"Oohh jadi gini yaa ternyata aslinya." umpat Fiona berdiri di samping Abian, membuat keduanya menoleh. "ternyata kamu yang tidak puas dengan satu laki-laki. Hhhh dasar munafik." hardik Fiona.
"Apa maksud kamu?" tanya Abian berdiri menatap Fiona. Dan Fiona menoleh padanya.
"Kamu!" kata Fiona sedikit terkejut. "Bukannya kamu karyawannya Mas Yudha? tanya Fiona.
"Karyawan?" tanya Ajeng bingung. Sedangkan Abian memilih diam, tidak membuka siapa dirinya yang sebenarnya.
"Asal kamu tau! Perempuan ini sangat licik. Satu lagi! Dia suka gonta ganti pasangan." ujar Fiona.
"Cukup Fiona." bentak Ajeng. "Sebenarnya apa tujuan kamu datang kesini?" tanya Ajeng dengan penuh emosi.
"Aku datang kesini untuk memastikan kamu, dan ternyata benar, kamu bersama lelaki lain." kekehnya sambil tersenyum kecut.
"Dan kamu?" Fiona menoleh pada Abian. "kamu karyawannya Mas Yudha kan? Tolong untuk jauhi perempuan ini." tekan Fiona.
"Siapa kamu ngatur-ngatur saya?" tanya Abian.
"Kamu gak tau siapa aku? Bukannya kemarin kita sudah bertemu? Apa kurang jelas? Baiklah aku perkenalkan diriku sekarang juga! Namaku Fiona Deliswara istri atasan kamu Yudha Mahardika." Ucapnya penuh percaya diri.
"Fiona, dia ini ... " Ajeng tak melanjutkan kata-katanya lagi karena mendapat isyarat dari Abian yang menggelengkan kepalanya untuk tidak kasih tau siapa dirinya yang sebenarnya.
"Apa? Kamu mau membela lelaki ini? Ohh pantes, kalian memang serasi." kekeh Fiona menatap remeh mereka berdua.
"Dengar ya? Kalau kamu datang kesini hanya untuk memperkeruh suasana sebaiknya kamu segera pergi dari sini." bentak Abian.
"Kamu berani ngusir istri atasan kamu?" teriak Fiona. Membuat para pengunjung disana menonton perdebatan mereka.
"Ohh tentu, kenapa saya harus takut?" tanya Abian menantang.
Satu tangan Fiona ia layangkan pada Abian, namun Abian berhasil mencekal tangan itu. Dan Ajeng terkesiap dengan ulah Fiona dengan menggelengkan kepalanya.
Lalu Abian menurunkan tangan Fiona dengan kasar.
"Akan aku adukan kamu sama Mas Yudha, lihat saja nanti, kamu akan memohon ampun karena sudah sangat keterlaluan sama aku." tekan Fiona menatap tajam pada Abian.
"Fiona." bentak Ajeng sambil menggelengkan kepalanya. Namun Abian mendekat dan tangannya menggenggam tangan kiri Ajeng. seketika Ajeng menoleh pada tangan itu lalu menatap Abian.
"Kalian lihat dua manusia ini?" tanya Fiona pada para pengunjung yang menonton mereka bertiga.
"Mereka sangat cocok bukan? Yang satu licik dan yang satu pembangkang." kekehnya dengan tersenyum menyeringai.
"Saya gak nyangka, bos Yudha mau memperistri anda, yang sungguh tidak punya sopan santun." celetuk Abian. Sengaja ia memanggil Yudha dengan sebutan bos.
"Apa kamu bilang?" tanya Fiona menatap tajam Abian.
"Apa harus saya ulangi?" Tanya Abian terkekeh.
"Jangan kurang ajar kamu!" sontak Fiona mendorong bahu Abian.
"Apa? Berani kamu sama saya?"
"Kamu!" Fiona kembali melayangkan pukulan namun kedua temannya mendekat dan menahan Fiona.
"Fiona udah, malu di lihat orang-orang." ujar Clara.
"Biar saja, biar dia tau, dia berhadapan dengan siapa." timpal Fiona. "aku sudah tak sabar melihat kamu menangis didepanku, karena kamu pasti akan dipecat."
"Fiona, udah ayo! Kita pergi dari sini." Clara dan Siska pun membawa Fiona pergi. Dan mereka bertiga pun keluar dari resto itu
Abian menarik napas berat lalu melihat tangannya yang masih menggenggam tangan Ajeng.
"Maaf." ujar Abian melepaskan tangannya.
"Iya gak papa." jawab Ajeng.
Kemudian mereka berdua keluar dari resto itu, dan langsung naik kedalam mobil. Lalu melaju meninggalkan tempat itu.
