Hari ini Ajeng akan mengunjungi ruko milik Hasna. Dan tentu Hasna pun sudah menunggunya disana.
Seperti biasa, Ajeng mengantar putrinya sekolah terlebih dahulu. Lantas setelah itu ia menuju dimana ruko itu berada.
Saat akan melewati pertigaan, lampu lalu lintas berwarna merah, dan Ajeng pun berhenti. Namun di sisinya terdapat mobil berwarna hitam dan itu milik Abian.
Abian menoleh ke sisi kiri. Dan pandangannya tertuju pada pemilik mobil yang berada di sisi kirinya karena kaca pemilik mobil itu tak sepenuhnya tertutup rapat. Masih terlihat sebagian wajahnya.
"Bukannya itu Ajeng?" Gumam Abian sambil mempertajam penglihatannya lalu kaca mobilnya ia turunkan sedikit.
"Ia dia Ajeng. Mau kemana dia sepagi ini?" Ucap Abian berbicara sendiri.
Namun matanya terus menatap wajah Ajeng padahal hanya terlihat sedikit, yang tentu Ajeng tidak tau akan Abian disana karena matanya terus fokus ke depan.
"Mata itu ... indah sekali." Desis Abian menatapnya dan hampir tak mau berkedip.
Hingga lampu sudah berwarna hijau, dan Ajeng terlebih dahulu melaju dan Abian di belakangnya.
"Apa sebaiknya aku ikutin dia? Tapi buat apa? Dia bukan siapa-siapanya aku kok." Gumamnya sambil mengangkat kedua bahunya lalu memilih beda arah dengan Ajeng.
Ajeng akhirnya sampai di ruko itu kemudian turun dan di sambut sahabatnya.
Mereka berdua masuk kedalam ruko dan Hasna memperlihatkan di dalamnya. Ruko itu terdiri dari dua lantai. Dan masing-masing lantai ada kamar husus dan juga sofa untuk mereka bersantai, juga kamar mandi yang lumayan luas dan sangat bersih. Karena Hasna begitu menjaga ruko miliknya.
"Apa rencana kamu dengan ruko ini?" Tanya Hasna saat mereka sudah duduk diatas sofa.
"Aku berencana akan mengisi ruko ini ... ini ada dua lantai kan ya? Di lantai atas aku akan isi dengan berbagai jenis pakaian, ya hanya pakaian saja. Tapi yang lantai bawah, aku akan isi dengan beberapa macam peralatan anak-anak sekolah seperti tas, sepatu, buku, dan yang lainnya juga kosmetik dan parfum di sebelahnya." Papar Ajeng tersenyum.
"Luar biasa ide yang bagus." Puji Hasna. "Aku yakin kamu akan sukses setelah sini, ruko ini akan ramai pengunjung, semua barang yang kamu jual akan ramai pembeli." Kata Hasna.
"Aamiin. Semoga saja." Ucap Ajeng berharap.
"Aku akan kasih kamu modal. Sebentar! Aku transfer ke rekening milikmu sekarang ya?" Tanya Hasna.
"Ehh gak usah Na, aku juga punya uang kok."
"Beneran? Berapa memangnya?"
"Tiga puluh juta." Tukas Ajeng.
"Tiga puluh juta mana cukup Jeng." Balas Hasna.
"Ya ... di cukup-cukupin lah Na. Nanti kalau ada rezeki lagi ya beli yang lain lagi, sekarang sedikit-sedikit aja dulu." Ujar Ajeng karena ia gak mau terus-terusan merepotkan Hasna.
"Gak ah." Kata Hasna, lalu ia mengetik di ponsel. "itu udah aku transfer uangnya ke kamu. Kamu pakai ya? Awas nanti kalau utuh." Titah Hasna.
Seketika Ajeng meraih ponselnya melihat transferan yang masuk, ia tercengang dengan angka nominal itu, tertera seratus juta rupiah.
