10. Kebencian Qeera

Namun selang beberapa menit Qeera melerai pelukannya dan mendorong Yudha. Yudha pun kaget.

"Tidak! Ayah jahat. Ayah bukan ayah yang dulu lagi. Aku gak mau ketemu ayah. Aku benci." Teriak Qeera kemudian berlari mendekat pada ibundanya.

"Nak, sini sayang, ayah kangen." Yudha merentangkan kedua tangannya.

"Pergi. Ayah pergi, jangan pernah dekat-dekat aku lagi." Pekik Qeera dan ia berlindung dibalik tubuh ibundanya. Sementara Ajeng memutar tubuhnya kemudian memeluknya.

"Qeera sayang." Yudha mendekat.

"Pergi ayah." Qeera berlari masuk kedalam gerbang sambil terisak.

"Tolong Mas, untuk saat ini jauhi Qeera, kamu lihat sendiri kan?" Ujar Ajeng dengan mengangkat tangannya.

"Kenapa dia jadi begini? Pasti kamu kan yang ngajarin?" Tanya Yudha.

"Maksud kamu? Aku yang ngajarin dia untuk menjauh dan bersikap seperti tadi pada ayahnya sendiri begitu?" Tanya Ajeng.

"Siapa lagi kalau bukan kamu." Tekan Yudha. "Sudahlah ngaku saja."

"Astaghfirullahh. Seburuk-buruknya aku, aku tidak pernah mengajarkan anakku sendiri membenci orang lain meskipun orang lain itu salah. Apalagi kamu, ayahnya sendiri. Dimana jalan pikiran kamu Yudha." Bentak Ajeng dengan menggelengkan kepalanya.

"Lalu kenapa dia bersikap seperti itu sekarang?" Bentak Yudha.

"Itu karena kamu sendiri!" Bentak Ajeng "Kamu nyadar gak sih? Ia tahu ayahnya menikah lagi. Dan ia sangat terpukul akan hal itu."

"Dia masih anak kecil, dia tak mengerti akan hal itu." Tukas Yudha.

"Itu kalau kamu! Tapi Qeera, dia anak yang pintar dan cerdas. ia tau situasi dan kondisi. Tidak seperti kamu ayahnya." Tekan Ajeng miris melihat kelakuan lelaki di hadapannya.

"Aku tidak percaya itu. Pasti kamu dibalik semua sikap Qeera padaku."

"Terserah, aku sudah muak sama kamu. Permisi." Ajeng melangkah memasuki gerbang.

"Aku akan tarik kata-kataku semalam." Ujar Yudha membuat Ajeng menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Tunggu surat cerai dariku." Ujar Yudha kemudian melangkah dan naik kedalam mobil lalu melesat meninggalkan tempat itu.

Ajeng menyeka sudut matanya. Ia mati-matian untuk terlihat tegar dihadapan semua orang. Namun saat sendiri airmata itu tetap terjatuh.

Naluri seorang perempuan memang sangat kuat dan berperasaan. Berbeda dengan lelaki yang hanya memakai logika.

Ajeng kembali melangkah dan mencari Qeera. Anak itu belum juga memasuki ruang kelasnya melainkan memilih duduk sendirian di pojokan. Dan Ajeng melihatnya, kemudian langsung menghampirinya.

"Sayang kok gak masuk?" Tanya Ajeng duduk di sisinya.

"Bunda. Ayah jahat." Isak Qeera.

"Tidak Nak! Ayah gak jahat, ayah hanya sedang khilaf." Ujar Ajeng.

"Aku gak mau punya bunda lagi. Gimana dengan teman-teman aku nanti kalau mereka pada tau." Keluhnya di tengah isakannya.

Ajeng memejamkan matanya. Sudah ia duga akan hal ini, putrinya takut kena bullying dari teman-temannya. Ajeng memeluknya dengan airmata yang ia tahan agar tak terjatuh karena dihadapan sang anak.

"Qeera anak yang kuat, anak pemberani. Jadi gak boleh takut." Ajeng menguatkan putrinya.

"Sekarang Qeera masuk ke kelas ya. Ibu guru pasti nungguin. Tapi Qeera cuci muka dulu yuk, agar gak terlalu kelihatan kalau habis nangis." Titah Ajeng yang dibalas anggukkan kepala oleh putrinya.

Setelah usai cuci muka, Qeera pun masuk kedalam kelas. Dan untungnya Ibu guru belum datang karena bel baru saja berbunyi.

