Setelah selesai mengantarkan barang pesanan. Ajeng pun kembali menaiki mobilnya dan hendak membelikan makanan terlebih dahulu untuk putrinya.
Namun pada saat akan turun dari mobilnya. Ponselnya berdering. Ada panggilan dari Sus Rini.
"Hallo Sus."
"Hallo Bu. Maaf ... sekali lagi saya minta maaf." Ucap pengasuh itu terdengar panik.
Ajeng yang mendengarnya juga ikutan panik.
"Kenapa Sus? Ada apa? Apa ada sesuatu dengan anak saya?" Ajeng tiba-tiba sangat khawatir dengan keadaan putrinya.
"Iya Bu maaf, semua salah saya."
"Ada apa? Coba tarik napas dulu, lalu keluarkan perlahan." Titah Ajeng padanya. Lalu di ikuti juga olehnya.
"Begini Bu, tadi kan saya ijin ke toilet sebentar, tapi saya lupa tidak mengunci pintu kamar, lalu ... " Rini kini terisak.
"Ada apa?" Ajeng pun menyeka sudut matanya. Pikirannya takut terjadi apa-apa pada putrinya.
"Qeera ... hi hilang Bu."
"Apa?"
"Maafkan saya Bu."
"Bagaimana ceritanya putriku bisa hilang?" Kamu sudah cari ke setiap ruangan?" Desis Ajeng menahan sesak yang teramat dalam. Padahal pada suaminya kemarin tak sesakit dan sesesak itu.
"Sudah Bu, tapi tidak ada. Tapi hanya pintu kamar ibu yang gak bisa dibuka. Terkunci dari dalam." Ujar pengasuh itu.
Ajeng teringat, bahwa ada kunci duplikat untuk pintu kamarnya. Ia pun memberi tahu Rini untuk pakai kunci duplikat itu, karena siapa tahu Qeera ada didalam kamarnya.
Akhirnya Rini mengambil kunci itu dan langsung membuka pintu kamar majikannya. Benar saja Qeera ada disana, tapi dalam keadaan tertidur tanpa selimut.
"Alhamdulillah Bu, Qeera ada didalam kamar ibu, tapi dia sedang tidur."
"Alhamdulillaah. Syukurlah."
"Tapi ... "
"Tapi apa Sus?" Baru saja hatinya lega. Ajeng harus kembali lagi dengan rasa khawatirnya.
"Mata Qeera terlihat sembab, juga bantalnya sedikit basah."
"Astaghfirullahh." Desisnya. "Baiklah, saya segera pulang. Tolong kamu jaga Qeera baik-baik ya? Dan jangan kemana-mana sebelum saya datang."
"Iya Bu."
Panggilanpun terputus. Ia segera melajukan mobilnya untuk pulang, tidak jadi membelikan makanan karena rasa cemas mendera dihatinya untuk putri semata wayangnya.
Tiba dirumah. Ajeng segera membukakan pintunya lalu dengan jalan sedikit tergesa menuju kamar pribadinya.
Ia buka knop pintu itu. Dan segera mendekat ke arah Qeera lalu duduk disampingnya. Ia kecup kening itu dan juga pucuk kepalanya.
Lalu mata Ajeng menatap wajah Qeera yang memang terlihat sembab. Ia sentuh bantal itu yang sudah sedikit mengering karena tadinya basah oleh airmata Qeera.
"Kenapa kamu Nak? Siapa yang membuatmu menangis seperti ini?" Gumam Ajeng menatapnya iba.
Ia pun teringat pada Fiona. Dan menebak-nebak kalau putrinya menangis karena ulahnya.
Pengasuh itu pamit kaluar dari kamar itu. Karena majikannya sudah datang.
Selang lima belas menit. Qeera akhirnya terbangun dan matanya langsung melihat ke arah bundanya. Karena dari tadi Ajeng tak sedikitpun bangkit dari duduknya. Ia terus mendampingi putrinya.
"Bunda." Lirih Qeera menatap ibundanya.
"Sayang udah bangun?"
"Bunda, aku gak mau punya bunda dua." Kata Qeera langsung terlontar ucapan seperti itu.
Ajeng sangat shock mendengar penuturan putrinya. Bagaimana Qeera bisa tahu kalau bukan ada orang yang memberitahunya.
'Ternyata dugaanku benar, kamu telah berbuat sesuatu pada anakku. Sehingga dia menangis, siapa lagi kalau bukan kamu.' ucap Ajeng dalam hati dengan tatapan kosong.
"Bunda, kok bengong?"
Ajeng mengerjap dan tersenyum menatap wajah polos itu. Wajah yang setiap saat ada dalam do'a nya, siapa lagi kalau bukan Qeera Nakesya Mahardika.
"Tidak sayang, bunda sedang berpikir saja. Kenapa Qeera tiba-tiba bicara seperti itu?" Kata Ajeng lembut.
Akhirnya Qeera menceritakan awal mula ia tahu, tak ada sedikitpun yang terlewat dari ceritanya.
