Ajeng kembali mempersiapkan apa yang sekiranya ingin dibawanya. Ya tekadnya sudah bulat. Ia akan pergi dari rumah yang membuatnya sudah tidak ada lagi kebahagiaan. Dan urusan Qeera pasti anak itu nantinya tidak rewel lagi seperti kemarin. Semoga saja.
Fiona melintas dihadapan kamarnya, lalu berhenti dan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Jadi, dia beneran pergi? Baguslah, aku gak usah capek-capek ngusir dia secara halus.
Lagian siapa juga yang mau baikan sama dia. Ihh aku sih ogah. Awal-awal sih iya aku kasihan sama dia, aku menyesal telah menerima Mas Yudha. Tapi setelah semua yang ia perbuat padaku. Membuatku sangat muak padanya." Gumamnya dibalik pintu.
Ia kembali melangkah. Namun berhenti lagi dan memilih untuk masuk ke kamar itu.
"Bagaimana rasanya ya kalau pergi dari rumah ini." Ucap Fiona melangkah dengan anggun di belakang Ajeng.
Ajeng tak menggubris ucapannya. Ia terus mengemas pakaiannya ke dalam koper. Karena kemarin sang ART sudah merapihkannya lagi atas perintah dari Yudha.
"Hmmm kalau aku sih gak mau ya kalau harus hidup miskin." Ujarnya lagi. "Tapi kamu kok nekad ya! sudah bagus hidup disini. Kok ya mau-maunya pergi dari sini." Fiona terus-terusan berbicara hingga membuat Ajeng bangkit dan berdiri menatapnya.
"Tapi baguslah, biar Mas Yudha pokusnya sama satu istri." Kata Fiona menyunggingkan senyumannya.
"Sudah bicaranya." Tekan Ajeng.
"Sudah." Jawab Fiona santai.
"Kalau begitu sekarang juga kamu keluar." Ucap Ajeng santai sambil menunjuk ke arah pintu.
"Oke baiklah, aku juga tak tahan untuk berlama-lama disini. Hawanya panas banget, lebih panas dari air mendidih." Ucap Fiona sambil tangannya mengibas-ngibas lehernya.
"Keluar." Bentak Ajeng dengan rahang mengeras.
Fiona segera beranjak dari hadapannya dan menutup pintu dengan sedikit keras.
"Astaghfirullaahh. Beri aku kesabaran Ya Allah." Gumam Ajeng sambil mengelus dadanya.
Sementara Qeera masih diajak main oleh pengasuhnya.
"Sus, bunda kenapa sih, kok sekarang sering nangis, ayah juga kenapa kok kemarin bentak bunda?" Tanya Qeera menatap pengasuh itu yang kebingungan harus jawab apa.
"Sus Rini kok diam? Yaudah aku mau ke ayah dulu mau bilang gak usah bentak-bentak bunda lagi." Ujarnya kemudian berlari tanpa bisa di cegah oleh pengasuhnya.
Sebenarnya Qeera tidak terlalu dekat dengan sang ayah karena selalu sibuk dengan pekerjaannya. Hanya saja karena ia tak mau jika hidup tanpa ayahnya seperti teman disekolahnya yang hanya hidup berdua saja dengan ibunya.
"Ayah mana." Qeera terus mencari ayahnya ke setiap ruangan. Namun tak ada.
Hingga akhirnya terlihat Yudha hendak menaiki mobilnya yang akan kembali ke kantor. Ia pulang karena ada satu berkas yang tertinggal.
"Ayah." Panggil Qeera mendekat ke arahnya.
Yudha menoleh dan tersenyum.
"Ayah mau kemana?"
"Ke kantor. Ada apa memangnya sayang. Ayah kan harus kerja." Ujar Yudha lalu menggendong gadis kecil itu.
"Aku ingin bicara sama ayah." Lirihnya.
"Nanti saja ya kalau ayah sudah pulang."
"Aku maunya sekarang, ayah..."
"Tapi ayah tidak ada waktu nak.".
"Aku boleh ikut?" Kata Qeera memelas.
"Baiklah. Tapi Qeera janji ya jangan ganggu ayah kalau sedang bekerja."
"Iya ayah."
Akhirnya ayah dan anak itu menaiki mobil lalu melaju menuju kantor dimana Yudha bekerja.
Sementara itu Ajeng sudah selesai berkemas dan berniat mencari Qeera.
"Sus, Qeera mana?" Tanya Ajeng pada pengasuh.
"Tadi ... Qeera mencari ayahnya." Jawab pengasuh.
"Ada apa memangnya? Apa ada sesuatu?"
"Anu bu, tadi katanya ... Qeera mau ngomong sama pak Yudha supaya jangan bentak ibu lagi." Tukas pengasuh itu, ada rasa tak enak dihatinya mengatakan itu, mengingat permasalahan majikannya.
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Tadi saya lihat. Qeera dibawa pergi sama Pak Yudha. Yang saya dengar sih mau ikut ke kantor."
"Apa? Kenapa kamu biarkan sih!" Ucap Ajeng dengan kesal. "Kamu tau tidak! Saya akan ajak Qeera pergi dari rumah ini sekarang juga."
