Yudha memegang kedua bahu putrinya dan menatapnya tersenyum.
"Berarti benar ya ayah, tante Fiona bunda aku juga, tapi teman-temanku cuma punya bunda satu, tapi kok aku dua?" Tanya Qeera pelan.
Meski Qeera berusia lima tahun, tapi anak itu sudah sangat pintar. Mengerti akan situasi dan kondisi.
"Sayang, sini Nak." Titah Yudha agar Qeera mendekat dan duduk dipangkuannya. karena ia dari tadi duduk di sofa menunggu ayahnya bekerja.
"Tante Fiona benar, dia bunda kamu juga." Ucap Yudha tak mau berbohong.
"Lalu kalau teman-teman bilang kalau aku punya bunda dua, gimana ayah? Aku gak mau kena bully mereka." Lirihnya.
"Tidak sayang, itu tidak akan terjadi." Jawabnya sambil mengusap kepalanya.
"Ayah, aku ingin ikut ayah karena mau bilang! Ayah gak boleh bentak-bentak bunda lagi. Aku sering lihat bunda menangis kalau lagi sendirian." Kata Qeera menundukkan kepalanya.
Yudha memejamkan mata. Memang dirinya sudah keterlaluan pada Ajeng. Tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi.
"Ayah, aku mau pulang, mau sama bunda aja."
"Iya sayang, sebentar lagi ya."
"Sekarang ayah."
"Yasudah, ayah beres-beres ini dulu."
Setelah semua beres. Ayah dan anak itu keluar dari ruangan.
"Yudh, kamu ke kantor bawa anak?" Tanya sahabatnya bernama Abian.
"Iya, maap. Karena gak bisa nolak minta ikut kesini. Gak papa kan?"
"Oke, asal tidak mengganggu pekerjaan kamu dikantor. Ingat! Kamu harus buat proposal untuk rapat beberapa hari lagi. Aku ingin tender kita yang menang."
"Kamu tenang saja. Aku pasti akan buat yang terbaik untuk perusahaan ini."
Ya, Yudha memang seorang CEO diperusahaan itu, tapi perusahaan itu milik Abian sahabatnya. Abian mempercayakannya karena dianggap Yudha pasti bisa memimpinnya. Tapi meski jabatannya tinggi. Tetap masih dibawah kendali Abian.
Mereka sahabatan sejak kecil. Maka Abian sangat mempercayakan perusahaannya pada Yudha.
Sebelum pulang, Yudha membawa Qeera ke restoran dulu untuk makan. Lalu setelah usai. Ia bergegas kembali menaiki mobil lalu melajukan mobilnya lagi untuk pulang.
Tepat jam delapan malam. Qeera tiba dirumah. Kemudian turun dan langsung masuk kedalam rumah.
Ajeng yang menunggu dari tadi pun ia segera bangkit dari duduknya dan tersenyum melihat kedatangan putrinya.
"Bunda." Qeera berlari lalu memeluk ibundanya.
Sementara Yudha masih berdiri ditengah pintu menatap ibu dan anak itu.
"Sekali lagi saya tekankan, untuk jangan bawa Qeera ke kantor." Titah Ajeng menatap Yudha.
"Qeera yang minta, lagian aku juga ayahnya, jadi berhak bawa dia kemanapun." Yudha mendekat.
"Ya, tapi gara-gara kamu, aku tidak jadi pergi dari sini."
"Kalau mau pergi silakan. Qeera sudah datang kan?" Tanya Fiona dari belakang Ajeng kemudian mendekat pada Yudha lalu memeluknya dengan dibalas kecupan dikeningnya.
"Ohh oke, aku juga gak tahan berlama-lama disini." Tekan Ajeng.
"Di luar sedang hujan deras, pikirkan sekali lagi Jeng, kasihan Qeera nanti kedinginan." Kata Yudha.
"Mas, biarkan aja kenapa sih? Lagian tadi udah janji mau kasih pelajaran sama dia." Ujar Fiona yang sudah tidak lagi menyebut kata mbak.
Sementara Ajeng melangkah bersama putrinya.
Yudha melepaskan tangan Fiona yang berada dipinggangnya dan mendekat pada istri dan anaknya.
"Tunggu." Ucap Yudha menghentikan langkahnya.
"Aku ingin kita bicara tapi hanya empat mata." Kata Yudha.
"Maap, gak ada waktu." Timpal Ajeng.
"Please lima belas menit saja."
"Baiklah." Akhirnya Ajeng menurutinya, dan menyuruh pengasuh untuk membawa putrinya ke kamarnya.
Sementara itu Yudha mengajak Ajeng berbicara di dalam ruang kerjanya.
"Ahh sial, pakai dikunci segala lagi pintunya." Omel Fiona dibalik pintu, ia sengaja ingin menguping pembicaraan mereka. Namun pintu dikunci dari dalam.
"Langsung saja, apa yang ingin kamu bicarakan, aku tidak punya banyak waktu." Ujar Ajeng berdiri menatap kearah luar dari balik jendela. Sementara Yudha berdiri dibelakangnya.
"Aku ... mau mengubah keputusanku. Aku ingin kita... tetap bersama." Yudha mendekat dan berdiri disampingnya.
"Sayangnya aku sudah tidak mau lagi hidup bersama lelaki sepertimu." Ujar Ajeng dengan tatapan kosong.
"Tapi aku masih mencintai kamu. Tolong jangan pergi aku mohon."
"Cinta katamu? Lalu kenapa kamu menikahi perempuan lain." Tekan Ajeng.
"Maaf, aku memang salah." Jawab Yudha sambil menoleh lalu menatapnya dari samping. Terlihat tetesan bening itu akhirnya terjatuh mengenai pipi sang istri.
