Dendam Darent

"Listen to me!" Ucap Gerald memulai pembicaraan.

"Kamu tau ayah kita? Edward Jhon Austin?" Tanya Gerald tanpa mengharapkan jawaban.

"Sebenarnya ayah kita adalah makhluk fana, bukan dari golongan manusia, ia ada lah penyihir besar yang berumur ratusan tahun." Tutur Gerald.

Flo mendengarkan dengan seksama, antara percaya dan tidak.

"Ayah dan Darent adalah saudara kembar, mereka sama sama penyihir yang hebat. Lalu ayah bertemu dengan ibu, Stella Aurora Heyina. Ibu adalah seorang peramal yang merupakan setengah manusia yang juga berumur ratusan tahun. Ayah jatuh cinta pada ibu."

"Darent melarang ayah untuk berhubungan dengan manusia atau pun makhluk setengah manusia. Tapi ayah tidak mendengarkan Darent. Darent marah dan meninggalkan ayah."

"Ibu meramalkan kehidupan mereka di masa depan, dan ternyata ibu melihat masa depan bahwa kota New York tempat nya berada akan di hancurkan oleh Darent karena kemarahannya pada ayah. Ia merasa ayah kita meninggalkan dia karena ibu, karena manusia." Lanjut Gerald.

"Karenanya ayah dan ibu membangun sebuah sekolah yaitu Forecaster Academy, mereka berharap bisa mempersiapkan semuanya sebelum Darent melaksanakan misinya yaitu menghancurkan kota New York."

"Lambat laun sekolah ini di penuhi dengan murid murid yang mempunyai kemampuan khusus dari berbagai negara, mentor yang ada pun sebagian adalah orang orang yang pernah ayah atau ibu kenal terutama Arnold ia adalah orang yang melayani ayah sampai akhir hayat. Mereka bekerja dengan senang hati dengan jaminan kesejahteraan yang tidak ada habisnya." Gerald berhenti sejenak dari kisah panjangnya ingin mendengar pendapat flo.

"Kalau ayah dan ibu makhluk fana kenapa mereka bisa meninggal?" Tanya flo getir ia bisa menebak apa jawaban kakaknya.

"Well, kamu pasti pernah mendengar ramalan yang terkenal itu adalah tentang kamu flo. Tentang seorang anak perempuan yang akan menyelamatkan semua orang." Gerald berhenti lagi menatap ekspresi flo yang menahan air matanya.

"Kamu mau aku melanjutkan cerita ini?" Tanya Gerald tidak yakin, ia tidak ingin adiknya sedih.

"Its okay, i am fine!" Sahut flo mencoba menutupi kegetirannya.

"Sebagai makhluk fana, syarat jika kamu ingin memiliki anak adalah dengan meminum ramuan peluntur keabadian dan itu artinya semua kekuatanmu akan hilang!" Tambah Gerald lagi.

Flo tertegun. Jadi orang tua mereka berkorban untuk mendapatkan seorang anak perempuan? Yaitu aku? Pikirnya.

"Benar flo, dan sayangnya anak pertama mereka adalah aku seorang laki-laki." Sambung Gerald menjawab pikiran flo.

"Kenapa mereka bersi keras untuk melahirkan ku? Kakak lebih hebat daripada aku, lalu kenapa masih berusaha untuk mendapatkan anak perempuan?" Tanya flo sembari menghapus air matanya yang sdh tidak terbendung lagi.

"Shh...jangan bicara seperti itu flo, semua sudah orang tua kita pikirkan dan mereka tau konsekuensinya." Ucap Gerald sembari memeluk adiknya yang sudah sengungukan.

"Orang tua kita terus berusaha untuk memiliki anak perempuan, dan akhirnya lahir lah kamu baby girl. Namun seperti hutang yang harus di bayar, balasan dari dua nyawa adalah kita." Tambah Gerald.

Flo menangis sejadi-jadinya, jadi benar selama ini bahwa penyebab kematian kedua orang tuanya adalah dia. Ya Tuhan.

Gerald memeluk flo yang masih menangis sengungukan sambil mengelus punggung adiknya sayang.

"Jika Darent adalah saudara kembar ayah, apakah ia memiliki wajah yang sama dengan ayah?" Tanya flo di sela tangisnya.

"Entahlah, kakak juga tidak pernah melihat wajahnya." Jawab Gerald jujur.

"Jika dia saudara ayah, berarti dia paman kita ka?" Tanya Flo lebih seperti pernyataan.

Gerald diam tak bergeming, flo benar. Jika Darent adalah saudara kembar ayahnya, maka otomatis dia dan flo adalah keponakannya. Orang bilang darah lebih kental daripada air! Entahlah.

