6. Pergi

Yudha memegang kedua bahu putrinya dan menatapnya tersenyum.

"Berarti benar ya ayah, tante Fiona bunda aku juga, tapi teman-temanku cuma punya bunda satu, tapi kok aku dua?" Tanya Qeera pelan.

Meski Qeera berusia lima tahun, tapi anak itu sudah sangat pintar. Mengerti akan situasi dan kondisi.

"Sayang, sini Nak." Titah Yudha agar Qeera mendekat dan duduk dipangkuannya. karena ia dari tadi duduk di sofa menunggu ayahnya bekerja.

"Tante Fiona benar, dia bunda kamu juga." Ucap Yudha tak mau berbohong.

"Lalu kalau teman-teman bilang kalau aku punya bunda dua, gimana ayah? Aku gak mau kena bully mereka." Lirihnya.

"Tidak sayang, itu tidak akan terjadi." Jawabnya sambil mengusap kepalanya.

"Ayah, aku ingin ikut ayah karena mau bilang! Ayah gak boleh bentak-bentak bunda lagi. Aku sering lihat bunda menangis kalau lagi sendirian." Kata Qeera menundukkan kepalanya.

Yudha memejamkan mata. Memang dirinya sudah keterlaluan pada Ajeng. Tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi.

"Ayah, aku mau pulang, mau sama bunda aja."

"Iya sayang, sebentar lagi ya."

"Sekarang ayah."

"Yasudah, ayah beres-beres ini dulu."

Setelah semua beres. Ayah dan anak itu keluar dari ruangan.

"Yudh, kamu ke kantor bawa anak?" Tanya sahabatnya bernama Abian.

"Iya, maap. Karena gak bisa nolak minta ikut kesini. Gak papa kan?"

"Oke, asal tidak mengganggu pekerjaan kamu dikantor. Ingat! Kamu harus buat proposal untuk rapat beberapa hari lagi. Aku ingin tender kita yang menang."

"Kamu tenang saja. Aku pasti akan buat yang terbaik untuk perusahaan ini."

Ya, Yudha memang seorang CEO diperusahaan itu, tapi perusahaan itu milik Abian sahabatnya. Abian mempercayakannya karena dianggap Yudha pasti bisa memimpinnya. Tapi meski jabatannya tinggi. Tetap masih dibawah kendali Abian.

Mereka sahabatan sejak kecil. Maka Abian sangat mempercayakan perusahaannya pada Yudha.

Sebelum pulang, Yudha membawa Qeera ke restoran dulu untuk makan. Lalu setelah usai. Ia bergegas kembali menaiki mobil lalu melajukan mobilnya lagi untuk pulang.

Tepat jam delapan malam. Qeera tiba dirumah. Kemudian turun dan langsung masuk kedalam rumah.

Ajeng yang menunggu dari tadi pun ia segera bangkit dari duduknya dan tersenyum melihat kedatangan putrinya.

"Bunda." Qeera berlari lalu memeluk ibundanya.

Sementara Yudha masih berdiri ditengah pintu menatap ibu dan anak itu.

"Sekali lagi saya tekankan, untuk jangan bawa Qeera ke kantor." Titah Ajeng menatap Yudha.

"Qeera yang minta, lagian aku juga ayahnya, jadi berhak bawa dia kemanapun." Yudha mendekat.

"Ya, tapi gara-gara kamu, aku tidak jadi pergi dari sini."

"Kalau mau pergi silakan. Qeera sudah datang kan?" Tanya Fiona dari belakang Ajeng kemudian mendekat pada Yudha lalu memeluknya dengan dibalas kecupan dikeningnya.

"Ohh oke, aku juga gak tahan berlama-lama disini." Tekan Ajeng.

"Di luar sedang hujan deras, pikirkan sekali lagi Jeng, kasihan Qeera nanti kedinginan." Kata Yudha.

"Mas, biarkan aja kenapa sih? Lagian tadi udah janji mau kasih pelajaran sama dia." Ujar Fiona yang sudah tidak lagi menyebut kata mbak.

Sementara Ajeng melangkah bersama putrinya.

Yudha melepaskan tangan Fiona yang berada dipinggangnya dan mendekat pada istri dan anaknya.

"Tunggu." Ucap Yudha menghentikan langkahnya.

"Aku ingin kita bicara tapi hanya empat mata." Kata Yudha.

"Maap, gak ada waktu." Timpal Ajeng.

"Please lima belas menit saja."

"Baiklah." Akhirnya Ajeng menurutinya, dan menyuruh pengasuh untuk membawa putrinya ke kamarnya.

Sementara itu Yudha mengajak Ajeng berbicara di dalam ruang kerjanya.

"Ahh sial, pakai dikunci segala lagi pintunya." Omel Fiona dibalik pintu, ia sengaja ingin menguping pembicaraan mereka. Namun pintu dikunci dari dalam.