"Jadi benar Bun? Aku punya bunda dua yaitu tante Fiona juga?"
Ajeng mengambil napas berat. Ia harus membuat Qeera tak kepikiran soal 'katanya' punya bunda dua.
"Sayang. Ada saatnya orang harus tahu, dan ada saatnya orang juga tidak boleh tahu soal permasalahan orang lain." Papar Ajeng sambil mengusap pucuk kepalanya.
"Jadi tante Fiona bukan bundaku juga kan Bun? Istri ayah cuma bunda kan?" Tanya Qeera berharap itu salah.
"Ada saatnya kamu akan tau Nak. Tapi bukan sekarang ini. Kamu masih terlalu kecil untuk tau semuanya." Ajeng tau, meski Qeera berusia lima tahun. Tapi dia sudah sangat pintar akan situasi dan kondisi setiap orang yang dia dengar dan dia lihat.
"Tapi kalau sampai itu benar, aku gak mau bunda. Bundaku cuma satu, yaitu bunda Ajeng." Qeera terisak sambil merangkul ibundanya.
Ajeng mendekap erat putrinya dan mencoba menenangkannya. Setelah lebih tenang. Ia menawarkan makan siang, tapi Qeera menolak karena belum lapar, alhasil Ajeng memanggil pengasuh putrinya untuk menemaninya dikamar, karena ia akan ke bawah sebentar.
Setelah Sus Rini tiba, ia berpesan supaya Qeera jangan dulu keluar dari kamar itu sebelum ia kembali, dan untuk makan siang juga Sus Rini sudah membawanya dan di simpan dulu karena Qeera belum mau.
Tiba dilantai bawah, Ajeng melihat Fiona sedang menonton tivi sambil memakan makanan ringan.
"Enak banget ya, udah hidup numpang, tapi lagaknya kayak yang punya rumah sendiri." Sindirnya dibelakang Fiona.
Fiona menoleh ke belakang sambil menyipitkan matanya.
"Apa aku tidak salah dengar?" Fiona bangkit dan kini mereka saling berhadapan.
"Memang benar kan? Kamu hanya ikutan numpang disini?" Kata Ajeng tersenyum tipis.
"Jaga mulut kamu?" Teriak Fiona sambil jari telunjuknya ia layangkan dihadapan Ajeng.
"Kamu yang seharusnya di jaga mulutnya." Ajeng tak kalah tinggi suaranya.
"Apa maksud kamu? Bukannya dari kemarin kamu selalu ketus padaku?"
Plakk
Satu tamparan keras mengenai pipi sebelah kiri Fiona dengan sedikit limbung kesamping karena saking kerasnya tamparan itu.
"Kamu kan yang kasih tau pada anakku. Kalau kamu juga istri lelaki tak tau diri itu." Teriak Ajeng dengan rahang mengeras dan matanya melotot, sungguh kali ini ia meluapkan emosinya yang tertahan sejak kemarin.
"Kalau iya kenapa? Hah?"
"Kamu tau, dampak dari semua itu, anakku terlihat murung karena dia sampai kepikiran kalau punya bunda lain selain aku." Bentak Ajeng.
"Lalu, apa peduliku sama anak kamu, bukan siapa-siapanya aku kok." Fiona tetap santai, tapi tangannya masih memegang pipinya karena sakit.
"Kamu." Ucap Ajeng sambil kembali menarik rambutnya seperti malam itu saat kepergok sekamar dengan suaminya.
"Kali ini tidak ada ampun untuk perempuan macam kamu Fiona." Ajeng semakin kuat menarik rambut itu hingga tercabut sedikit, dan Fiona merasakan kesakitan.
Fiona membalas lalu mendorong Ajeng hingga terjengkang ke belakang dan duduk.
Kini Ajeng berada dibawah Fiona, dan Fiona diatasnya dengan kedua tangannya ia letakkan dileher Ajeng hendak mencekiknya. Namun Ajeng dengan segala kemarahannya, ia bisa menepis tangan itu, lalu kakinya menendang bagian perutnya sehingga kini Fiona juga terduduk.
Ajeng bangkit dan langsung menamparnya untuk kali kedua. Dan hendak melayangkan lagi pukulan padanya. Namun pintu depan terbuka lebar menampilkan sosok lelaki karismatik dan gagah dimata orang-orang, dan sosok lelaki penyayang dan lemah lembut dimata anak dan istrinya. Tapi kini semua itu tidak ada dalam dirinya, karena terbuai oleh cinta dan napsu duniawinya. Ya dia adalah Yudha Mahardika.
"Ada apa ini?" Ucap Yudha melihat keduanya tengah berkelahi.
"Hentikan Ajeng." Teriak Yudha dan sedikit berlari ke arah mereka. Lalu membangunkan Fiona. "Kamu tidak apa-apa kan?"
Tapi Fiona meringis memegangi perutnya juga memperlihatkan pipinya yang kemerahan akibat tamparan keras tadi.
