11. Masih Cemburu.

"Ada apa ini?"

Fiona dan sang resepsionis itu menoleh pada sumber suara. Sang resepsionis itu mengangguk sopan sedangkan Fiona malah mendekap kedua tangannya diatas dada.

"Maaf Pak, Ibu ini katanya ingin bertemu dengan Pak Yudha, tapi belum ada janji." Papar resepsionis itu sopan.

"Saya ini istrinya, kenapa harus ada janji segala. Sekarang cepat katakan dimana ruangan suami saya." Ujar Fiona nyolot.

Abian terdiam sejenak melihat penampilan wanita yang berdiri dihadapannya yang tentu sedikit sombong.

"Maaf mbak. Tolong maapkan Bu Diana ya? Mari saya antar ke ruangan Pak Yudha." Ucap Abian mengangguk sopan. Ia sengaja berpura-pura seperti karyawan disana lalu mempersilakan Fiona berjalan terlebih dahulu sedangkan dia di belakangnya.

"Awas aja tu perempuan, saya bilangin suamiku biar tau rasa. Bila perlu pecat aja sekalian." Umpat Fiona saat akan memasuki lift yang tentu dapat didengar oleh Abian, membuat Abian menggelengkan kepalanya.

Lift pun berhenti di lantai tiga, lalu mereka keluar dan menuju ruangan tempat Yudha bekerja.

"Ini ruangan Pak Yudha mbak. Silakan masuk." Ucap Abian.

"Makasih." Balas Fiona sinis, karena ia masih kesal dengan resepsionis tadi.

Abian mengekornya dari belakang, namun di cegah oleh Fiona.

"Ehh ngapain kamu?" Sentak Fiona menatap Abian yang menyusul dibelakangnya.

"Saya boleh ikut masuk mbak?" Jawab Abian menunduk sopan.

"Gak usah. Lagian kamu siapa? Hanya karyawan biasa." Omel Fiona lalu ia membuka pintu lalu masuk ke dalam dan pintu itu tertutup rapat.

Abian menghela napasnya. Lalu tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Kenal darimana si Yudha sama cewek tadi. Gak ada sopan-sopannya." Gumam Abian. Ia memilih pergi dari sana.

Abian tidak tau siapa Fiona. Karena meskipun Yudha sahabatnya. Ia tidak tau akan hubungan Yudha dengan Fiona dulu karena saat itu ia sedang menempuh pendidikan diluar negri dan komunikasi pun sangat jarang.

"Mas." Sapa Fiona mendekat dan berdiri di samping Yudha membuat Yudha menoleh.

"Kamu ngapain kesini?" Tanya Yudha.

"Ihh kok pertanyaanmu gitu sih? Aku bosan dirumah terus." Keluhnya.

"Ya kan bisa nonton tv, belanja atau apa kek. gak harus kesini. Aku sedang sibuk Fi." Balas Yudha sambil matanya membaca berkas yang ia pegang.

"Mau belanja tapi gak ada kendaraan sendiri buat apa? Bosan naik taksi terus."

"Terus mau kamu apa?" Tanya Yudha bangkit lalu melangkah mengambil kertas di dalam rak dan duduk kembali.

"Beliin aku mobil dong." Pinta Fiona sambil menyentuh lengan kekar sang suami.

"Untuk sekarang gak bisa Fiona. Aku mau melunasi cicilan rumah." Jawab Yudha.

"Memangnya kamu beli rumah dimana? Kok gak bilang sih?" Tanya Fiona.

"Di jakarta, tapi itu atas nama anakku Qeera." Balas Yudha membuat Fiona cemberut seketika.

"Buat dia ada, buat istri sendiri tidak ada." Umpat Fiona.

"Dia anakku Fiona tanggungjawabku."

"Pokoknya aku gak mau tau, aku ingin mobil secepatnya. Aku malu mas sama teman-teman aku. Masa istri seorang CEO naik taksi terus." Keluh Fiona lalu melangkah ke dekat sofa dan duduk dengan kasar.

"Kamu harus ngerti, aku juga punya tanggungjawab lain. Bukan kamu saja." Papar Yudha. Tapi Fiona tetap memasang wajah cemberutnya. Melihat hal itu Yudha bangkit dan duduk di sisi Fiona.

"Iya nanti aku usahakan." Kata Yudha dan Fiona menoleh dengan rona bahagia.

"Makasih Mas. Mas selalu mengerti kemauanku." Puji Fiona dan merangkulnya.

***

Selepas rapat para wali murid. Ajeng menunggu Qeera disana karena jam pelajaran belum usai.

Lalu ada satu ibu-ibu yang menghampirinya dan duduk di sisinya.

"Bu Ajeng apa benar suami ibu menikah lagi?" Bisik ibu itu bernama Laras.

