Belum Sembuh Dari Luka

Hari ini hari minggu, dimana Ajeng ingin menghabiskan waktunya bersama putrinya. Dari mulai membereskan tempat tidur. Membuat sarapan, mereka lakukan bersama-sama dengan canda dan tawa. Dilanjut dengan membersihkan diri masing-masing, pun Ajeng saat ini sudah bisa sedikit demi sedikit lupa akan masalahnya.

Namun mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Yudha dan Fiona yang kini sudah berdiri di tengah pintu.

"Kalau kesini usahakan ketuk pintu dulu. Bisa kan?" Cetus Ajeng, sementara Qeera begitu lihat sang ayah, ia langsung berlindung dibalik tubuh sang ibunda.

"Aku kesini mau memberikan ini, sekaligus ingin bertemu dengan putriku." Ujar Yudha mendekat dan memberikan surat itu dan tentu disambut dengan tangan terbuka oleh Ajeng.

Tapi Fiona malah bergelayut manja dengan memeluk lengan kekar lelaki yang kini memilih dirinya dibanding Ajeng yang sudah menemaninya dari nol.

"Qeera, sini Nak, ayah kangen banget sama kamu." Kata Yudha mendekat sambil merentangkan kedua tangannya.

Namun Qeera tetap berada dibalik tubuh ibundanya.

"Qeera." Lirihnya lalu duduk menyamakan tinggi putrinya.

"Ayah ngapain kesini, aku gak mau ketemu ayah. Ayah udah gak sayang lagi sama aku dan bunda." Ujar Qeera.

"Tidak Nak, ayah sayang banget sama kamu."

"Buktinya kenapa ayah selalu bersama tante itu." Sentak Qeera sambil menunjuk ke arah Fiona yang menatapnya dengan senyuman remeh.

"Sayang, ayah tau ayah salah, tolong sekali ini saja ijinkan ayah memelukmu Nak." Yudha terus mendekat. Tapi Qeera tetap tidak mau, gadis kecil itu malah menangis.

"Mas, jangan paksa dia. Kalau kamu terus memaksanya, aku takut dia trauma saat lihat kamu nantinya, sedangkan kamu lihat sendiri kan? Bagaimana reaksinya saat melihat kamu. Dan itu artinya luka yang kamu torehkan begitu membekas didalam hatinya." Desis Ajeng yang kembali menahan sesak, padahal ia sudah sangat tegar menghadapi semuanya, namun saat berhubungan dengan putrinya, nyatanya ia tak setegar itu.

"Hehh Ajeng, kamu jangan so baik, kamu sendiri kan yang membuat Qeera membenci ayahnya sendiri." Cetus Fiona membuat Ajeng menatap tajam padanya.

"Tutup mulut kamu Fiona!" Bentak Ajeng.

"Halaaahh memang dasar maling gak mau ngaku, kalau ngaku ya penjara penuh." Katanya sinis.

"Tante jahat, tante telah memfitnah bundaku. Bundaku tidak pernah mengajarkan itu sama aku." Teriak Qeera di tengah isakannya.

"Sudah sayang, sekarang Qeera pergi ke kamar dulu ya?" Titahnya dan Qeera mengangguk, lalu ia berlari ke kamarnya. 

Yudha hendak mengikutinya namun dicegah.

"Stop Mas, biarkan dia sendiri." Kata Ajeng.

"Atas dasar apa kamu melarangku, aku ini ayahnya." Bentak Yudha dengan menatap tajam pada Ajeng.

"Ya aku tau kamu ayahnya, tapi kamu lihat sendiri kan? Bahkan dia pun takut saat melihatmu." Cetus Ajeng yang tak kalah tinggi suaranya.

"Berani sama aku?" Kembali Yudha membentak.

"katakan! Apa alasanku untuk takut sama kamu." Tekan Ajeng.

"Aku ini masih suami kamu." Yudha sangat geram dengan sikap Ajeng.

"Ya, tapi kamu lihat kan tulisan di kertas ini. Sudah baca kan?" Kata Ajeng sambil memperlihatkan kertas itu. "Sebentar lagi kita akan resmi berpisah."