Yudha merasa bersalah lalu meraih bahunya dan ia peluk dengan erat.
"Lepasin." Ucap Ajeng dengan terisak, berusaha melepas tangan kekar itu, sayangnya tangan itu tetap tak mau melepasnya bahkan kian semakin erat.
"Aku bilang lepasin." Bentak Ajeng dengan mendorong dadanya. Tapi sama sekali dekapan itu tak dilepasnya
"Kamu ingin lihat aku menangis? setiap melihat suaminya bersama perempuan lain?"
"Tolong, jangan seperti ini Ajeng, aku mohon." Katanya dengan lirih. "Aku juga butuh kamu."
Yudha semakin memaksanya. Tapi Ajeng sekuat tenaga melepaskan dekapan itu hingga akhirnya berhasil dan ...
Plakk
Ajeng melayangkan tamparan pada suaminya.
Yudha mengusap pipinya dan menatap perempuan yang berdiri dihadapannya.
"Berani kamu menampar suami kamu sendiri hah?" Bentak Yudha.
"Itu memang pantas kamu dapatkan."
"Aku sudah berbaik hati untuk mengajak kamu tetap tinggal disini. Tapi apa?" Bentaknya lagi.
"Kenapa kamu yang sewot?" Ucap Ajeng yang tak kalah tinggi suaranya. "Baru segitu aja kamu sudah marah. Lihat aku!" Katanya dengan menatapnya tajam.
"Harusnya aku yang begitu marah sama kamu. Berkali-kali kamu menyakitiku. Pertama saat aku memergoki kalian berduaan di dalam kamar, sungguh hatiku sangat sakit melihatnya. Kedua saat kamu menampar aku dan lebih membela dia daripada aku. Ketiga saat Qeera menangis sendirian membayangkan harus punya ibu dua. Disitu aku sangat merasakan sakit yang teramat dalam. Lalu! dimana perasaan kamu. Kamu tidak memikirkan semua itu sama sekali." Teriak Ajeng dengan napas menggebu kemudian terisak dihadapan lelaki yang mematung dari tadi.
"Kamu sama sekali tidak memikirkan perasaanku, tidak memikirkan perasaan anakmu sendiri. Kamu hanya memikirkan napsu dan egomu." Ucap Ajeng dengan terisak, kemudian duduk dilantai.
Ajeng kemudian bangkit. Dan menatap suaminya.
"Aku akan pergi sekarang juga. Dan jangan pernah halangi aku lagi." Ujarnya kemudian berjalan menuju pintu dan keluar dari sana tanpa penolakan lagi dari Yudha, karena dari tadi diam membisu.
Fiona mengintip dari kejauhan. Ia tersenyum melihat Ajeng menyeka sudut matanya. Kemudian dia masuk dan menghampiri Yudha.
"Udah lah Mas, jangan pedulikan dia lagi. Untuk apa kamu mempertahankannya. Ada aku disini." Kata Fiona dengan merangkulnya tanpa dibalas oleh Yudha.
Sementara itu Ajeng bertekad pergi dari rumah itu malam ini juga. Ia akan mengunjungi rumah kedua orangtuanya yang sudah lama ia tak berkunjung kesana.
"Bunda kita mau kemana?" Tanya Qeera.
"Kita untuk sementara waktu akan tinggal dulu dirumah nenek." Jawabnya.
"Ayo sayang." Ajeng meraih tangan Qeera.
"Ini sudah malam bunda. Besok saja." Pintanya.
"Tidak apa nak. Sekarang saja. Ayo." Ajak Ajeng lalu menuntunnya dan menuruni tangga.
"Bu." Sapa pengasuh ketika mereka tiba dilantai bawah.
"Maaf sus, kali ini mungkin kamu tidak bisa lagi untuk menjaga Qeera, karena saya akan pergi dari rumah ini." Kata Ajeng.
"Tapi bu. Saya udah sayang banget sama anak ibu."
"Iya dan saya ucapkan terima kasih banyak karena selama ini kamu sudah menjaga anak saya dengan baik, tapi ... karena, maap saya tidak bisa kasih kamu gaji karena kamu ngerti sendiri kan?"
"Iya bu, tapi gak papa kok bu gak di gaji juga asal saya diberi makan. Karena saya tidak mau pisah dengan anak ibu."
"Kamu baik sekali Sus, baiklah jika itu mau mu, tapi gak mungkin saya gak gaji kamu. Dan saya tetap akan membayarmu tapi mungkin gak sebesar gaji saat dirumah ini." Ujar Ajeng sambil menepuk pundaknya.
"Terimak kasih bu." jawab pengasuh menunduk sopan. " biar saya saja yang bawa."
Kemudian mereka bertiga berjalan ke depan lalu pintu pun dibuka kemudian keluar dan langsung menaiki mobil. Qeera berada di samping ibundanya. Sementara Pengasuh berada dibelakang mereka.
Yudha dan Fiona melihat dari balkon atas dan menatap kepergian mereka.
Ada rasa sedih dihati Yudha melihat mereka kepergian mereka yang selama ini menemaninya selama enam tahun, rumahtangga yang penuh canda dan bahagia tapi harus berantakan karena ulahnya sendiri.
Tak mau munafik, karena ia memang mencintai Ajeng dan juga Fiona, dan berharap bisa memiliki keduanya. Namun ternyata salah ia harus kehilangan salah satunya apalagi putrinya pun harus pergi dan tak lagi bersamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Tri Utari Agustina
Karma berlaku Yudha menyiak istri mu nanti terjadi padamu
2024-12-08
0
Intan IbunyaAzam
it nmanya serakah
2023-10-09
0
guntur 1609
serakah. laki2 selangjangan ja yg di fikir
2023-08-14
0