"Ajeng, apa yang kamu lakukan padanya?" Bentak Yudha.
Plakk
Satu tamparan juga mengenai pipi Ajeng, tamparan yang pertama kali dari suaminya.
"Kamu menamparku? Kamu membela dia? Aku pun begini karena aku juga melindungi anakku dari hasutan perempuan seperti dia." Teriak Ajeng yang sangat geram pada suaminya juga Fiona.
"Apa maksud kamu?"
"Dia telah memberitahu Qeera kalau dia juga istri kamu. Dan harus memanggilnya bunda juga, yang sampai kapanpun, aku gak sudi anakku mamanggilnya dengan kata bunda." Ucap Ajeng menahan sesak di dadanya. Mati-matian ia menahannya supaya tidak menangis lagi di hadapan mereka.
"Tapi bukannya itu benar kan, sayang?" Seru Fiona dengan air mata yang di buat-buat, agar menarik simpatik dari Yudha.
"Fiona benar, Qeera juga harus tau itu." Kata Yudha tegas.
"Tapi dia masih kecil Mas, tak seharusnya dia tau permasalahan orang tuanya." Desisnya.
"Lalu sampai kapan? Sudahlah Jeng, kamu harus terima kenyataan ini. Dan aku akan segera meresmikan pernikahanku dengan Fiona." Ujar Yudha sambil merangkul Fiona lalu mengecup keningnya. Fiona yang mendengarnya tak kalah bahagianya. Ia pun tersenyum dan membalas rengkulannya.
Ajeng memalingkan pandangannya.
"Kamu harus terbiasa dengan semua ini, aku pastikan kalian akan mendapatkan jatah yang sama." Yudha melerai pelukannya, lalu mendekat pada Ajeng, tangannya terhulur hendak menyentuhnya, namun dia tepis.
"Jangan sentuh aku." Bentak Ajeng. "Sekarang juga ceraikan aku." Tukas Ajeng menatapnya tajam.
"Harus berapa kali aku bilang, aku tidak akan menceraikan kamu."
"Kamu egois." Bentak Ajeng. "Cepat ceraikan aku." Ajeng berteriak karena sudah tak tahan dengan kelakuan suaminya.
"Baik, kalau itu tetap mau mu. Tapi jangan bawa anakku." Tukas Yudha.
"Dia anakku, aku yang mengandungnya dan melahirkannya. Lagipula aku tak yakin jika Qeera tetap tinggal disini hidupnya akan bahagia bersama ibu tirinya."
"Mas, aku bukan ibu tiri yang jahat." Rengek Fiona dengan manja memeluk Yudha, lalu melirik Ajeng sambil menyunggingkan senyuman.
Ajeng bertepuk tangan. "Sandiwara yang sangat bagus. Belajar dari mana Nona? Ohhh jangan-jangan dari temanmu itu yaa, yang rela jadi istri kedua. Pantes, bergaulnya sama orang kayak gitu. Jadinya nular kan! Tapi kamu lebih parah. Karena kamu itu PE..LA..KOR." Ucap Ajeng sambil mengeja kata itu di akhir kalimat.
Fiona melerai pelukannya dan mendekat ke arah Ajeng.
"Sekali lagi kata itu terlontar, akan aku pastikan hidupmu tak akan tenang." Tekan Fiona.
"Siapa takut. Karena aku pun sudah muak dengan kalian." Cebik Ajeng yang memilih pergi dari hadapan mereka.
"Biarkan saja dia, apa bisa hidup tanpaku." Desis Yudha.
"Kamu gak apa-apa, anak kamu dibawanya?" Tanya Fiona.
"Sebenarnya ada rasa sedih, tapi aku juga akan mendapatkannya kan, dari kamu?" Yudha tersenyum menggoda menatapnya.
"Ah kamu bisa aja." Fiona tersipu malu.
"Gak KB kan?" Bisik Yudha lalu mengecup pipinya.
"Mas, jangan disini."
"Kita ke kamar."
Ajeng melihatnya dari atas, karena ia mau melihat bagaimana mereka di belakangnya. Ternyata sangat busuk.
Ia pun berlari ke kamar Qeera, menangis tersedu menumpahkan segala isi hatinya disana. Tak kuat jika terus-terusan serumah dengan madunya. Ia bertekad akan keluar hari ini juga meski cuaca sudah sore.
Ponselnya pun berdering. "Bu, Qeera nanyain ibu terus." Ucap Sus Rini.
"Iya, bilang padanya saya akan kesitu sekarang." Titah Ajeng lalu bangkit ke kamar mandi, membasuh muka nya supaya tidak terlihat kalau telah menangis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
2sejoli smpah Yudha n fiona
2023-10-09
0
Yati Syahira
ternyata benar sampah dan przina sama"jodohnya cepetan pergi ajeng
2023-07-25
2
Uthie
cepetan pergi... biar si Yudha menyesal nanti 💪😡
2023-07-11
0