"Langsung saja, apa yang ingin kamu bicarakan, aku tidak punya banyak waktu." Ujar Ajeng berdiri menatap kearah luar dari balik jendela. Sementara Yudha berdiri dibelakangnya.

"Aku ... mau mengubah keputusanku. Aku ingin kita... tetap bersama." Yudha mendekat dan berdiri disampingnya.

"Sayangnya aku sudah tidak mau lagi hidup bersama lelaki sepertimu." Ujar Ajeng dengan tatapan kosong.

"Tapi aku masih mencintai kamu. Tolong jangan pergi aku mohon."

"Cinta katamu? Lalu kenapa kamu menikahi perempuan lain." Tekan Ajeng.

"Maaf, aku memang salah." Jawab Yudha sambil menoleh lalu menatapnya dari samping. Terlihat tetesan bening itu akhirnya terjatuh mengenai pipi sang istri.

Yudha merasa bersalah lalu meraih bahunya dan ia peluk dengan erat.

"Lepasin." Ucap Ajeng dengan terisak, berusaha melepas tangan kekar itu, sayangnya tangan itu tetap tak mau melepasnya bahkan kian semakin erat.

"Aku bilang lepasin." Bentak Ajeng dengan mendorong dadanya. Tapi sama sekali dekapan itu tak dilepasnya

"Kamu ingin lihat aku menangis? setiap melihat suaminya bersama perempuan lain?"

"Tolong, jangan seperti ini Ajeng, aku mohon." Katanya dengan lirih. "Aku juga butuh kamu."

Yudha semakin memaksanya. Tapi Ajeng sekuat tenaga melepaskan dekapan itu hingga akhirnya berhasil dan ...

Plakk

Ajeng melayangkan tamparan pada suaminya.

Yudha mengusap pipinya dan menatap perempuan yang berdiri dihadapannya.

"Berani kamu menampar suami kamu sendiri hah?" Bentak Yudha.

"Itu memang pantas kamu dapatkan."

"Aku sudah berbaik hati untuk mengajak kamu tetap tinggal disini. Tapi apa?" Bentaknya lagi.

"Kenapa kamu yang sewot?" Ucap Ajeng yang  tak kalah tinggi suaranya. "Baru segitu aja kamu sudah marah. Lihat aku!" Katanya dengan menatapnya tajam.

"Harusnya aku yang begitu marah sama kamu. Berkali-kali kamu menyakitiku. Pertama saat aku memergoki kalian berduaan di dalam kamar, sungguh hatiku sangat sakit melihatnya. Kedua saat kamu menampar aku dan lebih membela dia daripada aku. Ketiga saat Qeera menangis sendirian membayangkan harus punya ibu dua. Disitu aku sangat merasakan sakit yang teramat dalam. Lalu! dimana perasaan kamu. Kamu tidak memikirkan semua itu sama sekali." Teriak Ajeng dengan napas menggebu kemudian terisak dihadapan lelaki yang mematung dari tadi.

"Kamu sama sekali tidak memikirkan perasaanku, tidak memikirkan perasaan anakmu sendiri. Kamu hanya memikirkan napsu dan egomu." Ucap Ajeng dengan terisak, kemudian duduk dilantai.

Ajeng kemudian bangkit. Dan menatap suaminya.

"Aku akan pergi sekarang juga. Dan jangan pernah halangi aku lagi." Ujarnya kemudian berjalan menuju pintu dan keluar dari sana tanpa penolakan lagi dari Yudha, karena dari tadi diam membisu.

Fiona mengintip dari kejauhan. Ia tersenyum melihat Ajeng menyeka sudut matanya. Kemudian dia masuk dan menghampiri Yudha.

"Udah lah Mas, jangan pedulikan dia lagi. Untuk apa kamu mempertahankannya. Ada aku disini." Kata Fiona dengan merangkulnya tanpa dibalas oleh Yudha.

Sementara itu Ajeng bertekad pergi dari rumah itu malam ini juga. Ia akan mengunjungi rumah kedua orangtuanya yang sudah lama ia tak berkunjung kesana.

"Bunda kita mau kemana?" Tanya Qeera.

"Kita untuk sementara waktu akan tinggal dulu dirumah nenek." Jawabnya.

"Ayo sayang." Ajeng meraih tangan Qeera.

"Ini sudah malam bunda. Besok saja." Pintanya.

"Tidak apa nak. Sekarang saja. Ayo." Ajak Ajeng lalu menuntunnya dan menuruni tangga.

"Bu." Sapa pengasuh ketika mereka tiba dilantai bawah.

"Maaf sus, kali ini mungkin kamu tidak bisa lagi untuk menjaga Qeera, karena saya akan pergi dari rumah ini." Kata Ajeng.

