Yudha pulang dari kantor selepas isya. Terlihat Fiona sedang duduk didepan tv sambil memainkan ponsel.
Pandangan Yudha justru bukan pada Fiona, melainkan pada keadaan didalam rumah itu yang sungguh berantakan dan kotor. Karena ART dirumah itu tak bisa masuk dalam waktu beberapa hari dikarenakan suaminya sedang sakit dan dirawat dirumah sakit.
"Fiona." Panggil Yudha dari kejauhan.
Fiona menoleh dan berdiri. "Eh Mas udah pulang?" Tanyanya. Ia bangkit lalu mendekat.
"Kamu seharian ini ngapain aja dirumah?" Tanya Yudha.
"Maksud kamu apa? Kamu kan tau aku abis dari mall beli tas kesukaan aku. Aku udah ijin kan sama kamu semalam?" Ucap Fiona menatapnya heran.
"Memang kamu seharian ini gak ada dirumah?"
"Aku tadi pulang sekitar jam duaan. Kenapa sih? Kok pertanyaanmu gitu amat."
"Lalu kenapa rumah ini berantakan sekali? Lihat mainan berserakan dimana-mana. Lantai juga sangat kotor. Belum kamu sapu juga kan?" Tanya Yudha melihat ke sekeliling didalam rumahnya.
"Mas, aku tuh capek jadi aku tidur." Jawab Fiona agak kesal.
"Tidur palingan cuma dua jam tiga jam kan? Masa cuma nyapu aja kamu gak ada waktu. Aku tuh paling gak bisa lihat rumah berantakan."
"Kamu tuh kenapa sih! Baru datang udah marah-marah. Lagian juga itu mainan anak kamu harusnya kamu yang beresin bukan aku." Fiona tak terima suaminya memperlakukannya bak seorang ART. Padahal Ajeng tidak pernah seperti itu jika ART sedang libur.
"Kamu berani ya macam-macam sama aku." kata Yudha menatapnya tajam.
"Mas, aku tuh disini bukan pembantu. Tapi istri kamu."
"Kamu tau sendiri. Bik Rumi ijin dulu dalam waktu beberapa hari. Harusnya kamu tau tugasmu disini menggantikan dia untuk sementara waktu sampai Bik Rumi kembali." Ujar Yudha dengan kesal sambil menarik napas dalam.
"Aku tau. Tapi aku gak mau melakukannya. Buang-buang waktu. Lagian juga aku gak mau tangan aku kasar, kuku di jariku nanti pada patah. Aku gak mau itu." Keluh Fiona.
"Kamu seorang CEO kan dikantor. Harusnya kamu cari yang lain dulu untuk menggantikan ART dirumah ini sebelum dia kembali. Masa bayar orang lagi kamu gak mampu." Ucap Fiona sambil mendekap kedua tangannya diatas dada dengan senyuman mengejek.
"Jaga ucapan kamu." Tunjuk Yudha. "Aku tidak pernah sekalipun melihat Ajeng bersikap seperti itu padaku. Ia dengan senang hati pasti menggantikan Bik Rumi dirumah ini. Tapi kamu? Kamu sama sekali bukan istri yang baik." Bentak Yudha menatapnya tajam.
"Jangan samakan aku sama perempuan miskin itu. Jelas beda! Dia kampungan jadi mau saja diperintah."
"Baru beberapa minggu kita menikah kamu sudah sangat keterlaluan Fiona." Bentak Yudha dengan napas menggebu. Lalu memilih pergi dan masuk kedalam kamar.
Fiona kembali ke dekat sofa dan duduk dengan kasar. Ia pikir Yudha tidak mempermasalahkan hal itu hanya karena rumahnya terlihat berantakan dan kotor.
Ditempat lain. Ajeng dan Qeera juga pengasuh sedang makan malam.
"Bunda, aku lupa kasih tau bunda. Kalau besok ada kumpulan wali murid. Bunda datang ya?" Ujar Qeera.
"Iya sayang, bunda pasti datang." Jawab Ajeng sambil mengusap pucuk kepalanya.
"Setelah ini Qeera tidur ya. Nanti bunda temani."
"Yeayyy." Ucap Qeera senang.
Makan malam pun usai. Dilanjut Ajeng dan pengasuh membersihkan piring bekas makanan mereka. Karena tidak ada pembantu jadi mereka selalu melakukannya bersama-sama. Lalu ketiganya masuk kedalam kamar masing-masing.
Ajeng menyelimuti putrinya sambil membacakan dongeng sampai Qeera tertidur lelap. Setelah melihatnya tidur. Ajeng bangkit dan berdiri didekat jendela kamar.
Bayangannya mengingat dimana pertemuan pertama kali antara dirinya dengan Yudha dulu disaat sedang nonton acara live musik dijakarta. Ajeng yang saat itu berdesakan tak sengaja ia menabrak punggung Yudha dan membuat Yudha menoleh ke belakang. Sejak pertemuan itu keduanya semakin dekat hingga tak butuh waktu lama. Yudha melamar Ajeng pada kedua orangtuanya. Lamaranpun diterima setelah itu hanya dalam kurun waktu satu bulan mereka telah sah menjadi pasangan suami istri.
Pertemuan yang sangat singkat memang. Tapi tak menjadikan mereka pasangan tak harmonis. Melainkan mereka selalu menjaga keharmonisan rumahtangga mereka.
Dan dalam waktu enam tahun tak ada guncangan yang berarti, hanya masalah kecil yang mereka hadapi.
