4. Kemarahan Ajeng

Setelah selesai mengantarkan barang pesanan. Ajeng pun kembali menaiki mobilnya dan hendak membelikan makanan terlebih dahulu untuk putrinya.

Namun pada saat akan turun dari mobilnya. Ponselnya berdering. Ada panggilan dari Sus Rini.

"Hallo Sus."

"Hallo Bu. Maaf ... sekali lagi saya minta maaf." Ucap pengasuh itu terdengar panik.

Ajeng yang mendengarnya juga ikutan panik.

"Kenapa Sus? Ada apa? Apa ada sesuatu dengan anak saya?" Ajeng tiba-tiba sangat khawatir dengan keadaan putrinya.

"Iya Bu maaf, semua salah saya."

"Ada apa? Coba tarik napas dulu, lalu keluarkan perlahan." Titah Ajeng padanya. Lalu di ikuti juga olehnya.

"Begini Bu, tadi kan saya ijin ke toilet sebentar, tapi saya lupa tidak mengunci pintu kamar, lalu ... " Rini kini terisak.

"Ada apa?" Ajeng pun menyeka sudut matanya. Pikirannya takut terjadi apa-apa pada putrinya.

"Qeera ... hi hilang Bu."

"Apa?"

"Maafkan saya Bu."

"Bagaimana ceritanya putriku bisa hilang?" Kamu sudah cari ke setiap ruangan?" Desis Ajeng menahan sesak yang teramat dalam. Padahal pada suaminya kemarin tak sesakit dan sesesak itu.

"Sudah Bu, tapi tidak ada. Tapi hanya pintu kamar ibu yang gak bisa dibuka. Terkunci dari dalam." Ujar pengasuh itu.

Ajeng teringat, bahwa ada kunci duplikat untuk pintu kamarnya. Ia pun memberi tahu Rini untuk pakai kunci duplikat itu, karena siapa tahu Qeera ada didalam kamarnya.

Akhirnya Rini mengambil kunci itu dan langsung membuka pintu kamar majikannya. Benar saja Qeera ada disana, tapi dalam keadaan tertidur tanpa selimut.

"Alhamdulillah Bu, Qeera ada didalam kamar ibu, tapi dia sedang tidur."

"Alhamdulillaah. Syukurlah."

"Tapi ... "

"Tapi apa Sus?" Baru saja hatinya lega. Ajeng harus kembali lagi dengan rasa khawatirnya.

"Mata Qeera terlihat sembab, juga bantalnya sedikit basah."

"Astaghfirullahh." Desisnya. "Baiklah, saya segera pulang. Tolong kamu jaga Qeera baik-baik ya? Dan jangan kemana-mana sebelum saya datang."

"Iya Bu."

Panggilanpun terputus. Ia segera melajukan mobilnya untuk pulang, tidak jadi membelikan makanan karena rasa cemas mendera dihatinya untuk putri semata wayangnya.

Tiba dirumah. Ajeng segera membukakan pintunya lalu dengan jalan sedikit tergesa menuju kamar pribadinya.

Ia buka knop pintu itu. Dan segera mendekat ke arah Qeera lalu duduk disampingnya. Ia kecup kening itu dan juga pucuk kepalanya.

Lalu mata Ajeng menatap wajah Qeera yang memang terlihat sembab. Ia sentuh bantal itu yang sudah sedikit mengering karena tadinya basah oleh airmata Qeera.

"Kenapa kamu Nak? Siapa yang membuatmu menangis seperti ini?" Gumam Ajeng menatapnya iba.

Ia pun teringat pada Fiona. Dan menebak-nebak kalau putrinya menangis karena ulahnya.

Pengasuh itu pamit kaluar dari kamar itu. Karena majikannya sudah datang.

Selang lima belas menit. Qeera akhirnya terbangun dan matanya langsung melihat ke arah bundanya. Karena dari tadi Ajeng tak sedikitpun bangkit dari duduknya. Ia terus mendampingi putrinya.

"Bunda." Lirih Qeera menatap ibundanya.

"Sayang udah bangun?"

"Bunda, aku gak mau punya bunda dua." Kata Qeera langsung terlontar ucapan seperti itu.

Ajeng sangat shock mendengar penuturan putrinya. Bagaimana Qeera bisa tahu kalau bukan ada orang yang memberitahunya.

'Ternyata dugaanku benar, kamu telah berbuat sesuatu pada anakku. Sehingga dia menangis, siapa lagi kalau bukan kamu.' ucap Ajeng dalam hati dengan tatapan kosong.

