8. Bertemu Seseorang

Hari pertama dirumah Almarhum kedua orangtua Ajeng. Ia bangun lebih pagi sengaja karena ingin membersihkan rumah itu. Setelah memakan waktu hampir satu jam akhirnya rumah pun sudah bersih.

Lalu setelahnya ia membangunkan Qeera untuk sholat subuh, dan keduanya sholat berjamaah. Setelah usai Ajeng keluar untuk menyiapkan sarapan.

"Biar saya saja bu." Kata Pengasuh yang tiba didapur.

"Iya tolong ya! Saya ada urusan lain lagi." Jawab Ajeng sambil berlalu dari dapur.

Ajeng duduk disofa sambil memainkan ponselnya. Dan ia memberitahukan pada sahabatnya bernama Hasna bahwa ada beberapa orang yang pesan kosmetik darinya. Dengan segera Hasna mengambil kosmetik yang dipesan itu lalu mengemasnya dan ditulis alamat pembeli, setelah itu mereka akan ketemuan karena Ajeng sendiri yang akan mengantarnya.

Sarapan telah dihidangkan dimeja makan. Ajeng, Qeera dan pengasuh itu pun makan bersama dimeja yang sama. Ajeng tak membeda-bedakannya dari dulu. Meski seorang pengasuh tapi ia tetap berbaik hati untuk makan bersama mereka dan meminta Qeera untuk belajar makan sendiri sedari kecil, sehingga kini Qeera tak perlu lagi disuapi.

Setelahnya Qeera diajak mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.

"Sus, tungguin Qeera ke sekolah ya nanti saya yang antar."

"Iya bu, sudah kewajiban saya juga."

Jawab pengasuh menunduk sopan. Ia sangat betah bekerja dengan Ajeng sehingga berapapun gajinya ia akan terima. Meski gak di gaji pun gak masalah asal diberi makan. Baginya kenyamanan yang penting. Ia seorang janda diusia muda, tapi tidak mempunyai anak. Maka tidak ada tanggungjawab baginya. Orangtuanya pun sudah tidak peduli padanya karena nikah tanpa restu orangtua.

Ketiganya menaiki mobil lalu mobil itu meninggalkan pekarangan rumah menuju tempat sekolah Qeera.

Setelah sampai, Ajeng pamit pada mereka untuk mengantarkan barang pesanan.

Hasna dan Ajeng janji ketemuan disebuah caffe. Ajeng datang lebih dulu dan memilih tempat lalu hanya memesan minuman karena ia sudah sarapan.

Sekitar lima belas menit, Hasna baru tiba dengan menenteng barang pesanan itu.

"Hai." Sapa Hasna dan langsung duduk disana.

"Lama banget Na." Kata Ajeng menoleh.

"Maap, sedikit macet tadi." Jawab Hasna.

"Ini ada lima orang kan yang pesen?" Tanya Hasna sambil memperlihatkan barang yang dipesan.

"Iya, nanti aku yang antar, kamu minumlah dulu." Titah Ajeng.

Hasna memesan minuman juga makanan karena ia belum sarapan. Lalu makanan yang dipesan pun sudah tiba.

"Kamu gak sarapan dulu? Kok cuma pesen minuman?" Tanya Hasna sambil mengunyah makanannya.

"Tadi sudah dirumah."

"Oh ya bagaimana keadaan rumahtangga kamu?" Tanya Hasna karena ia diberi tahu oleh Ajeng mengenai masalah keluarganya.

Hasna orang yang sangat dipercaya oleh Ajeng dari dulu.

"Aku ... memilih pergi dari rumah itu." Jawab Ajeng menundukkan kepalanya.

"Apa?"

"Iya, jadi semalam aku tuh keluar dari rumah itu." Kata Ajeng lalu mengangkat wajahnya dan menatap Hasna dengan sendu.

"Malam-malam kamu pergi?" Tanya Hasna yang di balas anggukan oleh Ajeng.

"Lalu kalian tinggal dimana sekarang?"

"Dirumah kedua orangtuaku." Ajeng memejamkan matanya tapi mata itu kini berembun.

Hasna menarik napas dalam. Dan menyentuh pundak sahabatnya.

"Tadinya aku pikir kamu bakalan bertahan dan bisa menyingkirkan perempuan itu. Enak di dia dong sekarang bisa menikmati kekayaan suamimu. Pelakor memang tak punya hati." Ucap Hasna ikutan kesal.

"Sudahlah aku tak peduli lagi dengan mereka. Aku sudah minta talak darinya dan masih menunggu surat gugatan cerai darinya." Jawabnya sambil menyeka sudut matanya.

"Sabar ya! Mungkin kalau aku yang ada diposisi kamu. Aku pun akan melakukan hal yang sama." Jawab Hasna sambil kembali mengusap bahunya.