"Ya ampun Na, banyak banget. Gak ah, aku kembalikan lagi aja, lagian juga aku gak akan sanggup langsung bayar segitu kalau di cicil sih mungkin bisa tapi kelamaan."
"Tuh kaaann ... kamu selalu memikirkan hal itu, aku udah bilang kan gak usah khawatir. Gak bayar juga gak papa kok aku ikhlas karena untuk sahabatku sendiri. Kamu udah aku anggap sebagai kakakku sendiri." Ujar Hasna membuat Ajeng menitikkan airmata haru dan menghambur memeluknya.
"Makasih Na, kamu selama ini baik banget sama aku." Tukas Ajeng sambil menyeka sudut matanya.
"Iya sama-sama." Balas Hasna tersenyum. "Ehh kok nangis sih?" Tanyanya.
"Aku nangis terharu karena begitu bersyukur dikasih sahabat sebaik kamu, bahkan seperti saudara." Kata Ajeng lalu mereka berdua pun berpelukan.
Hasna orang yang cekatan, bekerja apapun ia akan lakukan asalkan itu halal. Lalu ia memilih belajar menyalon rambut pada tantenya, setelah beberapa kali ia belajar akhirnya ia sendiri yang akan menyalon rambut para pelanggan tantenya. Sehingga di rasa sudah mahir, Hasna berniat membuka usaha salon sendiri dan tentu modal dari orangtuanya.
Sejak saat itu Hasna memikirkan usaha lain selain salon, maka ia putuskan untuk membangun usaha berupa kontrakan, dan lagi modalnya dari orangtuanya. Hingga kini usahanya tak terasa sudah berjalan hampir lima tahun dan dua-duanya sukses. Juga uang modal orang tuanya sudah ia kembalikan dari dulu saat usahanya sudah berjalan satu tahun.
Maka Hasna sudah sukses di usia yang masih sangat muda.
Setelah itu mereka berdua bergegas pergi dari sana untuk belanja beberapa keperluan yang telah Ajeng sebutkan tadi. Pertama mereka akan belanja parlengkapan anak-anak sekolah terlebih dahulu, dilanjutkan dengan kosmetik dan parfum. Dan yang terakhir adalah beberapa pakaian.
Hingga tak terasa, belanja peralatan anak-anak sekolah, kosmetik dan juga parfum itu pun sudah mereka dapatkan dan akan diantar oleh mobil yang disediakan dari toko tersebut.
Dan sekarang mereka berdua akan belanja beberapa pakaian dari mulai anak kecil hingga dewasa, cewek ataupun cowok, semuanya lengkap. Dan tentu mereka merogoh kocek yang tidak sedikit.
Setelah dapat apa yang dibutuhkan, keduanya kembali menaiki mobil untuk kembali ke tempat ruko berada.
Namun pada saat melintasi butik, pandangan Hasna tertuju pada butik yang sangat besar dan megah, disana sangat ramai pengunjung, sedangkan Ajeng tetap fokus ke depan karena ia sedang menyetir.
"Eh berhenti dulu disini." Titah Hasna dan Ajeng menepikan mobilnya.
"Ada apa sih?" Tanya Ajeng menoleh.
"Lihat deh, butik itu ramai banget. Kita kesana yuk." Ajak Hasna.
"Tapi kan kita sudah belanja banyak." Kata Ajeng.
"Gak papa, kita mampir aja dulu lihat-lihat, siapa tau ada yang cocok buat kita jual lagi." Ujar Hasna. "Udah Ayo." Hasna turun dari mobil begitu juga Ajeng. Mereka berdua melangkah dan berdiri di depan butik itu. Butik yang bertuliskan LA Fashion.
"LA Fashion." Desis Hasna.
"Kenapa emang dengan nama itu?" Tanya Ajeng menoleh.
"Aku merasa nama itu udah sangat familiar banget di telinga, tapi ... aku lupa." Jawab Hasna sambil mengingat-ingat nama butik itu.
