5. Perdebatan

Ajeng kembali mempersiapkan apa yang sekiranya ingin dibawanya. Ya tekadnya sudah bulat. Ia akan pergi dari rumah yang membuatnya sudah tidak ada lagi kebahagiaan. Dan urusan Qeera pasti anak itu nantinya tidak rewel lagi seperti kemarin. Semoga saja.

Fiona melintas dihadapan kamarnya, lalu berhenti dan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.

"Jadi, dia beneran pergi? Baguslah, aku gak usah capek-capek ngusir dia secara halus.

Lagian siapa juga yang mau baikan sama dia. Ihh aku sih ogah. Awal-awal sih iya aku kasihan sama dia, aku menyesal telah menerima Mas Yudha. Tapi setelah semua yang ia perbuat padaku. Membuatku sangat muak padanya." Gumamnya dibalik pintu.

Ia kembali melangkah. Namun berhenti lagi dan memilih untuk masuk ke kamar itu.

"Bagaimana rasanya ya kalau pergi dari rumah ini." Ucap Fiona melangkah dengan anggun di belakang Ajeng.

Ajeng tak menggubris ucapannya. Ia terus mengemas pakaiannya ke dalam koper. Karena kemarin sang ART sudah merapihkannya lagi atas perintah dari Yudha.

"Hmmm kalau aku sih gak mau ya kalau harus hidup miskin." Ujarnya lagi. "Tapi kamu kok nekad ya! sudah bagus hidup disini. Kok ya mau-maunya pergi dari sini." Fiona terus-terusan berbicara hingga membuat Ajeng bangkit dan berdiri menatapnya.

"Tapi baguslah, biar Mas Yudha pokusnya sama satu istri." Kata Fiona menyunggingkan senyumannya.

"Sudah bicaranya." Tekan Ajeng.

"Sudah." Jawab Fiona santai.

"Kalau begitu sekarang juga kamu keluar." Ucap Ajeng santai sambil menunjuk ke arah pintu.

"Oke baiklah, aku juga tak tahan untuk berlama-lama disini. Hawanya panas banget, lebih panas dari air mendidih." Ucap Fiona sambil tangannya mengibas-ngibas lehernya.

"Keluar." Bentak Ajeng dengan rahang mengeras.

Fiona segera beranjak dari hadapannya dan menutup pintu dengan sedikit keras.

"Astaghfirullaahh. Beri aku kesabaran Ya Allah." Gumam Ajeng sambil mengelus dadanya.

Sementara Qeera masih diajak main oleh pengasuhnya.

"Sus, bunda kenapa sih, kok sekarang sering nangis, ayah juga kenapa kok kemarin bentak bunda?" Tanya Qeera menatap pengasuh itu yang kebingungan harus jawab apa.

"Sus Rini kok diam? Yaudah aku mau ke ayah dulu mau bilang gak usah bentak-bentak bunda lagi." Ujarnya kemudian berlari tanpa bisa di cegah oleh pengasuhnya.

Sebenarnya Qeera tidak terlalu dekat dengan sang ayah karena selalu sibuk dengan pekerjaannya. Hanya saja karena ia tak mau jika hidup tanpa ayahnya seperti teman disekolahnya yang hanya hidup berdua saja dengan ibunya.

"Ayah mana." Qeera terus mencari ayahnya ke setiap ruangan. Namun tak ada.

Hingga akhirnya terlihat Yudha hendak menaiki mobilnya yang akan kembali ke kantor. Ia pulang karena ada satu berkas yang tertinggal.

"Ayah." Panggil Qeera mendekat ke arahnya.

Yudha menoleh dan tersenyum.

"Ayah mau kemana?"

"Ke kantor. Ada apa memangnya sayang. Ayah kan harus kerja." Ujar Yudha lalu menggendong gadis kecil itu.

"Aku ingin bicara sama ayah." Lirihnya.

"Nanti saja ya kalau ayah sudah pulang."

"Aku maunya sekarang, ayah..."

"Tapi ayah tidak ada waktu nak.".

"Aku boleh ikut?" Kata Qeera memelas.

"Baiklah. Tapi Qeera janji ya jangan ganggu ayah kalau sedang bekerja."

"Iya ayah."

Akhirnya ayah dan anak itu menaiki mobil lalu melaju menuju kantor dimana Yudha bekerja.

Sementara itu Ajeng sudah selesai berkemas dan berniat mencari Qeera.

"Sus, Qeera mana?" Tanya Ajeng pada pengasuh.