"Bunda, kok bengong?"

Ajeng mengerjap dan tersenyum menatap wajah polos itu. Wajah yang setiap saat ada dalam do'a nya, siapa lagi kalau bukan Qeera Nakesya Mahardika.

"Tidak sayang, bunda sedang berpikir saja. Kenapa Qeera tiba-tiba bicara seperti itu?" Kata Ajeng lembut.

Akhirnya Qeera menceritakan awal mula ia tahu, tak ada sedikitpun yang terlewat dari ceritanya.

"Jadi benar Bun? Aku punya bunda dua yaitu tante Fiona juga?"

Ajeng mengambil napas berat. Ia harus membuat Qeera tak kepikiran soal 'katanya' punya bunda dua.

"Sayang. Ada saatnya orang harus tahu, dan ada saatnya orang juga tidak boleh tahu soal permasalahan orang lain." Papar Ajeng sambil mengusap pucuk kepalanya.

"Jadi tante Fiona bukan bundaku juga kan Bun? Istri ayah cuma bunda kan?" Tanya Qeera berharap itu salah.

"Ada saatnya kamu akan tau Nak. Tapi bukan sekarang ini. Kamu masih terlalu kecil untuk tau semuanya." Ajeng tau, meski Qeera berusia lima tahun. Tapi dia sudah sangat pintar akan situasi dan kondisi setiap orang yang dia dengar dan dia lihat.

"Tapi kalau sampai itu benar, aku gak mau bunda. Bundaku cuma satu, yaitu bunda Ajeng." Qeera terisak sambil merangkul ibundanya.

Ajeng mendekap erat putrinya dan mencoba menenangkannya. Setelah lebih tenang. Ia menawarkan makan siang, tapi Qeera menolak karena belum lapar, alhasil Ajeng memanggil pengasuh putrinya untuk menemaninya dikamar, karena ia akan ke bawah sebentar.

Setelah Sus Rini tiba, ia berpesan supaya Qeera jangan dulu keluar dari kamar itu sebelum ia kembali, dan untuk makan siang juga Sus Rini sudah membawanya dan di simpan dulu karena Qeera belum mau.

Tiba dilantai bawah, Ajeng melihat Fiona sedang menonton tivi sambil memakan makanan ringan.

"Enak banget ya, udah hidup numpang, tapi lagaknya kayak yang punya rumah sendiri." Sindirnya dibelakang Fiona.

Fiona menoleh ke belakang sambil menyipitkan matanya.

"Apa aku tidak salah dengar?" Fiona bangkit dan kini mereka saling berhadapan.

"Memang benar kan? Kamu hanya ikutan numpang disini?" Kata Ajeng tersenyum tipis.

"Jaga mulut kamu?" Teriak Fiona sambil jari telunjuknya ia layangkan dihadapan Ajeng.

"Kamu yang seharusnya di jaga mulutnya." Ajeng tak kalah tinggi suaranya.

"Apa maksud kamu? Bukannya dari kemarin kamu selalu ketus padaku?"

Plakk

Satu tamparan keras mengenai pipi sebelah kiri Fiona dengan sedikit limbung kesamping karena saking kerasnya tamparan itu.

"Kamu kan yang kasih tau pada anakku. Kalau kamu juga istri lelaki tak tau diri itu." Teriak Ajeng dengan rahang mengeras dan matanya melotot, sungguh kali ini ia meluapkan emosinya yang tertahan sejak kemarin.

"Kalau iya kenapa? Hah?"

"Kamu tau, dampak dari semua itu, anakku terlihat murung karena dia sampai kepikiran kalau punya bunda lain selain aku." Bentak Ajeng.

"Lalu, apa peduliku sama anak kamu, bukan siapa-siapanya aku kok." Fiona tetap santai, tapi tangannya masih memegang pipinya karena sakit.

"Kamu." Ucap Ajeng sambil kembali menarik rambutnya seperti malam itu saat kepergok sekamar dengan suaminya.

"Kali ini tidak ada ampun untuk perempuan macam kamu Fiona." Ajeng semakin kuat menarik rambut itu hingga tercabut sedikit, dan Fiona merasakan kesakitan.

Fiona membalas lalu mendorong Ajeng hingga terjengkang ke belakang dan duduk.

Kini Ajeng berada dibawah Fiona, dan Fiona diatasnya dengan kedua tangannya ia letakkan dileher Ajeng hendak mencekiknya. Namun Ajeng dengan segala kemarahannya, ia bisa menepis tangan itu, lalu kakinya menendang bagian perutnya sehingga kini Fiona juga terduduk.

