9. Ingin Rujuk

Yudha pulang dari kantor selepas isya. Terlihat Fiona sedang duduk didepan tv sambil memainkan ponsel.

Pandangan Yudha justru bukan pada Fiona, melainkan pada keadaan didalam rumah itu yang sungguh berantakan dan kotor. Karena ART dirumah itu tak bisa masuk dalam waktu beberapa hari dikarenakan suaminya sedang sakit dan dirawat dirumah sakit.

"Fiona." Panggil Yudha dari kejauhan.

Fiona menoleh dan berdiri. "Eh Mas udah pulang?" Tanyanya. Ia bangkit lalu mendekat.

"Kamu seharian ini ngapain aja dirumah?" Tanya Yudha.

"Maksud kamu apa? Kamu kan tau aku abis dari mall beli tas kesukaan aku. Aku udah ijin kan sama kamu semalam?" Ucap Fiona menatapnya heran.

"Memang kamu seharian ini gak ada dirumah?"

"Aku tadi pulang sekitar jam duaan. Kenapa sih? Kok pertanyaanmu gitu amat."

"Lalu kenapa rumah ini berantakan sekali? Lihat mainan berserakan dimana-mana. Lantai juga sangat kotor. Belum kamu sapu juga kan?" Tanya Yudha melihat ke sekeliling didalam rumahnya.

"Mas, aku tuh capek jadi aku tidur." Jawab Fiona agak kesal.

"Tidur palingan cuma dua jam tiga jam kan? Masa cuma nyapu aja kamu gak ada waktu. Aku tuh paling gak bisa lihat rumah berantakan."

"Kamu tuh kenapa sih! Baru datang udah marah-marah. Lagian juga itu mainan anak kamu harusnya kamu yang beresin bukan aku." Fiona tak terima suaminya memperlakukannya bak seorang ART. Padahal Ajeng tidak pernah seperti itu jika ART sedang libur.

"Kamu berani ya macam-macam sama aku." kata Yudha menatapnya tajam.

"Mas, aku tuh disini bukan pembantu. Tapi istri kamu."

"Kamu tau sendiri. Bik Rumi ijin dulu dalam waktu beberapa hari. Harusnya kamu tau tugasmu disini menggantikan dia untuk sementara waktu sampai Bik Rumi kembali." Ujar Yudha dengan kesal sambil menarik napas dalam.

"Aku tau. Tapi aku gak mau melakukannya. Buang-buang waktu. Lagian juga aku gak mau tangan aku kasar, kuku di jariku nanti pada patah. Aku gak mau itu." Keluh Fiona.

"Kamu seorang CEO kan dikantor. Harusnya kamu cari yang lain dulu untuk menggantikan ART dirumah ini sebelum dia kembali. Masa bayar orang lagi kamu gak mampu." Ucap Fiona sambil mendekap kedua tangannya diatas dada dengan senyuman mengejek.

"Jaga ucapan kamu." Tunjuk Yudha. "Aku tidak pernah sekalipun melihat Ajeng bersikap seperti itu padaku. Ia dengan senang hati pasti menggantikan Bik Rumi dirumah ini. Tapi kamu? Kamu sama sekali bukan istri yang baik." Bentak Yudha menatapnya tajam.

"Jangan samakan aku sama perempuan miskin itu. Jelas beda! Dia kampungan jadi mau saja diperintah."

"Baru beberapa minggu kita menikah kamu sudah sangat keterlaluan Fiona." Bentak Yudha dengan napas menggebu. Lalu memilih pergi dan masuk kedalam kamar.

Fiona kembali ke dekat sofa dan duduk dengan kasar. Ia pikir Yudha tidak mempermasalahkan hal itu hanya karena rumahnya terlihat berantakan dan kotor.

Ditempat lain. Ajeng dan Qeera juga pengasuh sedang makan malam.

"Bunda, aku lupa kasih tau bunda. Kalau besok ada kumpulan wali murid. Bunda datang ya?" Ujar Qeera.