"Tadi ... Qeera mencari ayahnya." Jawab pengasuh.

"Ada apa memangnya? Apa ada sesuatu?"

"Anu bu, tadi katanya ... Qeera mau ngomong sama pak Yudha supaya jangan bentak ibu lagi." Tukas pengasuh itu, ada rasa tak enak dihatinya mengatakan itu, mengingat permasalahan majikannya.

"Lalu dimana dia sekarang?"

"Tadi saya lihat. Qeera dibawa pergi sama Pak Yudha. Yang saya dengar sih mau ikut ke kantor."

"Apa? Kenapa kamu biarkan sih!" Ucap Ajeng dengan kesal. "Kamu tau tidak! Saya akan ajak Qeera pergi dari rumah ini sekarang juga."

"Iya bu maaf." Ucap pengasuh itu sambil memejamkan mata. Baru kali ini ia kena bentakan dari sosok Ajeng yang terkenal lemah lembut namun tegas dan garang saat ada yang mengusiknya.

Ajeng tersadar, kenapa juga harus membentaknya hanya karena kesal pada suaminya, padahal ia tidak salah.

"Maaf Sus, saya sudah keterlaluan sama kamu. Saya sudah membentak kamu. Padahal kamu pun tidak salah. Hanya karena saya kesal pada suami saya, malah kamu yang kena imbasnya."

"Iya bu gak papa, saya paham kok! Kalau begitu saya pamit ke belakang."

Ajeng menghubungi suaminya.

"Hallo." Sapa Yudha dari seberang telepon.

"Qeera mana?" Tanya Ajeng ketus.

"Ada disini."

"Bawa dia pulang sekarang juga." Titahnya.

"Tanggung lah Jeng, ini sebentar lagi sampai."

"Mas, bawa Qeera atau aku yang akan kesana menjemputnya." Tekan Ajeng.

"Sayang, pulang ya? Bunda nanyain kamu terus." Ujar Yudha pada Qeera.

Tapi Qeera menggelengkan kepalanya.

"Qeera tidak mau, ia ingin ikut aku."

"Berikan ponselnya padanya."

Yudha pun memberikan ponselnya pada Qeera.

"Hallo Nak, pulang ya, bunda nungguin kamu dari tadi."

"Tidak bunda! Aku ingin sama ayah."

"Qeera, nurut sama bunda ya."

"Tidak bunda, aku ingin sama ayah hari ini."

Ajeng memejamkan matanya. "Baiklah kalau itu mau Qeera. Bunda tutup dulu teleponnya ya? Jangan lupa makan dan sholat." Ya anak sekecil itu Ajeng sudah mengajari putrinya untuk melaksanakan kewajiban, meski gak setiap saat Qeera kerjakan.

Panggilanpun terputus. Mau tidak mau Ajeng harus menunggu Qeera pulang dulu.

Ajeng yang hendak membalikkan badannya tiba-tiba Fiona menabraknya dari belakang dengan sengaja, sambil membawa minuman berwarna orange sehingga minuman itu tumpah dan mengenai pakaian Ajeng.

"Upss sorry gak sengaja." Ucap Fiona membekap mulutnya.

"Sungguh sayang, seorang madu harus menabrak orang yang merupakan istri sah nya. Apa ini memang sebuah ke tak sengajaan?" Tukas Ajeng sambil mengusap pakaian yang terkena air minuman itu.

"Aku bilang gak sengaja ya gak sengaja." Ucap Fiona dengan nada tinggi.

"Ckk ... sungguh disayangkan. Istri siri dari seorang Yudha Mahardika yang terkenal gagah dan berwibawa tapi harus tercoreng dengan kelakuan istri siri nya yang memalukan." Ajeng menyunggingkan senyumannya.

"Apa peduliku dengan semua itu, yang terpenting adalah Mas Yudha lebih memilihku daripada kamu."

"Seekor lalat memang sangat menyukai sampah meski ada bunga yang sangat indah di sisinya."

"Kamu." Fiona mengangkat tangannya hendak menamparnya.

"Ayo tampar aku. Aku pun bisa lebih beringas dari kemarin."

"Kamu selalu kurang ajar sama aku. Lihat saja nanti akan aku adukan pada Mas Yudha." Ujar Fiona kesal.

"Ohh silahkan saja adukan. Aku pun tak takut bila harus kehilangan lelaki yang mementingkan ego dan syahwatnya. Lihat saja nanti. Kamu pun akan mendapatkan balasan yang sama, bahkan lebih sakit daripada aku." Tekan Ajeng melangkah dengan anggun. Lalu menghilang dibalik pintu kamarnya kemudian terisak disana.

