Tak terasa seminggu sudah berlalu. Yang dimana hari ini adalah hari putusan sidang pertama Ajeng dan Yudha.
Ajeng akan menghadiri sidang pertamanya seorang diri, hanya akan ditemani Pak Rahmat selaku pengacaranya. Karena Hasna berhalangan untuk hadir.
Sedangkan Yudha, ia akan di dampingi Fiona dan juga Pak Farhan selaku pengacaranya juga.
Ajeng sudah siap apapun keputusan Pak Hakim nanti, begitu juga Yudha, ia sudah mantap dengan keputusannya menggugat cerai sang istri pertama.
Sidang pun dimulai. Ajeng dan Yudha duduk bersebelahan menghadap ke majelis Hakim.
"Sodara Yudha Mahardika, apa ini murni keinginan anda menggugat istri anda yang bernama Ajeng Shafanina dengan alasan beliau sendiri yang meminta berpisah karena tidak mau di poligami?" tanya Hakim.
"Iya Pak." jawab Yudha mengangguk sopan.
"Sodara Ajeng Shafanina, apa anda menerima gugatan yang dilayangkan sodara Yudha Mahardika?"
"Iya Pak, saya menerimanya." balas Ajeng pasti dengan terus menatap lurus.
"Sebelumnya apa ingin mediasi dulu? Mengingat kalian sudah memiliki anak?" tanya Hakim.
"Tidak Pak." jawab mereka kompak.
Pertanyaan demi pertanyaan Hakim lontarkan dan hampir memakan waktu dua jam.
"Baik, sidang putusan akan dilakukan satu minggu setelah ini." Ujar Hakim sambil mengetuk palu tiga kali.
Sidang selesai. Yudha dan Ajeng harus menunggu sidang putusan selama satu minggu.
Ajeng beserta pengacaranya keluar dari ruangan itu. Dia melangkah pasti dengan keinginannya untuk berpisah.
Sementara Yudha berada di belakangnya dengan Fiona yang tentu tangannya selalu bergelayut manja.
"Terimakasih banyak Pak Rahmat." kata Ajeng saat mereka sudah di dekat mobil masing-masing.
"Sama-sama Bu Ajeng. Kalau begitu saya pamit dulu sampai ketemu di minggu depan." Ujar pengacaranya. lantas ia masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Ajeng." Sapa Yudha membuat Ajeng menoleh.
"Cepat kemas semua barang-barang kamu yang masih tertinggal dirumahku. Aku tidak mau satupun ada barang milikmu." Cetus Yudha.
"Kamu tenang saja, aku pasti akan mengambilnya hari ini juga." Balasnya.
"Dan jangan lupa, kamu harus hadir di acara pernikahan kita. Karena sebentar lagi aku dan Mas Yudha akan meresmikan pernikahan kita." Ujar Fiona yang masih bergelayut manja.
"Ohh oke! Kalian gak usah khawatir. Aku akan datang kok." Jawab Ajeng begitu tegar dihadapan mereka.
"Kamu gak sedih?" Tanya Fiona.
"Untuk apa aku sedih. Justru aku bersyukur terlepas dari lelaki yang gak puas dengan satu wanita." Tukas Ajeng membuat Yudha menatapnya tajam.
"Apa kamu bilang? Coba katakan sekali lagi." Tekan Yudha dengan tatapan tajam.
"Ya, kamu lelaki yang memang tidak puas dengan satu wanita." Ajeng mengulangi kalimat itu.
mendengar kata itu lagi. Yudha mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dan mengangkat satu tangannya.
"Mau nampar aku? Ayo tampar aku. Akan ku terima dengan senang hati. Namun jangan lupa bahwa ini masih area kantor polisi. Yang bisa saja dari kasus poligami merembet pada kasus KDRT." Tekan Ajeng membuat Yudha menurunkan tangannya.
"Sudah Mas, lebih baik kita pergi dari sini. Hanya buang waktu saja." Timpal Fiona lalu mereka melangkah ke arah mobil mereka lantas naik dan meninggalkan tempat itu.
Ajeng mengambil napas berat. Dan menggelengkan kepalanya.
"Beri aku kesabaran dalam menghadapi mereka Ya Rabb." lirihnya.
Kemudian Ajeng pun menaiki mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu. Ia akan datang ke ruko untuk melepaskan penat dari semua masalah yang ada. Dengan di sibukkan oleh pekerjaan ia harap bisa melupakan sedikit masalahnya.
Mobil sudah tiba di depan ruko miliknya, ia segera turun dan melangkah masuk, di sambut para karyawan disana kemudian naik ke lantai atas menuju ruangan pribadinya.
Knop pintu di buka, Ajeng pun masuk dan langsung duduk di atas sofa.
"Sekarang aku harus fokus untuk masa depan anakku. Aku harus bisa sukses demi Qeera. Dia penyemangatku maka aku harus bersusah payah untuk terus membahagiakannya." ucap Ajeng berbicara sendiri.
Di luar ruko sudah ada Hasna. Ia melangkah masuk dan bertanya pada Zia karyawan disana.
"Ajeng ada disini kan?" tanya Hasna.
"Iya, baru saja datang Bu. Dan Bu Ajeng naik ke lantai atas." Papar Zia mengangguk sopan.
"Oke, terimakasih." balas Hasna. Ia pun naik ke lantai atas.
Pintu ia buka, dan di dapati Ajeng sedang membuat pola gambar baju. Ia pun mendekat.
"Waahhh sejak kapan sahabatku ini bisa menggambar." Puji Hasna dan Ajeng menoleh padanya.
"Na, kamu disini?" Sapa Ajeng.
"Iya, baru saja datang. Bagaimana sidang pertama kamu hari ini?" tanya Hasna.