"Iya sayang, bunda pasti datang." Jawab Ajeng sambil mengusap pucuk kepalanya.

"Setelah ini Qeera tidur ya. Nanti bunda temani."

"Yeayyy." Ucap Qeera senang.

Makan malam pun usai. Dilanjut Ajeng dan pengasuh membersihkan piring bekas makanan mereka. Karena tidak ada pembantu jadi mereka selalu melakukannya bersama-sama. Lalu ketiganya masuk kedalam kamar masing-masing.

Ajeng menyelimuti putrinya sambil membacakan dongeng sampai Qeera tertidur lelap. Setelah melihatnya tidur. Ajeng bangkit dan berdiri didekat jendela kamar.

Bayangannya mengingat dimana pertemuan pertama kali antara dirinya dengan Yudha dulu disaat sedang nonton acara live musik dijakarta. Ajeng yang saat itu berdesakan tak sengaja ia menabrak punggung Yudha dan membuat Yudha menoleh ke belakang. Sejak pertemuan itu keduanya semakin dekat hingga tak butuh waktu lama. Yudha melamar Ajeng pada kedua orangtuanya. Lamaranpun diterima setelah itu hanya dalam kurun waktu satu bulan mereka telah sah menjadi pasangan suami istri.

Pertemuan yang sangat singkat memang. Tapi tak menjadikan mereka pasangan tak harmonis. Melainkan mereka selalu menjaga keharmonisan rumahtangga mereka.

Dan dalam waktu enam tahun tak ada guncangan yang berarti, hanya masalah kecil yang mereka hadapi.

Namun tak disangka hubungan mereka harus kandas karena kesalahan satu orang yaitu Yudha sendiri yang memilih kembali pada mantannya. Mantan yang membuatnya susah move on.

Ajeng memejamkan matanya lalu menangis, mengingat kegagalan dirinya dalam berumahtangga. Bahkan sebelum ayahnya meninggal ia berpesan untuk tetap patuh pada sang suami. Dan menerima setiap kekurangan suaminya. Tapi jika harus kekurangan itu yang ia terima ia tak sanggup dan lebih memilih untuk mundur.

Ya. Ajeng menikah sebelum ia lulus kuliah. Sehingga pada saat orangtuanya kecelakaan, usia pernikahannya baru menginjak tiga bulan. Pun Yudha yang saat itu hanya sebagai karyawan biasa di sebuah kantor. Hingga akhirnya bertemu dengan Abian sahabatnya dan di ajak untuk bekerja diperusahaan milik Abian. Keahlian yang ia punya membuat Abian tak butuh waktu lama untuk menjadikannya seorang CEO di kantornya Sejak saat itu perekonomian mereka mulai meningkat sampai sekarang.

Sebenarnya mereka punya satu rumah lagi di jakarta. Dan itu sudah atas nama Qeera. Namun Ajeng tak mau tinggal disana. Lebih memilih tinggal di kediaman almarhum kedua orangtuanya.

Ponselnya kini berdering. Ia berjalan untuk mengambilnya lalu melihat siapa yang menghubunginya. Tertera nama suaminya.

"Ada apa lagi dia. Kenapa malam-malam telepon?" Gumamnya. Ia bingung antara diangkat atau tidak. Sehingga telepon itu terputus karena terlalu lama ia tak menerimanya. Namun panggilan berikutnya kembali terdengar.

Dan kali ini Ajeng memilih untuk menerimanya karena bagaimanapun ia ayah dari putri semata wayangnya.

"Hallo Assalaamu'alaikum." Sapa Ajeng.

"Wa'alaikumsalam. Gimana kabar kamu?" Tanya Yudha.

"Alhamdulillah baik."

"Syukurlah aku senang kamu baik-baik saja." Kata Yudha.

"Langsung saja! Ada apa telepon? ini sudah malam. Qeera sudah tidur. Jadi besok saja."

"Bukan itu. Tapi .... " Yudha menjeda ucapannya. Mengambil napas terlebih dahulu.