"Siapa sih pelakor itu? Pengen aku bejek-bejek dia, beraninya melukai hati sahabatku." Ucap Hasna dengan emosi.

"Dia mantannya Mas Yudha. Sebenarnya sih dia meminta kita untuk akur. Ya ... kayak sinetron gitu lah istri pertama dan kedua terlihat akur. Tapi akunya yang gak mau karena gak sanggup melihat suami sendiri berduaan sama perempuan lain. Jadi ya ... mending aku pergi saja." Tukas Ajeng sambil tersenyum pahit.

"Qeera gimana?" Tanya Hasna penasaran.

"Awal-awal sih dia gak mau pergi pengen sama ayahnya juga. Tapi ... kemarin dia mau aja gitu aku ajak keluar dari rumah itu. Aku gak nanya juga kenapa Qeera diam saja saat aku ajak pergi gak kayak kemarin." Ujar Ajeng sambil menatap kosong.

"Maaf ya, aku gak ada disaat kamu kesusahan. Harusnya aku ada disitu bantu kamu pergi dari sana."

"Gak papa Na, kamu mendengarkan curhatku aja aku udah seneng banget. Makasih ya selama ini kamu pendengar setiaku. Kamu sahabatku yang paling baik." Ucap Ajeng sambil merangkul Hasna dan dibalas juga olehnya.

"Kamu harus kuat, kamu harus buktikan bahwa kamu pun bisa tanpanya. Bahkan kamu harus lebih sukses dari dia."

"Iya, do'akan ya."

"Aku selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu."

Ajeng dan Hasna melerai pelukannya, dan setelah itu mereka undur dari tempat itu. Hasna membantu membawa kosmetik itu kedalam mobil Ajeng. Lalu keduanya berpelukan lagi sebelum berpamitan.

Hasna sudah menaiki mobilnya begitu juga Ajeng. Lalu mereka menuju tempat tujuan masing-masing.

Namun saat ditengah jalan. Mobil yang dikendarai Ajeng malah mogok. Dan ia pun dengan terpaksa turun dari mobil itu lalu membuka bagian depan untuk mengeceknya.

Dan disaat itu para penumpang yang dibelakang terus membunyikan klaksonnya karena mobil Ajeng menghalangi mereka untuk jalan.

"Maap semua. Mabil saya mogok jadi saya gak bisa minggir." Ucap Ajeng mendekat pada mobil yang berada dibelakangnya.

Lalu seseorang yang berada dimobil tersebut membukakan kaca mobilnya.

"Mogok kenapa mbak?" Tanya seseorang itu.

"Saya juga gak tau pak. Tiba-tiba saja mogok. Padahal bensin baru di isi tadi." Jawab Ajeng.

Lelaki itu pun turun dan turut membantu mengecek mobil itu.

"Wahh ini sih harus ke bengkel mbak." Ujar lelaki tersebut.

"Lalu gimana pak? Apa ada bengkel di sekitar sini? Dan saya juga gak enak pada mereka yang dibelakang karena gak bisa jalan." Ucap Ajeng tak enak hati.

Kemudian lelaki itu memanggil warga yang ada disana untuk membantu mendorong mobil itu kepinggir jalan agar mobil yang berada dibelakangnya bisa kembali jalan.

Akhirnya beberapa warga turut membantu dan kini mobil itu sudah terparkir ditepi jalan.

Setelah itu Ajeng mengucapkan banyak terimakasih pada warga yang mau membantunya juga pada lelaki itu, karena berkat dia masalah kemacetan bisa teratasi.

Namun ia juga bingung bagaimana dengan barang pesanan customernya.

"Bagaimana kalau mbak ikut mobil saya. Nanti saya antar barang pesanan mbak." Ujar lelaki tersebut.

"Makasih Pak." Jawab Ajeng sambil menunduk sopan. "Tapi maap saya tidak mau merepotkan bapak. Biar saya pakai ojek saja."

"Gak papa. Kebetulan saya tidak ada kerjaan penting. Lagian kalau pakai ojek harus pesan dulu takut para customer kelamaan nunggu. Nanti biar saya telepon asisten saya untuk membawa mobil mbak ke bengkel."

Ajeng berpikir apa yang dikatakan lelaki tadi ada benarnya juga. Lalu ia pun mengangguk dan kemudian lelaki itu turut memindahkan barang pesanan itu kedalam mobilnya.

Lalu Ajeng disuruh duduk disamping kemudi atau disamping lelaki tersebut. Lelaki itu pun masuk dan duduk lalu menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan dimana customer itu sedang menunggu.

Tak ada obrolan diantara mereka mengingat keduanya belum kenal satu sama lain dan baru bertemu sekarang.