Sementara Ajeng memasuki ruangan lain untuk rapat wali murid. Ia pun duduk berbaur dengan para wali murid yang lain. Saat memasuki ruangan itu terlihat para ibu-ibu menatap kedatangan Ajeng dan mereka saling berbisik.

"Ehh kasian ya sama Bu Ajeng, masih muda padahal, cantik lagi. Kok di poligami sih." Ujar Ibu itu yang berada tak jauh dari Ajeng.

"Iya ya. Mungkin service nya kurang kali. Makanya suaminya cari yang lain." Kata Ibu yang satunya.

"Suaminya orang kaya, ya jelas dia kuasa untuk menikah lagi." Ujar Ibu itu lagi.

"Sudah... sudah, tak baik membicarakan keburukan orang lain. Kita fokus akan pembahasan wali kelas kita. Tuh wali kelas kita sudah datang." Tukas satu Ibu yang dari tadi memilih diam.

Bukannya Ajeng tak tau mereka membicarakan apa. Hanya saja ia memilih abai dan menghiraukan bisikan ibu-ibu itu yang tentunya agak kedengaran sedikit.

***

Fiona merasa bosan berada di dalam rumah terus. Ia pun berencana pergi ke kantor suaminya dengan memesan taksi online karena belum mempunyai kendaraan sendiri.

Taksi yang dipesan pun datang, dan segera ia naik kedalam mobil dan memberitahukan alamat yang dituju pada sang sopir.

Setelah hampir satu jam lebih. Fiona pun tiba dikantor Yudha. Kemudian ia membayar ongkos lalu turun.

Ia menatap kantor itu dengan perasaan takjub. Karena kantor itu sangat megah dan besar.

"Tidak salah aku pilih Mas Yudha." Gumam Fiona tersenyum bahagia. "Gak nyangka aku akan punya perusahaan sebesar ini. Ajeeeng Ajeng. Kamu salah telah meninggalkan suamimu yang kaya raya ini. Tapi baguslah. Biar aku sendiri yang menikmati harta kekayaan Mas Yudha." Ucap Fiona sambil melangkah masuk kedalam kantor itu. Tapi dicegah oleh satpam.

"Maaf Bu, anda siapa? Dan mau kemana?" Tanya Satpam yang berjaga dikantor itu, ia bernama Dibyo.

"Heh, kamu gak kenal siapa saya?" Fiona balik bertanya sedangkan Dibyo menggelengkan kepalanya.

"Kenalkan. Saya istrinya Fiona yang punya perusahaan ini." Jawab Fiona dengan percaya dirinya.

"Setau saya Pak Abian belum menikah." Balas Dibyo sambil mengerutkan dahinya.

"Ehh kok Abian sih? Suamiku Mas Yudha namanya. Masa gak tau sih pemilik perusahaan ini." Kata Fiona lalu melangkah masuk tapi ia kembali di cegah.

"Maaf mbak. Yang saya tau istrinya Pak Yudha itu Bu Ajeng namanya." Tukas Dibyo.

"Mereka sudah cerai." Ujar Fiona kesal karena nama Ajeng yang mereka ingat. Padahal ia juga baru berkunjung kesana dan Yudha belum memperkenalkan siapa dirinya.

Darman sang satpam satunya menarik tangan Dibyo dan membiarkan Fiona masuk.

"Kamu gak tau ya desas desus tentang Pak Yudha?" Bisik Darman pada Dibyo.

"Memangnya apaan?" Tanya Dibyo menoleh penasaran.

"Cewek tadi benar dia istrinya. Tapi hanya istri siri." Kata Darman dengan suara yang di pelan-pelankan.

"Hah? Pak Yudha nikah lagi gitu?" Tanya Dibyo.

"Sstttt jangan keras-keras." Ucap Darman dengan jari telunjuknya diatas bibirnya.

"Kabar yang ku dengar sih. Pak Yudha nikah lagi dengan cewek itu tadi tanpa sepengetahuan Bu Ajeng." Papar Darman.

"Ohh gitu. Tapi kenapa cewek tadi bilang perusahaan ini milik Pak Yudha?" Tanya Dibyo heran sambil mengerutkan dahinya.

"Mungkin dia gak tau kali. Dia hanya tau Pak Yudha seorang CEO dikantor ini, jadi mengira ini perusahaan miliknya." Papar Darman kembali.

"Kamu pantas jadi wartawan Man. Semua berita kamu tau." Kekeh Dibyo.