Hatinya sungguh masih sangat sakit. Tapi ia mencoba untuk tegar, gak boleh terlihat lemah dihadapan semua orang, apalagi dihadapan Fiona dan juga Yudha.

Sementara itu, diruangan lain.

"Hallo Mas, kapan pulang?" Tanya Fiona dari seberang telepon.

"Sebentar lagi sayang. Kenapa memangnya? Kangen ya. Kan tadi sudah." Jawab Yudha.

"Ihh bukan itu."

"Lalu?"

"Istri mu bikin ulah lagi."

"Kenapa lagi sih?"

"Udah pokoknya kamu cepat pulang. Beri dia pelajaran."

"Iya sayang. Tunggu Mas ya."

Panggilanpun terputus.

"Ayah, bunda nanyain aku lagi?"

"Tidak sayang, tadi yang telepon bunda Fiona."

"Kok bunda sih! Jadi benar, kalau tante Fiona istri ayah juga?" Tanya Qeera yang seketika matanya berembun menatap sang ayah.

Terpopuler

Comments

Aya Vivemyangel

Aya Vivemyangel

Agak berbelit ya ,,,

2023-11-02

0

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

emag otak ayah goblok

2023-10-09

0

Yati Syahira

Yati Syahira

otak goblok yuda

2023-07-25

1

lihat semua
Episodes
1 1. Minta Cerai
2 2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3 3. Ajeng dan Fiona
4 4. Kemarahan Ajeng
5 5. Perdebatan
6 6. Pergi
7 7. Foto Mesra
8 8. Bertemu Seseorang
9 9. Ingin Rujuk
10 10. Kebencian Qeera
11 11. Masih Cemburu.
12 12. Urus Surat Cerai
13 Sosok Luthfan Aqmar
14 Waktu Berjalan Begitu Cepat
15 Belum Sembuh Dari Luka
16 Sidang Pertama
17 Mengambil Barang
18 Ajeng dan Abian.
19 Salah Sangka
20 Resmi Berpisah.
21 Kegelisahan Sang Anak
22 Abian Qadafi
23 Kebenaran Terungkap
24 Ujian Hidup Yang Tak Sama
25 Belum Move On
26 Bertemunya Abian dengan Luthfan
27 Kepanikan Yudha
28 Mengungkapkan Isi Hati
29 Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30 Abian Kerumah Ajeng
31 Lagi Fiona Berulah
32 Kedatangan Ibu Mertua
33 Gelisah
34 Mertua Dan Menantu
35 Cincin Berlian
36 Cemburu
37 Membuat Rancangan Baju
38 Sekolah Baru
39 Penyesalan Yudha
40 Will You Marry Me
41 Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42 Rebutan Sertifikat
43 Qeera Menjenguk Yudha
44 Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45 Cincin Itu...
46 Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47 Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48 Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49 Cemburu Berat
50 Menahan Malu
51 Tawaran Kerjasama Baru
52 Retno Ke Kantor Abian
53 Rekreasi
54 Mengetahui Fakta.
55 Rumit
56 Sebuah Permintaan.
57 Ijab Qabul
58 Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59 Rencana Penjebakan.
60 Sebuah Intrik
61 Aksi Penjebakan
62 Kemarahan Abian.
63 Disebuah Rumah Sakit
64 Kembalinya Ajeng
65 Melepas Rindu
66 Sebuah Keputusan
67 Bermuara Dititik Kerinduan
68 Sisa Pengantin Baru
69 Hasna dan Alvino
70 Perdebatan Dua Sahabat
71 Merajuk
72 Kebebasan Yudha
73 Amarah yang Memuncak
74 Kecelakaan
75 Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76 Konflik
77 Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78 Hamil
79 Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80 Mengalah Bukan Berarti Kalah
81 Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82 Bunuh Diri
83 Prasangka Alvino
84 Kotak Kecil
85 Introgasi
86 Ide Gila Hasna
87 Berfikir Lebih Dewasa
88 Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89 Jatuh Talak
90 Kelicikan Dibalas Kelicikan
91 Pura-puranya Suami Istri
92 Rencana Berikutnya
93 Persiapan Pesta Pernikahan
94 Hasna Terkejut
95 Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96 Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97 Keguguran
98 Kritis
99 Merajuknya Ibu Hamil
100 Kecemasan Kembali Melanda
101 Ferdy Masih Belum Terima
102 Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103 Mood Ibu Hamil
104 Pikiran Buruk Kembali Hadir
105 Membaiknya Dua Sahabat
106 Drama Ngidam
107 Tak Mau Egois
108 Kedatangan Sang Ibu
109 Masih Mengedapankan Ego
110 Retaknya Hubungan Antar Teman
111 111. Debat Mantan Suami Istri
112 112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113 113. Kecewa yang Teramat Dalam
114 114. Rindu yang Menggunung
115 115. Hanya Masalah Hati
116 116. Salah Paham
117 117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118 118 Pilihan yang Sulit.
119 119. Semangat Kembali Hadir
120 120. Keadaan yang Sama Persis
121 121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122 122. Kembali Ditangkap Polisi
123 123. Ending
Episodes

