Setibanya di kediaman orang tua Devan …
"Oma, aku takut Oma," ucap Daffa yang langsung saja menghamburkan pelukan ke tubuh sang nenek. Ia terlihat begitu ketakutan sehingga membuat Sonia pun merasa kebingungan.
"Ada apa Devan? Kenapa kamu membawa anak beserta Bi Tuti datang ke rumah Mama malam-malam seperti ini?" Tanya Sonia meminta penjelasan.
"Ceritanya panjang Ma, nanti aku cerita di dalam ya," kata Devan.
"Ya sudah sekarang kita masuk ya. Ayo Bi bawa barang-barangnya masuk," ajak Sonia.
Lalu mereka pun masuk ke dalam rumah dan Bi Tuti segera membawa Daffa menuju ke kamarnya sesuai perintah dari Sonia. Sedangkan Devan masih tampak di ruang keluarga bersama dengan ibunya itu.
Devan pun menceritakan apa yang baru saja terjadi sehingga membuat Casey mengamuk serta membuat Devan sudah tidak tahan lagi dan memutuskan untuk membawa anak beserta ART-nya pergi dari rumah.
"Aku minta maaf ya Ma kalau malam-malam seperti ini aku sudah membuat Mama khawatir. Tapi aku benar-benar sudah tidak kuat lagi Ma, jadi bolehkan untuk sementara waktu aku dan Daffa tinggal di rumah Mama. Kalau soal Bi Tuti, nanti biar aku pikirkan Ma. Secepatnya aku akan mengurus surat perceraian aku dan Casey. Keputusan aku sudah bulat, aku akan berpisah dengan Casey," ucap Devan dengan sangat yakin.
"Ya sudah kalau kamu memang sudah sangat yakin dengan keputusan itu, Mama akan mendukung kamu. Lagipula Casey itu benar-benar sudah keterlaluan, marah-marah tidak jelas seperti itu dan malah anak kalian yang menjadi sasarannya. Kamu juga, kok bisa sih kamu terang-terangan jalan dengan wanita lain. Kamu itu masih sah suaminya Casey, Devan. Mama tidak membenarkan kelakuan kamu itu. Ya meskipun Mama mendukung kamu berpisah dengan Casey, tetapi kamu harus menyelesaikan dulu masalah kamu dengannya," kata Sonia.
Sebagai orang tua ia tidak mungkin membiarkan anaknya itu mempertahankan rumah tangga yang tidak seharusnya dipertahankan, tetapi ia juga tidak mau jika anaknya berbuat kecurangan.
"Iya Ma, aku minta maaf. Tapi semuanya juga sudah terjadi 'kan. Sekarang hanya tinggal memikirkan ke depannya, aku ingin segera berpisah dengan wanita itu Ma," ucap Devan.
"Maaf Tuan, Nyonya. Den Daffa tidak bisa tidur, katanya menunggu tuan Devan," ucap bi Tuti yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka.
"Oh ya sudah Bi, saya akan segera ke kamar," kata Devan bergegas pergi.
"Bi Tuti, Bi Tuti ikut saya ke belakang ya. Di sana masih ada satu kamar kosong yang bisa Bibi tempati," ajak Sonia.
"Iya Nyonya, terimakasih banyak," ucap Bi Tuti lalu mengikuti Sonia.
***************
"Ternyata Kamila mempunyai anak gadis, sepertinya aku mempunyai ide baru yang akan membuat Kamila dan Edward semakin hancur," gumam Thalia sembari memainkan jarinya di samping pipi serta senyum smirk yang terlihat dari sudut bibirnya itu.
Thalia masih mengingat jelas bagaimana perlakuan anak kecil itu saat ia datang berkunjung ke kediaman ayah dan ibu tirinya. Mungkin di saat itu Thalia tampak mengalah, akan tetapi bukan berarti ia akan mengalah selamanya. Karena di saat ini pun Thalia sudah memikirkan cara untuk membalaskan dendamnya lewat adik tirinya itu.
"Lusi … !" Panggil Thalia, hingga Lusi yang di saat itu sedang memasak mie instan pun langsung saja menghampiri nona nya yang sedang berada di ruang televisi.
"Iya Nona, ada apa?" Tanya Lusi, yang kini sudah berada di hadapan Thalia.
"Duduk!" Titah Thalia, memberikan ruang di sampingnya untuk Lusi duduki.
Lalu Lusi pun duduk di sampingnya, "Ada apa Nona? Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting," tanya Lusi penasaran.
"Tentu saja ini sangat penting, aku ingin meminta bantuan mu. Bukankah waktu itu kamu bisa dengan mudah mencari seseorang untuk bekerja sama dengan kita? Kali ini aku membutuhkannya lagi, tetapi seorang pria," kata Thalia.