"Ajeng aku ... ingin kita rujuk." Ujar Yudha lirih.

"Surat cerai pun belum kamu terima kan? Karena aku juga belum membuatnya. Jadi ku mohon kembalilah. Kita mulai lagi dari awal." kata Yudha.

"Semudah itu kamu meminta rujuk. Tapi maap Mas. Aku gak .... "

"Aku habis bertengkar sama Fiona." Kata Yudha memotong pembicaraan Ajeng.

"Hanya karena bertengkar lantas kamu ingin rujuk denganku begitu?" Kekeh Ajeng menggelengkan kepalanya.

"Kalian mau romantis, mau bertengkar, itu bukan urusanku. Kalau kamu telepon cuma mau bilang rujuk. Maap aku gak bisa." kata Ajeng tegas.

Yudha menghelas napas berat. "Aku akan ceraikan Fiona."

"Apa? Semudah itu kamu mempermainkan hati seorang perempuan. Bukankah kamu juga lahir dari seorang perempuan?" Sentak Ajeng yang tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.

"Mas, kamu yang memilih dia. Kamu harus terima apapun kekurangan dia."

"Tapi dia bukan istri yang aku harapkan Jeng, dia hanya ongkang-ongkang kaki saja tidak mau melakukan pekerjaan apapun, berbeda dengan kamu. Aku salah telah melepaskan berlian hanya demi setitik emas. Aku .... menyesal." Ujar Yudha dengan sesak yang ia tahan.

"Kalian menikah baru seumur jagung. Tidak seharusnya mempermasalahkan hal itu. Maap aku harus tidur. Besok pagi ada kunjungan wali murid." Ucap Ajeng langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Yudha.

***

Kembali matahari bersinar. Ajeng dan Qeera bersiap untuk pergi ke sekolah, kali ini tidak ditemani pengasuh. Hanya mereka berdua.

Disepanjang jalan. Qeera bercerita apa saja kegiatan disekolahnya. Hingga tiba dilampu merah. Mobil mereka pun berhenti dan dibelakangnya juga terdapat mobil berwarna putih milik Yudha.

Yudha tau itu mobil Ajeng. Ia pun berniat mengikutinya dari belakang. Setelah lampu kembali hijau semua pengendara pun kembali berjalan, begitu juga Ajeng. Ia belok ke arah kiri menuju ke sekolahan putrinya.

Mereka pun tiba di sekolah. Ibu dan anak itu turun. Namun pada saat akan memasuki gerbang sekolah, Yudha sudah berdiri dibelakang mereka.

"Ajeng, Qeera." Panggilnya membuat keduanya menoleh.

"Ayah." Pekik Qeera menghambur ke pelukan ayahnya. Sementara Ajeng hanya diam mematung.

Terpopuler

Comments

Intan IbunyaAzam

Intan IbunyaAzam

suami serakah menyesal nya disaat usia pernikahan seumur jagung, emag suami TK berprinsip PLIN plan

