Namun selang beberapa menit Qeera melerai pelukannya dan mendorong Yudha. Yudha pun kaget.
"Tidak! Ayah jahat. Ayah bukan ayah yang dulu lagi. Aku gak mau ketemu ayah. Aku benci." Teriak Qeera kemudian berlari mendekat pada ibundanya.
"Nak, sini sayang, ayah kangen." Yudha merentangkan kedua tangannya.
"Pergi. Ayah pergi, jangan pernah dekat-dekat aku lagi." Pekik Qeera dan ia berlindung dibalik tubuh ibundanya. Sementara Ajeng memutar tubuhnya kemudian memeluknya.
"Qeera sayang." Yudha mendekat.
"Pergi ayah." Qeera berlari masuk kedalam gerbang sambil terisak.
"Tolong Mas, untuk saat ini jauhi Qeera, kamu lihat sendiri kan?" Ujar Ajeng dengan mengangkat tangannya.
"Kenapa dia jadi begini? Pasti kamu kan yang ngajarin?" Tanya Yudha.
"Maksud kamu? Aku yang ngajarin dia untuk menjauh dan bersikap seperti tadi pada ayahnya sendiri begitu?" Tanya Ajeng.
"Siapa lagi kalau bukan kamu." Tekan Yudha. "Sudahlah ngaku saja."
"Astaghfirullahh. Seburuk-buruknya aku, aku tidak pernah mengajarkan anakku sendiri membenci orang lain meskipun orang lain itu salah. Apalagi kamu, ayahnya sendiri. Dimana jalan pikiran kamu Yudha." Bentak Ajeng dengan menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa dia bersikap seperti itu sekarang?" Bentak Yudha.
"Itu karena kamu sendiri!" Bentak Ajeng "Kamu nyadar gak sih? Ia tahu ayahnya menikah lagi. Dan ia sangat terpukul akan hal itu."
"Dia masih anak kecil, dia tak mengerti akan hal itu." Tukas Yudha.
"Itu kalau kamu! Tapi Qeera, dia anak yang pintar dan cerdas. ia tau situasi dan kondisi. Tidak seperti kamu ayahnya." Tekan Ajeng miris melihat kelakuan lelaki di hadapannya.
"Aku tidak percaya itu. Pasti kamu dibalik semua sikap Qeera padaku."
"Terserah, aku sudah muak sama kamu. Permisi." Ajeng melangkah memasuki gerbang.
"Aku akan tarik kata-kataku semalam." Ujar Yudha membuat Ajeng menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Tunggu surat cerai dariku." Ujar Yudha kemudian melangkah dan naik kedalam mobil lalu melesat meninggalkan tempat itu.
Ajeng menyeka sudut matanya. Ia mati-matian untuk terlihat tegar dihadapan semua orang. Namun saat sendiri airmata itu tetap terjatuh.
Naluri seorang perempuan memang sangat kuat dan berperasaan. Berbeda dengan lelaki yang hanya memakai logika.
Ajeng kembali melangkah dan mencari Qeera. Anak itu belum juga memasuki ruang kelasnya melainkan memilih duduk sendirian di pojokan. Dan Ajeng melihatnya, kemudian langsung menghampirinya.
"Sayang kok gak masuk?" Tanya Ajeng duduk di sisinya.
"Bunda. Ayah jahat." Isak Qeera.
"Tidak Nak! Ayah gak jahat, ayah hanya sedang khilaf." Ujar Ajeng.
"Aku gak mau punya bunda lagi. Gimana dengan teman-teman aku nanti kalau mereka pada tau." Keluhnya di tengah isakannya.
Ajeng memejamkan matanya. Sudah ia duga akan hal ini, putrinya takut kena bullying dari teman-temannya. Ajeng memeluknya dengan airmata yang ia tahan agar tak terjatuh karena dihadapan sang anak.
"Qeera anak yang kuat, anak pemberani. Jadi gak boleh takut." Ajeng menguatkan putrinya.
"Sekarang Qeera masuk ke kelas ya. Ibu guru pasti nungguin. Tapi Qeera cuci muka dulu yuk, agar gak terlalu kelihatan kalau habis nangis." Titah Ajeng yang dibalas anggukkan kepala oleh putrinya.
Setelah usai cuci muka, Qeera pun masuk kedalam kelas. Dan untungnya Ibu guru belum datang karena bel baru saja berbunyi.
Sementara Ajeng memasuki ruangan lain untuk rapat wali murid. Ia pun duduk berbaur dengan para wali murid yang lain. Saat memasuki ruangan itu terlihat para ibu-ibu menatap kedatangan Ajeng dan mereka saling berbisik.
"Ehh kasian ya sama Bu Ajeng, masih muda padahal, cantik lagi. Kok di poligami sih." Ujar Ibu itu yang berada tak jauh dari Ajeng.
"Iya ya. Mungkin service nya kurang kali. Makanya suaminya cari yang lain." Kata Ibu yang satunya.
"Suaminya orang kaya, ya jelas dia kuasa untuk menikah lagi." Ujar Ibu itu lagi.
