Hari pertama dirumah Almarhum kedua orangtua Ajeng. Ia bangun lebih pagi sengaja karena ingin membersihkan rumah itu. Setelah memakan waktu hampir satu jam akhirnya rumah pun sudah bersih.
Lalu setelahnya ia membangunkan Qeera untuk sholat subuh, dan keduanya sholat berjamaah. Setelah usai Ajeng keluar untuk menyiapkan sarapan.
"Biar saya saja bu." Kata Pengasuh yang tiba didapur.
"Iya tolong ya! Saya ada urusan lain lagi." Jawab Ajeng sambil berlalu dari dapur.
Ajeng duduk disofa sambil memainkan ponselnya. Dan ia memberitahukan pada sahabatnya bernama Hasna bahwa ada beberapa orang yang pesan kosmetik darinya. Dengan segera Hasna mengambil kosmetik yang dipesan itu lalu mengemasnya dan ditulis alamat pembeli, setelah itu mereka akan ketemuan karena Ajeng sendiri yang akan mengantarnya.
Sarapan telah dihidangkan dimeja makan. Ajeng, Qeera dan pengasuh itu pun makan bersama dimeja yang sama. Ajeng tak membeda-bedakannya dari dulu. Meski seorang pengasuh tapi ia tetap berbaik hati untuk makan bersama mereka dan meminta Qeera untuk belajar makan sendiri sedari kecil, sehingga kini Qeera tak perlu lagi disuapi.
Setelahnya Qeera diajak mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.
"Sus, tungguin Qeera ke sekolah ya nanti saya yang antar."
"Iya bu, sudah kewajiban saya juga."
Jawab pengasuh menunduk sopan. Ia sangat betah bekerja dengan Ajeng sehingga berapapun gajinya ia akan terima. Meski gak di gaji pun gak masalah asal diberi makan. Baginya kenyamanan yang penting. Ia seorang janda diusia muda, tapi tidak mempunyai anak. Maka tidak ada tanggungjawab baginya. Orangtuanya pun sudah tidak peduli padanya karena nikah tanpa restu orangtua.
Ketiganya menaiki mobil lalu mobil itu meninggalkan pekarangan rumah menuju tempat sekolah Qeera.
Setelah sampai, Ajeng pamit pada mereka untuk mengantarkan barang pesanan.
Hasna dan Ajeng janji ketemuan disebuah caffe. Ajeng datang lebih dulu dan memilih tempat lalu hanya memesan minuman karena ia sudah sarapan.
Sekitar lima belas menit, Hasna baru tiba dengan menenteng barang pesanan itu.
"Hai." Sapa Hasna dan langsung duduk disana.
"Lama banget Na." Kata Ajeng menoleh.
"Maap, sedikit macet tadi." Jawab Hasna.
"Ini ada lima orang kan yang pesen?" Tanya Hasna sambil memperlihatkan barang yang dipesan.
"Iya, nanti aku yang antar, kamu minumlah dulu." Titah Ajeng.
Hasna memesan minuman juga makanan karena ia belum sarapan. Lalu makanan yang dipesan pun sudah tiba.
"Kamu gak sarapan dulu? Kok cuma pesen minuman?" Tanya Hasna sambil mengunyah makanannya.
"Tadi sudah dirumah."
"Oh ya bagaimana keadaan rumahtangga kamu?" Tanya Hasna karena ia diberi tahu oleh Ajeng mengenai masalah keluarganya.
Hasna orang yang sangat dipercaya oleh Ajeng dari dulu.
"Aku ... memilih pergi dari rumah itu." Jawab Ajeng menundukkan kepalanya.
"Apa?"
"Iya, jadi semalam aku tuh keluar dari rumah itu." Kata Ajeng lalu mengangkat wajahnya dan menatap Hasna dengan sendu.
"Malam-malam kamu pergi?" Tanya Hasna yang di balas anggukan oleh Ajeng.
"Lalu kalian tinggal dimana sekarang?"
"Dirumah kedua orangtuaku." Ajeng memejamkan matanya tapi mata itu kini berembun.
Hasna menarik napas dalam. Dan menyentuh pundak sahabatnya.
"Tadinya aku pikir kamu bakalan bertahan dan bisa menyingkirkan perempuan itu. Enak di dia dong sekarang bisa menikmati kekayaan suamimu. Pelakor memang tak punya hati." Ucap Hasna ikutan kesal.
"Sudahlah aku tak peduli lagi dengan mereka. Aku sudah minta talak darinya dan masih menunggu surat gugatan cerai darinya." Jawabnya sambil menyeka sudut matanya.
"Sabar ya! Mungkin kalau aku yang ada diposisi kamu. Aku pun akan melakukan hal yang sama." Jawab Hasna sambil kembali mengusap bahunya.
"Siapa sih pelakor itu? Pengen aku bejek-bejek dia, beraninya melukai hati sahabatku." Ucap Hasna dengan emosi.
"Dia mantannya Mas Yudha. Sebenarnya sih dia meminta kita untuk akur. Ya ... kayak sinetron gitu lah istri pertama dan kedua terlihat akur. Tapi akunya yang gak mau karena gak sanggup melihat suami sendiri berduaan sama perempuan lain. Jadi ya ... mending aku pergi saja." Tukas Ajeng sambil tersenyum pahit.
"Qeera gimana?" Tanya Hasna penasaran.
"Awal-awal sih dia gak mau pergi pengen sama ayahnya juga. Tapi ... kemarin dia mau aja gitu aku ajak keluar dari rumah itu. Aku gak nanya juga kenapa Qeera diam saja saat aku ajak pergi gak kayak kemarin." Ujar Ajeng sambil menatap kosong.