Namun tak disangka hubungan mereka harus kandas karena kesalahan satu orang yaitu Yudha sendiri yang memilih kembali pada mantannya. Mantan yang membuatnya susah move on.
Ajeng memejamkan matanya lalu menangis, mengingat kegagalan dirinya dalam berumahtangga. Bahkan sebelum ayahnya meninggal ia berpesan untuk tetap patuh pada sang suami. Dan menerima setiap kekurangan suaminya. Tapi jika harus kekurangan itu yang ia terima ia tak sanggup dan lebih memilih untuk mundur.
Ya. Ajeng menikah sebelum ia lulus kuliah. Sehingga pada saat orangtuanya kecelakaan, usia pernikahannya baru menginjak tiga bulan. Pun Yudha yang saat itu hanya sebagai karyawan biasa di sebuah kantor. Hingga akhirnya bertemu dengan Abian sahabatnya dan di ajak untuk bekerja diperusahaan milik Abian. Keahlian yang ia punya membuat Abian tak butuh waktu lama untuk menjadikannya seorang CEO di kantornya Sejak saat itu perekonomian mereka mulai meningkat sampai sekarang.
Sebenarnya mereka punya satu rumah lagi di jakarta. Dan itu sudah atas nama Qeera. Namun Ajeng tak mau tinggal disana. Lebih memilih tinggal di kediaman almarhum kedua orangtuanya.
Ponselnya kini berdering. Ia berjalan untuk mengambilnya lalu melihat siapa yang menghubunginya. Tertera nama suaminya.
"Ada apa lagi dia. Kenapa malam-malam telepon?" Gumamnya. Ia bingung antara diangkat atau tidak. Sehingga telepon itu terputus karena terlalu lama ia tak menerimanya. Namun panggilan berikutnya kembali terdengar.
Dan kali ini Ajeng memilih untuk menerimanya karena bagaimanapun ia ayah dari putri semata wayangnya.
"Hallo Assalaamu'alaikum." Sapa Ajeng.
"Wa'alaikumsalam. Gimana kabar kamu?" Tanya Yudha.
"Alhamdulillah baik."
"Syukurlah aku senang kamu baik-baik saja." Kata Yudha.
"Langsung saja! Ada apa telepon? ini sudah malam. Qeera sudah tidur. Jadi besok saja."
"Bukan itu. Tapi .... " Yudha menjeda ucapannya. Mengambil napas terlebih dahulu.
"Ajeng aku ... ingin kita rujuk." Ujar Yudha lirih.
"Surat cerai pun belum kamu terima kan? Karena aku juga belum membuatnya. Jadi ku mohon kembalilah. Kita mulai lagi dari awal." kata Yudha.
"Semudah itu kamu meminta rujuk. Tapi maap Mas. Aku gak .... "
"Aku habis bertengkar sama Fiona." Kata Yudha memotong pembicaraan Ajeng.
"Hanya karena bertengkar lantas kamu ingin rujuk denganku begitu?" Kekeh Ajeng menggelengkan kepalanya.
"Kalian mau romantis, mau bertengkar, itu bukan urusanku. Kalau kamu telepon cuma mau bilang rujuk. Maap aku gak bisa." kata Ajeng tegas.
Yudha menghelas napas berat. "Aku akan ceraikan Fiona."
"Apa? Semudah itu kamu mempermainkan hati seorang perempuan. Bukankah kamu juga lahir dari seorang perempuan?" Sentak Ajeng yang tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.
"Mas, kamu yang memilih dia. Kamu harus terima apapun kekurangan dia."
"Tapi dia bukan istri yang aku harapkan Jeng, dia hanya ongkang-ongkang kaki saja tidak mau melakukan pekerjaan apapun, berbeda dengan kamu. Aku salah telah melepaskan berlian hanya demi setitik emas. Aku .... menyesal." Ujar Yudha dengan sesak yang ia tahan.
"Kalian menikah baru seumur jagung. Tidak seharusnya mempermasalahkan hal itu. Maap aku harus tidur. Besok pagi ada kunjungan wali murid." Ucap Ajeng langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Yudha.
***
Kembali matahari bersinar. Ajeng dan Qeera bersiap untuk pergi ke sekolah, kali ini tidak ditemani pengasuh. Hanya mereka berdua.
Disepanjang jalan. Qeera bercerita apa saja kegiatan disekolahnya. Hingga tiba dilampu merah. Mobil mereka pun berhenti dan dibelakangnya juga terdapat mobil berwarna putih milik Yudha.
Yudha tau itu mobil Ajeng. Ia pun berniat mengikutinya dari belakang. Setelah lampu kembali hijau semua pengendara pun kembali berjalan, begitu juga Ajeng. Ia belok ke arah kiri menuju ke sekolahan putrinya.
Mereka pun tiba di sekolah. Ibu dan anak itu turun. Namun pada saat akan memasuki gerbang sekolah, Yudha sudah berdiri dibelakang mereka.
"Ajeng, Qeera." Panggilnya membuat keduanya menoleh.
"Ayah." Pekik Qeera menghambur ke pelukan ayahnya. Sementara Ajeng hanya diam mematung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Intan IbunyaAzam
suami serakah menyesal nya disaat usia pernikahan seumur jagung, emag suami TK berprinsip PLIN plan
2023-10-09
0
Yati Syahira
jgn luluh ajeng nikmati wanitamu yudha
2023-07-25
0
Anis Rohayati
hayo ajeng kmu harus tegas dan cepet ceraikan si banjingan yuda jiji aku
2023-04-09
1