"Alhamdulillaahh semua berjalan lancar . Tapi harus menunggu sidang putusan seminggu lagi."
"Semoga nanti aku bisa mendampingi kamu. Maaf karena hari ini ada urusan yang memang gak bisa di tinggalkan." papar Hasna.
"Iya gak papa Na."
"Tapi kamu baik-baik saja kan? Maksudku takut kamu berhadapan dengan mereka lagi." kata Hasna cemas.
"Sempat cekcok sih tadi. Tapi masih aman kok."
"Syukurlah aku seneng dengernya. Semoga setelah ini kamu bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi. Tentunya yang sayang sama anak kamu." ujar Hasna sambil merangkul sahabatnya.
"Aku sama sekali belum kepikiran kesana Na. Aku hanya fokus dengan kebahagiaan putriku. Itu saja." balas Ajeng.
"Untuk sekarang mungkin masih tidak karena baru aja pisah. Tapi nanti ... Masa kamu gak mau nikah lagi sih?" tanya Hasna menoleh.
"Entahlah. Apa ada lelaki lain lagi yang mau sama aku, mau menerima segala kekuranganku terutama karena aku janda beranak satu jadi ... Dia harus sayang juga sama anakku." papar Ajeng tak percaya diri.
"Hey, kamu itu masih muda Ajeng, cantik lagi. Buktinya sudah ada yang mau sama kamu." kata Hasna membuat Ajeng menoleh dan menyipitkan matanya.
"Siapa? Perasaan aku gak lagi dekat dengan lelaki manapun."
"Siapa lagi kalau bukan seorang designer terkenal itu." kekeh Hasna.
"Pak Luthfan? Dia lagi." kekeh Ajeng.
"kamu gak nyadar? Gimana tatapan dia sama kamu?" tanya Hasna.
"Sudahlah Na, kenapa juga harus bahas dia, kenal juga baru kemarin ini. Pokoknya untuk saat ini aku akan fokus untuk masa depan putriku Qeera." papar Ajeng.
"Oke oke baiklah. Tapi aku ada ide." ujar Hasna tersenyum dan Ajeng menoleh menatap Hasna.
"Bagaimana kalau kamu merubah penampilan kamu? Maksudku kamu harus terlihat lebih cantik dari biasanya." ujar Hasna tersenyum.
"Jangan neko-neko deh, aku nyaman dengan diriku sendiri yang seperti ini." tolak Ajeng.
"Ajeng Shafanina, pokoknya kali ini kamu harus nurut sama aku. Sini aku mau poles wajah kamu. Sebentar." titah Hasna. Ia mengambil beberapa kosmetik miliknya untuk di aplikasikan pada wajah sahabatnya.
Ajeng nurut saja, karena memang Hasna kadang susah dibantah.
Dengan telaten Hasna memoles wajah Ajeng, hampir memakan waktu sekitar setengah jam. Akhirnya selesai.
"Waahhh cantik sekali sahabatku ini." Puji Hasna tersenyum menatap wajah Ajeng.
"Jangan lebay deh." Timpal Ajeng.
"Kok lebay sih? Serius kamu cantik banget lho. Coba ngaca deh pasti pangling lihat wajah kamu sendiri." titah Hasna dan Ajeng menurutinya.
Ajeng bangkit dan mendekat ke arah kaca. Ia amati wajahnya memang sedikit berbeda dari biasanya, terlihat lebih fresh dan tentunya semakin cantik.
"Ah aku malu Na, hapus saja ya?" pinta Ajeng.
"Ajeng, pokoknya setiap hari kamu harus dandan seperti ini. Yudha pun pasti akan menyesal melepaskan kamu setelah melihat perubahan kamu." ujar Hasna.
"Gak ah, kalau untuk tujuan kayak gitu." timpal Ajeng.
"Aduuhh Ajeng. Aku capek ngomong sama kamu. Sudah cape-cape juga riasin wajah kamu." keluh Hasna dengan pura-pura memasang wajah cemberut.
"Ehh kok jadi marah sih?" tanya Ajeng cemas. "Iya deh iyaaaa. Akan aku usahakan untuk seperti ini setiap hari, sesuai keinginan kamu." Ajeng tersenyum dan mendekat, kemudian merangkulnya. "Makasih Hasna. Kamu lagi-lagi membantuku, dan selalu ada untuk aku." Puji Ajeng yang dibalas rengkulan juga oleh Hasna.
Sementara Luthfan masih tak hentinya ia mencari keberadaan Ajeng. Ia kunjungi tempat-tempat dimana ia bertemu dengan Ajeng.
Namun sayang tak ada, sudah beberapa jam ia muter-muter, tak juga menemukan wanita itu. Lalu ia memilih untuk kembali ke butiknya lagi.
Di kantor. Abian berada diruangan Yudha untuk mengecek berkas-berkas yang selama ini Yudha kerjakan. juga proposal untuk bisa memenangkan tender.
Pintu dibuka dan Yudha melangkah masuk.
"Ada apa dengan berkas-berkas itu?" tanya Yudha.
"Aku sedang mengecek saja takut terjadi kesalahan." jawab Abian menoleh ke arah Yudha.
"Muka mu kenapa kusut gitu?" tanya Abian.
"Gak papa. Cuma ... ada sedikit masalah pribadi." jawab Yudha.
"Oh iya, bagaimana hubungan kamu sama Ajeng. Jadi berpisah?" tanya Abian lagi.
"Iya. Aku baru saja melaksanakan sidang pertamaku hari ini." ujar Yudha.
"Sebenarnya perempuan seperti apa sih yang kamu pilih?" tanya Abian heran.
"Yang pasti seperti Fiona." jawab Yudha membuat Abian menggelengkan kepalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
lelaki gila syahwat
2023-10-09
0