"Yeayyy kamu aja yang ketinggalan jaman." Balas Darman sambil menjitak kepala Dibyo.

Sementara itu Fiona mencari ruangan yang ditempati Yudha. Namun ia bingung karena begitu banyak ruangan disana.

"Cari siapa mbak?" Tanya sang kepala resepsionis disana.

"Ruangan Mas Yudha dimana ya?" Tanya Fiona sambil matanya mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.

"Mbak sudah ada janji?" Tanya resepsionis itu.

"Ehh saya istrinya, sekarang katakan dimana ruangan suami saya." Balas Fiona menatap sang resepsionis itu.

"Maaf mbak, mbak harus ada janji dulu." Ujar resepsionis dengan tetap sopan.

"Saya sudah bilang saya istrinya. Kenapa harus ada janji segala. Peraturan macam apa ini." Bentak Fiona membuat resepsionis itu terkesiap.

"Ada apa ini?"

Terpopuler

Comments

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

angkuhnya kmi Fiona GK tw Dy suaminya CEO aj titel nyatanya msih RK SMA orag hadeh....

2023-10-09

0

Uthie

Uthie

Sombong... biar tau malu itu 😡

2023-07-11

0

Maisya Indra Istiani

Maisya Indra Istiani

geregeten

2023-05-16

0

lihat semua
Episodes
1 1. Minta Cerai
2 2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3 3. Ajeng dan Fiona
4 4. Kemarahan Ajeng
5 5. Perdebatan
6 6. Pergi
7 7. Foto Mesra
8 8. Bertemu Seseorang
9 9. Ingin Rujuk
10 10. Kebencian Qeera
11 11. Masih Cemburu.
12 12. Urus Surat Cerai
13 Sosok Luthfan Aqmar
14 Waktu Berjalan Begitu Cepat
15 Belum Sembuh Dari Luka
16 Sidang Pertama
17 Mengambil Barang
18 Ajeng dan Abian.
19 Salah Sangka
20 Resmi Berpisah.
21 Kegelisahan Sang Anak
22 Abian Qadafi
23 Kebenaran Terungkap
24 Ujian Hidup Yang Tak Sama
25 Belum Move On
26 Bertemunya Abian dengan Luthfan
27 Kepanikan Yudha
28 Mengungkapkan Isi Hati
29 Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30 Abian Kerumah Ajeng
31 Lagi Fiona Berulah
32 Kedatangan Ibu Mertua
33 Gelisah
34 Mertua Dan Menantu
35 Cincin Berlian
36 Cemburu
37 Membuat Rancangan Baju
38 Sekolah Baru
39 Penyesalan Yudha
40 Will You Marry Me
41 Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42 Rebutan Sertifikat
43 Qeera Menjenguk Yudha
44 Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45 Cincin Itu...
46 Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47 Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48 Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49 Cemburu Berat
50 Menahan Malu
51 Tawaran Kerjasama Baru
52 Retno Ke Kantor Abian
53 Rekreasi
54 Mengetahui Fakta.
55 Rumit
56 Sebuah Permintaan.
57 Ijab Qabul
58 Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59 Rencana Penjebakan.
60 Sebuah Intrik
61 Aksi Penjebakan
62 Kemarahan Abian.
63 Disebuah Rumah Sakit
64 Kembalinya Ajeng
65 Melepas Rindu
66 Sebuah Keputusan
67 Bermuara Dititik Kerinduan
68 Sisa Pengantin Baru
69 Hasna dan Alvino
70 Perdebatan Dua Sahabat
71 Merajuk
72 Kebebasan Yudha
73 Amarah yang Memuncak
74 Kecelakaan
75 Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76 Konflik
77 Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78 Hamil
79 Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80 Mengalah Bukan Berarti Kalah
81 Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82 Bunuh Diri
83 Prasangka Alvino
84 Kotak Kecil
85 Introgasi
86 Ide Gila Hasna
87 Berfikir Lebih Dewasa
88 Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89 Jatuh Talak
90 Kelicikan Dibalas Kelicikan
91 Pura-puranya Suami Istri
92 Rencana Berikutnya
93 Persiapan Pesta Pernikahan
94 Hasna Terkejut
95 Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96 Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97 Keguguran
98 Kritis
99 Merajuknya Ibu Hamil
100 Kecemasan Kembali Melanda
101 Ferdy Masih Belum Terima
102 Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103 Mood Ibu Hamil
104 Pikiran Buruk Kembali Hadir
105 Membaiknya Dua Sahabat
106 Drama Ngidam
107 Tak Mau Egois
108 Kedatangan Sang Ibu
109 Masih Mengedapankan Ego
110 Retaknya Hubungan Antar Teman
111 111. Debat Mantan Suami Istri
112 112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113 113. Kecewa yang Teramat Dalam
114 114. Rindu yang Menggunung
115 115. Hanya Masalah Hati
116 116. Salah Paham
117 117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118 118 Pilihan yang Sulit.
119 119. Semangat Kembali Hadir
120 120. Keadaan yang Sama Persis
121 121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122 122. Kembali Ditangkap Polisi
123 123. Ending
Episodes