"Udah ah, kelamaan, kita jadi masuk gak nih?" Tanya Ajeng.
"Jadi lah! Ayo." Ajak Hasna.
Mereka berdua memasuki butik itu, dan di sambut para karyawan disana dengan sangat ramah.
"Silakan mbak, semoga suka." Kata karyawan itu bernama Linda. Ia mengangguk sopan pada setiap yang datang kesana.
Lalu mereka melihat-lihat setiap rancangan baju disana. Dan tentu sangat takjub dengan semua rancangan itu.
Namun pada saat Ajeng sedang mengamati satu baju disana. Ada seseorang yang menghampirinya.
"Bu Ajeng?" Sapa seseorang itu. Membuat Ajeng menoleh.
"Pak Luthfan?" Ajeng tersentak.
"Luthfan?" Gumam Hasna.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Luthfan pada Ajeng.
"Aku lagi lihat-lihat aja, ternyata semua rancangan disini bagus-bagus. Jadi pengen tau siapa designernya." Pujinya membuat Luthfan mengulum senyum.
"Tunggu." Kata Hasna. "Anda Luthfan seorang designer itu bukan?" Tanya Hasna menatap lelaki tampan dan berhidung mancung tersebut.
Luthfan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tuhh kan, pantesan setelah baca nama butik ini seperti gak familiar. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan anda." Ujar Hasna mengangguk sopan.
"Terimakasih." Balas Luthfan menunduk sopan "senang bertemu anda juga dengan bu ... "
"Hasna." Jawab Hasna sambil mengulurkan tangan kanannya dan di sambut tangan kanan Luthfan.
"Bu Ajeng dari tadi diam saja." Kata Luthfan menatap Ajeng dengan tatapan sulit di artikan dan itu tak luput dari pandangan Hasna.
"Kalian berdua udah saling kenal? Sejak kapan?" Tanya Hasna menatap mereka berdua.
"Gak lama kok Bu Hasna, kebetulan saat itu mobil Bu Ajeng mogok dan saya turut membantunya. Lalu yang kedua gak sengaja lihat Bu Ajeng dipinggir jalan dan saya menghampirinya. Dan yang terakhir sekarang ... di sini." Papar Luthfan menoleh dan Ajeng mengulum senyum.
"Waahh sebuah kebetulan sekali ya." Kata Hasna menoleh pada sahabatnya.
"Kalau begitu saya ijin pamit ya, ada urusan. Mari Bu Ajeng." Luthfan pun berlalu dari hadapan mereka.
"Ehh kayaknya ada roman-roman cinta nih." Goda Hasna saat Luthfan sudah jauh dari mereka.
"Maksud kamu?" Tanya Ajeng mengerutkan dahinya.
"Lihat saja tatapan Pak Luthfan sama kamu beda banget." Kekeh Hasna. "Terus tadi saat dia pamit cuma kamu yang disapa, aku nggak." Kata Hasna.
"Ahh nggak deh, perasaan biasa aja. Udah yuk kita pulang aja." Ajak Ajeng lalu mereka berdua keluar dari butik itu dan kembali menaiki mobil.
"Hasna, kamu tau siapa Pak Luthfan?" Tanya Ajeng saat berada di dalam mobil dengan menatap ke depan karena sedang menyetir.
"Ciyeee keppo." Goda Hasna.
"Ihh apaan sih, cuma pengen tau aja." Kata Ajeng sesekali menoleh.
"Jadi tuh, Pak Luthfan itu ternyata pemilik butik tadi, dan dia seorang designer terkenal karena rancangannya terkenal bagus-bagus. Lihat saja akun sosial medianya, dengan nama Luthfan Aqmar." Papar Hasna membuat Ajeng sedikit penasaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
bakal ad cinta segi4 nie,Yudha,lutfan,abian
2023-10-09
0
Uthie
Jadi antara Abian dan Luthfan, siapa nii yg jadi pasangan baru nya Ajeng 👍😂
2023-07-11
0