"Iya bu maaf." Ucap pengasuh itu sambil memejamkan mata. Baru kali ini ia kena bentakan dari sosok Ajeng yang terkenal lemah lembut namun tegas dan garang saat ada yang mengusiknya.
Ajeng tersadar, kenapa juga harus membentaknya hanya karena kesal pada suaminya, padahal ia tidak salah.
"Maaf Sus, saya sudah keterlaluan sama kamu. Saya sudah membentak kamu. Padahal kamu pun tidak salah. Hanya karena saya kesal pada suami saya, malah kamu yang kena imbasnya."
"Iya bu gak papa, saya paham kok! Kalau begitu saya pamit ke belakang."
Ajeng menghubungi suaminya.
"Hallo." Sapa Yudha dari seberang telepon.
"Qeera mana?" Tanya Ajeng ketus.
"Ada disini."
"Bawa dia pulang sekarang juga." Titahnya.
"Tanggung lah Jeng, ini sebentar lagi sampai."
"Mas, bawa Qeera atau aku yang akan kesana menjemputnya." Tekan Ajeng.
"Sayang, pulang ya? Bunda nanyain kamu terus." Ujar Yudha pada Qeera.
Tapi Qeera menggelengkan kepalanya.
"Qeera tidak mau, ia ingin ikut aku."
"Berikan ponselnya padanya."
Yudha pun memberikan ponselnya pada Qeera.
"Hallo Nak, pulang ya, bunda nungguin kamu dari tadi."
"Tidak bunda! Aku ingin sama ayah."
"Qeera, nurut sama bunda ya."
"Tidak bunda, aku ingin sama ayah hari ini."
Ajeng memejamkan matanya. "Baiklah kalau itu mau Qeera. Bunda tutup dulu teleponnya ya? Jangan lupa makan dan sholat." Ya anak sekecil itu Ajeng sudah mengajari putrinya untuk melaksanakan kewajiban, meski gak setiap saat Qeera kerjakan.
Panggilanpun terputus. Mau tidak mau Ajeng harus menunggu Qeera pulang dulu.
Ajeng yang hendak membalikkan badannya tiba-tiba Fiona menabraknya dari belakang dengan sengaja, sambil membawa minuman berwarna orange sehingga minuman itu tumpah dan mengenai pakaian Ajeng.
"Upss sorry gak sengaja." Ucap Fiona membekap mulutnya.
"Sungguh sayang, seorang madu harus menabrak orang yang merupakan istri sah nya. Apa ini memang sebuah ke tak sengajaan?" Tukas Ajeng sambil mengusap pakaian yang terkena air minuman itu.
"Aku bilang gak sengaja ya gak sengaja." Ucap Fiona dengan nada tinggi.
"Ckk ... sungguh disayangkan. Istri siri dari seorang Yudha Mahardika yang terkenal gagah dan berwibawa tapi harus tercoreng dengan kelakuan istri siri nya yang memalukan." Ajeng menyunggingkan senyumannya.
"Apa peduliku dengan semua itu, yang terpenting adalah Mas Yudha lebih memilihku daripada kamu."
"Seekor lalat memang sangat menyukai sampah meski ada bunga yang sangat indah di sisinya."
"Kamu." Fiona mengangkat tangannya hendak menamparnya.
"Ayo tampar aku. Aku pun bisa lebih beringas dari kemarin."
"Kamu selalu kurang ajar sama aku. Lihat saja nanti akan aku adukan pada Mas Yudha." Ujar Fiona kesal.
"Ohh silahkan saja adukan. Aku pun tak takut bila harus kehilangan lelaki yang mementingkan ego dan syahwatnya. Lihat saja nanti. Kamu pun akan mendapatkan balasan yang sama, bahkan lebih sakit daripada aku." Tekan Ajeng melangkah dengan anggun. Lalu menghilang dibalik pintu kamarnya kemudian terisak disana.
Hatinya sungguh masih sangat sakit. Tapi ia mencoba untuk tegar, gak boleh terlihat lemah dihadapan semua orang, apalagi dihadapan Fiona dan juga Yudha.
Sementara itu, diruangan lain.
"Hallo Mas, kapan pulang?" Tanya Fiona dari seberang telepon.
"Sebentar lagi sayang. Kenapa memangnya? Kangen ya. Kan tadi sudah." Jawab Yudha.
"Ihh bukan itu."
"Lalu?"
"Istri mu bikin ulah lagi."
"Kenapa lagi sih?"
"Udah pokoknya kamu cepat pulang. Beri dia pelajaran."
"Iya sayang. Tunggu Mas ya."
Panggilanpun terputus.
"Ayah, bunda nanyain aku lagi?"
"Tidak sayang, tadi yang telepon bunda Fiona."
"Kok bunda sih! Jadi benar, kalau tante Fiona istri ayah juga?" Tanya Qeera yang seketika matanya berembun menatap sang ayah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Aya Vivemyangel
Agak berbelit ya ,,,
2023-11-02
0
Intan IbunyaAzam
emag otak ayah goblok
2023-10-09
0
Yati Syahira
otak goblok yuda
2023-07-25
1