Ajeng bangkit dan langsung menamparnya untuk kali kedua. Dan hendak melayangkan lagi pukulan padanya. Namun pintu depan terbuka lebar menampilkan sosok lelaki karismatik dan gagah dimata orang-orang, dan sosok lelaki penyayang dan lemah lembut dimata anak dan istrinya. Tapi kini semua itu tidak ada dalam dirinya, karena terbuai oleh cinta dan napsu duniawinya. Ya dia adalah Yudha Mahardika.

"Ada apa ini?" Ucap Yudha melihat keduanya tengah berkelahi.

"Hentikan Ajeng." Teriak Yudha dan sedikit berlari ke arah mereka. Lalu membangunkan Fiona. "Kamu tidak apa-apa kan?"

Tapi Fiona meringis memegangi perutnya juga memperlihatkan pipinya yang kemerahan akibat tamparan keras tadi.

"Ajeng, apa yang kamu lakukan padanya?" Bentak Yudha.

Plakk

Satu tamparan juga mengenai pipi Ajeng, tamparan yang pertama kali dari suaminya.

"Kamu menamparku? Kamu membela dia? Aku pun begini karena aku juga melindungi anakku dari hasutan perempuan seperti dia." Teriak Ajeng yang sangat geram pada suaminya juga Fiona.

"Apa maksud kamu?"

"Dia telah memberitahu Qeera kalau dia juga istri kamu. Dan harus memanggilnya bunda juga, yang sampai kapanpun, aku gak sudi anakku mamanggilnya dengan kata bunda." Ucap Ajeng menahan sesak di dadanya. Mati-matian ia menahannya supaya tidak menangis lagi di hadapan mereka.

"Tapi bukannya itu benar kan, sayang?" Seru Fiona dengan air mata yang di buat-buat, agar menarik simpatik dari Yudha.

"Fiona benar, Qeera juga harus tau itu." Kata Yudha tegas.

"Tapi dia masih kecil Mas, tak seharusnya dia tau permasalahan orang tuanya." Desisnya.

"Lalu sampai kapan? Sudahlah Jeng, kamu harus terima kenyataan ini. Dan aku akan segera meresmikan pernikahanku dengan Fiona." Ujar Yudha sambil merangkul Fiona lalu mengecup keningnya. Fiona yang mendengarnya tak kalah bahagianya. Ia pun tersenyum dan membalas rengkulannya.

Ajeng memalingkan pandangannya.

"Kamu harus terbiasa dengan semua ini, aku pastikan kalian akan mendapatkan jatah yang sama." Yudha melerai pelukannya, lalu mendekat pada Ajeng, tangannya terhulur hendak menyentuhnya, namun dia tepis.

"Jangan sentuh aku." Bentak Ajeng. "Sekarang juga ceraikan aku." Tukas Ajeng menatapnya tajam.

"Harus berapa kali aku bilang, aku tidak akan menceraikan kamu."

"Kamu egois." Bentak Ajeng. "Cepat ceraikan aku." Ajeng berteriak karena sudah tak tahan dengan kelakuan suaminya.

"Baik, kalau itu tetap mau mu. Tapi jangan bawa anakku." Tukas Yudha.

"Dia anakku, aku yang mengandungnya dan melahirkannya. Lagipula aku tak yakin jika Qeera tetap tinggal disini hidupnya akan bahagia bersama ibu tirinya."

"Mas, aku bukan ibu tiri yang jahat." Rengek Fiona dengan manja memeluk Yudha, lalu melirik Ajeng sambil menyunggingkan senyuman.

Ajeng bertepuk tangan. "Sandiwara yang sangat bagus. Belajar dari mana Nona? Ohhh jangan-jangan dari temanmu itu yaa, yang rela jadi istri kedua. Pantes, bergaulnya sama orang kayak gitu. Jadinya nular kan! Tapi kamu lebih parah. Karena kamu itu PE..LA..KOR." Ucap Ajeng sambil mengeja kata itu di akhir kalimat.

Fiona melerai pelukannya dan mendekat ke arah Ajeng.

"Sekali lagi kata itu terlontar, akan aku pastikan hidupmu tak akan tenang." Tekan Fiona.

"Siapa takut. Karena aku pun sudah muak dengan kalian." Cebik Ajeng yang memilih pergi dari hadapan mereka.

"Biarkan saja dia, apa bisa hidup tanpaku." Desis Yudha.

