Ditengah sarapan, Ibu dan anak itu tertawa dengan gembiranya karena celotehan Qeera. Ia menceritakan bagaimana Qeera bisa terjatuh dan akhirnya lolos dan menjadi pemenang. Membuat pengasuh yang melihatnya menyunggingkan senyumannya.
"Alhamdulillahh akhirnya ibu bisa ketawa lepas lagi. Gak seperti kemarin." Ucap pengasuh dalam hati.
"Sudah ah, bunda capek ketawa terus. Qeera bersiap Nak. Kita akan berangkat ke sekolah. Sus nanti jemput Qeera ya? Saya ada urusan." Titah Ajeng pada pengasuhnya.
"Baik bu." Jawab pengasuh.
Setelah itu ketiganya keluar dari rumah dan langsung masuk kedalam mobil dan melaju menuju sekolahan Qeera.
Setelah mengantar Qeera, Ajeng kembali menaiki mobilnya, ia ada janji dengan Hasna di tempat biasa.
Ajeng datang terlebih dahulu di kaffe yang biasa ia kunjungi dengan Hasna sambil menunggu kedatangannya. Ajeng mempromosikan barang jualannya lewat akun sosial media.
Namun pada saat klik tombol bagikan matanya menangkap Yudha dan Fiona memasuki kaffe tersebut. Lalu duduk membelakanginya. Kemudian memesan makanan.
Ajeng mengatur napasnya. Kemudian memilih menyibukkan diri dengan bermain ponsel.
"Mas, hari ini jadi kan beli mobil?" Tanya Fiona dan itu tentu di dengar oleh Ajeng karena jarak mereka sangat dekat.
"Aku hari ini berencana menemui anakku. Mungkin besok." Kata Yudha.
"Kenapa sih, lagi-lagi dia. Anak itu kan sudah benci sama ayahnya sendiri." Omel Fiona.
"Biar bagaimanapun dia darah dagingku, tolong mengertilah." Ujar Yudha. Dan pesananpun datang.
"Bilang saja mau ketemu ibunya." Ujar Fiona kesal.
"Sudahlah kenapa harus bahas dia."
"Tuh kan kamu gak mau ngaku." Fiona sangat kesal lalu memilih pergi tapi di tahan oleh Yudha.
"Yasudah nanti sore kita beli mobil." Kata Yudha dan tentu membuat Fiona bahagia ia langsung merangkulnya. "Makasih sayang." Kata Fiona.
Disaat itu, Hasna datang dan langsung duduk di depan Ajeng. Namun matanya menatap pada dua manusia yang sedang bermesraan.
"Ajeng. Kamu dari tadi disini?" Tanya Hasna. Dan Ajeng mengangguk.
"Kamu tau di belakang kamu siapa?" Kembali Hasna bertanya dan Ajeng mengangguk.
"Kamu kenapa diam saja lihat mereka. Harusnya kamu labrak kamu tendang. Huhhh emosi aku sama mereka." Umpat Hasna sambil tangan kanannya memukul telapak tangan sebelah kiri.
"kalau kamu gak bergerak, biar aku saja yang bergerak." Ujar Hasna, lalu ia melangkah menghampiri Yudha dan juga Fiona. Tanpa bisa di cegah oleh Ajeng.
"Hehh pelakor." Maki Hasna sambil menggebrak meja membuat mereka pun terkesiap.
"Heyy siapa kamu? Datang kesini malah marah-marah." Omel Fiona, ia pun berdiri dan menatap penampilan Hasna.
"Ada apa dengan penampilanku? Ckk... kamu suka?" Kekeh Hasna.
"Sungguh memalukan jika aku menyukai penampilanmu." Umpat Fiona.
"Hasna, sudahlah. Ada apa kamu kesini?" Tanya Yudha.
"Mas kenal sama dia?" Tanya Fiona.
"Iya, dia temannya Ajeng." Balas Yudha.
"Hehh dengar ya kalian semua. Kalian punya hati gak sih. Terutama kamu Yudha." Tunjuk Hasna pada Yudha.
"Dibelakang kamu ada Ajeng. Kalian sungguh tega bermesraan didepan dia. Dimana hati nurani kalian?" Tanya Hasna emosi. Membuat mereka berdua menoleh sedangkan Ajeng memalingkan pandangannya.
"Apa peduliku dengan perempuan itu? Bahkan nyawanya pun aku tak peduli." Umpat Fiona membuat Hasna geram dan tangannya melayangkan pukulan.
Plakkk
Fiona meringis memegangi pipinya.
"Dasar pelakor kamu pantas mendapatkan ini." Maki Hasna lalu mengambil minuman dan menuangkannya pada kepala Fiona.
"Itupun tak sebanding dengan luka yang kalian torehkan untuk sahabatku." Ujar Hasna.
"Kamu jangan kurang ajar jadi perempuan." Timpal Fiona ia mendorong tubuh Hasna membuat Hasna sedikit limbung.
Ajeng yang melihat pertengkaran mereka. Ia pun bangkit dan mendekat.
"Hasna. Sudahlah jangan ribut disini. Malu di lihat orang-orang." Ucap Ajeng. Dan tentu mereka jadi tontonan gratis para pengunjung disana.
"Fiona, Hasna hentikan." Bentak Yudha berdiri.