"Dan itu memang keinginanmu sendiri. Kalau saja kamu mau berbaik hati menerima Fiona, itu semua tak akan terjadi." Papar Yudha.

"Dan perpisahan itu juga tak akan terjadi kalau kamu tak menikahi perempuan lain." Tekan Ajeng.

"Aku akan kasih kesempatan sekali lagi. Kalau kamu ingin rujuk aku akan memaafkanmu. Dan kita mulai dari awal lagi." Ujar Yudha membuat Fiona tersentak dan menoleh padanya.

"Mas, kenapa jadi begini sih." Cetus Fiona tak suka.

"Ckk.... kamu keterlaluan sekali! Semua masalah ini seolah aku yang salah. Tapi ... sekalipun kamu menceraikan Fiona sekarang juga, tetap aku tak sudi kembali lagi pada lelaki sepertimu." Tekan Ajeng.

"Jangan sombong kamu Ajeng." Bentaknya.

"Pintu ada di belakang kalian kan? Apa harus aku antar?" Kata Ajeng menatap tajam.

"Sok bahagia kamu! Padahal hatimu sekarang menangis karena menyesal telah meninggalkan Mas Yudha." Timpal Fiona.

"Oh ya? Tau darimana kamu?" Timpal Ajeng. "Kenapa  kalian masih disini? Cepat sana pergi."

"Dasar perempuan licik. Aku tak yakin kamu akan bertahan dengan garis kemiskinan. Sebentar lagi kamu akan mengemis padaku." Kata Yudha kemudian mereka berdua pergi dan Ajeng pun segera menutup pintu itu.

Ajeng membaca surat yang ia pegang. Sidang akan di lakukan minggu depan.

Ajeng meneteskan air matanya, merasa malu pada almarhum kedua orangtuanya karena rumahtangganya harus kandas.

"Ayah, ibu, maafin Ajeng. Ajeng gak bisa mempertahankan rumahtangga Ajeng sendiri." Lirihnya dengan linangan airmata.

Didalam mobil, Yudha dan Fiona saling menoleh.

"Kenapa tatapanmu seperti itu?" Tanya Yudha.

"Aku marah saat kamu bilang kasih kesempatan lagi sama dia. Itu artinya kamu masih mengharapkannya kembali." Papar Fiona kemudian menatap lurus kedepan.

"Jujur, aku memang masih ada sedikit rasa untuknya. Tapi ... entah kenapa aku sekarang jadi membencinya karena kesombongannya." Kata Yudha membuat Fiona menyipitkan matanya.

"Sekarang aku akan fokus denganmu, hanya kamu Fiona, satu-satunya wanita harapanku karena aku ingin sekali mempunyai banyak keturunan." Ujar Yudha membuat Fiona terkesiap dan menelan paksa salivanya.

"Sekarang kita pulang, aku ingin menghabiskan waktu denganmu saja dirumah." Yudha tersenyum menatapnya sementara yang di tatap malah takut. Takut tak akan bisa memberikan keturunan.

Sementara itu ditempat lain. Luthfan tak bisa berkonsentrasi saat membuat rancangan pola untuk ia tunjukan di ajang fashion show nanti.

Pikirannya terus tertuju pada satu wanita yaitu Ajeng.

Saat pertama kali bertemu hatinya merasa berbeda, ada yang mendesir disana. Apalagi saat melihat senyumannya yang sungguh manis. Mata indahnya telah membiusnya untuk tak bosan menatapnya.

"Ada apa aku ini? Kenapa aku selalu memikirkan dia." Gumamnya. Dan ia memilih untuk tak melanjutkannya lagi. Ia tinggalkan dulu pekerjaannya. Dan duduk bersandar di sofa.

"Siapa sebenarnya perempuan itu? Apa dia sudah bersuami? Tapi ... kenapa saat aku melihatnya ia selalu sendiri." Kata Luthfan berbicara sendiri.

Ia pun berniat akan mencari Ajeng. Tapi ia juga tak tau harus mencarinya kemana. Karena benar-benar tak tau tempat tinggalnya.

Lalu ia pun mengunjungi butik miliknya, ingin bertanya pada karyawannya soal siapa dua perempuan kemarin saat datang ke butiknya.