"Makasih Pak untuk semuanya. Kalau tidak ada bapak, saya gak tau harus gimana. Sekali lagi terimakasih." Tukas Ajeng membuka obrolan.

"Iya sama-sama. Sudah seharusnya kita saling membantu. Aku gak tega kalau lihat orang lagi kesusahan terus gak ada yang bantu." Jawab lelaki itu tersenyum tanpa menoleh sedikitpun dan terus pokus pada jalanan didepannya.

"Oh ya. Ini dekat sini kan?" Tanya lelaki itu.

"Iya hampir sampai."

Kemudian satu persatu pesanan itu akhirnya sampai di tuannya. Lalu setelah itu Ajeng memilih untuk naik angkot saja. Tak mau lagi merepotkan lelaki itu.

"Kalau itu mau mbak. Yasudah hati-hati ya. Dan asisten saya sudah membawa mobil mbak ke bengkel, dan ini nama bengkelnya beserta alamatnya." Ujar lelaki itu sambil memperlihatkan nama bengkel dan alamatnya diponsel miliknya.

"Iya sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak." Kata Ajeng tersenyum sambil mengangguk sopan.

"Aku belum tau nama mbak. Kenalkan nama saya Luthfan." Kata lelaki itu sambil mengulurkan tangannya dan dibalas juga oleh Ajeng.

"Saya Ajeng."

"Ohh mbak Ajeng. Sampai bertemu lagi. Saya pamit dulu." Jawab Luthfan sambil melambaikan tangan lalu menaiki mobilnya kembali.

Ajeng tersenyum melihat lelaki itu yang sudah hilang dari pandangan.

Terpopuler

Comments

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

trimakasi orag baik

2023-10-09

0

Sekar arum

Sekar arum

yess sosok baru

2023-05-26

0

Erwin Hidayati

Erwin Hidayati

ajeng dpt pengganti yg lebih baik sja

2023-04-08

1

lihat semua
Episodes
1 1. Minta Cerai
2 2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3 3. Ajeng dan Fiona
4 4. Kemarahan Ajeng
5 5. Perdebatan
6 6. Pergi
7 7. Foto Mesra
8 8. Bertemu Seseorang
9 9. Ingin Rujuk
10 10. Kebencian Qeera
11 11. Masih Cemburu.
12 12. Urus Surat Cerai
13 Sosok Luthfan Aqmar
14 Waktu Berjalan Begitu Cepat
15 Belum Sembuh Dari Luka
16 Sidang Pertama
17 Mengambil Barang
18 Ajeng dan Abian.
19 Salah Sangka
20 Resmi Berpisah.
21 Kegelisahan Sang Anak
22 Abian Qadafi
23 Kebenaran Terungkap
24 Ujian Hidup Yang Tak Sama
25 Belum Move On
26 Bertemunya Abian dengan Luthfan
27 Kepanikan Yudha
28 Mengungkapkan Isi Hati
29 Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30 Abian Kerumah Ajeng
31 Lagi Fiona Berulah
32 Kedatangan Ibu Mertua
33 Gelisah
34 Mertua Dan Menantu
35 Cincin Berlian
36 Cemburu
37 Membuat Rancangan Baju
38 Sekolah Baru
39 Penyesalan Yudha
40 Will You Marry Me
41 Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42 Rebutan Sertifikat
43 Qeera Menjenguk Yudha
44 Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45 Cincin Itu...
46 Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47 Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48 Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49 Cemburu Berat
50 Menahan Malu
51 Tawaran Kerjasama Baru
52 Retno Ke Kantor Abian
53 Rekreasi
54 Mengetahui Fakta.
55 Rumit
56 Sebuah Permintaan.
57 Ijab Qabul
58 Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59 Rencana Penjebakan.
60 Sebuah Intrik
61 Aksi Penjebakan
62 Kemarahan Abian.
63 Disebuah Rumah Sakit
64 Kembalinya Ajeng
65 Melepas Rindu
66 Sebuah Keputusan
67 Bermuara Dititik Kerinduan
68 Sisa Pengantin Baru
69 Hasna dan Alvino
70 Perdebatan Dua Sahabat
71 Merajuk
72 Kebebasan Yudha
73 Amarah yang Memuncak
74 Kecelakaan
75 Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76 Konflik
77 Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78 Hamil
79 Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80 Mengalah Bukan Berarti Kalah
81 Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82 Bunuh Diri
83 Prasangka Alvino
84 Kotak Kecil
85 Introgasi
86 Ide Gila Hasna
87 Berfikir Lebih Dewasa
88 Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89 Jatuh Talak
90 Kelicikan Dibalas Kelicikan
91 Pura-puranya Suami Istri
92 Rencana Berikutnya
93 Persiapan Pesta Pernikahan
94 Hasna Terkejut
95 Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96 Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97 Keguguran
98 Kritis
99 Merajuknya Ibu Hamil
100 Kecemasan Kembali Melanda
101 Ferdy Masih Belum Terima
102 Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103 Mood Ibu Hamil
104 Pikiran Buruk Kembali Hadir
105 Membaiknya Dua Sahabat
106 Drama Ngidam
107 Tak Mau Egois
108 Kedatangan Sang Ibu
109 Masih Mengedapankan Ego
110 Retaknya Hubungan Antar Teman
111 111. Debat Mantan Suami Istri
112 112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113 113. Kecewa yang Teramat Dalam
114 114. Rindu yang Menggunung
115 115. Hanya Masalah Hati
116 116. Salah Paham
117 117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118 118 Pilihan yang Sulit.
119 119. Semangat Kembali Hadir
120 120. Keadaan yang Sama Persis
121 121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122 122. Kembali Ditangkap Polisi
123 123. Ending
Episodes