"Dan kamu Ajeng." Tunjuk Yudha. "Bahkan surat cerai pun belum aku berikan, tapi kamu sudah menggandeng pria lain. Sekesepian itu kah kamu setelah jauh dariku." Ejek Yudha dengan terkekeh. Dan Fiona menyunggingkan senyumannya.
Setika Ajeng pun mendekat dan melayangkan pukulan.
Plakkk
"Jaga mulut kamu Yudha." Teriak Ajeng dengan napas menggebu.
"Halaahhh. Ngaku saja! Aku lihat kamu di pinggir jalan berduaan sama pria lain, siapa lagi kalau bukan sugar daddy." Ejek Yudha.
"Aku gak habis pikir, kemana arah jalan pikiranmu sekarang ini Yudha Mahardika." Timpal Ajeng geram. "Kalau aku Fiona, bisa saja aku melakukan itu. Tapi aku Ajeng, bukan Fiona, tak mungkin aku melakukan itu." Teriak Ajeng di akhir kalimat.
"Hehh kenapa bawa-bawa aku." Timpal Fiona tak terima.
"Apa yang dikatakan Ajeng benar, seharusnya sebutan kesepian itu untukmu Fiona." Tukas Hasna.
"Kamu gak usah ikut campur." Kata Fiona sedikit mendorong bahu Hasna.
"Sudah, lebih baik kita pergi." Tekan Yudha. "Dan kamu Ajeng. Secepatnya aku akan berikan surat cerai itu. Tunggu saja." Ujar Yudha kemudian berlalu dari hadapan mereka di susul Fiona di belakangnya.
"Kamu gak papa?" Tanya Hasna sementara Ajeng menyeka sudut matanya.
"Kamu gak boleh nangis. Aku kenal Ajeng itu kuat, gak mudah nangis." Ucap Hasna sambil merangkulnya.
"Aku nangis bukan karena kemesraan mereka. Tapi karena tuduhan Mas Yudha. Bisa-bisanya ia menuduhku seperti itu. Berarti selama ini aku dimatanya sangatlah buruk." Papar Ajeng di tengah isakannya.
"Kamu harusnya bersyukur bisa lepas dari lelaki macam si Yudha. Lalaki seperti dirinya gak pantas mendapatkan perempuan sebaik kamu." Papar Hasna kemudian mereka berdua duduk kembali ke tempat tadi.
"Kamu ngajak aku ketemuan disini untuk apa?" Tanya Ajeng yang tangisnya sudah mulai mereda.
"Ohh iya sampai lupa." Kekeh Hasna.
"Aku kesini mau kasih tau sama kamu sekaligus menawarkan kamu." Tukas Hasna.
"Apaan?" Tanya Ajeng sambil mengerutkan dahinya.
"Jadi gini. Aku punya tempat ruko yang kosong. Bagaimana kalau kamu buka usaha disana. Ia sih ruko nya gak terlalu besar. Tapi pas lah untuk kita yang akan memulai usaha." Papar Hasna.
"Orang yang sewa ruko kamu kemana?" Tanya Ajeng.
"Kebetulan mereka pindah. Jadi mau ya? Nanti aku bantu deh buat modalin usaha kamu." Kata Hasna.
"Kamu baik banget Na. Harus pakai apa aku membalas budimu." Kata Ajeng tersenyum haru.
"Aku akan cicil sewaanya perbulan ya, tapi jangan mahal-mahal " Ujar Ajeng membuat Hasna tertawa mendengarnya.
"Kok ketawa sih?"
"Bisa-bisanya kamu kepikiran kesana. Bahkan aku pun tak memikirkannya. Aku hanya fokus untuk bantu kamu, udah gitu aja! Soal sewaan kamu gak usah khawatir. Gratis juga gak papa." Papar Hasna.
"Ehh nggak lah gak boleh gratis, kamu sudah banyak membantu aku. Jadi aku akan tetap membayarnya." Kata Ajeng.
"Terserah kamu aja lah." Hasna mengangkat kedua bahunya.
Setelahnya mereka keluar dari kaffe itu dan berpamitan, lalu menaiki mobil masing-masing.
***
"Mas harusnya kamu kasih dia pelajaran. Beraninya dia tampar kamu." Tukas Fiona tapi Yudha diam saja. Pikirannya justru pada lelaki yang kemarin telah bersama Ajeng. Ia penasaran siapa lelaki itu.
"Aku hari ini ada rapat dikantor, jadi aku pergi dulu." Kata Yudha. Ia pun mengambil jas miliknya lalu melangkah keluar dan menaiki mobilnya setelah itu pergi.
Yudha di ijinkan berangkat agak siang karena Abian telah menghandle pekerjaannya.
Selepas rapat di kantor. Yudha menghubungi pengacaranya untuk menemaninya. Ia dan pengacaranya bernama Farhan akan mendatangi kantor pengadilan agama untuk membuat surat gugatan cerai.
Yudha dan pengacaranya masuk kedalam kantor itu, dan memberitahukan maksud dan tujuannya. Lalu sang kepala pengadilan disana memberitahukan bahwa proses pembuatan surat cerai itu memakan waktu maksimal enam bulan lamanya. Jadi tentu Yudha harus bersabar menunggunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
wah semngt bget MW crai NNT nyeselll lo
2023-10-09
0
Uthie
Makanya saat emosi laki2 dilarang mengucapkan kata 'Cerai'. karena sekali keputusan tsb di buat saat sedang emosi, maka Jangan menyesal dikemudian hari nya 👍😏
2023-07-11
0