Updated 123 Episodes

1
1. Minta Cerai
2
2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3
3. Ajeng dan Fiona
4
4. Kemarahan Ajeng
5
5. Perdebatan
6
6. Pergi
7
7. Foto Mesra
8
8. Bertemu Seseorang
9
9. Ingin Rujuk
10
10. Kebencian Qeera
11
11. Masih Cemburu.
12
12. Urus Surat Cerai
13
Sosok Luthfan Aqmar
14
Waktu Berjalan Begitu Cepat
15
Belum Sembuh Dari Luka
16
Sidang Pertama
17
Mengambil Barang
18
Ajeng dan Abian.
19
Salah Sangka
20
Resmi Berpisah.
21
Kegelisahan Sang Anak
22
Abian Qadafi
23
Kebenaran Terungkap
24
Ujian Hidup Yang Tak Sama
25
Belum Move On
26
Bertemunya Abian dengan Luthfan
27
Kepanikan Yudha
28
Mengungkapkan Isi Hati
29
Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30
Abian Kerumah Ajeng
31
Lagi Fiona Berulah
32
Kedatangan Ibu Mertua
33
Gelisah
34
Mertua Dan Menantu
35
Cincin Berlian
36
Cemburu
37
Membuat Rancangan Baju
38
Sekolah Baru
39
Penyesalan Yudha
40
Will You Marry Me
41
Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42
Rebutan Sertifikat
43
Qeera Menjenguk Yudha
44
Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45
Cincin Itu...
46
Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47
Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48
Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49
Cemburu Berat
50
Menahan Malu
51
Tawaran Kerjasama Baru
52
Retno Ke Kantor Abian
53
Rekreasi
54
Mengetahui Fakta.
55
Rumit
56
Sebuah Permintaan.
57
Ijab Qabul
58
Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59
Rencana Penjebakan.
60
Sebuah Intrik
61
Aksi Penjebakan
62
Kemarahan Abian.
63
Disebuah Rumah Sakit
64
Kembalinya Ajeng
65
Melepas Rindu
66
Sebuah Keputusan
67
Bermuara Dititik Kerinduan
68
Sisa Pengantin Baru
69
Hasna dan Alvino
70
Perdebatan Dua Sahabat
71
Merajuk
72
Kebebasan Yudha
73
Amarah yang Memuncak
74
Kecelakaan
75
Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76
Konflik
77
Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78
Hamil
79
Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80
Mengalah Bukan Berarti Kalah
81
Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82
Bunuh Diri
83
Prasangka Alvino
84
Kotak Kecil
85
Introgasi
86
Ide Gila Hasna
87
Berfikir Lebih Dewasa
88
Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89
Jatuh Talak
90
Kelicikan Dibalas Kelicikan
91
Pura-puranya Suami Istri
92
Rencana Berikutnya
93
Persiapan Pesta Pernikahan
94
Hasna Terkejut
95
Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96
Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97
Keguguran
98
Kritis
99
Merajuknya Ibu Hamil
100
Kecemasan Kembali Melanda
101
Ferdy Masih Belum Terima
102
Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103
Mood Ibu Hamil
104
Pikiran Buruk Kembali Hadir
105
Membaiknya Dua Sahabat
106
Drama Ngidam
107
Tak Mau Egois
108
Kedatangan Sang Ibu
109
Masih Mengedapankan Ego
110
Retaknya Hubungan Antar Teman
111
111. Debat Mantan Suami Istri
112
112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113
113. Kecewa yang Teramat Dalam
114
114. Rindu yang Menggunung
115
115. Hanya Masalah Hati
116
116. Salah Paham
117
117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118
118 Pilihan yang Sulit.
119
119. Semangat Kembali Hadir
120
120. Keadaan yang Sama Persis
121
121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122
122. Kembali Ditangkap Polisi
123
123. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!