Lusi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa kebingungan. Akan tetapi, meskipun ia tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh nona nya itu, ia juga tak mau banyak bertanya. Sehingga ia pun langsung saja menuruti apa kata bosnya itu.
"Secepatnya saya akan mencarinya Nona. Dan saya pastikan pria tersebut pastinya akan sangat tampan, sesuai permintaan Nona," ucap Lusi.
"Oke, dan satu lagi dia harus benar-benar pria yang membutuhkan pekerjaan dan minimal juga pemain wanita lah, supaya rencana ku ini benar-benar berhasil," titah Thalia.
"Baik Nona. Saya pastikan pria ini adalah pemain, sama dengan Jasmine," kata Lusi dengan yakin.
Karena Lusi memang tidak pernah mengecewakan Thalia. Sehingga ia pun selalu menyerahkan tugas tersebut kepada asistennya itu. Tak heran jika Thalia juga begitu menyayangi Lusi dan memanjakannya seperti adik sendiri, karena memang Thalia tidak mempunyai keluarga lagi. Neneknya sudah meninggal dunia, sedangkan sepupunya Axel sudah lama berada di luar negeri.
***************
"Tuan Edward aku lihat Tuan seperti sedang ada masalah? Ada apa Tuan?" Tanya Jasmine yang menghampiri kekasih tuanya itu.
"Ya kau benar. Aku memang sedang ada masalah, tapi untuk masalahku yang satu ini aku belum bisa menceritakannya padamu. Oh ya soal apartemen yang kau minta sudah aku belikan," kata Edward.
"Oh ya? Secepat itu Tuan mencarikan aku apartemen," kata Jasmine tak mempercayainya.
"Tentu saja. Aku sudah sangat jenuh berada di rumah dan aku ingin setiap aku membutuhkanmu, kita selalu ada tempat untuk bermadu kasih sayang," kata Edward sembari menarik tangan Jasmine, hingga wanita itu pun sudah berada di pangkuannya.
Edward juga mengenduskan-enduskan hidungnya itu ke leher jenjang milik Jasmine, yang selalu membuatnya dimabuk kepayang.
"Tuan, jangan sekarang. Lebih baik setelah aku pindah ke apartemen itu baru kita akan melakukannya di sana dengan leluasa," kata Jasmine dengan tatapan nakal.
"Tapi aku merindukanmu, jika di sini hanya sedikit saja boleh ya?" Pinta Edward yang tidak tahan jika terus berada di dekat Jasmine, yang sudah membuatnya itu tergila-gila. Bahkan saat ini juniornya sudah tampak mengeras minta untuk segera dimanjakan.
"Sedikit saja ya." Jasmine memperbolehkan.
Edward pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung saja menyambar dan ******* benda kenyal milik Jasmine serta meremas gundukan yang selalu membuatnya tergoda meski dari luar saja. Jasmine pun tak tinggal diam, ia memberikan balasan yang setimpal untuk lelaki tua itu hingga membuat keduanya semakin bergairah. Hingga …
Tok … tok … tok …
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat keduanya menyudahi aktivitas tersebut, dan kini berlagak seperti bos dan sekretaris yang sedang membahas soal pekerjaan.
"Masuk!" Teriak Edward.
Lalu seseorang pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut, yang ternyata adalah seorang cleaning service.
"Maaf Tuan, di bawah ada seseorang yang mencari Tuan Edward. Beliau mengatakan ingin membahas kerjasama," kata CS yang membuat Edward pun mengernyitkan dahinya merasa kebingungan.
Ia tak merasa mempunyai janji dengan seseorang untuk membahas kerjasama, siapakah dia? membuat Edward bertanya-tanya.
"Ya sudah, terimakasih. Katakan saja kepadanya, nanti saya akan segera ke sana," ucap Edward.
"Baik Tuan," jawab CS, lalu segera keluar dari ruangan tersebut.
"Apa kau mendapatkan informasi ada perusahaan yang ingin bekerja sama denganku?" Tanya Edward kepada Jasmine.
"Tidak Tuan, aku juga baru mendengarnya," jawab Jasmine apa adanya.
"Ya sudah, sekarang kita ke bawah," ajak Edward.
Kini Edward dan sekretarisnya itu pun segera saja melangkahkan kaki untuk menemui siapa yang dimaksud oleh CS tadi.
Setibanya di sana dan melihat orang yang menunggunya itu, Edward benar-benar kebingungan karena sama sekali tak mengenalinya. Berbeda dengan Jasmine yang sangat mengenal siapa orang tersebut. Akan tetapi ia hanya berpura-pura tidak tahu saja. Karena ia yakin, ini semua pasti adalah bagian dari rencana bos-nya juga.
Bersambung …
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Rosy
pasti laki2 ini yg akan di buat alat untuk membalas putri Kamila yg sombong itu..
2023-04-13
0