Aku baik-baik saja. Jadi kau tidak perlu meminta maaf," ucap Devan yang tersadar dari lamunannya.

"Baik-baik saja bagaimana, wajahmu babak belur seperti ini. Ah bagaimana kalau sekarang aku akan mengantarmu ke rumah sakit," ucap wanita tersebut.

"Ke rumah sakit?" Devan tampak berpikir.

"Iya. Oh ya perkenalkan aku Thalia dan ini asistenku, Lusi. Terimakasih karena kau telah menolong kami," ucap Thalia sembari menjulurkan tangannya.

"Nama yang indah, sama seperti orangnya," batin Devan. Lalu ia pun menyambut hangat juluran tangan Thalia. "Aku Devan."

"Ya sudah Devan, kita ke rumah sakit ya sekarang," ajak Thalia.

"Tidak usah Thalia, ini hanya luka kecil. Nanti diberi obat juga akan sembuh," tolak Devan secara halus.

"Ya sudah, kalau begitu aku akan mengobati lukamu," ucap Thalia.

Lalu Lusi pun mengambilkan kotak P3K di dalam mobilnya dan Thalia segera saja membersihkan luka pada wajah Devan. Hingga di saat itu …

"Akh … ," rintih Devan karena merasa perih saat Thalia memberikan obat pada lukanya. Sehingga dengan refleks ia memegang tangan Thalia dan kini mereka berdua bertatapan.

Bersambung …

Terpopuler

Comments

Rosy

Rosy

lah..jangan2 jodoh thalia si Devan..kenapa harus laki2 beristri sih Thor...nggak ada yg masih singel gitu 🤭

2023-04-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!