2023-10-09

0

Yati Syahira

Yati Syahira

jgn luluh ajeng nikmati wanitamu yudha

2023-07-25

0

Anis Rohayati

Anis Rohayati

hayo ajeng kmu harus tegas dan cepet ceraikan si banjingan yuda jiji aku

2023-04-09

1

lihat semua
Episodes
1 1. Minta Cerai
2 2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3 3. Ajeng dan Fiona
4 4. Kemarahan Ajeng
5 5. Perdebatan
6 6. Pergi
7 7. Foto Mesra
8 8. Bertemu Seseorang
9 9. Ingin Rujuk
10 10. Kebencian Qeera
11 11. Masih Cemburu.
12 12. Urus Surat Cerai
13 Sosok Luthfan Aqmar
14 Waktu Berjalan Begitu Cepat
15 Belum Sembuh Dari Luka
16 Sidang Pertama
17 Mengambil Barang
18 Ajeng dan Abian.
19 Salah Sangka
20 Resmi Berpisah.
21 Kegelisahan Sang Anak
22 Abian Qadafi
23 Kebenaran Terungkap
24 Ujian Hidup Yang Tak Sama
25 Belum Move On
26 Bertemunya Abian dengan Luthfan
27 Kepanikan Yudha
28 Mengungkapkan Isi Hati
29 Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30 Abian Kerumah Ajeng
31 Lagi Fiona Berulah
32 Kedatangan Ibu Mertua
33 Gelisah
34 Mertua Dan Menantu
35 Cincin Berlian
36 Cemburu
37 Membuat Rancangan Baju
38 Sekolah Baru
39 Penyesalan Yudha
40 Will You Marry Me
41 Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42 Rebutan Sertifikat
43 Qeera Menjenguk Yudha
44 Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45 Cincin Itu...
46 Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47 Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48 Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49 Cemburu Berat
50 Menahan Malu
51 Tawaran Kerjasama Baru
52 Retno Ke Kantor Abian
53 Rekreasi
54 Mengetahui Fakta.
55 Rumit
56 Sebuah Permintaan.
57 Ijab Qabul
58 Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59 Rencana Penjebakan.
60 Sebuah Intrik
61 Aksi Penjebakan
62 Kemarahan Abian.
63 Disebuah Rumah Sakit
64 Kembalinya Ajeng
65 Melepas Rindu
66 Sebuah Keputusan
67 Bermuara Dititik Kerinduan
68 Sisa Pengantin Baru
69 Hasna dan Alvino
70 Perdebatan Dua Sahabat
71 Merajuk
72 Kebebasan Yudha
73 Amarah yang Memuncak
74 Kecelakaan
75 Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76 Konflik
77 Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78 Hamil
79 Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80 Mengalah Bukan Berarti Kalah
81 Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82 Bunuh Diri
83 Prasangka Alvino
84 Kotak Kecil
85 Introgasi
86 Ide Gila Hasna
87 Berfikir Lebih Dewasa
88 Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89 Jatuh Talak
90 Kelicikan Dibalas Kelicikan
91 Pura-puranya Suami Istri
92 Rencana Berikutnya
93 Persiapan Pesta Pernikahan
94 Hasna Terkejut
95 Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96 Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97 Keguguran
98 Kritis
99 Merajuknya Ibu Hamil
100 Kecemasan Kembali Melanda
101 Ferdy Masih Belum Terima
102 Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103 Mood Ibu Hamil
104 Pikiran Buruk Kembali Hadir
105 Membaiknya Dua Sahabat
106 Drama Ngidam
107 Tak Mau Egois
108 Kedatangan Sang Ibu
109 Masih Mengedapankan Ego
110 Retaknya Hubungan Antar Teman
111 111. Debat Mantan Suami Istri
112 112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113 113. Kecewa yang Teramat Dalam
114 114. Rindu yang Menggunung
115 115. Hanya Masalah Hati
116 116. Salah Paham
117 117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118 118 Pilihan yang Sulit.
119 119. Semangat Kembali Hadir
120 120. Keadaan yang Sama Persis
121 121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122 122. Kembali Ditangkap Polisi
123 123. Ending
Episodes