"Tapi bu. Saya udah sayang banget sama anak ibu."

"Iya dan saya ucapkan terima kasih banyak karena selama ini kamu sudah menjaga anak saya dengan baik, tapi ... karena, maap saya tidak bisa kasih kamu gaji karena kamu ngerti sendiri kan?"

"Iya bu, tapi gak papa kok bu gak di gaji juga asal saya diberi makan. Karena saya tidak mau pisah dengan anak ibu."

"Kamu baik sekali Sus, baiklah jika itu mau mu, tapi gak mungkin saya gak gaji kamu. Dan saya tetap akan membayarmu tapi mungkin gak sebesar gaji saat dirumah ini." Ujar Ajeng sambil menepuk pundaknya.

"Terimak kasih bu." jawab pengasuh menunduk sopan. " biar saya saja yang bawa."

Kemudian mereka bertiga berjalan ke depan lalu pintu pun dibuka kemudian keluar dan langsung menaiki mobil. Qeera berada di samping ibundanya. Sementara Pengasuh berada dibelakang mereka.

Yudha dan Fiona melihat dari balkon atas dan menatap kepergian mereka.

Ada rasa sedih dihati Yudha melihat mereka kepergian mereka yang selama ini menemaninya selama enam tahun, rumahtangga yang penuh canda dan bahagia tapi harus berantakan karena ulahnya sendiri.

Tak mau munafik, karena ia memang mencintai Ajeng dan juga Fiona, dan berharap bisa memiliki keduanya. Namun ternyata salah ia harus kehilangan salah satunya apalagi putrinya pun harus pergi dan tak lagi bersamanya.

Terpopuler

Comments

Tri Utari Agustina

Tri Utari Agustina

Karma berlaku Yudha menyiak istri mu nanti terjadi padamu

2024-12-08

0

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

it nmanya serakah

2023-10-09

0

guntur 1609

guntur 1609

serakah. laki2 selangjangan ja yg di fikir

2023-08-14

0

lihat semua
Episodes
1 1. Minta Cerai
2 2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3 3. Ajeng dan Fiona
4 4. Kemarahan Ajeng
5 5. Perdebatan
6 6. Pergi
7 7. Foto Mesra
8 8. Bertemu Seseorang
9 9. Ingin Rujuk
10 10. Kebencian Qeera
11 11. Masih Cemburu.
12 12. Urus Surat Cerai
13 Sosok Luthfan Aqmar
14 Waktu Berjalan Begitu Cepat
15 Belum Sembuh Dari Luka
16 Sidang Pertama
17 Mengambil Barang
18 Ajeng dan Abian.
19 Salah Sangka
20 Resmi Berpisah.
21 Kegelisahan Sang Anak
22 Abian Qadafi
23 Kebenaran Terungkap
24 Ujian Hidup Yang Tak Sama
25 Belum Move On
26 Bertemunya Abian dengan Luthfan
27 Kepanikan Yudha
28 Mengungkapkan Isi Hati
29 Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30 Abian Kerumah Ajeng
31 Lagi Fiona Berulah
32 Kedatangan Ibu Mertua
33 Gelisah
34 Mertua Dan Menantu
35 Cincin Berlian
36 Cemburu
37 Membuat Rancangan Baju
38 Sekolah Baru
39 Penyesalan Yudha
40 Will You Marry Me
41 Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42 Rebutan Sertifikat
43 Qeera Menjenguk Yudha
44 Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45 Cincin Itu...
46 Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47 Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48 Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49 Cemburu Berat
50 Menahan Malu
51 Tawaran Kerjasama Baru
52 Retno Ke Kantor Abian
53 Rekreasi
54 Mengetahui Fakta.
55 Rumit
56 Sebuah Permintaan.
57 Ijab Qabul
58 Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59 Rencana Penjebakan.
60 Sebuah Intrik
61 Aksi Penjebakan
62 Kemarahan Abian.
63 Disebuah Rumah Sakit
64 Kembalinya Ajeng
65 Melepas Rindu
66 Sebuah Keputusan
67 Bermuara Dititik Kerinduan
68 Sisa Pengantin Baru
69 Hasna dan Alvino
70 Perdebatan Dua Sahabat
71 Merajuk
72 Kebebasan Yudha
73 Amarah yang Memuncak
74 Kecelakaan
75 Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76 Konflik
77 Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78 Hamil
79 Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80 Mengalah Bukan Berarti Kalah
81 Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82 Bunuh Diri
83 Prasangka Alvino
84 Kotak Kecil
85 Introgasi
86 Ide Gila Hasna
87 Berfikir Lebih Dewasa
88 Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89 Jatuh Talak
90 Kelicikan Dibalas Kelicikan
91 Pura-puranya Suami Istri
92 Rencana Berikutnya
93 Persiapan Pesta Pernikahan
94 Hasna Terkejut
95 Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96 Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97 Keguguran
98 Kritis
99 Merajuknya Ibu Hamil
100 Kecemasan Kembali Melanda
101 Ferdy Masih Belum Terima
102 Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103 Mood Ibu Hamil
104 Pikiran Buruk Kembali Hadir
105 Membaiknya Dua Sahabat
106 Drama Ngidam
107 Tak Mau Egois
108 Kedatangan Sang Ibu
109 Masih Mengedapankan Ego
110 Retaknya Hubungan Antar Teman
111 111. Debat Mantan Suami Istri
112 112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113 113. Kecewa yang Teramat Dalam
114 114. Rindu yang Menggunung
115 115. Hanya Masalah Hati
116 116. Salah Paham
117 117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118 118 Pilihan yang Sulit.
119 119. Semangat Kembali Hadir
120 120. Keadaan yang Sama Persis
121 121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122 122. Kembali Ditangkap Polisi
123 123. Ending
Episodes