Tapi Ajeng hanya menoleh dan tersenyum menanggapinya.

"Sabar ya Bu Ajeng. Aku tau kok perasaan Bu Ajeng." Kata Laras sambil mengusap bahunya.

"Iya makasih." Balas Ajeng. Kemudian Laras beranjak dari sana.

"Ternyata kabar Mas Yudha menikah lagi cepet banget menyebar. Allah ... jangan sampai nanti ada apa-apa dengan anakku. Jagakan dia Ya Allah." Gumam Ajeng dengan perasaan cemas dihatinya.

Jam pelajaran pun akhirnya selesai. Semua anak-anak disana berlarian keluar ruangan dan menghampiri orangtuanya masing-masing. Begitu juga Qeera ia keluar dengan raut muka bahagia.

"Bunda." Pekik Qeera sambil berlari kearah ibundanya.

"Anak bunda ceria sekali sekarang." Puji Ajeng sambil merangkulnya.

"Tentu dong bunda. Karena aku dapat hadiah ini karena berhasil memenangkan perlombaan." Kata Qeera sambil memperlihatkan hadiah itu.

"Oh ya! Memangnya habis lomba apa?" Tanya Ajeng.

"Memasukkan kelereng kedalam botol pakai sendok, lalu aku berjalan dengan menggigit sendok itu yang beirisikan kelereng." Papar Qeera.

"Waahhh anak bunda hebat." Puji Ajeng sambil memberikan kedua jari jempolnya.

Kemudian anak dan ibu itu melangkah menaiki mobil lalu melaju meninggalkan tempat itu.

"Kita beli minuman dulu ya. Bunda haus banget." Kata Ajeng lalu mobilnya menepi dan berhenti di sebuah warung yang ada dipinggir jalan.

"Qeera tunggu disini dulu ya?" Titahnya. Ajeng pun keluar untuk membeli beberapa botol miuman.

"Bu Ajeng?" Sapa Luthfan yang berdiri tak jauh saat Ajeng sedang membayar minuman tersebut membuat Ajeng menoleh dan mengerutkan dahinya. Mengingat-ingat siapa lalaki yang berdiri dihadapannya.

"Saya Luthfan. Bu Ajeng masih ingat kan?" Tanya Luthfan.

"Ohh iya saya ingat! Maaf Pak kadang penyakit lupa saya suka kambuh." Candanya membuat Luthfan tertawa dibuatnya.

"Bu Ajeng ternyata humoris ya." Kekeh Luthfan.

"Ahh tidak juga." Balas Ajeng tersenyum.

Dan tentu mereka tak luput dari tatapan dua pasang manusia diseberang jalan.

"Lihat siapa sih Mas?" Tanya Fiona. Ia pun menoleh pada siapa yang dipandang Yudha.

"Itu kan Ajeng." kata Fiona sambil mempertajam penglihatannya. "iya dia Ajeng. Hhhh dasar wanita murahan. Belum juga cerai tapi sudah dekat sama cowok lain." Gerutu Fiona.

"Kamu gak cemburu kan Mas?" Tanya Fiona. Menoleh pada Yudha.

"Ngapain aku cemburu. Yang ada aku muak. Ia membuat Qeera untuk membenciku." Umpat Yudha kesal.

Fiona justru tersenyum mendengar penuturan itu. "Sudah lah ayo! Aku lapar." Ujar Fiona yang memang lampu lalu lintas sudah ganti berwarna hijau.

Mereka pun menuju restoran untuk makan siang. Karena Fiona meminta makan siang diluar.

Sementara Ajeng dan Luthfan masih bercengkrama disana.

"Bapak lagi apa disini?" Tanya Ajeng.

"Saya mau ke kaffe itu." Tunjuk Luthfan pada kaffe yang akan ia kunjungi.

"Ohhh, terus kenapa bapak berhenti disini?" Kembali Ajeng bertanya.

"Saya melihat Bu Ajeng di sini jadi saya mampir dulu."

"Wahhh jadi gak enak nih!" Ujar Ajeng tersenyum.

"Ah biasa aja bu! Bu Ajeng naik apa kesini?" Tanya Luthfan.

"Naik mobil Pak. Itu mobilnya." Tunjuknya.

"Kalau begitu saya pamit ya Pak. Assalaamu'alaikum." Ujar Ajeng berpamitan kemudian naik kedalam mobil dan melaju meninggalkan tempat itu yang sebelumnya membunyikan klakson terlebih dahulu.

"Wa'alaikumsalam."

Selepas kepergiaannya. Luthfan mengulum senyum. Ada rona bahagia saat bertemu dengan Ajeng.

