"Ada apa ini?"
Fiona dan sang resepsionis itu menoleh pada sumber suara. Sang resepsionis itu mengangguk sopan sedangkan Fiona malah mendekap kedua tangannya diatas dada.
"Maaf Pak, Ibu ini katanya ingin bertemu dengan Pak Yudha, tapi belum ada janji." Papar resepsionis itu sopan.
"Saya ini istrinya, kenapa harus ada janji segala. Sekarang cepat katakan dimana ruangan suami saya." Ujar Fiona nyolot.
Abian terdiam sejenak melihat penampilan wanita yang berdiri dihadapannya yang tentu sedikit sombong.
"Maaf mbak. Tolong maapkan Bu Diana ya? Mari saya antar ke ruangan Pak Yudha." Ucap Abian mengangguk sopan. Ia sengaja berpura-pura seperti karyawan disana lalu mempersilakan Fiona berjalan terlebih dahulu sedangkan dia di belakangnya.
"Awas aja tu perempuan, saya bilangin suamiku biar tau rasa. Bila perlu pecat aja sekalian." Umpat Fiona saat akan memasuki lift yang tentu dapat didengar oleh Abian, membuat Abian menggelengkan kepalanya.
Lift pun berhenti di lantai tiga, lalu mereka keluar dan menuju ruangan tempat Yudha bekerja.
"Ini ruangan Pak Yudha mbak. Silakan masuk." Ucap Abian.
"Makasih." Balas Fiona sinis, karena ia masih kesal dengan resepsionis tadi.
Abian mengekornya dari belakang, namun di cegah oleh Fiona.
"Ehh ngapain kamu?" Sentak Fiona menatap Abian yang menyusul dibelakangnya.
"Saya boleh ikut masuk mbak?" Jawab Abian menunduk sopan.
"Gak usah. Lagian kamu siapa? Hanya karyawan biasa." Omel Fiona lalu ia membuka pintu lalu masuk ke dalam dan pintu itu tertutup rapat.
Abian menghela napasnya. Lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Kenal darimana si Yudha sama cewek tadi. Gak ada sopan-sopannya." Gumam Abian. Ia memilih pergi dari sana.
Abian tidak tau siapa Fiona. Karena meskipun Yudha sahabatnya. Ia tidak tau akan hubungan Yudha dengan Fiona dulu karena saat itu ia sedang menempuh pendidikan diluar negri dan komunikasi pun sangat jarang.
"Mas." Sapa Fiona mendekat dan berdiri di samping Yudha membuat Yudha menoleh.
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Yudha.
"Ihh kok pertanyaanmu gitu sih? Aku bosan dirumah terus." Keluhnya.
"Ya kan bisa nonton tv, belanja atau apa kek. gak harus kesini. Aku sedang sibuk Fi." Balas Yudha sambil matanya membaca berkas yang ia pegang.
"Mau belanja tapi gak ada kendaraan sendiri buat apa? Bosan naik taksi terus."
"Terus mau kamu apa?" Tanya Yudha bangkit lalu melangkah mengambil kertas di dalam rak dan duduk kembali.
"Beliin aku mobil dong." Pinta Fiona sambil menyentuh lengan kekar sang suami.
"Untuk sekarang gak bisa Fiona. Aku mau melunasi cicilan rumah." Jawab Yudha.
"Memangnya kamu beli rumah dimana? Kok gak bilang sih?" Tanya Fiona.
"Di jakarta, tapi itu atas nama anakku Qeera." Balas Yudha membuat Fiona cemberut seketika.
"Buat dia ada, buat istri sendiri tidak ada." Umpat Fiona.
"Dia anakku Fiona tanggungjawabku."
"Pokoknya aku gak mau tau, aku ingin mobil secepatnya. Aku malu mas sama teman-teman aku. Masa istri seorang CEO naik taksi terus." Keluh Fiona lalu melangkah ke dekat sofa dan duduk dengan kasar.
"Kamu harus ngerti, aku juga punya tanggungjawab lain. Bukan kamu saja." Papar Yudha. Tapi Fiona tetap memasang wajah cemberutnya. Melihat hal itu Yudha bangkit dan duduk di sisi Fiona.
"Iya nanti aku usahakan." Kata Yudha dan Fiona menoleh dengan rona bahagia.
"Makasih Mas. Mas selalu mengerti kemauanku." Puji Fiona dan merangkulnya.
***
Selepas rapat para wali murid. Ajeng menunggu Qeera disana karena jam pelajaran belum usai.
Lalu ada satu ibu-ibu yang menghampirinya dan duduk di sisinya.
"Bu Ajeng apa benar suami ibu menikah lagi?" Bisik ibu itu bernama Laras.
Tapi Ajeng hanya menoleh dan tersenyum menanggapinya.
"Sabar ya Bu Ajeng. Aku tau kok perasaan Bu Ajeng." Kata Laras sambil mengusap bahunya.
"Iya makasih." Balas Ajeng. Kemudian Laras beranjak dari sana.
"Ternyata kabar Mas Yudha menikah lagi cepet banget menyebar. Allah ... jangan sampai nanti ada apa-apa dengan anakku. Jagakan dia Ya Allah." Gumam Ajeng dengan perasaan cemas dihatinya.
Jam pelajaran pun akhirnya selesai. Semua anak-anak disana berlarian keluar ruangan dan menghampiri orangtuanya masing-masing. Begitu juga Qeera ia keluar dengan raut muka bahagia.
"Bunda." Pekik Qeera sambil berlari kearah ibundanya.