"Linda." Sapa Luthfan.

"Iya Pak." Jawab Linda mengangguk sopan.

"Kamu kenal dua perempuan kemarin saat berkunjung kesini?"

"Yang mana ya Pak? Karena biasanya juga banyak para perempuan yang datang kesini." Balas Linda sambil mengerutkan dahinya.

"Itu yang ... ahhh lupakan." lutfhan tak melanjutkan kata-katanya lagi. Ia memilih pergi dan kembali menaiki mobilnya.

"Ada apa dengan Pak Luthfan ya. Gak biasanya kayak gitu." Gumam Linda heran.

"Kemana lagi aku harus mencari kamu Ajeng."

Terpopuler

Comments

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

tp orag kaya sruh oragla lutfan

2023-10-09

0

lihat semua
Episodes
1 1. Minta Cerai
2 2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3 3. Ajeng dan Fiona
4 4. Kemarahan Ajeng
5 5. Perdebatan
6 6. Pergi
7 7. Foto Mesra
8 8. Bertemu Seseorang
9 9. Ingin Rujuk
10 10. Kebencian Qeera
11 11. Masih Cemburu.
12 12. Urus Surat Cerai
13 Sosok Luthfan Aqmar
14 Waktu Berjalan Begitu Cepat
15 Belum Sembuh Dari Luka
16 Sidang Pertama
17 Mengambil Barang
18 Ajeng dan Abian.
19 Salah Sangka
20 Resmi Berpisah.
21 Kegelisahan Sang Anak
22 Abian Qadafi
23 Kebenaran Terungkap
24 Ujian Hidup Yang Tak Sama
25 Belum Move On
26 Bertemunya Abian dengan Luthfan
27 Kepanikan Yudha
28 Mengungkapkan Isi Hati
29 Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30 Abian Kerumah Ajeng
31 Lagi Fiona Berulah
32 Kedatangan Ibu Mertua
33 Gelisah
34 Mertua Dan Menantu
35 Cincin Berlian
36 Cemburu
37 Membuat Rancangan Baju
38 Sekolah Baru
39 Penyesalan Yudha
40 Will You Marry Me
41 Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42 Rebutan Sertifikat
43 Qeera Menjenguk Yudha
44 Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45 Cincin Itu...
46 Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47 Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48 Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49 Cemburu Berat
50 Menahan Malu
51 Tawaran Kerjasama Baru
52 Retno Ke Kantor Abian
53 Rekreasi
54 Mengetahui Fakta.
55 Rumit
56 Sebuah Permintaan.
57 Ijab Qabul
58 Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59 Rencana Penjebakan.
60 Sebuah Intrik
61 Aksi Penjebakan
62 Kemarahan Abian.
63 Disebuah Rumah Sakit
64 Kembalinya Ajeng
65 Melepas Rindu
66 Sebuah Keputusan
67 Bermuara Dititik Kerinduan
68 Sisa Pengantin Baru
69 Hasna dan Alvino
70 Perdebatan Dua Sahabat
71 Merajuk
72 Kebebasan Yudha
73 Amarah yang Memuncak
74 Kecelakaan
75 Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76 Konflik
77 Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78 Hamil
79 Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80 Mengalah Bukan Berarti Kalah
81 Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82 Bunuh Diri
83 Prasangka Alvino
84 Kotak Kecil
85 Introgasi
86 Ide Gila Hasna
87 Berfikir Lebih Dewasa
88 Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89 Jatuh Talak
90 Kelicikan Dibalas Kelicikan
91 Pura-puranya Suami Istri
92 Rencana Berikutnya
93 Persiapan Pesta Pernikahan
94 Hasna Terkejut
95 Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96 Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97 Keguguran
98 Kritis
99 Merajuknya Ibu Hamil
100 Kecemasan Kembali Melanda
101 Ferdy Masih Belum Terima
102 Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103 Mood Ibu Hamil
104 Pikiran Buruk Kembali Hadir
105 Membaiknya Dua Sahabat
106 Drama Ngidam
107 Tak Mau Egois
108 Kedatangan Sang Ibu
109 Masih Mengedapankan Ego
110 Retaknya Hubungan Antar Teman
111 111. Debat Mantan Suami Istri
112 112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113 113. Kecewa yang Teramat Dalam
114 114. Rindu yang Menggunung
115 115. Hanya Masalah Hati
116 116. Salah Paham
117 117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118 118 Pilihan yang Sulit.
119 119. Semangat Kembali Hadir
120 120. Keadaan yang Sama Persis
121 121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122 122. Kembali Ditangkap Polisi
123 123. Ending
Episodes