***

"Ahhh sial." Umpat Yudha sambil membanting ponselnya ke atas sofa. "Begitu cepat dia melupakan aku. Dan sekarang malah dekat dengan pria lain."

"Jelaskan bro, siapa perempuan tadi?" Tanya Abian saat memasuki ruangan yang ditempati Yudha. Fiona kali ini tidak ikut. Ia memilih pulang.

Yudha menoleh dengan kedatangan Abian. "Maksudnya Fiona?" Tanya Yudha.

"Apa benar dia istri kamu?" Tanya Abian.

Yudha mengambil napas terlebih dahulu. "Iya dia Fiona istriku." Papar Yudha.

"Apa? Jadi benar? Kamu Ajeng kemanakan?" Tanya Abian terkejut.

"Kita sebentar lagi cerai."

"Katakan apa masalah kalian sehingga memilih bercerai. Padahal aku lihat hubungan kalian baik-baik saja." Ujar Abian meminta penjelasan.

"Sudah lah. Ceritanya panjang. Aku malas membahas itu." Keluh Yudha lalu duduk diatas kursi untuk kembali mengerjakan tugas yang tadi sempat tertunda.

Abian mengangkat kedua bahunya kemudian keluar dari ruangan itu.

"Kasian Ajeng orang sebaik dan secantik dia kamu sia-siakan Yudh. Tapi Fiona meskipun dia cantik tapi kayak gitu kelakuannya, malah kamu pilih." Ucap Abian dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.

"Tapi cantikkan Ajeng sih." Gumam Abian. "Ehh kok jadi mikirin dia sih." Ucap Abian berbicara sendiri.

Terpopuler

Comments

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

gass bg Abian biar tw rsa si yudha

2023-10-09

0

Yati Syahira

Yati Syahira

lufyan nama kepanjanhsnya abian ya,bau "nua jodoh he.....

2023-07-25

0

Retno Sulistyowati

Retno Sulistyowati

ajeng ama abian saja..

2023-04-11

0

lihat semua
Episodes
1 1. Minta Cerai
2 2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3 3. Ajeng dan Fiona
4 4. Kemarahan Ajeng
5 5. Perdebatan
6 6. Pergi
7 7. Foto Mesra
8 8. Bertemu Seseorang
9 9. Ingin Rujuk
10 10. Kebencian Qeera
11 11. Masih Cemburu.
12 12. Urus Surat Cerai
13 Sosok Luthfan Aqmar
14 Waktu Berjalan Begitu Cepat
15 Belum Sembuh Dari Luka
16 Sidang Pertama
17 Mengambil Barang
18 Ajeng dan Abian.
19 Salah Sangka
20 Resmi Berpisah.
21 Kegelisahan Sang Anak
22 Abian Qadafi
23 Kebenaran Terungkap
24 Ujian Hidup Yang Tak Sama
25 Belum Move On
26 Bertemunya Abian dengan Luthfan
27 Kepanikan Yudha
28 Mengungkapkan Isi Hati
29 Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30 Abian Kerumah Ajeng
31 Lagi Fiona Berulah
32 Kedatangan Ibu Mertua
33 Gelisah
34 Mertua Dan Menantu
35 Cincin Berlian
36 Cemburu
37 Membuat Rancangan Baju
38 Sekolah Baru
39 Penyesalan Yudha
40 Will You Marry Me
41 Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42 Rebutan Sertifikat
43 Qeera Menjenguk Yudha
44 Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45 Cincin Itu...
46 Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47 Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48 Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49 Cemburu Berat
50 Menahan Malu
51 Tawaran Kerjasama Baru
52 Retno Ke Kantor Abian
53 Rekreasi
54 Mengetahui Fakta.
55 Rumit
56 Sebuah Permintaan.
57 Ijab Qabul
58 Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59 Rencana Penjebakan.
60 Sebuah Intrik
61 Aksi Penjebakan
62 Kemarahan Abian.
63 Disebuah Rumah Sakit
64 Kembalinya Ajeng
65 Melepas Rindu
66 Sebuah Keputusan
67 Bermuara Dititik Kerinduan
68 Sisa Pengantin Baru
69 Hasna dan Alvino
70 Perdebatan Dua Sahabat
71 Merajuk
72 Kebebasan Yudha
73 Amarah yang Memuncak
74 Kecelakaan
75 Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76 Konflik
77 Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78 Hamil
79 Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80 Mengalah Bukan Berarti Kalah
81 Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82 Bunuh Diri
83 Prasangka Alvino
84 Kotak Kecil
85 Introgasi
86 Ide Gila Hasna
87 Berfikir Lebih Dewasa
88 Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89 Jatuh Talak
90 Kelicikan Dibalas Kelicikan
91 Pura-puranya Suami Istri
92 Rencana Berikutnya
93 Persiapan Pesta Pernikahan
94 Hasna Terkejut
95 Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96 Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97 Keguguran
98 Kritis
99 Merajuknya Ibu Hamil
100 Kecemasan Kembali Melanda
101 Ferdy Masih Belum Terima
102 Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103 Mood Ibu Hamil
104 Pikiran Buruk Kembali Hadir
105 Membaiknya Dua Sahabat
106 Drama Ngidam
107 Tak Mau Egois
108 Kedatangan Sang Ibu
109 Masih Mengedapankan Ego
110 Retaknya Hubungan Antar Teman
111 111. Debat Mantan Suami Istri
112 112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113 113. Kecewa yang Teramat Dalam
114 114. Rindu yang Menggunung
115 115. Hanya Masalah Hati
116 116. Salah Paham
117 117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118 118 Pilihan yang Sulit.
119 119. Semangat Kembali Hadir
120 120. Keadaan yang Sama Persis
121 121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122 122. Kembali Ditangkap Polisi
123 123. Ending
Episodes