"Maaf ya, aku gak ada disaat kamu kesusahan. Harusnya aku ada disitu bantu kamu pergi dari sana."
"Gak papa Na, kamu mendengarkan curhatku aja aku udah seneng banget. Makasih ya selama ini kamu pendengar setiaku. Kamu sahabatku yang paling baik." Ucap Ajeng sambil merangkul Hasna dan dibalas juga olehnya.
"Kamu harus kuat, kamu harus buktikan bahwa kamu pun bisa tanpanya. Bahkan kamu harus lebih sukses dari dia."
"Iya, do'akan ya."
"Aku selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu."
Ajeng dan Hasna melerai pelukannya, dan setelah itu mereka undur dari tempat itu. Hasna membantu membawa kosmetik itu kedalam mobil Ajeng. Lalu keduanya berpelukan lagi sebelum berpamitan.
Hasna sudah menaiki mobilnya begitu juga Ajeng. Lalu mereka menuju tempat tujuan masing-masing.
Namun saat ditengah jalan. Mobil yang dikendarai Ajeng malah mogok. Dan ia pun dengan terpaksa turun dari mobil itu lalu membuka bagian depan untuk mengeceknya.
Dan disaat itu para penumpang yang dibelakang terus membunyikan klaksonnya karena mobil Ajeng menghalangi mereka untuk jalan.
"Maap semua. Mabil saya mogok jadi saya gak bisa minggir." Ucap Ajeng mendekat pada mobil yang berada dibelakangnya.
Lalu seseorang yang berada dimobil tersebut membukakan kaca mobilnya.
"Mogok kenapa mbak?" Tanya seseorang itu.
"Saya juga gak tau pak. Tiba-tiba saja mogok. Padahal bensin baru di isi tadi." Jawab Ajeng.
Lelaki itu pun turun dan turut membantu mengecek mobil itu.
"Wahh ini sih harus ke bengkel mbak." Ujar lelaki tersebut.
"Lalu gimana pak? Apa ada bengkel di sekitar sini? Dan saya juga gak enak pada mereka yang dibelakang karena gak bisa jalan." Ucap Ajeng tak enak hati.
Kemudian lelaki itu memanggil warga yang ada disana untuk membantu mendorong mobil itu kepinggir jalan agar mobil yang berada dibelakangnya bisa kembali jalan.
Akhirnya beberapa warga turut membantu dan kini mobil itu sudah terparkir ditepi jalan.
Setelah itu Ajeng mengucapkan banyak terimakasih pada warga yang mau membantunya juga pada lelaki itu, karena berkat dia masalah kemacetan bisa teratasi.
Namun ia juga bingung bagaimana dengan barang pesanan customernya.
"Bagaimana kalau mbak ikut mobil saya. Nanti saya antar barang pesanan mbak." Ujar lelaki tersebut.
"Makasih Pak." Jawab Ajeng sambil menunduk sopan. "Tapi maap saya tidak mau merepotkan bapak. Biar saya pakai ojek saja."
"Gak papa. Kebetulan saya tidak ada kerjaan penting. Lagian kalau pakai ojek harus pesan dulu takut para customer kelamaan nunggu. Nanti biar saya telepon asisten saya untuk membawa mobil mbak ke bengkel."
Ajeng berpikir apa yang dikatakan lelaki tadi ada benarnya juga. Lalu ia pun mengangguk dan kemudian lelaki itu turut memindahkan barang pesanan itu kedalam mobilnya.
Lalu Ajeng disuruh duduk disamping kemudi atau disamping lelaki tersebut. Lelaki itu pun masuk dan duduk lalu menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan dimana customer itu sedang menunggu.
Tak ada obrolan diantara mereka mengingat keduanya belum kenal satu sama lain dan baru bertemu sekarang.
"Makasih Pak untuk semuanya. Kalau tidak ada bapak, saya gak tau harus gimana. Sekali lagi terimakasih." Tukas Ajeng membuka obrolan.
"Iya sama-sama. Sudah seharusnya kita saling membantu. Aku gak tega kalau lihat orang lagi kesusahan terus gak ada yang bantu." Jawab lelaki itu tersenyum tanpa menoleh sedikitpun dan terus pokus pada jalanan didepannya.
"Oh ya. Ini dekat sini kan?" Tanya lelaki itu.
"Iya hampir sampai."
Kemudian satu persatu pesanan itu akhirnya sampai di tuannya. Lalu setelah itu Ajeng memilih untuk naik angkot saja. Tak mau lagi merepotkan lelaki itu.
"Kalau itu mau mbak. Yasudah hati-hati ya. Dan asisten saya sudah membawa mobil mbak ke bengkel, dan ini nama bengkelnya beserta alamatnya." Ujar lelaki itu sambil memperlihatkan nama bengkel dan alamatnya diponsel miliknya.
"Iya sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak." Kata Ajeng tersenyum sambil mengangguk sopan.
"Aku belum tau nama mbak. Kenalkan nama saya Luthfan." Kata lelaki itu sambil mengulurkan tangannya dan dibalas juga oleh Ajeng.
"Saya Ajeng."
"Ohh mbak Ajeng. Sampai bertemu lagi. Saya pamit dulu." Jawab Luthfan sambil melambaikan tangan lalu menaiki mobilnya kembali.
Ajeng tersenyum melihat lelaki itu yang sudah hilang dari pandangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
trimakasi orag baik
2023-10-09
0
Sekar arum
yess sosok baru
2023-05-26
0
Erwin Hidayati
ajeng dpt pengganti yg lebih baik sja
2023-04-08
1