Updated 123 Episodes

1
1. Minta Cerai
2
2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3
3. Ajeng dan Fiona
4
4. Kemarahan Ajeng
5
5. Perdebatan
6
6. Pergi
7
7. Foto Mesra
8
8. Bertemu Seseorang
9
9. Ingin Rujuk
10
10. Kebencian Qeera
11
11. Masih Cemburu.
12
12. Urus Surat Cerai
13
Sosok Luthfan Aqmar
14
Waktu Berjalan Begitu Cepat
15
Belum Sembuh Dari Luka
16
Sidang Pertama
17
Mengambil Barang
18
Ajeng dan Abian.
19
Salah Sangka
20
Resmi Berpisah.
21
Kegelisahan Sang Anak
22
Abian Qadafi
23
Kebenaran Terungkap
24
Ujian Hidup Yang Tak Sama
25
Belum Move On
26
Bertemunya Abian dengan Luthfan
27
Kepanikan Yudha
28
Mengungkapkan Isi Hati
29
Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30
Abian Kerumah Ajeng
31
Lagi Fiona Berulah
32
Kedatangan Ibu Mertua
33
Gelisah
34
Mertua Dan Menantu
35
Cincin Berlian
36
Cemburu
37
Membuat Rancangan Baju
38
Sekolah Baru
39
Penyesalan Yudha
40
Will You Marry Me
41
Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42
Rebutan Sertifikat
43
Qeera Menjenguk Yudha
44
Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45
Cincin Itu...
46
Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47
Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48
Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49
Cemburu Berat
50
Menahan Malu
51
Tawaran Kerjasama Baru
52
Retno Ke Kantor Abian
53
Rekreasi
54
Mengetahui Fakta.
55
Rumit
56
Sebuah Permintaan.
57
Ijab Qabul
58
Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59
Rencana Penjebakan.
60
Sebuah Intrik
61
Aksi Penjebakan
62
Kemarahan Abian.
63
Disebuah Rumah Sakit
64
Kembalinya Ajeng
65
Melepas Rindu
66
Sebuah Keputusan
67
Bermuara Dititik Kerinduan
68
Sisa Pengantin Baru
69
Hasna dan Alvino
70
Perdebatan Dua Sahabat
71
Merajuk
72
Kebebasan Yudha
73
Amarah yang Memuncak
74
Kecelakaan
75
Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76
Konflik
77
Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78
Hamil
79
Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80
Mengalah Bukan Berarti Kalah
81
Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82
Bunuh Diri
83
Prasangka Alvino
84
Kotak Kecil
85
Introgasi
86
Ide Gila Hasna
87
Berfikir Lebih Dewasa
88
Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89
Jatuh Talak
90
Kelicikan Dibalas Kelicikan
91
Pura-puranya Suami Istri
92
Rencana Berikutnya
93
Persiapan Pesta Pernikahan
94
Hasna Terkejut
95
Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96
Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97
Keguguran
98
Kritis
99
Merajuknya Ibu Hamil
100
Kecemasan Kembali Melanda
101
Ferdy Masih Belum Terima
102
Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103
Mood Ibu Hamil
104
Pikiran Buruk Kembali Hadir
105
Membaiknya Dua Sahabat
106
Drama Ngidam
107
Tak Mau Egois
108
Kedatangan Sang Ibu
109
Masih Mengedapankan Ego
110
Retaknya Hubungan Antar Teman
111
111. Debat Mantan Suami Istri
112
112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113
113. Kecewa yang Teramat Dalam
114
114. Rindu yang Menggunung
115
115. Hanya Masalah Hati
116
116. Salah Paham
117
117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118
118 Pilihan yang Sulit.
119
119. Semangat Kembali Hadir
120
120. Keadaan yang Sama Persis
121
121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122
122. Kembali Ditangkap Polisi
123
123. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!