"Anak bunda ceria sekali sekarang." Puji Ajeng sambil merangkulnya.
"Tentu dong bunda. Karena aku dapat hadiah ini karena berhasil memenangkan perlombaan." Kata Qeera sambil memperlihatkan hadiah itu.
"Oh ya! Memangnya habis lomba apa?" Tanya Ajeng.
"Memasukkan kelereng kedalam botol pakai sendok, lalu aku berjalan dengan menggigit sendok itu yang beirisikan kelereng." Papar Qeera.
"Waahhh anak bunda hebat." Puji Ajeng sambil memberikan kedua jari jempolnya.
Kemudian anak dan ibu itu melangkah menaiki mobil lalu melaju meninggalkan tempat itu.
"Kita beli minuman dulu ya. Bunda haus banget." Kata Ajeng lalu mobilnya menepi dan berhenti di sebuah warung yang ada dipinggir jalan.
"Qeera tunggu disini dulu ya?" Titahnya. Ajeng pun keluar untuk membeli beberapa botol miuman.
"Bu Ajeng?" Sapa Luthfan yang berdiri tak jauh saat Ajeng sedang membayar minuman tersebut membuat Ajeng menoleh dan mengerutkan dahinya. Mengingat-ingat siapa lalaki yang berdiri dihadapannya.
"Saya Luthfan. Bu Ajeng masih ingat kan?" Tanya Luthfan.
"Ohh iya saya ingat! Maaf Pak kadang penyakit lupa saya suka kambuh." Candanya membuat Luthfan tertawa dibuatnya.
"Bu Ajeng ternyata humoris ya." Kekeh Luthfan.
"Ahh tidak juga." Balas Ajeng tersenyum.
Dan tentu mereka tak luput dari tatapan dua pasang manusia diseberang jalan.
"Lihat siapa sih Mas?" Tanya Fiona. Ia pun menoleh pada siapa yang dipandang Yudha.
"Itu kan Ajeng." kata Fiona sambil mempertajam penglihatannya. "iya dia Ajeng. Hhhh dasar wanita murahan. Belum juga cerai tapi sudah dekat sama cowok lain." Gerutu Fiona.
"Kamu gak cemburu kan Mas?" Tanya Fiona. Menoleh pada Yudha.
"Ngapain aku cemburu. Yang ada aku muak. Ia membuat Qeera untuk membenciku." Umpat Yudha kesal.
Fiona justru tersenyum mendengar penuturan itu. "Sudah lah ayo! Aku lapar." Ujar Fiona yang memang lampu lalu lintas sudah ganti berwarna hijau.
Mereka pun menuju restoran untuk makan siang. Karena Fiona meminta makan siang diluar.
Sementara Ajeng dan Luthfan masih bercengkrama disana.
"Bapak lagi apa disini?" Tanya Ajeng.
"Saya mau ke kaffe itu." Tunjuk Luthfan pada kaffe yang akan ia kunjungi.
"Ohhh, terus kenapa bapak berhenti disini?" Kembali Ajeng bertanya.
"Saya melihat Bu Ajeng di sini jadi saya mampir dulu."
"Wahhh jadi gak enak nih!" Ujar Ajeng tersenyum.
"Ah biasa aja bu! Bu Ajeng naik apa kesini?" Tanya Luthfan.
"Naik mobil Pak. Itu mobilnya." Tunjuknya.
"Kalau begitu saya pamit ya Pak. Assalaamu'alaikum." Ujar Ajeng berpamitan kemudian naik kedalam mobil dan melaju meninggalkan tempat itu yang sebelumnya membunyikan klakson terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam."
Selepas kepergiaannya. Luthfan mengulum senyum. Ada rona bahagia saat bertemu dengan Ajeng.
***
"Ahhh sial." Umpat Yudha sambil membanting ponselnya ke atas sofa. "Begitu cepat dia melupakan aku. Dan sekarang malah dekat dengan pria lain."
"Jelaskan bro, siapa perempuan tadi?" Tanya Abian saat memasuki ruangan yang ditempati Yudha. Fiona kali ini tidak ikut. Ia memilih pulang.
Yudha menoleh dengan kedatangan Abian. "Maksudnya Fiona?" Tanya Yudha.
"Apa benar dia istri kamu?" Tanya Abian.
Yudha mengambil napas terlebih dahulu. "Iya dia Fiona istriku." Papar Yudha.
"Apa? Jadi benar? Kamu Ajeng kemanakan?" Tanya Abian terkejut.
"Kita sebentar lagi cerai."
"Katakan apa masalah kalian sehingga memilih bercerai. Padahal aku lihat hubungan kalian baik-baik saja." Ujar Abian meminta penjelasan.
"Sudah lah. Ceritanya panjang. Aku malas membahas itu." Keluh Yudha lalu duduk diatas kursi untuk kembali mengerjakan tugas yang tadi sempat tertunda.
Abian mengangkat kedua bahunya kemudian keluar dari ruangan itu.
"Kasian Ajeng orang sebaik dan secantik dia kamu sia-siakan Yudh. Tapi Fiona meskipun dia cantik tapi kayak gitu kelakuannya, malah kamu pilih." Ucap Abian dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
"Tapi cantikkan Ajeng sih." Gumam Abian. "Ehh kok jadi mikirin dia sih." Ucap Abian berbicara sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
gass bg Abian biar tw rsa si yudha
2023-10-09
0
Yati Syahira
lufyan nama kepanjanhsnya abian ya,bau "nua jodoh he.....
2023-07-25
0
Retno Sulistyowati
ajeng ama abian saja..
2023-04-11
0