"Kamu gak apa-apa, anak kamu dibawanya?" Tanya Fiona.

"Sebenarnya ada rasa sedih, tapi aku juga akan mendapatkannya kan, dari kamu?" Yudha tersenyum menggoda menatapnya.

"Ah kamu bisa aja." Fiona tersipu malu.

"Gak KB kan?" Bisik Yudha lalu mengecup pipinya.

"Mas, jangan disini."

"Kita ke kamar."

Ajeng melihatnya dari atas, karena ia mau melihat bagaimana mereka di belakangnya. Ternyata sangat busuk.

Ia pun berlari ke kamar Qeera, menangis tersedu menumpahkan segala isi hatinya disana. Tak kuat jika terus-terusan serumah dengan madunya. Ia bertekad akan keluar hari ini juga meski cuaca sudah sore.

Ponselnya pun berdering. "Bu, Qeera nanyain ibu terus." Ucap Sus Rini.

"Iya, bilang padanya saya akan kesitu sekarang." Titah Ajeng lalu bangkit ke kamar mandi, membasuh muka nya supaya tidak terlihat kalau telah menangis.

Terpopuler

Comments

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

2sejoli smpah Yudha n fiona

2023-10-09

0

Yati Syahira

Yati Syahira

ternyata benar sampah dan przina sama"jodohnya cepetan pergi ajeng

2023-07-25

2

Uthie

Uthie

cepetan pergi... biar si Yudha menyesal nanti 💪😡

2023-07-11

0

lihat semua
Episodes
1 1. Minta Cerai
2 2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3 3. Ajeng dan Fiona
4 4. Kemarahan Ajeng
5 5. Perdebatan
6 6. Pergi
7 7. Foto Mesra
8 8. Bertemu Seseorang
9 9. Ingin Rujuk
10 10. Kebencian Qeera
11 11. Masih Cemburu.
12 12. Urus Surat Cerai
13 Sosok Luthfan Aqmar
14 Waktu Berjalan Begitu Cepat
15 Belum Sembuh Dari Luka
16 Sidang Pertama
17 Mengambil Barang
18 Ajeng dan Abian.
19 Salah Sangka
20 Resmi Berpisah.
21 Kegelisahan Sang Anak
22 Abian Qadafi
23 Kebenaran Terungkap
24 Ujian Hidup Yang Tak Sama
25 Belum Move On
26 Bertemunya Abian dengan Luthfan
27 Kepanikan Yudha
28 Mengungkapkan Isi Hati
29 Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30 Abian Kerumah Ajeng
31 Lagi Fiona Berulah
32 Kedatangan Ibu Mertua
33 Gelisah
34 Mertua Dan Menantu
35 Cincin Berlian
36 Cemburu
37 Membuat Rancangan Baju
38 Sekolah Baru
39 Penyesalan Yudha
40 Will You Marry Me
41 Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42 Rebutan Sertifikat
43 Qeera Menjenguk Yudha
44 Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45 Cincin Itu...
46 Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47 Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48 Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49 Cemburu Berat
50 Menahan Malu
51 Tawaran Kerjasama Baru
52 Retno Ke Kantor Abian
53 Rekreasi
54 Mengetahui Fakta.
55 Rumit
56 Sebuah Permintaan.
57 Ijab Qabul
58 Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59 Rencana Penjebakan.
60 Sebuah Intrik
61 Aksi Penjebakan
62 Kemarahan Abian.
63 Disebuah Rumah Sakit
64 Kembalinya Ajeng
65 Melepas Rindu
66 Sebuah Keputusan
67 Bermuara Dititik Kerinduan
68 Sisa Pengantin Baru
69 Hasna dan Alvino
70 Perdebatan Dua Sahabat
71 Merajuk
72 Kebebasan Yudha
73 Amarah yang Memuncak
74 Kecelakaan
75 Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76 Konflik
77 Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78 Hamil
79 Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80 Mengalah Bukan Berarti Kalah
81 Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82 Bunuh Diri
83 Prasangka Alvino
84 Kotak Kecil
85 Introgasi
86 Ide Gila Hasna
87 Berfikir Lebih Dewasa
88 Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89 Jatuh Talak
90 Kelicikan Dibalas Kelicikan
91 Pura-puranya Suami Istri
92 Rencana Berikutnya
93 Persiapan Pesta Pernikahan
94 Hasna Terkejut
95 Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96 Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97 Keguguran
98 Kritis
99 Merajuknya Ibu Hamil
100 Kecemasan Kembali Melanda
101 Ferdy Masih Belum Terima
102 Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103 Mood Ibu Hamil
104 Pikiran Buruk Kembali Hadir
105 Membaiknya Dua Sahabat
106 Drama Ngidam
107 Tak Mau Egois
108 Kedatangan Sang Ibu
109 Masih Mengedapankan Ego
110 Retaknya Hubungan Antar Teman
111 111. Debat Mantan Suami Istri
112 112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113 113. Kecewa yang Teramat Dalam
114 114. Rindu yang Menggunung
115 115. Hanya Masalah Hati
116 116. Salah Paham
117 117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118 118 Pilihan yang Sulit.
119 119. Semangat Kembali Hadir
120 120. Keadaan yang Sama Persis
121 121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122 122. Kembali Ditangkap Polisi
123 123. Ending
Episodes