"Sudah... sudah, tak baik membicarakan keburukan orang lain. Kita fokus akan pembahasan wali kelas kita. Tuh wali kelas kita sudah datang." Tukas satu Ibu yang dari tadi memilih diam.
Bukannya Ajeng tak tau mereka membicarakan apa. Hanya saja ia memilih abai dan menghiraukan bisikan ibu-ibu itu yang tentunya agak kedengaran sedikit.
***
Fiona merasa bosan berada di dalam rumah terus. Ia pun berencana pergi ke kantor suaminya dengan memesan taksi online karena belum mempunyai kendaraan sendiri.
Taksi yang dipesan pun datang, dan segera ia naik kedalam mobil dan memberitahukan alamat yang dituju pada sang sopir.
Setelah hampir satu jam lebih. Fiona pun tiba dikantor Yudha. Kemudian ia membayar ongkos lalu turun.
Ia menatap kantor itu dengan perasaan takjub. Karena kantor itu sangat megah dan besar.
"Tidak salah aku pilih Mas Yudha." Gumam Fiona tersenyum bahagia. "Gak nyangka aku akan punya perusahaan sebesar ini. Ajeeeng Ajeng. Kamu salah telah meninggalkan suamimu yang kaya raya ini. Tapi baguslah. Biar aku sendiri yang menikmati harta kekayaan Mas Yudha." Ucap Fiona sambil melangkah masuk kedalam kantor itu. Tapi dicegah oleh satpam.
"Maaf Bu, anda siapa? Dan mau kemana?" Tanya Satpam yang berjaga dikantor itu, ia bernama Dibyo.
"Heh, kamu gak kenal siapa saya?" Fiona balik bertanya sedangkan Dibyo menggelengkan kepalanya.
"Kenalkan. Saya istrinya Fiona yang punya perusahaan ini." Jawab Fiona dengan percaya dirinya.
"Setau saya Pak Abian belum menikah." Balas Dibyo sambil mengerutkan dahinya.
"Ehh kok Abian sih? Suamiku Mas Yudha namanya. Masa gak tau sih pemilik perusahaan ini." Kata Fiona lalu melangkah masuk tapi ia kembali di cegah.
"Maaf mbak. Yang saya tau istrinya Pak Yudha itu Bu Ajeng namanya." Tukas Dibyo.
"Mereka sudah cerai." Ujar Fiona kesal karena nama Ajeng yang mereka ingat. Padahal ia juga baru berkunjung kesana dan Yudha belum memperkenalkan siapa dirinya.
Darman sang satpam satunya menarik tangan Dibyo dan membiarkan Fiona masuk.
"Kamu gak tau ya desas desus tentang Pak Yudha?" Bisik Darman pada Dibyo.
"Memangnya apaan?" Tanya Dibyo menoleh penasaran.
"Cewek tadi benar dia istrinya. Tapi hanya istri siri." Kata Darman dengan suara yang di pelan-pelankan.
"Hah? Pak Yudha nikah lagi gitu?" Tanya Dibyo.
"Sstttt jangan keras-keras." Ucap Darman dengan jari telunjuknya diatas bibirnya.
"Kabar yang ku dengar sih. Pak Yudha nikah lagi dengan cewek itu tadi tanpa sepengetahuan Bu Ajeng." Papar Darman.
"Ohh gitu. Tapi kenapa cewek tadi bilang perusahaan ini milik Pak Yudha?" Tanya Dibyo heran sambil mengerutkan dahinya.
"Mungkin dia gak tau kali. Dia hanya tau Pak Yudha seorang CEO dikantor ini, jadi mengira ini perusahaan miliknya." Papar Darman kembali.
"Kamu pantas jadi wartawan Man. Semua berita kamu tau." Kekeh Dibyo.
"Yeayyy kamu aja yang ketinggalan jaman." Balas Darman sambil menjitak kepala Dibyo.
Sementara itu Fiona mencari ruangan yang ditempati Yudha. Namun ia bingung karena begitu banyak ruangan disana.
"Cari siapa mbak?" Tanya sang kepala resepsionis disana.
"Ruangan Mas Yudha dimana ya?" Tanya Fiona sambil matanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.
"Mbak sudah ada janji?" Tanya resepsionis itu.
"Ehh saya istrinya, sekarang katakan dimana ruangan suami saya." Balas Fiona menatap sang resepsionis itu.
"Maaf mbak, mbak harus ada janji dulu." Ujar resepsionis dengan tetap sopan.
"Saya sudah bilang saya istrinya. Kenapa harus ada janji segala. Peraturan macam apa ini." Bentak Fiona membuat resepsionis itu terkesiap.
"Ada apa ini?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
angkuhnya kmi Fiona GK tw Dy suaminya CEO aj titel nyatanya msih RK SMA orag hadeh....
2023-10-09
0
Uthie
Sombong... biar tau malu itu 😡
2023-07-11
0
Maisya Indra Istiani
geregeten
2023-05-16
0