Updated 123 Episodes

1
1. Minta Cerai
2
2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3
3. Ajeng dan Fiona
4
4. Kemarahan Ajeng
5
5. Perdebatan
6
6. Pergi
7
7. Foto Mesra
8
8. Bertemu Seseorang
9
9. Ingin Rujuk
10
10. Kebencian Qeera
11
11. Masih Cemburu.
12
12. Urus Surat Cerai
13
Sosok Luthfan Aqmar
14
Waktu Berjalan Begitu Cepat
15
Belum Sembuh Dari Luka
16
Sidang Pertama
17
Mengambil Barang
18
Ajeng dan Abian.
19
Salah Sangka
20
Resmi Berpisah.
21
Kegelisahan Sang Anak
22
Abian Qadafi
23
Kebenaran Terungkap
24
Ujian Hidup Yang Tak Sama
25
Belum Move On
26
Bertemunya Abian dengan Luthfan
27
Kepanikan Yudha
28
Mengungkapkan Isi Hati
29
Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30
Abian Kerumah Ajeng
31
Lagi Fiona Berulah
32
Kedatangan Ibu Mertua
33
Gelisah
34
Mertua Dan Menantu
35
Cincin Berlian
36
Cemburu
37
Membuat Rancangan Baju
38
Sekolah Baru
39
Penyesalan Yudha
40
Will You Marry Me
41
Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42
Rebutan Sertifikat
43
Qeera Menjenguk Yudha
44
Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45
Cincin Itu...
46
Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47
Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48
Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49
Cemburu Berat
50
Menahan Malu
51
Tawaran Kerjasama Baru
52
Retno Ke Kantor Abian
53
Rekreasi
54
Mengetahui Fakta.
55
Rumit
56
Sebuah Permintaan.
57
Ijab Qabul
58
Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59
Rencana Penjebakan.
60
Sebuah Intrik
61
Aksi Penjebakan
62
Kemarahan Abian.
63
Disebuah Rumah Sakit
64
Kembalinya Ajeng
65
Melepas Rindu
66
Sebuah Keputusan
67
Bermuara Dititik Kerinduan
68
Sisa Pengantin Baru
69
Hasna dan Alvino
70
Perdebatan Dua Sahabat
71
Merajuk
72
Kebebasan Yudha
73
Amarah yang Memuncak
74
Kecelakaan
75
Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76
Konflik
77
Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78
Hamil
79
Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80
Mengalah Bukan Berarti Kalah
81
Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82
Bunuh Diri
83
Prasangka Alvino
84
Kotak Kecil
85
Introgasi
86
Ide Gila Hasna
87
Berfikir Lebih Dewasa
88
Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89
Jatuh Talak
90
Kelicikan Dibalas Kelicikan
91
Pura-puranya Suami Istri
92
Rencana Berikutnya
93
Persiapan Pesta Pernikahan
94
Hasna Terkejut
95
Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96
Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97
Keguguran
98
Kritis
99
Merajuknya Ibu Hamil
100
Kecemasan Kembali Melanda
101
Ferdy Masih Belum Terima
102
Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103
Mood Ibu Hamil
104
Pikiran Buruk Kembali Hadir
105
Membaiknya Dua Sahabat
106
Drama Ngidam
107
Tak Mau Egois
108
Kedatangan Sang Ibu
109
Masih Mengedapankan Ego
110
Retaknya Hubungan Antar Teman
111
111. Debat Mantan Suami Istri
112
112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113
113. Kecewa yang Teramat Dalam
114
114. Rindu yang Menggunung
115
115. Hanya Masalah Hati
116
116. Salah Paham
117
117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118
118 Pilihan yang Sulit.
119
119. Semangat Kembali Hadir
120
120. Keadaan yang Sama Persis
121
121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122
122. Kembali Ditangkap Polisi
123
123. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!