Updated 123 Episodes

1
1. Minta Cerai
2
2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3
3. Ajeng dan Fiona
4
4. Kemarahan Ajeng
5
5. Perdebatan
6
6. Pergi
7
7. Foto Mesra
8
8. Bertemu Seseorang
9
9. Ingin Rujuk
10
10. Kebencian Qeera
11
11. Masih Cemburu.
12
12. Urus Surat Cerai
13
Sosok Luthfan Aqmar
14
Waktu Berjalan Begitu Cepat
15
Belum Sembuh Dari Luka
16
Sidang Pertama
17
Mengambil Barang
18
Ajeng dan Abian.
19
Salah Sangka
20
Resmi Berpisah.
21
Kegelisahan Sang Anak
22
Abian Qadafi
23
Kebenaran Terungkap
24
Ujian Hidup Yang Tak Sama
25
Belum Move On
26
Bertemunya Abian dengan Luthfan
27
Kepanikan Yudha
28
Mengungkapkan Isi Hati
29
Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30
Abian Kerumah Ajeng
31
Lagi Fiona Berulah
32
Kedatangan Ibu Mertua
33
Gelisah
34
Mertua Dan Menantu
35
Cincin Berlian
36
Cemburu
37
Membuat Rancangan Baju
38
Sekolah Baru
39
Penyesalan Yudha
40
Will You Marry Me
41
Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42
Rebutan Sertifikat
43
Qeera Menjenguk Yudha
44
Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45
Cincin Itu...
46
Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47
Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48
Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49
Cemburu Berat
50
Menahan Malu
51
Tawaran Kerjasama Baru
52
Retno Ke Kantor Abian
53
Rekreasi
54
Mengetahui Fakta.
55
Rumit
56
Sebuah Permintaan.
57
Ijab Qabul
58
Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59
Rencana Penjebakan.
60
Sebuah Intrik
61
Aksi Penjebakan
62
Kemarahan Abian.
63
Disebuah Rumah Sakit
64
Kembalinya Ajeng
65
Melepas Rindu
66
Sebuah Keputusan
67
Bermuara Dititik Kerinduan
68
Sisa Pengantin Baru
69
Hasna dan Alvino
70
Perdebatan Dua Sahabat
71
Merajuk
72
Kebebasan Yudha
73
Amarah yang Memuncak
74
Kecelakaan
75
Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76
Konflik
77
Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78
Hamil
79
Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80
Mengalah Bukan Berarti Kalah
81
Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82
Bunuh Diri
83
Prasangka Alvino
84
Kotak Kecil
85
Introgasi
86
Ide Gila Hasna
87
Berfikir Lebih Dewasa
88
Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89
Jatuh Talak
90
Kelicikan Dibalas Kelicikan
91
Pura-puranya Suami Istri
92
Rencana Berikutnya
93
Persiapan Pesta Pernikahan
94
Hasna Terkejut
95
Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96
Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97
Keguguran
98
Kritis
99
Merajuknya Ibu Hamil
100
Kecemasan Kembali Melanda
101
Ferdy Masih Belum Terima
102
Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103
Mood Ibu Hamil
104
Pikiran Buruk Kembali Hadir
105
Membaiknya Dua Sahabat
106
Drama Ngidam
107
Tak Mau Egois
108
Kedatangan Sang Ibu
109
Masih Mengedapankan Ego
110
Retaknya Hubungan Antar Teman
111
111. Debat Mantan Suami Istri
112
112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113
113. Kecewa yang Teramat Dalam
114
114. Rindu yang Menggunung
115
115. Hanya Masalah Hati
116
116. Salah Paham
117
117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118
118 Pilihan yang Sulit.
119
119. Semangat Kembali Hadir
120
120. Keadaan yang Sama Persis
121
121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122
122. Kembali Ditangkap Polisi
123
123. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!