Updated 123 Episodes

1
1. Minta Cerai
2
2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3
3. Ajeng dan Fiona
4
4. Kemarahan Ajeng
5
5. Perdebatan
6
6. Pergi
7
7. Foto Mesra
8
8. Bertemu Seseorang
9
9. Ingin Rujuk
10
10. Kebencian Qeera
11
11. Masih Cemburu.
12
12. Urus Surat Cerai
13
Sosok Luthfan Aqmar
14
Waktu Berjalan Begitu Cepat
15
Belum Sembuh Dari Luka
16
Sidang Pertama
17
Mengambil Barang
18
Ajeng dan Abian.
19
Salah Sangka
20
Resmi Berpisah.
21
Kegelisahan Sang Anak
22
Abian Qadafi
23
Kebenaran Terungkap
24
Ujian Hidup Yang Tak Sama
25
Belum Move On
26
Bertemunya Abian dengan Luthfan
27
Kepanikan Yudha
28
Mengungkapkan Isi Hati
29
Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30
Abian Kerumah Ajeng
31
Lagi Fiona Berulah
32
Kedatangan Ibu Mertua
33
Gelisah
34
Mertua Dan Menantu
35
Cincin Berlian
36
Cemburu
37
Membuat Rancangan Baju
38
Sekolah Baru
39
Penyesalan Yudha
40
Will You Marry Me
41
Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42
Rebutan Sertifikat
43
Qeera Menjenguk Yudha
44
Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45
Cincin Itu...
46
Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47
Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48
Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49
Cemburu Berat
50
Menahan Malu
51
Tawaran Kerjasama Baru
52
Retno Ke Kantor Abian
53
Rekreasi
54
Mengetahui Fakta.
55
Rumit
56
Sebuah Permintaan.
57
Ijab Qabul
58
Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59
Rencana Penjebakan.
60
Sebuah Intrik
61
Aksi Penjebakan
62
Kemarahan Abian.
63
Disebuah Rumah Sakit
64
Kembalinya Ajeng
65
Melepas Rindu
66
Sebuah Keputusan
67
Bermuara Dititik Kerinduan
68
Sisa Pengantin Baru
69
Hasna dan Alvino
70
Perdebatan Dua Sahabat
71
Merajuk
72
Kebebasan Yudha
73
Amarah yang Memuncak
74
Kecelakaan
75
Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76
Konflik
77
Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78
Hamil
79
Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80
Mengalah Bukan Berarti Kalah
81
Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82
Bunuh Diri
83
Prasangka Alvino
84
Kotak Kecil
85
Introgasi
86
Ide Gila Hasna
87
Berfikir Lebih Dewasa
88
Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89
Jatuh Talak
90
Kelicikan Dibalas Kelicikan
91
Pura-puranya Suami Istri
92
Rencana Berikutnya
93
Persiapan Pesta Pernikahan
94
Hasna Terkejut
95
Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96
Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97
Keguguran
98
Kritis
99
Merajuknya Ibu Hamil
100
Kecemasan Kembali Melanda
101
Ferdy Masih Belum Terima
102
Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103
Mood Ibu Hamil
104
Pikiran Buruk Kembali Hadir
105
Membaiknya Dua Sahabat
106
Drama Ngidam
107
Tak Mau Egois
108
Kedatangan Sang Ibu
109
Masih Mengedapankan Ego
110
Retaknya Hubungan Antar Teman
111
111. Debat Mantan Suami Istri
112
112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113
113. Kecewa yang Teramat Dalam
114
114. Rindu yang Menggunung
115
115. Hanya Masalah Hati
116
116. Salah Paham
117
117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118
118 Pilihan yang Sulit.
119
119. Semangat Kembali Hadir
120
120. Keadaan yang Sama Persis
121
121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122
122. Kembali Ditangkap Polisi
123
123. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!