Updated 123 Episodes

1
1. Minta Cerai
2
2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3
3. Ajeng dan Fiona
4
4. Kemarahan Ajeng
5
5. Perdebatan
6
6. Pergi
7
7. Foto Mesra
8
8. Bertemu Seseorang
9
9. Ingin Rujuk
10
10. Kebencian Qeera
11
11. Masih Cemburu.
12
12. Urus Surat Cerai
13
Sosok Luthfan Aqmar
14
Waktu Berjalan Begitu Cepat
15
Belum Sembuh Dari Luka
16
Sidang Pertama
17
Mengambil Barang
18
Ajeng dan Abian.
19
Salah Sangka
20
Resmi Berpisah.
21
Kegelisahan Sang Anak
22
Abian Qadafi
23
Kebenaran Terungkap
24
Ujian Hidup Yang Tak Sama
25
Belum Move On
26
Bertemunya Abian dengan Luthfan
27
Kepanikan Yudha
28
Mengungkapkan Isi Hati
29
Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30
Abian Kerumah Ajeng
31
Lagi Fiona Berulah
32
Kedatangan Ibu Mertua
33
Gelisah
34
Mertua Dan Menantu
35
Cincin Berlian
36
Cemburu
37
Membuat Rancangan Baju
38
Sekolah Baru
39
Penyesalan Yudha
40
Will You Marry Me
41
Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42
Rebutan Sertifikat
43
Qeera Menjenguk Yudha
44
Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45
Cincin Itu...
46
Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47
Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48
Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49
Cemburu Berat
50
Menahan Malu
51
Tawaran Kerjasama Baru
52
Retno Ke Kantor Abian
53
Rekreasi
54
Mengetahui Fakta.
55
Rumit
56
Sebuah Permintaan.
57
Ijab Qabul
58
Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59
Rencana Penjebakan.
60
Sebuah Intrik
61
Aksi Penjebakan
62
Kemarahan Abian.
63
Disebuah Rumah Sakit
64
Kembalinya Ajeng
65
Melepas Rindu
66
Sebuah Keputusan
67
Bermuara Dititik Kerinduan
68
Sisa Pengantin Baru
69
Hasna dan Alvino
70
Perdebatan Dua Sahabat
71
Merajuk
72
Kebebasan Yudha
73
Amarah yang Memuncak
74
Kecelakaan
75
Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76
Konflik
77
Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78
Hamil
79
Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80
Mengalah Bukan Berarti Kalah
81
Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82
Bunuh Diri
83
Prasangka Alvino
84
Kotak Kecil
85
Introgasi
86
Ide Gila Hasna
87
Berfikir Lebih Dewasa
88
Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89
Jatuh Talak
90
Kelicikan Dibalas Kelicikan
91
Pura-puranya Suami Istri
92
Rencana Berikutnya
93
Persiapan Pesta Pernikahan
94
Hasna Terkejut
95
Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96
Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97
Keguguran
98
Kritis
99
Merajuknya Ibu Hamil
100
Kecemasan Kembali Melanda
101
Ferdy Masih Belum Terima
102
Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103
Mood Ibu Hamil
104
Pikiran Buruk Kembali Hadir
105
Membaiknya Dua Sahabat
106
Drama Ngidam
107
Tak Mau Egois
108
Kedatangan Sang Ibu
109
Masih Mengedapankan Ego
110
Retaknya Hubungan Antar Teman
111
111. Debat Mantan Suami Istri
112
112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113
113. Kecewa yang Teramat Dalam
114
114. Rindu yang Menggunung
115
115. Hanya Masalah Hati
116
116. Salah Paham
117
117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118
118 Pilihan yang Sulit.
119
119. Semangat Kembali Hadir
120
120. Keadaan yang Sama Persis
121
121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122
122. Kembali Ditangkap Polisi
123
123. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!