"Kamu istirahat ya baby girl." Ucap Gerald sembari merebahkan flo di ranjang.

"Jangan banyak berpikir, kita akan hadapi semuanya berdua." Tambah Gerald sembari mengelus kening flo sayang.

"Heumhh..." Sahut flo mencoba memejamkan mata. Hari ini adalah salah satu hari terberat dalam hidupnya, terlalu banyak kejutan dalam satu hari.

Gerald bangun dan beranjak dari samping ranjang flo dan melenggang keluar.

"Sweet dream baby girl!" Gumam Gerald lirih.

...***...

Pukul 21.30

Flo terbangun dari tidurnya, melihat jam dinding sekilas kemudian memutuskan untuk mandi. Ia akan kembali memulai pelajaran dengan Athur. Tekadnya.

Setelah mandi flo bersiap dan mematut diri di depan cermin. Ia memakai celana kain putih dengan kemeja kuning lembut dan kardigan putih. Flo tidak ingin Athur mencela cara berpakaiannya lagi seperti tempo hari. Ck, menyebalkan sekali pria tua itu!

Pukul 21.50 flo berjalan santai di koridor mencoba membangun perisai lebih dulu, kali ini ia bangun sangat kuat!

"Tok..tok..tok!" Terdengar ketukan pintu yang pelan.

"Masuklah!" Jawab Athur ia menatap pakaian Flo sekilas lalu kembali fokus ke mejanya.

Cih. Benar bukan? Pikir flo.

Tanpa di suruh flo duduk di depan Athur.

"Kamu sudah baik kan?" Tanya Athur datar tanpa menatap flo sama sekali.

"Heumhh..." Sahut flo sekenanya.

Athur menatap flo dengan tatapan nyalang.

"Jawab ya atau tidak!" Perintahnya geram.

"Ya." Sahut flo singkat.

"Okay, karena sifat mu yang keras kepala itu sudah muncul, maka ku simpulkan kamu memang dalam keadaan sehat. Aku tidak mau ada drama lagi di ruangan ku!" Tambah Athur.

Flo memutar bola matanya malas. Drama dia bilang? Cih. Dia tidak sadar kalau dia yang raja drama, sok sok cool kaya gunung batu es.

"Baiklah, mengingat kejadian hari ini aku akan mengajarimu ilmu bela diri!" Tutur Athur.

Flo terkejut, namun mencoba memasang wajah datar. Bagaimana tidak? Pelajaran olahraga aja dia sering absen gimana ceritanya dia bisa belajar ilmu bela diri? Ya Tuhan. Pikir flo ngeri.

Athur menyadari gelagat flo. Dia yakin di dalam otak flo yang kecil itu sedang bergerak pemikiran pemikiran yang ia yakin tidak bagus karena ia sekarang sedang membangun perisai!

"Kenapa?" Athur bertanya penasaran.

"Its okay, fine!" Jawab flo singkat.

"Baiklah, kalau tidak ada masalah kita akan memulai pelajaran bela diri." Ucap Athur sembari beranjak dari duduknya dan mendorong lemari rak bukunya.

Dan betapa terkejutnya flo, di balik lemari tersebut ada lapangan besar seperti di kelas pertahanan, tanpa kursi dan meja hanya ada matras besar di tengah ruangan. Bedanya dinding ruangan tersebut di kelilingi kaca.

"Well, hal pertama yang harus kau lakukan adalah Change! " Seru Athur sembari menjentikkan jari nya di depan flo.

Seketika pakaian flo berubah jadi pakaian stell adidas hitam.

"Wow!" Seru flo sembari memperhatikan pakaiannya di cermin.

"Ingat lah untuk selalu memakai pakaian olahraga saat kesini, karena mulai sekarang pelajaran kita akan selalu menguras fisik!" Tutur Athur.

"Iya!" Sahut flo. Ya Tuhan, kalau tahu akan seperti ini ia tidak akan bolos pelajaran olahraga saat di sekolah.

"Baiklah, sebelum ku mulai ikat rambutmu terlebih dahulu!" Perintah Athur sembari menyerahkan ikat rambut biru muda di tangannya. Entah sejak kapan benda itu ada di tangannya.

Flo tertegun namun segera mengambil ikat rambut tersebut dan mengikat rambutnya ala ponytail.

Ya Tuhan. Bantu lah aku kali ini saja, jangan sampai memalukan di hadapannya! Gumam flo memanjatkan doa.

...****...

Terpopuler

Comments

Bakulgeblek

Bakulgeblek

jangan berhenti tengah jalan hlo thor...

2024-03-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!