Updated 123 Episodes

1
1. Minta Cerai
2
2. Memilih Untuk Pergi. Namun ...
3
3. Ajeng dan Fiona
4
4. Kemarahan Ajeng
5
5. Perdebatan
6
6. Pergi
7
7. Foto Mesra
8
8. Bertemu Seseorang
9
9. Ingin Rujuk
10
10. Kebencian Qeera
11
11. Masih Cemburu.
12
12. Urus Surat Cerai
13
Sosok Luthfan Aqmar
14
Waktu Berjalan Begitu Cepat
15
Belum Sembuh Dari Luka
16
Sidang Pertama
17
Mengambil Barang
18
Ajeng dan Abian.
19
Salah Sangka
20
Resmi Berpisah.
21
Kegelisahan Sang Anak
22
Abian Qadafi
23
Kebenaran Terungkap
24
Ujian Hidup Yang Tak Sama
25
Belum Move On
26
Bertemunya Abian dengan Luthfan
27
Kepanikan Yudha
28
Mengungkapkan Isi Hati
29
Masalah Hati Siapa Yang Tahu
30
Abian Kerumah Ajeng
31
Lagi Fiona Berulah
32
Kedatangan Ibu Mertua
33
Gelisah
34
Mertua Dan Menantu
35
Cincin Berlian
36
Cemburu
37
Membuat Rancangan Baju
38
Sekolah Baru
39
Penyesalan Yudha
40
Will You Marry Me
41
Perdebatan Antara Retno dan Fiona
42
Rebutan Sertifikat
43
Qeera Menjenguk Yudha
44
Qeera Dilarikan Kerumah Sakit
45
Cincin Itu...
46
Luthfan Akhirnya Tahu Siapa Ajeng
47
Saat Hasna Melihat Cincin Itu
48
Kepasrahan Ajeng, Kebahagiaan Abian.
49
Cemburu Berat
50
Menahan Malu
51
Tawaran Kerjasama Baru
52
Retno Ke Kantor Abian
53
Rekreasi
54
Mengetahui Fakta.
55
Rumit
56
Sebuah Permintaan.
57
Ijab Qabul
58
Canda Tawa Sang Pengantin Baru
59
Rencana Penjebakan.
60
Sebuah Intrik
61
Aksi Penjebakan
62
Kemarahan Abian.
63
Disebuah Rumah Sakit
64
Kembalinya Ajeng
65
Melepas Rindu
66
Sebuah Keputusan
67
Bermuara Dititik Kerinduan
68
Sisa Pengantin Baru
69
Hasna dan Alvino
70
Perdebatan Dua Sahabat
71
Merajuk
72
Kebebasan Yudha
73
Amarah yang Memuncak
74
Kecelakaan
75
Luthfan Sadar Akan Kesalahannya
76
Konflik
77
Fakta yang Baru Diketahui Yudha
78
Hamil
79
Waktu Tak Mungkin Bisa Diputar Kembali
80
Mengalah Bukan Berarti Kalah
81
Kesabaran Luthfan Menghadapi Hasna
82
Bunuh Diri
83
Prasangka Alvino
84
Kotak Kecil
85
Introgasi
86
Ide Gila Hasna
87
Berfikir Lebih Dewasa
88
Jujur Itu Kadang Menyakitkan
89
Jatuh Talak
90
Kelicikan Dibalas Kelicikan
91
Pura-puranya Suami Istri
92
Rencana Berikutnya
93
Persiapan Pesta Pernikahan
94
Hasna Terkejut
95
Saat Bukti-bukti Diperlihatkan
96
Siapa yang Menanam. Maka Ia Sendiri yang Menuai
97
Keguguran
98
Kritis
99
Merajuknya Ibu Hamil
100
Kecemasan Kembali Melanda
101
Ferdy Masih Belum Terima
102
Proses Transfusi Darah Berjalan Lancar
103
Mood Ibu Hamil
104
Pikiran Buruk Kembali Hadir
105
Membaiknya Dua Sahabat
106
Drama Ngidam
107
Tak Mau Egois
108
Kedatangan Sang Ibu
109
Masih Mengedapankan Ego
110
Retaknya Hubungan Antar Teman
111
111. Debat Mantan Suami Istri
112
112. Alur Kehidupan yang Berbeda
113
113. Kecewa yang Teramat Dalam
114
114. Rindu yang Menggunung
115
115. Hanya Masalah Hati
116
116. Salah Paham
117
117. Apa Karma Itu Memang Ada?
118
118 Pilihan yang Sulit.
119
119. Semangat Kembali Hadir
120
120. Keadaan yang Sama Persis
121
121. Pengakuan Cinta dan Luluhnya Hati
122
122. Kembali Ditangkap Polisi
123
123. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!