Updated 123 Episodes

1
1. Minta Cerai
2
2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3
3. Ajeng dan Fiona
4
4. Kemarahan Ajeng
5
5. Perdebatan
6
6. Pergi
7
7. Foto Mesra
8
8. Bertemu Seseorang
9
9. Ingin Rujuk
10
10. Kebencian Qeera
11
11. Masih Cemburu.
12
12. Urus Surat Cerai
13
Sosok Luthfan Aqmar
14
Waktu Berjalan Begitu Cepat
15
Belum Sembuh Dari Luka
16
Sidang Pertama
17
Mengambil Barang
18
Ajeng dan Abian.
19
Salah Sangka
20
Resmi Berpisah.
21
Kegelisahan Sang Anak
22
Abian Qadafi
23
Kebenaran Terungkap
24
Ujian Hidup Yang Tak Sama
25
Belum Move On
26
Bertemunya Abian dengan Luthfan
27
Kepanikan Yudha
28
Mengungkapkan Isi Hati
29
Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30
Abian Kerumah Ajeng
31
Lagi Fiona Berulah
32
Kedatangan Ibu Mertua
33
Gelisah
34
Mertua Dan Menantu
35
Cincin Berlian
36
Cemburu
37
Membuat Rancangan Baju
38
Sekolah Baru
39
Penyesalan Yudha
40
Will You Marry Me
41
Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42
Rebutan Sertifikat
43
Qeera Menjenguk Yudha
44
Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45
Cincin Itu...
46
Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47
Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48
Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49
Cemburu Berat
50
Menahan Malu
51
Tawaran Kerjasama Baru
52
Retno Ke Kantor Abian
53
Rekreasi
54
Mengetahui Fakta.
55
Rumit
56
Sebuah Permintaan.
57
Ijab Qabul
58
Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59
Rencana Penjebakan.
60
Sebuah Intrik
61
Aksi Penjebakan
62
Kemarahan Abian.
63
Disebuah Rumah Sakit
64
Kembalinya Ajeng
65
Melepas Rindu
66
Sebuah Keputusan
67
Bermuara Dititik Kerinduan
68
Sisa Pengantin Baru
69
Hasna dan Alvino
70
Perdebatan Dua Sahabat
71
Merajuk
72
Kebebasan Yudha
73
Amarah yang Memuncak
74
Kecelakaan
75
Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76
Konflik
77
Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78
Hamil
79
Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80
Mengalah Bukan Berarti Kalah
81
Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82
Bunuh Diri
83
Prasangka Alvino
84
Kotak Kecil
85
Introgasi
86
Ide Gila Hasna
87
Berfikir Lebih Dewasa
88
Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89
Jatuh Talak
90
Kelicikan Dibalas Kelicikan
91
Pura-puranya Suami Istri
92
Rencana Berikutnya
93
Persiapan Pesta Pernikahan
94
Hasna Terkejut
95
Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96
Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97
Keguguran
98
Kritis
99
Merajuknya Ibu Hamil
100
Kecemasan Kembali Melanda
101
Ferdy Masih Belum Terima
102
Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103
Mood Ibu Hamil
104
Pikiran Buruk Kembali Hadir
105
Membaiknya Dua Sahabat
106
Drama Ngidam
107
Tak Mau Egois
108
Kedatangan Sang Ibu
109
Masih Mengedapankan Ego
110
Retaknya Hubungan Antar Teman
111
111. Debat Mantan Suami Istri
112
112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113
113. Kecewa yang Teramat Dalam
114
114. Rindu yang Menggunung
115
115. Hanya Masalah Hati
116
116. Salah Paham
117
117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118
118 Pilihan yang Sulit.
119
119. Semangat Kembali Hadir
120
120. Keadaan yang Sama Persis
121
121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122
122. Kembali Ditangkap Polisi
123
123. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!