"Kamu kanapa gak mau ngaku siapa kamu sebenarnya?" tanya Ajeng saat berada didalam mobil.
"Biarlah, biar dia tau sendiri nanti kebenarannya." jawab Abian.
"Sebaiknya kamu jauh-jauh dari dia. Gak baik buat kesehatan mental kamu." ujar Abian membuat Ajeng menoleh menautkan kedua alisnya.
"Bukan apa-apa, aku hanya kasihan sama kamu, itu saja." kata Abian, padahal ia ingin menunjukkan perhatiannya pada Ajeng, namun masih sungkan.
"Iya makasih." jawab Ajeng menunduk.
"Aku antar kamu kemana ini? Gak mungkin kan masih tinggal bareng sama Yudha?" tanya Abian.
"Aku sekarang tinggal dirumah almarhum kedua orangtuaku." jawab Ajeng, kemudian ia memberitahukan alamatnya.
Setelah memakan waktu hampir satu jam. Mobil pun tiba di kediaman Ajeng. Lalu mereka turun. Dan disambut oleh Qeera.
"Bunda." pekiknya, dengan sedikit berlari dan langsung memeluk sang bunda.
"Bunda lama banget." keluhnya.
"Iya sayang, maaf ya?" Ajeng berjongkok mengecup pucuk kepala sang anak.
Abian terpana melihat ibu dan anak itu. "Kenapa aku bahagia sekali lihat mereka berdua." gumamnya dalam hati.
"Bunda? Om ini siapa?" tanya Qeera menatap Abian yang tersenyum padanya.
"Kenalkan, ini namanya Om Abian. Yang mengantar bunda pulang." jelas Ajeng.
"Memangnya mobil bunda kemana?" tanya Qeera.
Seketika Ajeng terdiam lalu memejamkan matanya.
"Bunda, bunda kenapa?"
"Gak papa Nak. Bunda hanya sedikit pusing saja." jawab Ajeng berbohong.
"Kalau pusing, ayo bunda istirahat saja di dalam." kata Qeera lalu menoleh pada Abian. "Om Abian, terimakasih ya sudah mau antar bunda."
"Sama-sama cantik." jawab Abian tersenyum. "Kalau begitu Om pulang ya, sudah malam." katanya.
"Gak mau mampir dulu Om?" tanya Qeera. Dan Ajeng menatap wajah putrinya.
"Kapan-kapan saja ya?" Abian mengusap pucuk kepala anak itu.
"Ajeng aku pamit." katanya tersenyum sambil mengangguk sopan.
"Iya hati-hati. Maaf merepotkan."
Abian kembali masuk kedalam mobil dan langsung meninggalkan tempat itu.
Ibu dan anak itu pun masuk ke dalam rumah.
"Bunda, bunda belum jawab tadi?" keluh Qeera.
"Ehh yang mana Nak?"
"Soal mobil, kok bunda gak bawa mobil sendiri sih?" tanya Qeera penasaran.
"Mobilnya sudah diambil sama yang punya. Tapi nanti bunda bakalan beli kok kalau uangnya sudah terkumpul." jawab Ajeng lembut.
"Memangnya bukan punya kita ya?"
"Bukan, Sayang, sekarang Qeera tidur ya? Udah makan kan?" tanya Ajeng dan Qeera mengangguk.
Qeera pun di tuntun ke dalam kamar, dan merebahkannya di atas ranjang. Dengan biasa Ajeng membacakan dongeng terlebih dahulu sampai putrinya tertidur.
***
"Kamu dari mana aja malam-malam begini?" tanya Yudha saat melihat Fiona baru saja datang.
"Tau ah, kesel aku." umpat Fiona.
"Kesel kenapa? Habis ngapain sih?" tanya Yudha menautkan kedua alisnya.
"Pokoknya kamu harus pecat karyawan itu." cetus Fiona.
"Karyawan yang mana?"
"Duuhh aku gak tau lagi, nama dia siapa." gerutu Fiona.
"Pokoknya besok aku mau ikut ke kantor, aku mau bawa dia ke hadapan kamu, dan kamu langsung pecat dia." omelnya penuh emosi.
"Ada masalah apa sih?"
"Ceritanya panjang, udah ah mas aku males bahas dia. Aku mau tidur." kata Fiona, lantas ia beranjak kedalam kamar.
"Kamu selalu memikirkan diri kamu sendiri Fiona, tanpa pernah pedulikan aku. Padahal aku selalu menuruti keinginan kamu." keluh Yudha.
"Bahkan, aku harus menghadapi sidang putusan besok, tapi kamu seperti tak mau tau."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
mkan tu pelakor
2023-10-09
0
STARLA my journey
makan tuch pelakor
2023-04-19
1